Home » Telezkop

te.Lez.kop: Merdeka?

18 August 2010 96 views 3 Comments

pocOleh: Shinigami

Sejak kemarin Indonesia sudah berusia 65 tahun. Untuk ukuran manusia sudah cukup tua, bisa menimang cucu dan pensiun segala kalau mau, tapi untuk ukuran negara, mungkin umurnya baru cukup untuk masuk TK. Dan bagaimanakah keadaan negara usia TK ini? Jika kita melihat ke belakang dan membandingkannya dengan apa yang ada sekarang, tidak dapat dipungkiri bahwa semenjak kemerdekaan, sudah banyak yang dicapai. Ada pembangunan, ada perbaikan, ada perubahan dan kemajuan. Lalu, kalau kita tarik sedikit teropongnya ke dunia lesbian, seperti apakah kemerdekaan itu terlihat?

Kalau bicara dengan skala negara, 65 tahun kemerdekaan itu belum memberikan kemerdekaan secara hukum bagi para lesbian maupun gay, biseksual, dan transgender. Ketika civil partnership saja tidak diakui, pernikahan homoseksual itu bagaikan bulan bagi si pungguk—saya bahkan tidak tahu apa saya akan masih hidup pada waktu era itu terjadi di Nusantara ini. Dan ketika konferensi LGBT internasional di Surabaya diprotes keras serta dibubarkan oleh pihak-pihak tertentu yang mengusung bendera agama serta tameng moral, rasanya bulan itu semakin jauh saja jaraknya. Apalagi melihat komentar-komentar pembaca yang menanggapi berita seputar hal itu di situs-situs berita online.

Baik, jadi secara makro, keberadaan kita di muka hukum Indonesia masih nol atau bahkan minus. Tapi apa itu berarti kita sama sekali tidak menikmati kemerdekaan sebagai lesbian? Entahlah, mungkin tidak juga. Meskipun ini juga erat hubungannya dengan perkembangan zaman, saya rasa di tahun ke-65 kemerdekaan Indonesia ini, ada kemerdekaan-kemerdekaan kecil yang bisa kita nikmati. Misalnya, sudah cukup banyak lesbian yang bisa merayakan kelesbianannya sedemikian rupa dengan tidak menikah. Mungkin masih ada bisik-bisik tapi mereka masih bisa menjalani kehidupannya dengan baik, tanpa dikucilkan atau sebangsanya. Ada juga pasangan-pasangan lesbian yang bisa hidup bersama, dan tak lupa keberadaan para lesbian menikah yang kini sudah banyak yang memiliki pacar perempuan. Terlepas dari segala kesulitan yang dihadapi, saya rasa tak dapat disangkal bahwa ini juga merupakan efek sekian tahun kemerdekaan. Sulit rasanya membayangkan hal-hal itu di masa-masa perang dahulu.

Apakah sudah cukup begitu saja? Saya pasti dirajam kalau bilang iya. Sebab begitu banyak lesbian yang menginginkan dan merasa berhak untuk merdeka sebagai lesbian, termasuk untuk menikah dan diakui hak-haknya layaknya teman-teman heteroseksual. Lantas? Berusaha. Karena pertama, kemerdekaan yang diperoleh atas dasar usaha rasanya akan jauh lebih berarti dibandingkan kemerdekaan hasil pemberian, dan kedua, untuk kasus ini, rasanya akan sia-sia jika kita menantikan pemberian kemerdekaan dari pihak lain. Bukannya merendahkan mereka dan rasa kemanusiaannya, tapi yah… saya rasa pandangan ini cukup realistis.

Jadi maksudnya kita perlu menggelar demo rutin, orasi, membentuk organisasi, de el el? Hhmm…bisa. Boleh saja itu dilakukan kalau memang ada yang memandang itu sebagai cara yang efektif dan perlu. Dan mungkin suatu hari nanti cara itu akan menjadi cara yang memang harus dilakukan. Tetapi untuk sekarang, yang ingin saya soroti di sini bukan itu. Saya lebih melihat ke skala kecil, sangat kecil malah, yaitu individual.

Untuk bisa merdeka sebagai lesbian, kita perlu memerdekakan diri kita terlebih dahulu, sebagai individu, dari paradigma atau cara pandang yang akan menghambat kita sendiri mencapai kemerdekaan itu.  Misalnya cara pandang bahwa menjadi lesbian itu semacam penyakit, dosa, keganjilan, atau bahkan kutukan, sehingga sah-sah saja jika lesbian mengalami azab dan penderitaan serta dipinggirkan. Yang saya coba katakan adalah, daripada terus-menerus memfokuskan diri pada perasaan berdosa dan bersalah, bagaimana kalau fokusnya diletakkan pada kemampuan dan keterampilan yang kita miliki?

Kembangkanlah hal-hal yang baik dan berguna, dan serahkan saja urusan beratnya dosa menjadi lesbian kepada Yang Kuasa. Saya rasa itu akan lebih membangun daripada selalu terkurung rasa berdosa lalu terpuruk dan menderita. Jika seorang lesbian terus-terusan melihat dirinya seperti itu, bagaimana orang lain bisa melihat hal-hal positif yang bisa diperbuatnya dan melepaskan stigma lesbianisme? Dan bagaimana mungkin orang lain bisa berempati pada kemerdekaan yang coba diwujudkan oleh para lesbian?

Itu hanya satu contoh dari berbagai paradigma lain yang perlu kita sikapi dengan lebih bijak. Intinya adalah, jika kita ingin memiliki kemerdekaan secara penuh sebagai lesbian, mari kita usahakan bersama dengan pertama-tama mempersiapkan masing-masing diri kita sebagai SDM pelakunya. Jika kita menginginkan kemerdekaan yang sedemikian rupa, mari kita pastikan bahwa kita memang layak memperolehnya. Jangan sampai kita berteriak-teriak menggugat kemerdekaan tetapi kita sendiri yang menjadi salah satu penghambatnya. Tidak akan mudah, dan tidak akan cepat, tapi saya rasa kita butuh memulainya dari sekarang. Mari berubah dan berbenah, teman-teman, hingga akhirnya benar merdeka.

@Shinigami, SepociKopi, 2010

3 Comments »

  • dav son said:

    Setuju banget :)

  • disa said:

    bener jg sih apa yg dikatakan penulis,.
    Tp..
    Bagaimana cara aq n teman2 L yg hidup di daerah bisa kembangkan diri sehingga jadi SDM yg bisa d andalkan?
    Secara,kami brtahun2 kami hidup dlm penolakan atas diri sndiri,rasa bersalah pd keluarga n tuhan y bisa dibilang dlm kondisi frustasi berat..
    Mohon d ulas donk bgm cara membangkitkan jiwa pejuang untuk diri sendiri..

  • yulsic said:

    suka sm tulisan ini xp. saya jg sdng berusaha memerdekakan diri saya sndri. ah, fighting!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.