Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Apatisme dan Kita

3 August 2010 524 views 17 Comments

apathyOleh: Nuha Guwa

Banyak yang suka asyik sendiri ketika pergi dalam rombongan. Dengan BBM, SMS dengan pacar, atau kalau sedang jalan ramai-ramai, maka akan langsung jalan paling depan menyibukkan diri sendirian. Apakah itu yang disebutkan sebagai apatis? Bagaimana dengan orang yang tidak mau tahu dengan hal apapun di sekitarnya? Mau teman sakit, saudara butuh bantuan, seseorang berniat meminjam sesuatu dari kita. Masa bodoh! Inikah yang disebut apatis? Atau, jangan-jangan apatis telah mengalami pergeseran makna.

Menurut catatan psikolog, apatis cenderung negatif. Karena negatif tentu saja hal ini merugikan. Merugikan siapa? Yang pasti merugikan siapa saja yang ada di dekat orang tersebut. Bagaimana jika lesbian apatis? Lesbian apatis dengan lesbian lainnya. Ke laut aja kali ya! Namun sebelum kita melakukan penilaian yang salah dan melakukan persepsi yang melenceng, baiklah, coba lihat apa arti apatis. Apatisme adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu apathy. Kata tersebut diadaptasi dari bahasa Yunani, yaitu apathes yang secara harfiah berarti tanpa perasaan. Sedangkan menurut AS Hornby dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English: apathy is an absence of simpathy or interest. Dari definisi-definisi di atas, maka dapat ditarik satu benang merah definisi apatisme, yaitu hilangnya simpati, ketertarikan, dan antusiasme terhadap suatu objek. Berarti apatis bisa dibilang tidak peduli.

Sebenarnya dari kaca mata anthropologi, di dunia ini tak satu orang pun yang sama sekali tidak peduli pada apapun juga. At least, seseorang bakal peduli ama dirinya sendiri. Kepedulian ini terlihat ketika seseorang dihadapkan pada suatu hal yang merupakan minatnya. Saya setuju dengan apa yang dicetuskan oleh Immanuel Kant, seorang filsuf dan pencetus teori negara hukum murni, dalam karyanya Critique of Pure Reason. Ia menelurkan konsep bahwa pengetahuan berasal dari apriori (penalaran) dan aposteriori (pengalaman). Nah, dengan dasar nalar dan pengalaman itulah baru dapat memperoleh obat atas penyakit kronis apatisme.

Florynce R. Kennedy, seorang pengacara dan aktivis sosial asal Amerika Serikat dalam bukunya Color Me Flo: My Hard Life and Good Times mengatakan: “If you want to know where the apathy is, you’re probably sitting on it.” Setiap orang mungkin dapat berpikir buruk dan tertawa kecut terhadap kekonyolan apatisme, tapi terkadang mereka tak menyadari bahwa mereka sendiri sebenarnya sedang menduduki benih-benih apatisme dan mengembangkannya. Loh ini berarti kita semua harus bertanya kepada diri sendiri, apakah termasuk golongan apatis ini?

Menurut catatan psikolog tadi, sifat apatis ini cenderung muncul akibat dua hal, pertama memang lingkungan kecil yang tak memberinya peluang untuk (lebih) bersosialisasi, kedua adanya pengalaman kekecewaan akan sesuatu hal. Misalnya apa yang diharapkan tidak sesuai, harapan-harapan yang nihil. Lingkungan yang tidak memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Apatisme menyeruak bisa saja karena merasa bahwa para pemimpin beserta dengan organisasinya dirasakan tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kehidupan.

Apa yang membuat para lesbian apatis terhadap lesbian lainnya. Mari kita mulai dari organisasi, apakah organisasi lebisan selama ini memberikan perubahan yang siginifikan terhadap kehidupan para lesbian atau paling tidak antar anggota? Jika faktanya ya, seharusnya sesama lesbian kita tidak boleh apatis terhadap organisasi tersebut. Jika memang bisa memberikan sesuatu atau kontribusi, sudah sepantasnya sesama lesbian kita ikut memberikan perhatian kepada organisasi lesbian tersebut, begitukan?

Bagaimana dengan SepociKopi? Apakah SepociKopi memberikan perubahan yang signifikan terhadap pembaca? Jika ya, seharusnya sebagai pembaca kita ikut ambil peduli untuk menyokong kehidupan majalah on line gratis ini. Dukungan tersebut tentu saja bukan dari segi materi. SepociKopi hadir untuk memenuhi kebutuhan kita akan informasi lengkap tentang kehidupan homoseksualitas khususnya lesbian. Fakta positif yang ditimbulkan tak terbantahkan. Seharusnya lesbian memberi perhatiannya pada situs on line ini. Banyak cara yang bisa dilakukan antara lain dengan memberi komentar bermutu dan membangun (*) di setiap tulisan-tulisan yang dihasilkan para penulis.

Dua hal di atas hanya segelintir contoh. Bagaimana dengan kepedulian kita pada ruang lingkup yang lebih besar? Kebersihan lingkungan, polusi, kesejahteraan sosial, gelandangan pengemis, kebodohan, putus sekolah, buta huruf, dan banyak lagi. Apa yang dapat kita lakukan? Membiarkan? Merujuk tudingan Florynce Kennedy tadi, jangan-jangan kita telah menduduki apatisme, atau bahkan secara tak sadar memeliharanya. Mari kita periksa diri sendiri, dengan segera menghilangkan justifikasi sempit, dan meluaskan pandangan yang permisif.

Saya sendiri melihat segala hal yang terjadi ini sebagai proses. Memang, saya punya kekhawatiran sendiri melihat kecenderungan yang cukup apatis dan negatif dalam melihat apa yang dilakukan teman-teman lesbian kita. Buat blog bagus, dicela… mengimbau kepedulian malah dihina… diajak melakukan perubahan malah diejek, bahkan cenderung tidak peduli. Well, perubahan lebih baik adalah sebuah proses. Roda waktu berputar, jika apatis merugikan dan negatif, sudah waktunya para lesbian membuka diri, bersikap lebih bertanggungjawab.

Bila kita hanya memandang rendah dan sinis kemudian terus menyibukkan kehidupan dengan diri sendiri, takkan ada kemajuan yang didapat. Diri akan menjadi statis dan lingkungan tak peduli dengan keadaan kita. Introspeksi adalah jalan keluar. Membuka diri adalah solusi pasti. Bersikap adil, amanah, menentang pengekangan dan hal-hal diskriminatif adalah langkah awal menuju kehidupan sosial yang lebih berwarna. Jika pemecahannya ada pada kombinasi apriori (nalar) dan aposteriori (pengalaman) berarti sudah waktunya teman-teman lesbian keluar dari cangkang ketidakpedulian, mencari pengalaman hidup dari orang lain.

Banyak yang tersaji di depan kita. Bila terus saja kita memelihara keegoisan dan menafikaan salah satu atau bahkan keduanya, maka pemecahan apatisme selamanya akan menjadi retorika hidup belaka. Lesbian buka mata dan hatimu, bangunlah dunia yang peka dan positif!

@Nuha Guwa, Sepocikopi, 2010

(*) catatan redaksi:
Komen-komen yang masuk ke meja redaksi banyak yang berisi mencari pacar, desperate karena cinta, mencantumkan nomor telepon, patah hati/dikhianati tiada akhir, dan segalanya yang bertema cinta-cintaan – yang sedihnya, sama sekali TIDAK berhubungan dengan artikel yang bersangkutan sama sekali. Jadi apakah artikel tersebut memang dibaca? Entah. Apakah lesbian memang layak dicap sebagai pengemis cinta dan pecundang dalam membangun diri? Sebuah renungan singkat di hari ini.

17 Comments »

  • adist said:

    This is the best article i’ve ever read in sepocikopi since 2008…
    Good job nuha…..

  • The rythm said:

    Itulah warna warni manusia…

  • YulSic said:

    Klo gw sndr jujur orgy ckp apathy-detected hehe.Tp gw tau kok.mst berubah,kan?Ya,gw akn berusaha.& gw ykn klo emg kita uda brsha biar gmnpn pst bkl ada hslny.

  • dixie said:

    Dari ketidak sengajaan saya
    Tau akan adanya majalah lesbian ini, saya
    Sudah sangat bersyukur.
    Krn diantara banyaknya pandangan buruk mengenai dunia lesbian, majalah online
    Ini mampu menunjukan dedikasinya
    Kepada dunia online, bahwa
    Kita mampu u/ jd sekelompok manusia
    Berprestasi yg isinya bukan masalah cinta
    Dan terpuruk dlm hdp yg suram.
    And this article..was so amazing!!
    Keep on rock!!gulzz!

  • Foster said:

    Honestly I do impress with the deep thought you disclose Nuha. Thank you for sharing this article with us. Keep writing and smiling sis..!

  • kimi boi said:

    Apatis atau tidak apatis, manusia kerap bersikap waspada terlebih dulu sebelum memasuki satu lingkungan. Orang yg paling penyayang sekalipun, kalau berada di lingkungan yg tidak disukainya, dia akan cenderung apatis. Its not to be avoid, its to be reduced.

  • Gl@_@m said:

    setuju banget sama dixie…. ^^

  • Komar's said:

    Sepakat!good luck 4 sepocikopi artikelnya bagus..

  • gumilotsy said:

    artikel yg skali lg mengingatkan qt bhwa manusia a/ mahluk sosial. mbtuhkan org lain. hubungan antar manusia mrupakan slh 1 dr bagian hdup tiap manusia dlm mngumpulkan bekal (amalan) di hari yg dtntukan (kmatian) dan djanjikan (kiamat).
    stuju dgn kimi boi, tiap org mempunyai aura dan insting ktika memasuki lingkungan bru yg mbuat dia apatis. tp stlh dia bradaptasi (mlalui proses brnalar & brpngetahuan dr pngalaman dirinya maupun org lain), apatis itu trkikis.
    dr buku2 cra brsosialisasi yg bnyk dtulis org2 trkemuka, 1 yg plng ampuh dlm memulai prtemanan atopun dlm ksharian mnjlani hdup bersosialisasi a/ senyum. senyum (tulus tntunya) akan mbuka jalan yg lbh baik, memancarkan optimisme, kpercayaan diri, terbuka dan hangat.
    spti sabda Rasulullah, senyum a/ ibadah. yuk, bareng2 qt tebar senyum tulus…
    p.s. udah pasti jangan brtingkah gegabah dlm menebar senyum ya kalo ga mau dsangka ga waras :p

    @nuha: :) thx ya, sudah mengingatkan lg bhwa qt mbtuhkan org lain u/ klangsungan hdup qta. dan sudah spantasnyalah qt pduli dgn mreka, karna qta a/ mreka.

  • icop said:

    setuju juga sama dixie…. :)

  • disa said:

    aq setuju dg penulis,tp sebagai bahan pertimbangan, tolong donk, kata2nya jgn terlalu ‘high’, krn aq sndr kdg2 gk ngrti penulis nulis ap,jd kdg aq hrs baca berulang kali..
    Krn gk semua pembaca sepocikopi berasal dr lingkungan yg mengajarkan kata2 ‘aneh’ itu..
    Banyak juga dari kami untuk buka n menggunakan internet baru2 ini,masih banyak teman2 lesbian tidak mengerti bahasa orang2 moderen,krn kami dr daerah/kampung..
    Mohon dipertimbangkan,n tdk tersinggung dg kt2 aq..
    Trmksh..

  • no_name said:

