L’Amour: Akhirnya Ku Menemukanmu
Oleh: Diaz
Kenangan ini terjadi lima tahun lalu. Saat itu aku menimba ilmu di perguruan tinggi negeri di Jogjakarta.
Dulunya aku berpikir, bahwa aku satu-satunya perempuan yang mengalami hal ini. Hingga suatu hari ketika aku sedang mencari bahan tugas kuliah di warnet di daerah Jalan Gejayan. Saat sedang membuka Internet Eksplorer, aku melihat history sebuah situs yang membuat aku kaget, Lesbian Forum. Aku memutar kepalaku, memastikan tidak ada orang yang melihat dan memperhatikan website yang sedang kubuka.
Aku tidak tahu mengapa aku takut. Rasanya aku tidak siap dan mungkin tidak pernah siap menyandang sebutan “Lesbian” setelah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini sendirian. Setiba di kos-kosan aku sembunyi di balik selimut. Berpikir dan berpikir. Rasa takut, rasa tidak siap dan rasa ingin tahu tarik menarik sama kuatnya. Dan itu berlangsung sampai beberapa hari. Sebulan kemudian, setelah berhasil menenangkan diri, aku memberanikan diri ke warnet di daerah Pogung, sebuah warnet yang lumayan tertutup.
Seperti rencana awal, di forum itu aku menuliskan sebuah message, tawaran untuk berkenalan dan mencari teman diskusi. Seminggu, dua minggu aku harap-harap cemas menunggu balasan yang menyapaku ataupun e-mail. Tapi mungkin karena message yang serius dan tidak bersahabat tidak ada yang mau menyapaku. Padahal aku lihat di forum itu begitu banyak orang yang saling menyapa. Berminggu-minggu message-ku diabaikan, bahkan hampir aku lupakan. Hingga suatu hari aku menerima e-mail dari seseorang yang mengaku bekerja sebagai buruh pabrik di perusahaan manufaktur di Cikarang, sebut saja namanya Davina. Dia mengaku sebagai pemain lama di dunia lesbian, usianya setahun di atasku.
Davina-lah orang pertama yang mendengarkan pengakuanku. Davina yang pintar berkomunikasi lewat chatting mampu melumerkan seluruh kekakuanku. Aku yang tidak terbiasa chatting, hanya menjawab ketika ditanya. Atau hanya tertawa menanggapi ceritanya, aku mungkin orang yang paling membosankan. Sejak itu kami rutin chatting sekali seminggu, karena dia bekerja shift dan karena jatah uang bulananku sangat terbatas.
Aku merasakan keinginan yang kuat untuk mengobrol banyak dengan Davina, dan memaksaku memutar otak. Aku memutuskan untuk bekerja sambilan di sebuah Bimbel agar mendapat tambahan untuk online di warnet yang kala itu masih mahal. Tapi ini berimbas aku tidak bisa online berlama-lama dengan Davina.
Obrolan kami tidak hanya berputar di sekitar dunia lesbian, tapi juga tentang cita-citaku meneruskan S2 dan keinginan Davina pindah bekerja ke tempat lain. Selama itu juga aku tidak berniat mencari teman yang lain, aku sudah menemukan jawabannya dari diskusi-diskusi dengan Davina. Meski bukan anak kuliahan, wawasan Davina sangat luas. Ia juga kerap mengirimiku informasi dan literatur tentang lesbian, dan aku pikir itu sudah cukup. Bulan keenam aku memberanikan mengungkapkan perasaanku, aku tidak tahu apakah itu cinta atau apa. Yang jelas aku hanya ingin semakin dekat dengan Davina. Davina mengelak dan merasa tidak pantas karena ia hanya buruh pabrik apalagi karena kami belum pernah bertemu.
Suatu hari, setelah delapan bulan perkenalan kami, Davina mengatakan akan datang ke Jogjakarta. Aku senang sekali tetapi juga tidak tahu harus bagaimana. Apalagi Davina mengatakan suatu hal yang membingungkan, katanya ia akan menyampaikan suatu hal yang penting dan ia berharap aku tidak kecewa dengan keadaanya, dan apakah aku masih tetap mau bersahabat dengannya. Memang aku tidak tahu apakah semua yang Davina ceritakan selama ini adalah kebenaran atau tidak, tapi aku tidak peduli. Aku selalu menceritakan semuanya, jujur dan tidak ada yang aku tutup-tutupi. Oh ya, selama perkenalanku dan Davina kami tidak pernah chatting dengan webcam ataupun tukaran foto. Aku sih tidak masalah, tapi Davina menutup semua identitas pribadinya rapat-rapat. Aku tidak peduli dengan fisik dan pekerjaannya, bagiku dia teman yang baik.
