Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Wirausaha dan Kita

27 July 2010 259 views 11 Comments

business-plan1Oleh: Nuha Guwa

Menganggur? Lesbian menganggur? Tunggu dulu, jangan membuat malu sesama lesbian. Bagi yang sudah memiliki pekerjaan, barangkali menganggur bukanlah kata yang menakutkan, namun hal ini menjadi momok mengerikan bagi sarjana yang sudah capek melanglang buana memasukkan lamaran ke satu tempat ke tempat yang lain, bahkan mengintip banyak kolom iklan surat kabar sudah makanan harian. Menurut data dari DIKTI, sekitar 60 persen lulusan sarjana di Indonesia saat ini menganggur. Eh, berapa persen jumlah kita di dalam sana? Jangan sampai ada lagi berita di media akibat terlalu lama menganggur akhirnya bunuh diri. Oh no!

Beragam alasan dari para pengangguran ini, mulai pernyataan: memang belum rezeki, kerjaannya tidak sebidang, gaji dan ongkos tidak sepadan, waktu lemburnya kebanyakan, ah terlalu capek, waktu liburnya sedikit, takut tidak mengusai pekerjaan tersebut, atau yang paling klise “ tak ada backing” makanya tidak bisa bekerja di perusahan mana pun. Oke… lupakan mencari kerja, tutup buku, simpan semua koran-koran lowongan kerja, rapikan ijazah ke dalam map dan taruh di tempat yang aman, jangan lagi otak-atik. Mari tengok apa yang ada dalam diri kita, hobi apa yang paling menonjol. Tentu hobi mengobrol juga bisa menjadi bisnis… penyiar radio misalnya, tapi sayang kalau suara pas-pasan, pengetahuan juga minim, tidak sigap, dan cekatan maka stasiun radio juga akan memilih orang-orang yang lebih canggih dari kita.

Intinya apa? Sebelum mengeluh ini itu tentu saja kita harus menilik ke dalam diri kita sendiri. Apa yang bisa dibanggakan, apa potensi yang paling menonjol, lalu mulailah dari sana, mulailah berpikir untuk membuka usaha sendiri dengan kemampuan dan keahlian tersebut. Sebenarnya ada sisi yang dilupakan negara tercinta terhadap kaum muda, yakni jiwa wirausaha!

Baik,barangkali saya pernah mengupas hal ini di Tajuk sebelumnya, namun nggak ada salahnya jika saya tilik sisi lain terkait wirausaha ini. Coba ingat-ingat, ketika kecil selalu ditanya guru, ingin jadi apa setelah besar nanti? Semua pasti menjawab pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan profesionalisme. “ Dokter, Bu!”, “Guru”, “Pengacara”, “Menteri”, dan banyak lagi. Namun tidak pernah terdengar jawaban “pengusaha”.

Bagaimana dengan jiwa wirausaha kita ketika di SMA? Nol besar! Kurikulum sekolah yang sepatutnya di mata pelajaran ekonomi bisa mengajarkan subjek wirausaha ini, malah lebih banyak ngomongi teori. Pelajaran Wirausaha tersebut dianggap kurang bergengsi, kurang berguna, tidak menjanjikan? Walah! Siapa bilang? Belum adanya kewajiban materi kewirausahaan di sekolah umum ini membuat para lulusan sarjana apalagi SMA sering patah arang jika tak memiliki uang cukup untuk meneruskan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi.

Kita sadari memang secara pelajaran yang mengajarkan ekonomi setingkat sekolah menengah, namun materinya sangat umum, sebatas memang harus diajarkan, tidak aplikatif dengan praktek bisnisnya sehingga siswa hanya belajar secara text book. Selain itu juga terdapat kesenjangan yang tajam antara teori atau pelajaran dengan dunia nyata. Padahal seharusnya dari sekolah menengahlah, semangat jiwa menjadi pengusaha tersebut mudah dikobarkan.

Kesuksesan dan kekayaan membutuhkan sikap inovatif dan kreatif. Inilah ciri utama seorang entrepreneur. Namun bagaimana ini bisa muncul jika sejak muda materi pelajarannya tidak pernah dikenalkan? Padahal ini bisa dijadikan back up pengetahuan sebelum mendapat pekerjaan. Siswa dipicu berpikir bagaimana cara menciptakan lapangan pekerjaan sendiri atau kasarnya menghasilkan uang untuk kebutuhan dirinya sendiri.

Memang patut disayangkan wirausaha sukses dengan modal kecil baru diajarkan setingat sekolah bisnis di universitas, padahal menjadi profesional dengan memiliki bsinis juga sangat menjanjikan. Paling tidak kita bisa membuka lapangan pekerjaan buat orang lain. Baiklah kalau memang terdengar sebegitu gampang, wirausaha apa yang bisa menghasilkan? Yang pasti sudah banyak tuntunan wirausaha yang dijual di rak buku. Bagi yang sering online bisa dengan mudah menemukan usaha yang menjanjikan berikut alamat pasar yang akan dituju.

Menurut entrepreneur sukses, usaha yang paling menjanjikan keuntungan sangat bagus jika didasari atas hobi. Hobi apa yang diminati, mulailah dari sana. Yang hobi sepeda motor barangkali bisa membuka usaha pencucian sepeda motor, atau bisnis pencucian helm. Yang suka stiker bisa membuka usaha stiker atau kaca film mobil. Yang hobi membaca bagaimana mulai hunting toko buku bekas dan membuat perpustakaan keliling, atau di rumah, syukur-syukur nemu buku langka yang bisa dijual dengan harga jutaan.

Bagi yang gemar kuliner, masak memasak, tentu saja hal ini yang paling mudah dilakukan. Sudah menjadi kabar umum, jika usaha makanan sangat cepat mengembalikan modal awal, terkadang belum sampai setahun sudah bisa menguntungkan, asal kualitas makananya enak, bersih, dan sehat. Mengapa tidak coba yang ini? Coba survei lokasi, tempat kantoran, lokasi strategis dekat sekolahan, dan berada di lalu lintas umum. Ada berapa rumah makan atau pedagang kaki lima yang menjual makanan di sekitar tersebut. Usaha ini juga harus dibarengi dengan mencicipi satu per satu makanan yang ada itu, baru kemudian membuat target, makanan apa yang akan dijual, berapa perkiraan harga jual dan siapa pasar yang dituju. Jika belum memiliki modal coba cari pinjaman dulu, coba dari keluarga terdekat, mengapa tidak? Tapi harus berkomitmen dan profesional bahwa dana tersebut harus dikembalikan!

Banyak macam usaha kuliner, menjual khusus sarapan pagi, khusus buah-buahan. Atau minuman yang rasanya khas dan murah meriah tapi menyehatkan barangkali perlu dicoba. Booming usaha Teh Poci sepatutnya menjadi contoh. Dengan modal yang tidak begitu besar, usaha tersebut selalu bisa mengambil hati dan menjangkau kocek pelajar. Tentu banyak cara untuk mengubah menganggur menjadi uang. Semua kembali pada diri sendiri, bagaimana pun susahnya perjuangan tersebut, jangan berputus asa. Cari network dan informasi, terus belajar, dan mencari pengetahuan yang sesuai bidang yang disukai, lalu ciptakanlah usaha mulai dari rumah, paling tidak melayani orang-orang yang ada dilingkungan tempat tinggal kita sendiri. Coba tanya diri sendiri: Masih juga mau menganggur? Nggaklah yaw!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

11 Comments »

  • pras said:

    jadi wirausaha butuh tenaga ‘start’, disiplin dan mental yang lebih besar.
    kebanyakan orang lebih suka jadi pns: gaji kecil tapi aman. (*trus sasaran berikut: korupsi)

    pengamatan saya: anehnya justru jiwa wirausaha lebih banyak ada pada orang dengan pendidikan rendah. mungkin karena kepepet dan sadar gak mungkin jadi ‘direktur’

  • YulSicful said:

    Guru saya jg prnh blg, biarpun uda pny kerjaan tetap tp kita jg hrs berwirausaha~
    Siap deh,Bu Guru! saya pgn jd pengusaha batik modern nih. modalin, dong! /plak

  • R Lee said:

    :: mmang akan lebih afdol mendirikn usaha yg sesuai dngn hobi, ada kepuasan batin dsana dan hasilx akan jauh lebih sempurna krna dilakukn dngn hati.. aku dan partner sama2 hobi makan dan sdang dlam proses mndirikn warung makan dngn menu makanan Tradisional Khas Bugis, tpi msih trbentur mslah modal, (smoga bpak Ket KADIN brkenan mncairkn danax).. oia, kata pak Dosen, jika ananda ingin mnjadi A Real Entrepreneur, ananda harus punya tekad dan kemauan, harus tahan banting, berani berinovasi, terapkn analisis SWAT, tampilkn sesuatu yg brbeda, analisis pesaing jga penting katax, and stay FOCUS of course.. :-) Oia lagi, kata slah seorng pengusaha, sbnarx kerupuk seribu rupiah kita itu jauh lebih ma’nyos dripda produk luar, hanya sja kita kalah dikemasan. bagaimna ?, ada yg trtarik ? ;-)

