Have Your Say: Tak Kenal Putus Asa
Kepindahan kota membuat hubungan dengan kekasih menjadi jauh. Yang biasanya terbiasa melakukan kegiatan bersama-sama mendadak terpisahkan jarak. Sanggupkah bertahan? Dengarkan kisah sahabat kita Ditta yang bercerita tentang kepindahan keluarganya ke kota lain.
Aku lahir dan besar di kota Jakarta. Aku sudah terbiasa dengan Jakarta dan seluruh teman-temanku dari kecil sampai kelas dua SMA di Jakarta. Waktu duduk di kelas dua SMP aku mulai merasakan ada yang janggal dengan orientasi seksualku, tapi aku belum mengerti namanya. Karena pada zaman itu, aku jatuh cinta dengan seorang teman di kelas. Teman itu bukan lelaki tapi perempuan.
Rasa bingung menggelitiki tapi sayangnya aku tidak punya akses informasi dengan mudah untuk mengerti perasaanku. Kesukaanku kepada cewek itu semakin bertumpuk. Didiamkan mengganggu, diteruskan takut. Akhirnya aku berusaha menjadi temannya. Aku kebetulan juga mendapat tempat duduk yang berdekatan dengannya, dan setelah tukar tempat dengan seorang teman, aku berhasil duduk di sebelahnya.
Dia ternyata menyukai persahabatan yang kuulurkan kepadanya. Kami semakin dekat selama satu tahun itu. Kami sering belajar bersama. Di mana ada dia, di situ juga ada aku. Puncaknya waktu belajar bersama-sama menghadapi ujian SMP. Keseringan bersama di kamar untuk belajar, suatu hari kami nggak bisa belajar. Karena aku menciumnya untuk pertama kali.
Aku kaget. Dia juga kaget. Tapi kami menikmati kebingungan dan kenikmatan itu, walaupun deg-degan. Selanjutnya setelah kejadian itu, aku dan dia jadian dan semakin sering saling menyentuh dan berciuman untuk mengungkapkan perasaan sayang. Dia bilang dia sangat sayang sama aku.
Kami melanjutkan ke SMA yang sama. Aku bersyukur karena lagi-lagi kebetulan kami satu kelas di kelas satu. Kami menjadi sahabat akrab di mata teman-teman dan guru, lengket dan sulit dipisahkan. Tapi sayangnya, itu awal malapetaka kami. Orangtuanya mulai mencurigai hubungan aku dan dia. Beberapa kali aku dipersulit dengan pelarangan bertemu dengan dia di rumahnya. Bahkan sejak ayahnya marah kepada dia, setiap hari supir menunggunya untuk langsung pulang, tak boleh lagi pulang bersama-samaku.
Orangtuaku sendiri tidak menyadari hal ini. Mereka sibuk membanting tulang. Di pertengahan tahun aku kelas satu SMA, usaha katering ibu bangkrut karena uangnya dilarikan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Sementara ayah dikirim ke Jogjakarta oleh perusahaannya. Dengan utang yang ditanggung ibu dan pendapatan yang berkurang, akhirnya kedua orangtuaku memutuskan untuk pindah ke Jogjakarta. Seluruh keluarga.
Bagaikan petir di siang bolong mendengar berita itu. Dengan keputusan itu, berarti bukan hanya aku tidak bisa pulang bareng dengan dia, tapi juga aku harus berpisah kota dengannya. Menyampaikan kabar itu membuat kami berdua menangis. Tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali saling berjanji untuk setia dan meneruskan hubungan kami berdua dalam rahasia. Sebagai kenang-kenangan, dia mengumpulkan uang selama setengah tahun, dan memberikanku sebentuk cincin yang digrafis namanya.
Aku pindah ke Jogjakarta, berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru di sekolah yang baru. Mulanya kami masih sering berhubungan, tapi lama-lama aku merasa dia mulai berubah. Dia tidak seantusias dulu dalam menanggapiku dan menjaga hubungan ini. Aku sendiri dalam posisi yang kejepit karena aku tidak punya uang untuk pergi berkunjung ke Jakarta, walaupun hanya untuk sehari.
Saat seperti itu, dalam kesedihanku, aku jadi sering marah-marah kepada orangtuaku. Kenapa mereka tidak sekaya teman-temanku yang lain sehingga kami tidak harus terperosok di Jogjakarta? Kenapa ibuku tidak jeli menilai rekan bisnisnya sehingga dapat ditipu seperti itu? Aku lupa bahwa orangtuaku bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhanku. Ketika mereka sedang mendapat sial, seharusnya aku membantu mereka meringankan beban ekonomi, bukannya malahan memberontak.
Hubunganku dengan dia tentau saja harus putus. Dari telepon yang jarang-jarang, akhirnya lama-lama kejarangan hubungan kami menjadi biasa, dan lama-lama dia pun menghilang dari kehidupanku. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku tidak sanggup membeli tiket bus apalagi pesawat untuk ke Jakarta. Uangku habis dipinjam ibu untuk membayar utang dan memulai bisnis kateringnya lagi dari nol.
Perlahan-lahan keuangan orangtua membaik lagi dalam waktu dua tahun. Ketika aku lulus SMA, mereka masih sanggup untuk membayar kelanjutan pendidikanku di universitas. Syukurlah, tidak terbayang apabila aku terpaksa harus berhenti sekolah dan terlunta-lunta menjadi penjaga toko atau hanya bekerja di rumah membantu ibu mengurus kateringnya. Ibu bilang padaku untuk tidak berhenti putus asa. Orangtuaku ternyata mau aku tidak menjadi seperti mereka, melainkan terus sekolah sampai ke jenjang tertinggi.
Aku bertemu dengan seseorang lagi di tahun pertama di universitas. Satu kota denganku, dengan sifat dan sikap manjanya yang sangat kusayang. Dari keluarga sederhana juga, dengan keuangan keluarga yang harus diperjuangkan. Kami membuka usaha kecil-kecilan di kampus, berjualan nasi uduk, siomay, dan jus. Setiap pagi aku membantu ibu memasak nasi uduk sementara dia membuat siomay di rumahnya. Sambil kuliah, kami menjaga usaha itu.
Tidak ada yang tahu masa depan kami berdua seperti apa. Aku juga masih menjadi mahasiswa, belum lulus kuliah. Tapi yang kumiliki adalah rasa kepercayaan diri dan keinginan untuk maju. Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Sempat terbersit cita-cita kami berdua yang diucapkan sambil mengkhayal yakni melanjutkan S2 di luar negeri. Tapi itu hanya mimpi jarak jauh, entah apa bisa akan kami realisasikan. Tapi, setiap kali aku pesimis dengan masa depan, aku ingat lagi masa “gelap” aku dan keluargaku saat aku kelas satu SMA. Didera sakit hati, kesedihan, dan ketakutan, tapi aku sanggup bertahan dan tetap optimis. Aku yakin, seberat apapun masalah yang aku hadapi, aku pasti bisa terus melampauinya. Akhirnya, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Alita yang sudah menyayangiku dan menjagaku selama ini.
@Ditta, SepociKopi, 2010









Mati satu tumbuh seribu ..
berjuang cari aj yg baru klo yg lama dah lupa..
Mati satu tumbuh seribu
.
Klo yg dlu dah lupa cari aj yang baru
Mati satu tumbuh seribu
klu yang dlu dah lupa cari aja yang baru
Tetap Smngat & slalu Optimis Oc?? Semoga Cita” klian brdua terwujud.
Nice story mengaru biru tp endingnya happy n tetap semangt
Hmm . . Kisah yg mengharukan . . Memang LDR is killing me
:-(
jarang ada yg bs serius ngjalanin LDR
Ya…memang terkadang Long Distance Relationship membuat mau gila rasanya. Tapi kalau menyerah…kayanya ga lucu banget deh.
T’tap S’mngat & S’lalu Optimis to meraih Cita” & Cinta kalian Oc????
yupz..jgn putus asa.., gw jg ga pts asa dkati gebetan gw n gw yakin cwe pujaan hati gw, jd milik gw, walo blm pernah gw ungkapin
@ princezz: setuju.. LDR is suck
Laen sendiri akh… I LOVE LDR :p
kckckck…
kaciann
oooooooooooooh akhirnya seperti itu ya,,,,
waw
bagus, kamu mmacu dirimu sdh karah jalan yg bdampak + to kamu n kluarga. ingat, jaga ibu dan bangun kmbali usaha nya bsama, jadikan dirimu kbangga ibu, niscaya perempuan spt apapun yg jeli akan kagum dng dirimu, dan dy yg tepat to mu kan dtg mghampiri ^^
kirim salam sayang ku to ibu mu y? aku sayaaang skali n kagum dgn pjuang beliau. beliau spt mamaku yg banting tulang hbs2an tanpa papa – bahkan papa malah ngeruk – mbesarkn kami 4 anak2ny. tdk skalipun aura – beliau keluhkan pd kami
love all mama on earth!
km pnya ibu yg hebat…kuat,tabah,sabar…n slalu optimis…salute 4 all mom in the earth…buat Ditta..jgan takut bermimpi…Mnusia yg dikatakan hidup adalah mereka yg punya mimpi….krn mimpi itulah yg jd starting point kita untk mlangkah maju…..
setuju sm just in terkadang awal dari sebuah kenyataan adalah dengan bermimpi.. ^o^
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments