Masih Penting Nggak, Sih?
Rasanya sudah cukup kita bertanya-tanya dalam dua tulisanku sebelumnya yang berjudul “Karena Aku Adalah Lesbian” dan “Ya, Aku Adalah Lesbian”. Tulisannya memang baru dipublish sekitar sebulan yang lalu, namun jika membaca komentar dari beberapa pengunjung Sepocikopi, sepertinya telah cukup lama kita mempertanyakan keberadaan kita sebagai seorang lesbian.
Menjadi seorang lesbian tidak memerlukan proses pendidikan seperti layaknya kita meluangkan sebagian hidup kita di bangku sekolah. Tidak ada hal yang baku dan mutlak seperti saat kita mempelajari ilmu pasti. Meski pun banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan lesbian dikaji dari sudut pandang psikologi, namun secara sadar sebenarnya kita memahami bahwa seseorang menjadi lesbian bukan karena ia mengalami masalah kejiwaan.
Coba kita pikir lagi, apakah ada yang ingin dirinya menjadi lesbian?
Oh, kalau hanya menjawab pertanyaan ini sih pasti banyak yang menjawab, “Iyalah, aku ingin tetap jadi lesbian, lebih nyaman kok.”
Namun, jika membayangkan harus berhadapan dengan 1001 masalah lesbian yang ada di depan mata, bisa dipastikan jawabannya mungkin berbeda.
Tampaknya tidak mudah menjadi lesbian yang bisa mengecap kebahagiaan layaknya pasangan hetero. Mungkin, pengecualian bagi mereka yang memiliki keyakinan, tekad serta modal yang cukup kuat untuk meninggalkan keluarga dan negeri ini lalu pindah ke negara yang melegalkan perkawinan sesama jenis. Tapi itu pun tidak selalu menjadi jaminan.
Tidak percaya? Mari kita lihat permasalahan yang dihadapi oleh teman-teman lesbian yang ada di sekeliling kita.
Si A merasa sulit untuk tinggal bersama pasangannya, karena masih terikat dan tergantung dengan keluarga. Selain itu pasti sulit sekali meyakinkan orangtua untuk merestui hubungan yang bagi kebanyakan masyarakat masih merupakan hal yang tabu.
Si B, kesulitan menyatakan cintanya pada seorang perempuan yang ia idam-idamkan karena perempuan tersebut adalah hetero sementara ia sendiri belum coming out, menyatakan bahwa dirinya adalah seorang lesbian.
Si C yang orientasi seksualnya sebagai lesbian sudah diketahu semua orang menyadari bahwa dirinya dijauhi oleh teman-teman wanitanya. Ada yang takut ketularan menjadi lesbian, atau takut ditaksir oleh lesbian.
Si D yang tinggal bersama kekasih hatinya dan sudah hidup mapan, namun tetap menyimpan kegamangan kalau suatu hari tuntutan keluaga yang memintanya untuk menikah akan membuatnya harus berpisah dengan sang kekasih.
Itu masih sampai si D, dan bila ditelusuri tidak hanya sampai si X, Y, Z, tetapi masih banyak lagi problematika lesbian yang membuka mata kita bahwa bagi sebagian besar perempuan, menjadi lesbian bagaikan mengantongi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak, menghancurkan dirinya bahkan orang-orang di sekelilingnya hingga menjadi serpihan kecil.
Namun, apakah semua contoh di atas berkaitan dengan karya nyata sang lesbian? Tidak sama sekali. Kecuali ia terus mempertanyakan dan mempermasalahkan dirinya yang lesbian.
Aku mengenal banyak teman-teman lesbian yang sukses dalam pekerjaannya bahkan tidak sedikit yang menduduki posisi Top Management. Ada juga yang memiliki usaha dan bisnis yang sukses. Tidak hanya itu, mereka juga kehidupan sosial hangat dengan teman-teman serta keluarganya. Orientasi seksual yang dianggap menyimpang oleh masyarakat hetero tidak serta merta berpengaruh kepada karya nyata dan kiprah lesbian tersebut.
Sekali lagi, menjadi manusia yang menghasilkan karya hebat tidak ada kaitannya dengan orientasi seksual atau menjadi lesbian. Yang penting tidak terus menerus meratapi diri di depan cermin sembari tanpa henti “membanggakan” sisi kelesbianannya bahkan hingga menua dengan hanya memiliki label lesbian. Padahal jika saja mau meluangkan waktu untuk melihat keluar jendela, kita dapat melihat banyak kebahagiaan yang menunggu kita terlibat di dalamnya. Dan di luar sana, masih banyak hal-hal memerlukan kiprah kita tanpa mempermasalahkan apakah kita ini lesbian atau bukan.
Seorang lesbian tetap dapat leluasa bercanda dengan teman-teman perempuannya karena canda dan tawa tidak hanya milik perempuan hetero. Seorang lesbian bisa menghasilkan profit besar bagi perusahaan tempatnya bekerja karena keuntungan tidak memilih ingin dihasilkan oleh seorang hetero atau lesbian. Pecinta buku best seller tidak akan membeli buku-buku karena penulisnya seorang lesbian melainkan karena apa yang tuangkan oleh sang penulis. Sebuah film tetap bisa masuk dalam jajaran box office karena jalan ceritanya dan kemampuan pemainnya, bukan karena si aktris atau sutradaranya adalah seorang lesbian.
Jadi, pertanyaan terakhir dariku, masih penting nggak sih mempermasalahkan kelesbianan diri kita?
Jawabannya tergantung pilihan masing-masing lesbian. Aku sendiri memilih menjalani hidup dengan memberikan upaya terbaik pada setiap hal yang kulakukan, siapa tahu ini akan menjadi kesempatan terakhirku, atau bahkan ini menjadi tulisan terakhirku. Iya, kan?
@Frizzy Jo, SepociKopi, 2010










.setuju bgt
.hehehe
heh. maksudnya tulisan terakhir?
setuju bngt istbss Semangat
Saya lesbian yg berprofesi sbg seorang guru di sebuah SMU berbasic agama. Saya tidak tau apa yg akan terjadi apabila nantinya orientasi seksual saya diketahui oleh pihak sekolah di mana saya mengajar. Mungkin saya akan kehilangan pekerjaan saya sbg seorang pendidik. Tapi saya tidak takut krn saya yakin dgn skill yg saya punya saya akan bisa membuka lapangan pekerjaan baru tanpa ada yg mempermalahkan kelesbianan saya. Tetap semangat !
.haduhadu jgn blg ni tlsan trakhr dr.jo
.nakutin ;(
Lesbian bukan alasan, semuanya kembali ke masing-masing pribadi, sudahkah berdamai dengan diri kita sendiri? Bisakah kita sendiri menerima diri kita apa adanya? Saya kira itu yang paling penting.
bner bgtz!
sbelum orang lain mnrima qta.qta hruz lbih dlu menrima dri sndri.
ka jo sy mo tnya sy gk tau sy normal gk sy seneng liat cewek cantik tp sy prnh di tembak tm cewek sy pas dia mo cium jantung sy jd gk jls gt n sy keluar keringat dingin tlng klw ada yg bs ks pejelas san
Friends … Catat dan ingat kalimat ini baik2 :
“Sekali lagi, menjadi manusia yang menghasilkan karya hebat tidak ada kaitannya dengan orientasi seksual atau menjadi lesbian.”
nice write… ^^
SETUJU…karya kita nga ada hubungannya dengan orientasi seksual
buktinya presenter & comedian cantik Ellen,begitu disukai oleh penggemarnya dan sampai mempunyai talk show menggunakan namanya sendiri Ellen
Lesbian….teruslah berkarya….
Tulisan yg bagus.. Memang seharusnya gak ada yg harus di permasalahkan tentang lesbian..
Seorang lesbian tetap dapat meraih mimpi dan kesuksesan, karena kerja keras, ketekunan, dan hasil tidak mengenal label lesbian…^__^ banyak hal di luar sana yg bisa di kerjakan, dilakukan atau di nikmati, meski sebagai lesbian. Kicauan burung yg merdu, langit biru yg cerah, langit senja yg indah, bintang yg manis di malam hari, bahkan nafas dan kehidupan, semua itu di anugerahkan kepada setiap manusia tanpa melihat apakah lesbian atau tidak…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, kita kerap mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pepatah bijak itu bahkan tegas mengatakan merugilah orang yang kualitas hari kemarinnya sama saja dengan hari ini dan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Pernahkan kita bertemu teman lama yang rasanya dari zaman mIRC sampai era Whatsapp masih berkutat dengan masalah itu-itu saja? Atau justru orang tersebut adalah diri sendiri?
Lesbian, kehidupan yang berkualitas seharusnya ibarat meniti tangga, terus bergerak dan melangkah lebih tinggi. Pada posisi yang lebih tinggi seharusnyalah kita berhadapan dengan masalah yang lebih menantang. Itu sebabnya SepociKopi menganggat tema ini, untuk mengingatkan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam bidang apa pun yang kita tekuni.
Lesbian, bulan ini juga kita memperingati hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku untuk mendewasakan manusia. Tidak ada cara lain untuk meraih kehidupan yang lebih baik selain terus dan terus mendidik diri. Selamat menikmati didikan SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 60 queries. 0.692 seconds.