    Wow.keren!!!.Tajuk Nuha kali ini terbaik diantara tajuk ygsaya pernah baca sebelumnya. Tema yg diangkat apik,ilmiah,mengena, de el el, de es be, etc. Pokoknya ok.!
    Kalo boleh saya menambahkan, apabila definisi apathy adalah absence of interest or passion padahal unsur interest, passion dan action adalah tiga unsur yang menunjang kesehatan mental dan emosional, maka orang yang apatis adalah orang yang tidak sehat( merujuk pada definisi sehat versi World Health Organization). Walau dari beberapa literatur yg saya baca menyatakan bahwa Apatis adalah suatu fenomena alamiah yang dapat dialami setiap orang, terutama bagi orang dgn stress tkt tinggi, sama spt org yg terkena flu atau penyakit lainnya. Namun perlu diwaspadai bahwa apabila didiamkan terus maka akan memasuki fase mental disorder yang dapat menghancurkan penderitanya. Jadi tdk hanya dampak sosial sbgmn yg ditulis dlm artikel di atas namun bisa dampak scr personal. Oleh karenanya sangatlah penting bagi para L utk segera melepaskan diri dari apatis apabila merasa mengalaminya. Nah, artikel tajuk kali ini bisa dijadikan salah satu obat yang mujarab.
    Buat SK, saya pribadi mendukung sekal iartikel artikel yang dapat menunjang para L utk membentuk dirinya mjd pribadi yg sehat baik scr fisik, mental, emosional maupun spiritual.Krn ke 4 unsur itulah yg dpt menjadikan L sbg mahluk yg produktif yg menjadi rahmat bagi seluruh alam. Buat SK semoga bisa terus eksis dgn artikel-artikelnya yg ok!! Untuk Nuha teriring kata salam sukses selalu, Bravo !!!!

  • yellow said:

    sepertinya apatisme mudah menjangkit di sgala lapisan msyrkt, baik kaum L, H, S… *lha…apa itu?* wuakakaka….

    dan sepertinya apatisme sedang menjangkit kehidupanku, dan beberapa wktu lalu, sy sedang berusaha memperbaiki diri, melepaskan diri dari jerat-jerat apatisme, selangkah lebih maju mungkin…. memang, hidup kan bukan melulu tentang cinta ataupun kesendirian yg melanda… jadi… say no to apatisme!!!

    semoga artikel ini, menjadi bahan yg tepat…pertimbangan yang baik untuk mulai melangkah ke arah yg berlawanan dengan apatisme…!!!

    ya, kita bisa!!! :D

  • keke said:

    kemajuan teknologi menyumbang berkembangnya apatisme dlm diri manusia penggunanya.

  • Ai said:

    Aq sendiri belakangan jg jd apatis. Jgn salah dl. Aq peduli pd penderitaan org. Bahkan pd dsrx aq amat sensitif. G jarang aq menangis kl melihat penderitaan org. Aq jg g mikir panjang bt nolong org kl aq mampu. Tp aq bersikap apatis pd org2 yg udah mempermainkan aq. Apa itu salah? Drpd aq marah, benci, sakit hati trus bls dendam. Mending aq sabar, mematikan perasaan dan bersikap apatis. Y kan? Anggap aja g pernah kenal. Beres!

    Kubur dlm2 kekecewaan dan amarah. Masalah hdp udah bertumpuk. Aq d kejar waktu. Jd g da lg waktu bt hal2 negatif yg g penting. Jg g da waktu bt ngurusin org2 g penting yg kelakuan g kalah g pentingx ama dy.
    Gt aja koq repot :) )

  • gumilotsy said:

    @ no_name:W O W
    thx bgt buat komennya, keren… :)
    buat sy, jd slh 1 masukan bguz bgt. bener stuju bgt. pgn dech SK bnyakin artikel2 yg ngebangun karakter spya jd manusia2 kelas atas dlm hal ilmu dan kjiwaannya.

    buat temen2 yg dah komen jg, MANTAB!
    senengnya msh da org2 yg msh mau mengingatkan dan slng brbgi.
    dlm ngingetin/menasehati bkan brarti qt dah bener. justru qt sama2 blajar. makanya qt SALING mengingatkan. karna bs ja diantara qt da yg ‘lupa’ (bs jd ma nasehatnya sndiri) truz dgn ksh syang diingetin lg. kan saling mengingatkan jg slh 1 bntuk ksh sayang. jd
    yuk tebar truz kasih sayang seantero jagat raya. mari… :D

  • ANDIKA BUMI PRATAMA said:

    Mantap sangat . tulisan ini benar2 akan merubahku .

    aku akui aku termasuk dari tipe itu krn ketidk percayaanku pada orang lain . tp aku akan berubah ,

    SEMANGAT

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.