Lajang Pelasuh
Oleh: Oscar Arumi
Otak tengah saya kosong. Otak kiri pincang, otak kanan tersumbat. Bukan, saya bukan salah satu dari makhluk jenius yang turun ke bumi. IQ saya pas-pasan, apalagi EQ dan SQ, beugh. Itulah sebabnya, mengapa saya gak suka berdebat, mendebat dan didebat. Yah, apa untungnya, hanya membuat leher belakang menjadi tegang, saraf tak beraturan.
Sejujurnya, selain kadar otak yang pas-pasan, saya juga termasuk salah satu dari sekian banyak pemalas yang mampir di pondok bumi. Yup, saya benar-benar pemalas. Bahkan, untuk menulis kolom ini, betapa ogah-ogahannya saya, kalau tidak di ingatkan oleh Alex si penuang kopi. Jangan heran ya, setiap dua minggu sekali, saya selalu berdoa, semoga redaksi lupa menagih tulisan kolom ini ke saya. Ah, sayangnya, Tuhan hanya mendengar, namun tidak mengabulkan.
Hanya dalam keadaan terdesak, otak saya bisa diajak kompromi. Saat-saat mendekati deadline, barulah saya sibuk mencari kata-kata untuk dimuntahkan di sini. Kata kuncinya adalah, terdesak. Lucu, saya teringat film Bo Bo Ho dulu, yang kemampuan terbang nya hanya bisa digunakan saat keadaan mendesak. Sepertinya saya, mirip-mirip begitu. Bagi orang yang malas berpikir seperti saya, menemukan partner yang tepat adalah termasuk hal penting, namun tidak dalam urutan prioritas teratas. Ah, jangankan menuliskannya, memikirkannya pun kok rasanya ogah.
Harusnya, saya gak susah menemukan dia, calon parter saya itu. Namun kenyataan ya sebaliknya, ternyata susah. Terkadang, heran juga melihat salah seorang sahabat, yang laris manis bak kacang goreng panas. Entah apa pesonanya, entah apa rayuan mautnya, kok ada saja yang mau sama dia. Bukannya saya iri, tetapi, kenapa saya gak selaris dia? Huh! Mau minta keadilan sama siapa? Sama redaksi? Sama penulis lain? Sama pembaca? Sama kuntilanak? Huh!
Nah, ini yang dinamakan dengan iri tanda tak mampu. Karena gak mampu, penulis bergaya malas ini mengomel sendiri, memuntahkan ke pembaca, lalu siiiip tidur dengan nyenyaknya, karena tulisan sedang digulai di atas kompor redaksi. Salah seorang sahabat yang juga pembaca majalah ini mengatakan, mengapa tulisan gak berbobot milik saya selalu lolos ke meja redaksi? Tolong di highlight, tidak berbobot.
Saya gak tersinggung kok, buat apa. Kalau ditanya ke saya, saya paling cuma bisa nyengir, lalu menyeruput jus alpukat di depan mulut saya dalam-dalam. Kalau tulisan ini juga lolos ke redaksi, sahabat saya itu pasti geleng-geleng kepala membacanya. Lalu, apa sih masalahnya? Pernah saya tanyakan sekali. Dia jawab, harusnya tulisan itu bermakna edukatif namun tidak menggurui, bukan seperti tulisan saya yang menceracau tanpa tujuan.
Baiklah. Tulisan ini mulai menceracau tanpa tujuan, seperti kata sahabat saya tadi.
Aha! Serasa ada lampu terang di atas kepala saya! Jawabnya, pasti karena saya melajang. Bedakan lajang dan melajang, saat ini tepatnya saya dikatakan melajang, kelamaan berstatus lajang. Ya, melajang, menceracau tanpa tujuan. Tak ada aturan, mau kemana pun gak akan ada yang melarang, meski juga gak akan bakal ada yang mencari. Melajang membuat perasaan seseorang menjadi tak beraturan. Tanpa arah tujuan karena kelamaan sendirian berjalan. Sesukanya karena memang tak ada yang mengatur. Tanpa rasa tanggung-jawab yang penuh, karena memang tak ada yang harus ditanggungjawabinya secara utuh. Melajang, membuat lajang malas semakin malas karena tak ada yang mencambuknya agar rajin. Semakin tak berpotensi, karena tak ada yang melihat potensi galian di dalam diri. Semakin minim mengembangkan diri dan semakin tak jelas mengaktualisasikan diri. Melajang, kata nenek saya, haram hukumnya, karena setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan, jadi saya dipastikan mempunyai satu pasangan di dunia ini. Ah, dimanakah yang satu itu?
Oh ya, kalau boleh saya bilang, pasti pertanyaan terakhir bukan berasal dari bibir saya saja. Bukan begitu, kan?
@Oscar Arumi, SepociKopi, 2010









Osc, aku terpaksa ketawa pas Alex dibilang si penuang kopi. Hahaha, karena itulah kamu selalu lolos.. Kalau semua isi SP serius melulu aku gak mau baca deh, jadi syukurnya ada si Oscar penceracau. Thank you tulisannya ya!
haha baca tulisannya Oscar kok jadi keinget Samuel Mulia yang nulis di koran nasional setiap hari Minggu… nyindir-nyindir gimanaaa gitu, tapi nyindir diri sendiri tapi jadi nyerempet ke orang lain.. heehee ur like a female version of SM
wahai oscar mungkin dirimu msh beruntung drpd gw gitu loh.. seumur hidup melajang, jangankan partner, teman sesama lesbian ga’ ada karna lingkungan kali ya haha.. nasib..
To say_czeska…..salam kenal aja yach jangn pesimis gitu dong
hi alle, salam kenal juga.. ga’ pesimis tiap hr ko’ & berusaha te2p semangat..
To say_czeska….seeep
kudu selalu optimis ya g? Hehehe kadang jg gw pesimis ko :’(
hahaha, analisa yg kena bgt. karna lajang, kolom yang selalu aku kunjungin jg. meski pnulisny bilang mracau, tah jg y, asyik aja bacain
)
jadi lajang atw melajang pilih yg mana?? utk say cheka ehhmm dulu saiya juga berfikir begituu tuchh and ternyata saya salah… ^-^ ehm temenn L ada kok and dekat sekali heheheh ampe ngga sadar malah….
Oz.. Klo km blang km g laris q pkir it knyol dh, sbab sya adlah slah stu orng (diantara rbuan pnggmar km yg lain) yg pngn bgt bsa nglarisin km, hehe..
Jdi, knp g cba ja plih slah stu, q mat ko,
Hmmm,,lbh enak meracau..smua kta di otak trercurah dibarengi dgn kata hati.. Hehehe.. Jd terlihat polos,,dan ga memumetin yg ngebaca..
Hehehe,,,bnr2…
Coba klo Kak Oscar ksh alamat email,alamat rumah,atw no tlepon…Pasti banyak yg mw pd kenalan…Ga bkal melajang lagi tuh.
ahahahha…. shhh oscar. . silent.. i luv u..
hihihi
tooss buwat @alle n @sayczeka15.. well sepertinya kita senasib sist… ^^
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments