Home » Humaniora, Tajuk

TAJUK: Kemerdekaan dan Kita

17 August 2010 274 views 12 Comments

pociOleh: Nuha Guwa

“Hai, apa yang kamu lakukan di hari kemerdekaan?” Itulah topik heboh intro percakapan grup BBM pagi ini. Pertanyaan yang sama memenuhi timeline Twitter.

”Biasa saja, aku nggak melakukan apa-apa, merdeka ya merdeka.” Jawaban malas-malasan, yang barangkali banyak diucapkan oleh banyak lesbian di pagi hari yang mendung.

Menumpang mobilku, usai sahur di pagi buta, sepasang perempuan terbuai dalam kursi mereka masing-masing, perempuan yang lebih kurus menyamankan tubuhnya ke bahu seseorang. Seorang gadis di sampingnya tengah menatap ke luar jendela dan berkata, ”Masih jauh stasiunnya ?” Saya menggeleng mempercepat kendaraan melaju bagai peluru di jalan tol. Pasangan lesbian ini terpaksa menginap dirumahku, karena hubungan tersebut kepergok keluarga, akhirnya diusir, namun kemudian juga dicari. Bolak-balik hape mereka berbunyi penuh ancaman, hinaan, serta kutukan dosa.

Malam tadi mereka mengungsi ke rumahku, usai sahur berangkat dengan rencana pindah ke kota lain, meninggalkan kuliah dan pekerjaan, memulai hidup baru dengan uang seadanya ditambah pinjaman dariku yang tak seberapa. Saya menerka-nerka akan seperti apa hidup mereka di kota yang lebih kecil. Paling-paling uang itu cukup untuk menyewa kamar tiga bulan pertama kemudian sisanya bisa dipakai untuk makan seminggu berdua. Hal inilah yang dirasakan oleh sepasang lesbian di hari Kemerdekaan.

Enam puluh lima tahun Indonesia merdeka, tapi kita tahu masih banyak belenggu yang mengekang kemerdekaan. Jerat kemiskinan, bayi-bayi busung lapar yang diperhalus dengan bahasa gizi buruk. Puluh juta buruh buruh masih tinggal di kamar-kamar kumuh, pejuang yang dulu mandi darah demi kemerdekaan bertahan dengan pensiun yang tak seberapa di rumah-rumah sempit. Nelayan dan pedagang kecil yang menggantungkan utang kepada tengkulak. Petani yang terus harus berteriak karena mahalnya harga pupuk dan ketidakberdayaan karena nasibnya sangat tergantung pada rentenir. Guru-guru yang masih harus mencari penghasilan sambilan menjual sayur-mayur atau menarik becak dan ojek demi memenuhi kebutuhan hidup. Enam puluh lima tahun Indonesia merdeka, apa yang sudah didapatkan oleh rakyat negeri ini? Kemelaratan, kesengsaraan, ancaman, doktrinasi, penipuan, lip service atau jargon-jargon saat pemilu yang mengatasnamakan rakyat, namun begitu sudah mendapat posisi penting, kosong dalam kenyataan.

Bagi mereka yang kesehariannya bergelimang materi, kepuasan dan kekayaan duniawi, Indonesia ini memang sudah merdeka. Lalu bagaimana dengan anggota dewan yang memaksa berkunjung ke luar negeri. Sementara rakyat menjerit di antrean minyak tanah, yang lainnya waswas pasrah mau tak mau harus menggunakan tabung gas yang sudah banyak memakan korban. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja merajam, meskipun beragam upaya dilakukan pemerintah untuk mempersempit ruang lingkupnya. Coba tengok duit yang dimiliki Gayus… triliunan rupiah, apalah artinya kemerdekaan? Toh proses persidangannya yang kini masih berlangsung cukup itu sudah membuktikan masih leluasanya para koruptor menjarah uang rakyat.

Tidak bisa dipungkiri, memang kita lihat ratusan atau bahkan ribuan gedung yang menjulang, apartemen mewah, kondominium super fasilitas, rumah KPR minimalis, jembatan, patung-patung dan monumen megah artistik, jalan tol semuanya telah menjadi lambang keberhasil dari kemerdekaan. Tapi benarkah hal itu yang dikehendaki oleh kita? Kemerdekaan di negeri ini sepertinya hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Tidak seimbang dengan jumlah rakyat Indonesia yang ratusan juta jiwa. Masyarakat kecil hanya mengingat 17 Agustus dalam bentuk iring-iringan karnaval serta panjat pinang atau berbagai perlombaan untuk melupakan sejenak beban kehidupan sekali dalam setahun. Inikah yang merdeka yang diinginkan?

Kemerdekaan sesungguhnya adalah bila kita sudah bisa merasakan adil, sejahtera, aman secara merata di seluruh negeri. Adil dalam arti kata merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tanpa membedakan ras, suku, agama, budaya termasuk orientasi seksual. Sejahtera dalam arti kita sudah bisa hidup dalam kecukupan secara materi dan non materi. Aman dalam arti kita lepas dari takut dan waswas dan bisa hidup damai bersama keluarga maupun orang lain meskipun orientasi seksual kita berbeda. Sedikitnya bisa menghargai diri dan orang lain sama seperti kita memandang diri kita sendiri.

