Home » Humaniora, Renungan

Sengsu

20 July 2010 137 views 8 Comments

fragileOleh: Zetha Septina Abdu

Ada sebuah momen yang membikin saya benar-benar kehilangan selera terhadap daging selama berbulan-bulan. Waktu itu, untuk pertama kali saya berada dalam lingkaran sekumpulan orang yang mabuk akan alkohol dan puisi. Perkara mabuk akan alkohol dan puisi ini bisa dijelaskan oleh sebuah ritual nyentrik.

Ritual itu mensyaratkan persekutuan antara alkohol dan puisi. Sederhananya, jika berminat ikut kau harus membuat puisi, caci-makilah puisi bikinan rekanmu sebelum kemudian giliran puisimu dicaci-maki, lalu tenggaklah alkohol. Perhelatan digelar tiap Jumat malam di salah satu ruangan sebuah kampus. Konon, ruangan itu bekas kantor dekan yang dengan itikad baik kemudian dihibahkan kepada mahasiswanya. Tentu bukan demi kegiatan semacam ritual nyentrik itu.
Malam sudah demikian larut. Puisi terakhir sudah usai dihina-dina. Bau alkohol bercampur asap rokok menguar kuat dari bibir-bibir yang memerah akibat zat pewarna minuman kelas kambing. Bungkusan kresek hitam yang sedari awal teronggok di tengah menyita perhatian. Upeti, seseorang baru saja menerima upah puisi dari sebuah surat kabar nasional. Memang sudah demikian adatnya.

Pelan-pelan sang pemberi upeti membuka bungkusan. Dengan separuh kesadaran tampak benar ia menikmati ketidaksabaran orang-orang yang mengerubutinya. Saya turut penasaran bercampur geram. Bau daging samar-samar menyeruak begitu bungkusan terbuka. “Sengsu!” teriak seseorang kegirangan. Mendengar teriakan itu, saya jadi surut seketika. Meski bukan muslim yang taat, saya tak pernah berminat dengan sengsu, tongseng asu a.k.a tongseng daging anjing.

Orang-orang berebutan menyantap sengsu dengan beringas. Saya teringat pada Legenda Wongasu, bau daging anjing mendadak jadi amat memuakkan. Saya berusaha mengabaikan tekanan-tekanan di perut. Sampai pada adegan di mana sang pemberi upeti mengangkat tengkorak anjing. Deretan gigi anjing yang masih utuh terlihat beradu dengan gigi sang pemberi upeti. Sisa-sisa daging yang melekat pada tengkorak berusaha dikaisnya, seakan tak rela menyisakan satu serat pun.

Sumpah saya tak mampu menahan dorongan di kerongkongan, saya benar-benar muntah. Cairan berwarna merah segar bersemburan dari mulut saya. Zat pewarna minuman kelas kambing ini memang aduhai bandelnya. Bahkan, keesokan paginya saya masih menemukan air kencing saya berwarna merah.

Sekali itu saya amat bersyukur mendapati semua orang cukup mabuk, hingga tidak menyadari ada yang muntah di antara mereka. Bau daging kembali mengaduk-aduk perut. Saya putuskan untuk segera angkat kaki, dan tidak pernah kembali lagi.

Seusai tragedi sengsu saya menemukan kegemaran baru, membaca puisi di radio. Dalam acara baca puisi di radio itu saya berkenalan dengan seorang kawan. Kami berbagi gosip, kabarnya ada seorang penyair perempuan muda yang gemar sekali mengerat lengan tangannya demi merasakan benar hal yang bernama perih. Kawan saya menunjukkan beberapa bekas luka sayatan di lengan kirinya, belum kering betul sebenarnya. “Ini demi menulis puisi,” katanya. Saya cukup tercengang waktu itu. Sampai segitunya ya, pikir saya. Di kemudian hari saya makin tercengang mendapati fakta bahwa sang kawan tadi rupanya mengiris lengannya tiap kali hendak diputus pacarnya. Aih, saya ditipu. Beruntung saya tak pernah berminat mencoba ‘trik’ itu.

Sampai kemudian ketika kebosanan akut akan acara radio itu menceracah, saya diselamatkan oleh bacaan semasa SD. Ada sebuah kutipan, Buku iku guru seng ora iso nesu (buku adalah guru yang tak bisa marah), entah siapa yang mengucapkannya. Ingatan saya cuma menyisakan foto laki-laki berkacamata di sebuah majalah anak-anak. Ada pula selarik puisi yang kalau tidak salah seperti ini: Layang-layang, baru layang-layang kalau ada angin…

Di luar sana, kawan-kawan ritual nyentrik sukses membombardir berbagai media massa dengan puisi mereka. Kawan saya yang penipu itu masih terus membaca puisi di radio. Sang penyair perempuan muda tetap menjadi penyair, namun makin matang. Maka jadilah saya sekarang ini, yang masih terus dan terus belajar pada buku saja.

Di sini, saya menginsyafi betul penggalan puisi Chairil Anwar bahwa: nasib adalah kesunyian masing-masing. Bahwa nasib bagi saya adalah karya dan kesunyian (baca:proses) saya bisa jadi tidak sebinal kawan-kawan ritual nyentrik dengan mabuk akan puisi dan alkoholnya. Tak seberani sang penyair perempuan muda yang menyayat lengannya. Tak serapi si A yang berguru pada si Z.

Dalam anggapan saya, tulisan-tulisan di Sepocikopi pun tak bisa ingkar dari hal itu. Bahwa tulisan-tulisan yang terpampang adalah kesunyian dari masing-masing penulisnya.

Kali ini saya merasakan laku paradoks yang tentu saja membingungkan, saya berharap tulisan ini bukan curhat padahal saya menuliskan dengan cara curhat. Maka, baiklah saya mengutipkan kembali penggalan puisi Chairil Anwar:

Bukan maksudku mau berbagi nasib
Nasib adalah kesunyian masing-masing.

@Zetha Septina Abdu, SepociKopi, 2010

8 Comments »

  • amort said:

    wow.. artikel bagus

  • Phoebe said:

    Tulisannya deskriptif banget sampai2 aku ikut mual ngebayangin sengsu :D salut!

  • mika said:

    woohooo.. gw baru tau ada yg begituan. sengsu? kirain tadi sejenis aliran fengsui gitu. jauuhh ternyata. keren cara penulisannya.

  • kimi boi said:

    destruktif yang kreatif….

  • musicdream said:

    keren! saya baru tau kalo ternyata ada hal-hal kaya gitu *melongo xp

  • tingting said:

    seniman memang suka nyentrik binti aneh-aneh. tapi yang nggak aneh-aneh nggak berarti lantas nggak bisa nyeni.

  • Lushka said:

    Zetha, nice writing!wow.
    Eh,fyi sengsu kayanya hanya ditemukan di jogja dan menurut saya, warung penjual sengsu bisa jd tempat screening cari gebetan se’agama.hehe. Walaupun tidak 100% menjamin tp lumayan akurat. Anyway, mau komen soal penyair yg kamu blg penipu itu..umm apakah tdk lbh baik kalo kamu tdk menyimpulkan dia seorang penipu. Buat seorng pelaku ‘self injured’ alasannya bisa jd keduanya, memang ingin merasakan sakit secara fisik untk menghilangkan kecemasan dan rasa sakit secara psikis yg ga bisa ia kontrol akibat terancam ditinggal pacar.. Mungkin dia malu utk mengakui dia SI. So,alangkah lbh baik kalo jgn ngelabel ‘penipu’ karena manusia tlalu kompleks dgn backgroundnya. Hehe. Maaf kalo rambling.
    Keep writing zetha. Cheers.

  • zetha septina abdu said:

    iya ya…
    setelah tak pikir-pikir, keterlaluan ya memberi label penipu pada teman saya.

    makasih buat pencerahannya Lushka… :)
    makasih juga buat semua yang sudah mengapresiasi ‘Sengsu’
    makasih…. makasih….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.