Tiga hari sebelum perjumpaan kami, Davina memberikan nomor ponselnya dan meminta aku tidak menghubungi nomor tersebut hingga hari H, dan hanya dia yang boleh menghubungiku.
Kami berjanji bertemu di resto di Jalan Kaliurang. Aku mengakui dari awal bahwa restoran itu bukan kelasku, untuk ukuran mahasiswa sepertiku, tapi sebagai tuan rumah aku ingin menjamunya dengan sebaik mungkin. Davina menyerahkan kepadaku, dia bilang dia hanya buruh pabrik yang tidak masalah dengan kesederhanaan.
Hari itu pun tiba. Karena lokasi restoran tersebut cukup jauh dari tempat kosku, aku meminjam motor dari teman. Aku datang lima belas menit dari waktu yang dijanjikan dengan perasaan tidak keruan. Saat memasuki restoran tersebut, aku merasakan tatapan aneh dan mencibir, meski aku sudah mengenakan pakaian terbaik di lemari, tetap saja di restoran mewah ini aku seperti gembel, apalagi ketika aku hanya memesan lemon tea yang harganya 10 kali lipat dari warung angkringan di depan kosku.
Aku tidak mengenal fisik Davina, tapi aku sudah menceritakan semua ciri fisikku. Aku hanya bisa menunggu Davina yang menghampiriku. Sejam rasanya bagai setahun dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Davina. Es lemon tea di gelasku sudah berubah warna menjadi bening karena hanya tersisa es batu yang mencair. Tapi perasaanku pada Davina tidak sedikit pun berubah, aku memercayainya sejuta persen.
Setengah jam lagi berlalu, sebuah tepukan mendarat di bahu mengejutkanku. Aku tercengang mendapati perempuan yang jauh dari bayanganku, ini tidak mungkin Davina!
“Halo, Diaz ya? Kamu temannya Davina?” tanyanya dengan logat Jawa yang medok. Kalau tidak salah, tadi perempuan ini sudah dua kali mondar-mandir di depanku dan duduk di sudut dengan lelaki separuh baya.
Aku terbata-bata menjawab sambil mengangguk. Aku yakin sosok di depanku bukan Davina. Perempuan di depanku lebih cocok jadi model.
“Saya Prawesti, temannya Davina. Dia tidak bisa datang dan meminta saya menyampaikannya pada kamu.”
Aku terdiam. Runtuh semua harapanku.
“Katanya, Davina hanya mau mau menjumpai kamu kalau kamu mau menjadi pacarnya.”
Aku terbelalak. Aduh, mengapa Davina menceritakan hal ini pada temannya? Tapi sebelum aku memutuskan kabur, Prawesti mencekal lenganku dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Ini aku, Diaz! Aku Davina!”
Aku terduduk lemas, tidak siap dengan semua permainan ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.
Saat tawanya reda, Davina meminta maaf. Setelah ia membeberkan apa yang ia ketahui tentang aku, aku baru percaya bahwa dia adalah Davina. Perasaanku campur aduk. Mungkin melihat ekspresiku, Davina meminta waktu untuk menjelaskan semuanya.
“Aku ingin menjelaskan semuanya, tapi tidak mungkin di sini. Kita naik mobilku saja ya.”
“Lha, motorku piye? Itu motor pinjaman.”
Setelah menyelesaikan keribetan urusan motor, Davina menculikku dan membawaku ke hotel daerah tinggi di Jalan Wonosari. Sepanjang jalan Davina menjelaskan semuanya. Dan tidak henti-henti meminta maaf karena membohongiku. Davina memang seorang “buruh pabrik”, tapi tidak dalam arti sebenarnya. Ia justru putri pemilik perusahaan manufaktur tersebut. Selepas SMA ia mengambil course bisnis dan setelah lulus langsung memegang perusahaan keluarga di usia yang hampir seumuranku yang masih bergelar mahasiswi gembel. Aku kehilangan kata-kata. Masih tidak percaya semua bagai mimpi.
“Aku tahu berbohong itu tidak baik. Tapi aku melakukannya bukan untuk menipu kamu. Sejak awal berkenalan dengan kamu aku sudah menyukai attitude kamu yang berbeda dengan kebanyakan lesbian yang kukenal. Aku melakukan semua ini untuk menguji keseriusan kamu.”
Aku semakin terpesona dengan kerendahan hati Davina. Aku pernah menyatakan menyukainya dan menginginkan hubungan yang lebih serius, meskipun ia hanya buruh pabrik, meskipun aku belum melihat sosoknya, dengan segala kelebihan dan kekuranganya.