  • Zihan said:

    Nice… :)

  • marmalade said:

    lebih enak lagi bikin usaha barengan sama partner… hohoho…

  • LeZerin said:

    menjadi pengusaha = risk taker
    siap gagal siap sukses!

    bagi yg biasa aktif, ngangur itu sangat menyiksa.
    thanks dah share artikel ini, business plan = dan atau bagian dari life plan & setting your life goal!

  • iezasabishii said:

    wirausaha perlu ketekunan, kesabaran dan keteguhan. tidak seperti pekerja biasa yang datang dan pulang kemudian dapat gaji. Lelah dan ujian tiap hari bisa datang, tapi tetaplah bersemangat. ‘berakit-rakit ke hulu berenang2 ke tepian bersakit dhulu, bersenang kemudian’

  • gumilotsy said:

    materi dan kurikulum smu brbeda dgn smk. siswa2 smu dprsiapkan u/ kjenjang brikutnya, yaitu kuliah. siswa smk u/ k level bkerja. pd siswa smk ada masanya/pnugasan u/ praktek kerja lapangan. mreka blajar memasarkan. yep, trgantung jurusan.
    tak bisa dpungkiri, tdk smua org memiliki jiwa pengusaha akibat brbgai latar blakang. dan benar adanya bisa saja dtanamkan dan dipupuk shingga mengakar kuat.
    uniknya stiap org punya perannya masing2. qt bsa brusaha menentukan smpai kpn peran itu qt jalankan serta memilih peran2 baru. pastinya itu akan trwujud dgn ijin-Nya ;)

  • no_name said:

    Menjadi wirausaha???mmm, sangat menarik dan menantang. Tapi memang membutuhkan keuletan dan kesabaran. Membaca tulisan ini membuka kenangan semasa sekolah dan kuliah. Ketika mencoba menggali berbagai potensi diri, termasuk berwirausaha. Tanpa bermaksud menyalahkan sistem pendidikan 100 persen, satu hal yang sering terlupakan adalah bagaimana menanamkan”kemandirian”pada diri/jiwa seorang anak/remaja. Dan jiwa ini tidak bisa hanya ditumbuhkan lewat pendidikan di sekolah tetapi justru di dalam keluarga. Jiwa mandiri lah yang membuat seorang anak akan berusaha menggali berbagai potensi diri agar ia bisa tetap survive menghadapi kehidupan. Sehingga ia tidak akan pernah menjadi seorang “pengangguran” yang menjadi beban orang disekitarnya. Seandainyapun lulus sarjana ataupun Sekolah menengah, maka ia telah siap bekerja krn ia telah mempersiapkan semua. Saya setuju @gumilotsy bahwa setiap orang memiliki peran msg. Dan semua atas seijinNya. Jadi wirausahapun apabila masih terus bergantung pd orang tua maka takkan terwujud kemandirian tsb.Byk contoh mengenai hal ini.
    Tema tajuk sepoci makin hari semakin menarik..Bravo SK!!!

  • ANDIKA BUMI PRATAMA said:

    YAP WIRAUSAHA memang sangat ok . dl aku yang perpenampilan dengan sangat jujur sebagai Butchie sejati , melamar sana sini pekerjaan dan mengakui identitasku sebagai Lesbian . tak ada 1pun yang mau menerimaku sebagai pekerja walaupun bisa dibilang ilmuku sangan cukup .

    Akhir cerita , aku mencari sedikit modal dengan cara PENGGADAIAN .

    Berwirausaha , mendapat modal pas2an dan sekarang menjadi sangat pesat .

    allah maha tau .

    SEMANGAT

  • febry said:

    Topik yang mantap! Sepoci kopi memang media yang bisa membuka-mata para lesbian supaya tidak hanya tertidur, tanpa memikirkan masa depan. Lesbian saat ini harus membuktikan ketangguhan dan kehebatannya. Oh ya, aq sekarang lagi bisnis MLM juga dengan partner.. Yah, ada yang tertarik ikut? :-)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.