Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Sorry Seems to be the Hardest Word

11 August 2010 30 views 5 Comments

sorryOleh: Shinigami

Saya pernah membahas soal bertengkar dan masalah seputar per-maaf-an yang timbul setelahnya di artikel tahun lalu, All Apologies. Tetapi sepertinya ada sesuatu yang tersisa perihal maaf-memaafkan ini, sesuatu yang menggelitik pikiran saya untuk memikirkan dan membahasnya lagi kali ini. Saya pernah menulis bahwa ‘maaf’ itu ibarat darah di dalam tubuh, yang didonorkan oleh pemiliknya dengan sepenuh kerelaan. Lantas, bagaimana kalau si pemilik tak kunjung mampu memberikannya?

Ya sudah. Maksudnya? Tidak ada maksud lain selain dua kata itu secara literer: ya sudah. Seseorang memiliki hak yang sama besar untuk memaafkan atau tidak memaafkan. Ya, menurut saya memaafkan itu hak. Tidak, saya tidak bicara maaf yang terlontar dari mulut, sebab maaf mulut sering keluar karena keadaan, bukan kesungguhan. Saya bicara maaf yang sepenuhnya, yang melibatkan seluruh pikiran, kenangan, dan perasaan. Jadi, jika ada orang yang masih saja tidak bisa memaafkan seseorang atas sesuatu hal yang baginya tentu teramat menyakitkan, saya rasa itu haknya.

Bukankah memaafkan itu bagus dan sehat bagi batin kita? Secara umum memang begitu. Sebab dendam dan marah hanya akan menimbulkan emosi negatif yang memicu hormon-hormon negatif dalam tubuh kita (saya rasa itu penjelasan masuk akal dari pesan emas turun-temurun: jangan suka marah, nanti cepat tua.) Tetapi mau pesan emas atau tembaga pun, atau selusin motivator yang berkoar-koar tentang kebesaran hati orang yang memaafkan orang lain, kita tidak bisa memaksa seseorang memaafkan orang lain. Alasannya sederhana, karena kita bukan dia.

Coba pikirkan, siapalah kita yang bisa memaksa teman kita memaafkan perempuan yang menyelingkuhinya dengan salah satu rekan kerja? Bahkan bila kita mengangkat ikrar sedarah dengannya seperti di film-film kungfu zaman dulu, kita tetap bukan dia. Hati yang diluluhlantakkan oleh perempuan itu tetap bukan hati kita. Air mata yang membengkakkan matanya selama berminggu-minggu itu juga bukan air mata kita. Kita tak akan pernah benar-benar paham apa yang dia rasakan, bahkan bila kita memiliki pengalaman serupa. Tidak, kawan, serupa itu tidak persis sama. Jadi, hormati dia, biarkan dia dengan pilihannya untuk tak memaafkan. (Ehm, selingkuh itu hanya satu contoh, kalian dipersilakan mengganti contoh itu dengan hal lain seperti ‘difitnah teman kerja yang bermental penjilat.’ Memangnya lesbian cuma memikirkan cinta?)

Tapi tenang, ketidakbisaan kita memaksa seseorang untuk memaafkan bukan berarti orang itu tidak akan pernah melakukannya hingga ia mati dan masuk neraka karenanya. Sebab ada dua hal tak terbantahkan yang akan melunakkannya.

Pertama adalah lelah. Oho, ya, dendam dan amarah adalah dua dari sedikit hal yang sangat melelahkan di dunia ini. Mereka seperti batu bulat utuh seukuran bola boling di kaki para narapidana di gambar kartun klasik. Ke mana pun dia pergi, dendam dan amarah itu selalu mengikuti, memberati. Sampai kapan seseorang tahan menyeret dua perasaan itu dan membiarkan dirinya dihambat oleh mereka? Suatu saat dia akan muak dengan berat yang menggelayuti langkahnya dan memutuskan untuk mencopotnya.

Yang kedua adalah waktu. Waktu itu sesuatu yan g lucu. Hampir tak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang bisa menang melawannya. Seperti kusamnya tembok luar rumah didera cuaca, waktu akan memudarkan rasa, khususnya dendam dan amarah. Lama-kelamaan, semuanya akan mengabur. Bahkan kenangan akan dipertanyakan setelah rentang waktu yang panjang. Seseorang mungkin ingat bahwa dia teramat marah tapi dia akan kesulitan mengingat dengan persis dan pasti hal yang membuatnya sedemikian marah. Atau bahkan dia mungkin tak ingat lagi intensitas kemarahan dan dendam yang dia rasakan di waktu lalu. Lalu kata-kata ‘marah’ dan ‘dendam’ akan kehilangan taringnya, tak ubahnya iklan sederhana yang ditempel asal-asalan di tiang listrik pinggir jalan. Bila itu terjadi, percayalah, akan konyol rasanya untuk tidak memaafkan dan mengubur semuanya di belakang.

Kesimpulannya, memberi maaf itu suatu hal dan proses personal. Tak satu pun dapat kita lakukan untuk membuat orang lain memaafkan kalau dia memang belum siap. Tak perlu sok menasehati atau mengerti. Kalau kita memang peduli, biarkan dia berproses. Sorry may seem to be the hardest word, but it’s not at all impossible.

@Shinigami, SepociKopi, 2010

5 Comments »

  • YulSic18 said:

    setuju sekali~~ dan kata maaf itu bkn cuman sulit, tp jg kuat.
    aha, jd pgn nyanyi lagu Sorry Sorry

  • sun said:

    well 4 me personally it’s inspiring article..

  • Gl@_@m said:

    memaafkan atw tdk itu adalah pilihan and everything is about diri sendiri…. apakah lebih mudah memaafkan atw tidak…^^

  • noy said:

    shin, very nice article!! :D

  • disa said:

    Memang,memaafkn ssorg tdk semudah mengedipkan mata..
    Aq marah dg tmn sndr sktr 2 thn yg lalu,sgt mrh,tp krn klelahn d teror ht n fikirn tk nyaman,mbwt q lelah n menyerah..
    Tp klo d kcwain n bkn kesel trus,aq milih mrh,n sulit utk kbali sprt tdk ad mslh dg dy..
    Mgkn klo aq dh klelahn n wkt udh mghpsx,aq br bs mmfnkn..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.