Home » Lagak Lajang, Sepocikopiana

Lagak Lajang: Are You Happy?

24 July 2010 117 views 15 Comments

pociOleh: Oscar A.

Sejenak saya merenung jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Pertanyaan itu dilontarkan melalui welcome note dalam ponsel adik saya yang baru saja berulang tahun ketujuh belas. Menjawabnya tak perlu bernada seperti bunyi ponsel, cukup dalam hati saja. Namun, saya masih bingung bagaimana menjawabnya. Apakah kamu bahagia? Apakah saya bahagia? Beugh, bagaimana mengukur kebahagiaan? Setahu saya yang ada ukuran itu adalah lingkar pinggang perempuan, jarak tempuh kendaraan, berat badan ataupun luas wilayah tertentu dalam sebuah kepulauan. Semua yang dinyatakan dengan satuan ukur sudah tentu bermakna pasti. Berapa ukuran buah dada si cantik yang sedang membeli pemerah bibir itu? Pastilah saya tahu ukurannya. Namun kalau ditanya, apakah si cantik yang berbuah dada sexy itu bahagia dengan pilihan pemerah bibir yang sedang dicobanya? Jawaban saya, ragu-ragu dan tidak tahu. Sebab, saya tak punya kemampuan menganalisa atau mengukur kebahagiaan seseorang hanya dari ekspresi wajah. Tampilan luar sering menipu, dan saya pun sering tertipu karenanya.

Manusia tertawa terbahak-terbahak, bernyanyi riang dan berjoget-ria, seolah-olah kebahagiaan sudah berada di genggamannya. Berulang kali saya bertanya, benarkah mereka sedang berbahagia? Atau sebenarnya, mereka hanya mencoba-coba meraih kebahagiaan karena selama ini gagal mencapai titik puncak kebahagiaan itu sendiri. Apakah benar, orang yang berpasangan itu berbahagia? Apakah iya, yang menikah itu bahagia? Apakah memang, yang sendirian itu tidak bahagia atas hidupnya? Ah, astaga! Bahagia itu sebenarnya apa dan bagaimana? Rupa dan bentuknya seperti apa ya? Berbau semerbakkah? Bersuara merdukah?

Batin saya berkata,  bahagia adalah curahan rasa abstrak, yang hanya kau sendirilah yang tahu bagaimana rasanya. Sekali lagi abstrak, bagaimana mengukurnya? Atau, pertanyaannya ditukar, bagaimana lingkungan tahu bahwa saya tidak berbahagia karena saya melajang, sendirian dan belum menikah? Katakan, apa satuan ukur yang mereka gunakan? Mengukur yang ada satuannya saja sudah rumit, apalagi yang gak punya alat ukur sama sekali.

Kalau kau pernah tinggal di perkampungan kolot dan kampung yang semakin lama semakin menjauh dari peradaban modern, pastilah tahu rasanya dikasihani oleh orang-orang, atau lebih tepat, tahu rasanya dipergunjingkan oleh orang sekampung. Anak perempuan, umur diatas tigapuluhan, nggak laku-laku. Baiklah, tarik napas, jangan emosi dengan pilihan kata saya yang terakhir. Kata-kata itu hanya berlaku di sebuah perkampungan terpencil seperti tempat lahir saya. Mau bagaimana lagi, memang begitu kenyataannya. Orang sekampung menganggap saya patut dikasihani. Lihat teman-teman kecil saya, tamat SMA sudah langsung dilamar juragan kampung sebelah. Sekarang, mereka berbahagia dan sudah punya anak dua bahkan tiga atau empat. Catat, berbahagia, begitu kata orang-orang kampung. Lalu, balikkan sendiri sepenggal kalimat itu ke lajang seperti saya. Artinya, mereka menganggap, saya sekarang tidaklah bahagia.

Welcome note di ponsel si adik, masih menatap saya dalam-dalam, menanti jawaban atas pertanyaan yang diajukannya. Saya bengong bukan sesaat, tapi diam berlama-lama. Apa benar saya tidak berbahagia? Secara materi, saya berkecukupan meski tak berlebihan, paling nggak, tak pernah membebani siapa pun. Secara sosial, teman-teman saya ada di mana-dimana. Secara kekeluargaan, orangtua dan anggota keluarga lainnya mencintai saya dengan sangat. Secara ini itu, saya cukup berbahagia. Setidaknya, cukup itu sudah bermakna positif.

Lalu, bagaimana dari sisi cinta? Saya sedang mencongkel-congkel jawaban yang mungkin keluar dari dalam kalbu, tetapi kosong, jawabnya nihil. Artinya, hati saya kosong, kebahagiaan saya nihil dinilai dari sisi yang satu ini. Secara total dan rata-rata, saya sebenarnya cukup bahagia, meski di beberapa bagian kurang sempurna. Bukankah hidup memang demikian? Huh, lama-lama saya bisa gila kalau terus berusaha mengkombinasikan alat ukur kebahagiaan secara aritmatik dan secara abstrak.

Sekali lagi, saya memandang welcome note ponsel si adik, apakah kau bahagia?

@Oscar A., SepociKopi, 2010.

15 Comments »

  • say_czeka15 said:

    Gw bahagia klo dah menemukan orng yg sayang & care sm diri ini..

  • gumilotsy said:

    klo mnrut sy bu oz, bahagia itu kyk air, kdng pasang kdng surut. klo lg pasang, bs ja qt lngsung dgn cepet jwb ‘ya, sy bhagia.’ tp klo lg surut, ampe kering, ya sulit melihat pa lg nentuin jejak airnya. nah di masa surut ini, mesti hati2 jngan smpe qt jd kufur nikmat karna dlu prasaan yg qt sebut bhagia skrng dblng bukan.

    bhagia jg brsifat relatif. karna sifatnya ini, pasti tiap org punya ukuran masing2. makin sulitlah qt menentukan jwbn qt coz pzti da ja yg ga spendapat kl qt jwb qt bhagia, mreka mencibir n memaki. kalo dah gni solusinya: what the heck with what they say!
    yg plng pnting qt tahu n ju2r ma prasaan qt, paham dgn pmikiran qt, sadar dgn tindakan qt serta brtanggung jwb atas smua itu ;)

  • kimi boi said:

    I am :)

  • Tim said:

    Bahagia itu upah bagi yg pandai bersyukur.

  • YulSicful+ said:

    Uh, tentu saja! :D
    Apapun yang terjadi saya harus tetap bahagia. dunia itu mebahagiakan~

  • le vine said:

    kebahagiaan itu ga bisa diukur secara materi,fisik,dan alat ukur lainnya. Kebahagiaan akan sesuatu yg bisa diukur pada akhirnya hanya kebahagiaan semu, pasti hilang suatu saat.
    Bahagia emg abstrak bgt, tp mnrt gw bahagia yg kekal adalah bahagia akan ‘jiwa’ kita..jd walopun ada kesulitan dlm suatu kondisi,asalkan jiwa kita bahagia,kesulitan itu akan hilang..krn kesulitan itu tidak kekal tapi jiwa kita kekal..
    Eniwei..pertamax ga yah? ;)

  • just in said:

    kl bhagia scr umum…ya…akan luas bnget….cuma sbnerx “bahagia” it relatif…msing2 org pnya standart sndi2…jd gk bs dsamain bhagiax A dgn bhgiax B or C….so..kl mo tau kt bhgia or gk..lngsung tnya aj ama diri sndiri…krna jwbanx cm kt sndri yg tau bkan orng lain..cb deh tnyain n cari dari dlm dri..insyaAllah jwbanx gk akan “kosong”…yakin deh..jwbanx akan dgn cpat didapet..

  • suzieswan said:

    yang membuat dan yang merasakan bahagia itu adalah diri sendiri..so make ur self “happy”

  • Zoe said:

    Meski bahagia itu relatif, tidak jarang aku kelimpungan menjawabnya.
    Untuk detik ini, aku bahagia, meski dlm skala 1 s/d 10 rasa bahagiaku cuma bertengger di angka 5 lebih tipis.

  • Zee said:

    Bahagia=kenyamanan hati&pkiran
    lakukanlah hal2 yg menyamankn hti dan pkiranmu.
    Slh satu hal yg membhag!akanQ adlh ssorg yg slalu ad utkQ,Dy tlh damaikn htiQ.
    Love u,,beib.

  • Gl@_@m said:

    setujuu dengan suzieswaannn….. “make ur self happy” ^^

  • Fe said:

    Oz, mau g brbgi bhagia ma q?
    Q siap ko ngsi bhagia dr sgi hati kmu, hehe…
    Brbhagialah Oz, yg menggilai km kyk q, bkan cma Aq lho…

  • Ella said:

    Dunia penuh dg kebahagiaan.. :)

  • iezasabishii said:

    setuju dengan gumilotsy. lam kenal

  • rein said:

    bahagia itu pilihan….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.