Kami sudah mendekati stasiun, warna merah putih menghiasi jalan-jalan dan perkampungan. Beberapa anak-anak ada yang mulai larut dalam kegembiraan merayakan hari Kemerdekaan dengan berbagai perlombaan meskipun belum tahu apa makna merdeka. Wajarlah, mereka masih anak-anak, yang mereka pikirkan bagaimana caranya mendapatkan hadiah dan merasa senang saat memenangkan lomba.  Perayaan kemerdekaan di bulan Agustus 2010 ini memang tidak terlampau meriah karena dalam suasana puasa Ramadan. Hal itu juga yang membuat pasangan muda tadi nekad meninggalkan rumah, karena tak ingin ribut-ribut sehingga hubungan mereka bisa membatalkan pahala puasa banyak orang.

“ Lima menit lagi sampai ya,” kata saya serius. Perempuan temanku itu menarik napas dalam-dalam. Sementara yang satunya lagi terdengar terburu-buru menyiapkan buntalan tas yang dikemas seadanya.

“Terima kasih atas semuanya, Nuh, aku akan mengingat semua ini.” Kami bersalaman dan saling memberi peluk perpisahan di dalam mobil.

“Selamat hari kemerdekaan…,” kata saya dengan suara yang agak dipelankan. Sebenarnya saya ragu-ragu mengucapkan itu.

Perempuan yang lebih dewasa mengambil tangan pasangannya, mengecup kening… “Aku mencintaimu, aku akan menjagamu…” Kulepas mereka, memandangi punggung mereka menghilang di keramaian penumpang bus….

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

12 Comments »

  • disa said:

    kemerdekaan buat kaum ‘terlarang’?
    Yg normal2 aja belum tentu..
    Mungkin 50thn lg baru bisa..

  • alle said:

    Senang kalimat terakhir “aku mencintaimu,aku akan menjagamu” so ramntic:)

  • robyn said:

    duh, sosialis beuneur konsep merdekanya, bu Noah.
    semoga pasangan itu ditunjukkan yang terbaik dan mengambil hikmah dari kesulitan2. Amiin.

  • Gl@_@m said:

    well jadi ingett temen yg L and gara2 itu….. hope she read this story…. ~.~

  • ANDIKA BUMI PRATAMA said:

    Aku setuju dengan semua yang diuliskan . Kemerdekaan hanya untuk segelintir orang saja . kita kapan merdekanya ?

  • keke said:

    para koruptor itu blm merdeka. mrk msh terpenjara nafsu. ngeri ah membayangkan dosanya memkn hak org lain, dgn serakah pula. utk rakyat sejumlah ratusan juta jiwa, kdg pemerintah “tgn besi” lbh efektif drpd “tgn karet.”

    slmt berjuang utk pasangan tsb! perjuangan baru dimulai. jgn patah semangat.

  • no_name said:

    hmmm, tajuk kali ini terasa lebih syahdu dengan cukilan kisah menyentuh tepat dihari dimana seharusnya tiada lagi ada rasa takut dan was-was di batin penghuni negri yg indah ini. Antara mimpi dan kenyataan tidak semanis yg diinginkan. Mimpi membuahkan optimisme, dan kenyataan melahirkan pesimisme. Namun saya percaya, diantara optimisme dan pesimisme selalu ada garis yg melintang, garis itu bernama Harapan. Harapan itulah yg mampu membungkam pesimisme dan meletupkan kembali mimpi2 yg meredup. Seperti harapan yang mengalir dari seorang kekasih pada pasangannya lewat sebaris untai kata ” aku mencintaimu…aku akan menjagamu”
    Nice article…Bravo utk nuha n SK !!

  • MommyVey said:

    Moga mereka(pasangan dlm cerita) dpt menemukan hdup yg lbh baik!
    Nice artìcel nuha

  • Jingga said:

    Walaupun indonesia merdeka, tapi lesbian tetap harus berjuang. Jangan menyerah, jangan menyerah……..!!

  • Ivym0cha89 said:

    Walopun uda diusir dr ruma ,arus pindah ke kota kecil lge,
    hidup di masa yg masih menutup pintu kemerdekaan bg para L,
    tapi mreka psti bhagia.
    Karena cinta mrk lbih bsr drpd halangan2 yg arus mrk hadapi.
    “aku mencintaimu, aku akan mnjagamu”
    utk psangan trsebut,i wanna say:”good luck..”

  • yulsic said:

    artikelnya bagus. kisahnya menyentuh T_T

  • GoodGirL said:

    Nice story !
    Mengharukan , hidup diantara hitam putih dunia , keep strong ! !
    Sayangnya aku ga berani ambil keputusan ky mereka b’2 . Terlalu banyak yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan . Aku masih menghormati mamah sbg orang tua . Aku rasa “keep hide” adalah jalan terbaik . But , good luck for they . :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.