Semalaman aku dan Davina tidak berhenti ngobrol dengan tangan yang terus saling menggenggam. Delapan tahun aku menyimpan kebingungan ini. Delapan bulan kami berproses saling mengenal dengan cara yang mungkin tidak wajar (karena Davina membohongiku, yang ternyata dia lakukan karena sudah capek pacaran dengan orang yang hanya memandangnya dari segi materi).
Aku jatuh cinta pada Davina, seorang buruh pabrik yang sering online kalau lagi libur shift. Aku jatuh cinta pada Prawesti, seorang perempuan cantik pemilik perusahaan manufaktur yang sederhana dan rendah hati.
@Diaz, SepociKopi, 2010
L’Amour adalah kolom baru SepociKopi yang berisi beragam tulisan dan cerita tentang cinta, kebersamaan, dan kebahagiaan semanis gula. Silakan kirim kisah bahagiamu ke redaksi@sepocikopi.com. Mari berbagi cerita dan memaniskan kehidupan lesbian.









Hahahay gw juga tinggal dijogja jd pengen ngalamin yang seperti ini jg tp ma siapa?
Seandai nya dan andaikan …
0oooh so sweed ,
hanya it yg bs kukatakan ..
Inilah yg namanya cinta yg tulus.. Ceritamu ini membuat aku tersentuh.. Aku jg ingin mencintai partnerku dgn tulus.. Smoga hub kalian berdua langgeng n bahagia selalu..:-)
u never know what ull get
Nice story
Judulnya sudah jelas menggambarkan pertemuan (yang dinanti). Namun keraguan itu tetap timbul bahkan semakin menjejak perlahan ketika membacanya.
Kisah yang menarik! Akhir cerita yang indah memulai kisah yang indah pula.
Semoga gw jg dpt menemukan seseorang itu..
Nice story,Diaz!
ah. saya juga mau ngalamin yg kaya gitu. ga papa dah jadi mahasiswa gembel
Langgeng ea diaz n davina
m0ga aq bs ktmu m s0me0ne spc
banyak cara yg diciptakan Tuhan untk menemukan cinta sejati qt, tergantung bgaimana qt menyikapinya… Sungguh indah perjlanan Diaz menemukan cintanya, semuanya yg berwal dri kejujuran akan apa adanya drinya, cinta yg dtangnya benar dri hati tdk memandang materi,jabatan N bla..bla.. Moga hubungan Diaz N Davina bisa langeng terus, jgn sia2kan pertemuan yg berawal bgtu indah..
wow keren.nice story..!
Cerita yang maniz..
Djogja jg,kaliurang juga tempat kenanganq..
Nice story.. Kadang kita memang tdk mencari, tapi menemukan sendiri..
Hmm..jogja ya? Seandainya aku bs berputar-putar kembali d angkringan2 itu.. Begitu sederhana dan menyenangkan..
Selamat yak.. Wish I was U ;-P
waw keran ceritannya hmmmmm
andai di tuh aku mau dong,,,,,,,,,,,,,
good story…keren bgt..
WOW! MANTAB! ^_^b
congrats 4 both of u
Ceritax sderhana, menarik n indah! Kalian pasangan yg cocok, krn sdikit bgt lesbian2 spt kalian.
Dmanakah s’org itu untk qu. . Adkh d’antara pngunjung sepoci k0pi ini?
Pertama x jdi pengunjung udh d suguhi Cemilan y ringan tpi menrik Good Luck Diazt
Kerenn bgtttt
Selamat ya untuk kaliannn
Salut untuk diazzz
N bangga dengan prawesti….????????????:)????:)??«{^?^}»??:)????:)
Smoga kalian awettt ya
suit suiit, langgeng sll yaw ^^
like tiz story
:: jalan penemuan cinta yg manis ya…
Skrg masih ??
Smoga langgeng slalu untk kalian…
GOOD!
Nice story. Membuat saya tersenyum2 sendiri.berasa lg nonton film
Woww..keren bgt critanya.kaya fairy tales aja.haha..smoga gw jg bs ktmu dgn org yg spt itu.yg langgeng ya kalian.=)
ehm cerita yang bagus dan tidak murahan, mencerminkan cinta yang sebenarnya, salut aku… i love womens in the world
Hard start gives happy ending…….what a unique way…..heee…
good stories……
Gw jg brharap…bisa dapt pcr yg bnr2 tulus mncintai gw…tuk klian brdua good luck ya
huaaaaaaa.. lagi2 manyun ..terjerembap… irrri >____<
my partner… where r u?? im searching 4 u… *halah curcol*
Jika qta mmg tulus, pasti itu yg akn qt dapatkn. asalkan mau brsabar.. gutlak ya for both of you..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments