te.Lez.kop: Merdeka?
Oleh: Shinigami
Sejak kemarin Indonesia sudah berusia 65 tahun. Untuk ukuran manusia sudah cukup tua, bisa menimang cucu dan pensiun segala kalau mau, tapi untuk ukuran negara, mungkin umurnya baru cukup untuk masuk TK. Dan bagaimanakah keadaan negara usia TK ini? Jika kita melihat ke belakang dan membandingkannya dengan apa yang ada sekarang, tidak dapat dipungkiri bahwa semenjak kemerdekaan, sudah banyak yang dicapai. Ada pembangunan, ada perbaikan, ada perubahan dan kemajuan. Lalu, kalau kita tarik sedikit teropongnya ke dunia lesbian, seperti apakah kemerdekaan itu terlihat?
Kalau bicara dengan skala negara, 65 tahun kemerdekaan itu belum memberikan kemerdekaan secara hukum bagi para lesbian maupun gay, biseksual, dan transgender. Ketika civil partnership saja tidak diakui, pernikahan homoseksual itu bagaikan bulan bagi si pungguk—saya bahkan tidak tahu apa saya akan masih hidup pada waktu era itu terjadi di Nusantara ini. Dan ketika konferensi LGBT internasional di Surabaya diprotes keras serta dibubarkan oleh pihak-pihak tertentu yang mengusung bendera agama serta tameng moral, rasanya bulan itu semakin jauh saja jaraknya. Apalagi melihat komentar-komentar pembaca yang menanggapi berita seputar hal itu di situs-situs berita online.
Baik, jadi secara makro, keberadaan kita di muka hukum Indonesia masih nol atau bahkan minus. Tapi apa itu berarti kita sama sekali tidak menikmati kemerdekaan sebagai lesbian? Entahlah, mungkin tidak juga. Meskipun ini juga erat hubungannya dengan perkembangan zaman, saya rasa di tahun ke-65 kemerdekaan Indonesia ini, ada kemerdekaan-kemerdekaan kecil yang bisa kita nikmati. Misalnya, sudah cukup banyak lesbian yang bisa merayakan kelesbianannya sedemikian rupa dengan tidak menikah. Mungkin masih ada bisik-bisik tapi mereka masih bisa menjalani kehidupannya dengan baik, tanpa dikucilkan atau sebangsanya. Ada juga pasangan-pasangan lesbian yang bisa hidup bersama, dan tak lupa keberadaan para lesbian menikah yang kini sudah banyak yang memiliki pacar perempuan. Terlepas dari segala kesulitan yang dihadapi, saya rasa tak dapat disangkal bahwa ini juga merupakan efek sekian tahun kemerdekaan. Sulit rasanya membayangkan hal-hal itu di masa-masa perang dahulu.
Apakah sudah cukup begitu saja? Saya pasti dirajam kalau bilang iya. Sebab begitu banyak lesbian yang menginginkan dan merasa berhak untuk merdeka sebagai lesbian, termasuk untuk menikah dan diakui hak-haknya layaknya teman-teman heteroseksual. Lantas? Berusaha. Karena pertama, kemerdekaan yang diperoleh atas dasar usaha rasanya akan jauh lebih berarti dibandingkan kemerdekaan hasil pemberian, dan kedua, untuk kasus ini, rasanya akan sia-sia jika kita menantikan pemberian kemerdekaan dari pihak lain. Bukannya merendahkan mereka dan rasa kemanusiaannya, tapi yah… saya rasa pandangan ini cukup realistis.
Jadi maksudnya kita perlu menggelar demo rutin, orasi, membentuk organisasi, de el el? Hhmm…bisa. Boleh saja itu dilakukan kalau memang ada yang memandang itu sebagai cara yang efektif dan perlu. Dan mungkin suatu hari nanti cara itu akan menjadi cara yang memang harus dilakukan. Tetapi untuk sekarang, yang ingin saya soroti di sini bukan itu. Saya lebih melihat ke skala kecil, sangat kecil malah, yaitu individual.
Untuk bisa merdeka sebagai lesbian, kita perlu memerdekakan diri kita terlebih dahulu, sebagai individu, dari paradigma atau cara pandang yang akan menghambat kita sendiri mencapai kemerdekaan itu. Misalnya cara pandang bahwa menjadi lesbian itu semacam penyakit, dosa, keganjilan, atau bahkan kutukan, sehingga sah-sah saja jika lesbian mengalami azab dan penderitaan serta dipinggirkan. Yang saya coba katakan adalah, daripada terus-menerus memfokuskan diri pada perasaan berdosa dan bersalah, bagaimana kalau fokusnya diletakkan pada kemampuan dan keterampilan yang kita miliki?
Kembangkanlah hal-hal yang baik dan berguna, dan serahkan saja urusan beratnya dosa menjadi lesbian kepada Yang Kuasa. Saya rasa itu akan lebih membangun daripada selalu terkurung rasa berdosa lalu terpuruk dan menderita. Jika seorang lesbian terus-terusan melihat dirinya seperti itu, bagaimana orang lain bisa melihat hal-hal positif yang bisa diperbuatnya dan melepaskan stigma lesbianisme? Dan bagaimana mungkin orang lain bisa berempati pada kemerdekaan yang coba diwujudkan oleh para lesbian?
Itu hanya satu contoh dari berbagai paradigma lain yang perlu kita sikapi dengan lebih bijak. Intinya adalah, jika kita ingin memiliki kemerdekaan secara penuh sebagai lesbian, mari kita usahakan bersama dengan pertama-tama mempersiapkan masing-masing diri kita sebagai SDM pelakunya. Jika kita menginginkan kemerdekaan yang sedemikian rupa, mari kita pastikan bahwa kita memang layak memperolehnya. Jangan sampai kita berteriak-teriak menggugat kemerdekaan tetapi kita sendiri yang menjadi salah satu penghambatnya. Tidak akan mudah, dan tidak akan cepat, tapi saya rasa kita butuh memulainya dari sekarang. Mari berubah dan berbenah, teman-teman, hingga akhirnya benar merdeka.
@Shinigami, SepociKopi, 2010









Setuju banget
bener jg sih apa yg dikatakan penulis,.
Tp..
Bagaimana cara aq n teman2 L yg hidup di daerah bisa kembangkan diri sehingga jadi SDM yg bisa d andalkan?
Secara,kami brtahun2 kami hidup dlm penolakan atas diri sndiri,rasa bersalah pd keluarga n tuhan y bisa dibilang dlm kondisi frustasi berat..
Mohon d ulas donk bgm cara membangkitkan jiwa pejuang untuk diri sendiri..
suka sm tulisan ini xp. saya jg sdng berusaha memerdekakan diri saya sndri. ah, fighting!
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments