Home » Humaniora, Opini

Masih Penting Nggak, Sih?

Submitted by on 21/08/2010 – 8:55 pm13 Comments | 681 views

Oleh: Frizzy Jo

Rasanya sudah cukup kita bertanya-tanya dalam dua tulisanku sebelumnya yang berjudul “Karena Aku Adalah Lesbian” dan “Ya, Aku Adalah Lesbian”. Tulisannya memang baru dipublish sekitar sebulan yang lalu, namun jika membaca komentar dari beberapa pengunjung Sepocikopi, sepertinya telah cukup lama kita mempertanyakan keberadaan kita sebagai seorang lesbian.

Menjadi seorang lesbian tidak memerlukan proses pendidikan seperti layaknya kita meluangkan sebagian hidup kita di bangku sekolah. Tidak ada hal yang baku dan mutlak seperti saat kita mempelajari ilmu pasti. Meski pun banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan lesbian dikaji dari sudut pandang psikologi, namun secara sadar sebenarnya kita memahami bahwa seseorang menjadi lesbian bukan karena ia mengalami masalah kejiwaan.

Coba kita pikir lagi, apakah ada yang ingin dirinya menjadi lesbian?

Oh, kalau hanya menjawab pertanyaan ini sih pasti banyak yang menjawab, “Iyalah, aku ingin tetap jadi lesbian, lebih nyaman kok.”

Namun, jika membayangkan harus berhadapan dengan 1001 masalah lesbian yang ada di depan mata, bisa dipastikan jawabannya mungkin berbeda.

Tampaknya tidak mudah menjadi lesbian yang bisa mengecap kebahagiaan layaknya pasangan hetero. Mungkin, pengecualian bagi mereka yang memiliki keyakinan, tekad serta modal yang cukup kuat untuk meninggalkan keluarga dan negeri ini lalu pindah ke negara yang melegalkan perkawinan sesama jenis. Tapi itu pun tidak selalu menjadi jaminan.

Tidak percaya? Mari kita lihat permasalahan yang dihadapi oleh teman-teman lesbian yang ada di sekeliling kita.

Si A merasa sulit untuk tinggal bersama pasangannya, karena masih terikat dan tergantung dengan keluarga. Selain itu pasti sulit sekali meyakinkan orangtua untuk merestui hubungan yang bagi kebanyakan masyarakat masih merupakan hal yang tabu.

Si B, kesulitan menyatakan cintanya pada seorang perempuan yang ia idam-idamkan karena perempuan tersebut adalah hetero sementara ia sendiri belum coming out, menyatakan bahwa dirinya adalah seorang lesbian.

Si C yang orientasi seksualnya sebagai lesbian sudah diketahu semua orang menyadari bahwa dirinya dijauhi oleh teman-teman wanitanya. Ada yang takut ketularan menjadi lesbian, atau takut ditaksir oleh lesbian.

Si D yang tinggal bersama kekasih hatinya dan sudah hidup mapan, namun tetap menyimpan kegamangan kalau suatu hari tuntutan keluaga yang memintanya untuk menikah akan membuatnya harus berpisah dengan sang kekasih.

Itu masih sampai si D, dan bila ditelusuri tidak hanya sampai si X, Y, Z, tetapi masih banyak lagi problematika lesbian yang membuka mata kita bahwa bagi sebagian besar perempuan, menjadi lesbian bagaikan mengantongi bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak, menghancurkan dirinya bahkan orang-orang di sekelilingnya hingga menjadi serpihan kecil.

Namun, apakah semua contoh di atas berkaitan dengan karya nyata sang lesbian? Tidak sama sekali. Kecuali ia terus mempertanyakan dan mempermasalahkan dirinya yang lesbian.

Aku mengenal banyak teman-teman lesbian yang sukses dalam pekerjaannya bahkan tidak sedikit yang menduduki posisi Top Management. Ada juga yang memiliki usaha dan bisnis yang sukses. Tidak hanya itu, mereka juga kehidupan sosial hangat dengan teman-teman serta keluarganya. Orientasi seksual yang dianggap menyimpang oleh masyarakat hetero tidak serta merta berpengaruh kepada karya nyata dan kiprah lesbian tersebut.

Sekali lagi, menjadi manusia yang menghasilkan karya hebat tidak ada kaitannya dengan orientasi seksual atau menjadi lesbian. Yang penting tidak terus menerus meratapi diri di depan cermin sembari tanpa henti “membanggakan” sisi kelesbianannya bahkan hingga menua dengan hanya memiliki label lesbian. Padahal jika saja mau meluangkan waktu untuk melihat keluar jendela, kita dapat melihat banyak kebahagiaan yang menunggu kita terlibat di dalamnya. Dan di luar sana, masih banyak hal-hal memerlukan kiprah kita tanpa mempermasalahkan apakah kita ini lesbian atau bukan.

Seorang lesbian tetap dapat leluasa bercanda dengan teman-teman perempuannya karena canda dan tawa tidak hanya milik perempuan hetero. Seorang lesbian bisa menghasilkan profit besar bagi perusahaan tempatnya bekerja karena keuntungan tidak memilih ingin dihasilkan oleh seorang hetero atau lesbian. Pecinta buku best seller tidak akan membeli buku-buku karena penulisnya seorang lesbian melainkan karena apa yang tuangkan oleh sang penulis. Sebuah film tetap bisa masuk dalam jajaran box office karena jalan ceritanya dan kemampuan pemainnya, bukan karena si aktris atau sutradaranya adalah seorang lesbian.

Jadi, pertanyaan terakhir dariku, masih penting nggak sih mempermasalahkan kelesbianan diri kita?

Jawabannya tergantung pilihan masing-masing lesbian. Aku sendiri memilih menjalani hidup dengan memberikan upaya terbaik pada setiap hal yang kulakukan, siapa tahu ini akan menjadi kesempatan terakhirku, atau bahkan ini menjadi tulisan terakhirku. Iya, kan? ;)

@Frizzy Jo, SepociKopi, 2010

  

Tags: , , , ,

13 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.