Home » L'Amour, Sepocikopiana

L’Amour: Tentang L’Amour

1 August 2010 166 views 3 Comments

Oleh: Sebeningembun

Sekitar tiga puluh bulan yang lalu, tim redaksi resmi SepociKopi.com resmi meluncurkan kolom bernama “Have Your Say”. Kolom ini berisi tulisan yang saya istilahkan sebagai tulisan “menye-menye”, tulisan yang mellow, gloomy, namun menyisakan jejak pelajaran hidup.

Terus terang, aku jatuh cinta pada kolom ini. Aku kan termasuk Menye-Menye-Girls-Sejati. Jika kebagian tugas mengedit tulisan untuk kolom “Have Your Say”, aku seperti mendapatkan makanan kesukaan. Aku begitu menikmati seluruh proses pengeditannya. Menyisir kata-kata yang kurang pas, menjalin satu kalimat dengan kalimat berikutnya, memutar satu paragraf ke paragraf lain. Tak jarang mataku ikutan basah bila tulisan tersebut mengharukan, dan menarik napas lega jika endingnya membahagiakan.

Enaknya lagi, dari awal diluncurkan hingga sekarang, kolom ini jarang kekurangan stok tulisan. Ada saja naskah yang masuk dan dengan mudah dapat dimasukkan ke dalam kategori kolom Have Your Say. Atau kadang-kadang kami menuliskan ulang kisah mereka yang diceritakan secara lisan atau via aplikasi chatting. Membuat aku bisa menyimpulkan, beginilah siklus kehidupan sebenarnya. Termasuk kehidupan lesbian. Jatuh, mencintai, kecewa, terpuruk dan mencoba bangkit kembali.

Nah, sebulan yang lalu, aku mendapat tugas baru.

“Ning, urusin kolom baru ya,” titah Alex, sang Editor-in-chief.

“Kolom apa nih, Kak?”

“L’Amour. Kamu sortir tulisan masuk dan pilih tulisan-tulisan yang manis-manis. Kisah cinta yang manis, persahabatan yang manis, kebahagiaan dan kebersamaan yang manis, pokoknya yang soo swiiiitt, deh!”

Aku melongo.

Emang ada?!

*Plaaakk!*

Darahku berdesir. Antara tertantang dan didera rasa pesimis. Puluhan bulan bergelut dengan naskah kiriman pembaca SepociKopi, puluhan bulan berteman dan chit-chat di dunia pertemanan, aku harus mengakui bahwa menemukan naskah yang manis dan mendengar penuturan kisah cinta berjudul bahagia jauh lebih sedikit dibanding tulisan dan cerita ala curhat dot com.

Mungkin karena ini sifat alami manusia (termasuk aku) yang suka berkeluh kesah. Ingatan pada pengalaman buruk yang menyakitkan jauh lebih membekas. Sekali tergores, sulit untuk menghapusnya. Dan, kita ingin semua orang tahu, betapa menderitanya kita. Betapa teruk kekecewaan yang memukul kita. Dan aku mengakui menulis adalah salah satu cara atau terapi untuk mengobati goresan kepedihan dalam hidup. Pun, membaca pengalaman orang lain membuat kita merasa, “Oh, ternyata aku nggak sendiri. Ada kisah cinta yang lebih pedih, tetapi mampu orang mampu bangkit dan mencintai kembali.” Dan kita bisa belajar, bahwa fase kesakitan sering harus kita lalui untuk bisa mengecap manisnya kebahagiaan.

Hidup memang pengguliran suka dan duka. Sebenarnya kita menerima kedua hal ini dalam porsi yang seimbang. Hanya saja berbeda dengan duka yang kenangannya melekat erat, sukacita dan kebahagiaan sangat rentan terhapus meski oleh secuil kepahitan.

Untuk itu jugalah kolom “L’Amore” ada.

Meski menemukan tulisan kebahagiaan seperti mencari mutiara di dasar lautan, tapi harganya sangat sebanding.

Aku ingin sekali mengajak teman-teman, untuk berbagi penggalan kisah bahagia, agar mata kita terbuka bahwa cinta dan kebahagiaan itu bukan hanya omong kosong dan fatamorgana.

Tuhan kita baik. DIA telah memberi hidup yang baik untuk kita, dan aku pikir, menuliskan penggalan kebahagiaan itu adalah salah satu cara untuk berterimakasih padaNYA.

Meski tidak ada sesuatu yang abadi, tapi menulis kebahagiaan adalah cara untuk mengabadikan kebahagiaan tersebut. Seperti kamera yang menangkap potret tawamu dan mengabadikannya dalam selembar foto. Mungkin kini kamu sedang bercucuran air mata, tapi melihat kembali foto itu, kamu bisa mendesahkan syukur dan berterimakasih bahwa Tuhan pernah membuatmu tersenyum dan tertawa bahagia.

Jadi… tunggu apa lagi? Kirimkan tulisanmu ke e-mail: redaksi@sepocikopi.com. Jangan biarkan kisah cinta dan kebahagiaanmu pudar oleh waktu. Abadikan dan bingkai mereka dalam sebuah tulisan. Dan, pasti ada banyak kisah yang bisa kamu bagikan. Karena, tidak selalu perlu pacar kok untuk bahagia ;)

@Sebeningembun, SepociKopi, 2010

3 Comments »

  • kimi boi said:

    Wah bagus dong, jadi motivatif dan positif…cos love isn’t love when it hurts.

  • YulSicShippa said:

    iya dong. emg pacar doang yg bs bikin seneng

  • Foster said:

    Wah, semoga tetep sukses Ning ama tugas barunya ya.. Pasti bisalah kalo cuma akrobat kalimat.. Udah 30 bulan sih.. Jadi enak dong nih dapat makanan kesukaan double hehehe

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.