Home » L'Amour, Sepocikopiana

L’Amour: Akhirnya Ku Menemukanmu

11 July 2010 375 views 32 Comments

pociOleh: Diaz

Kenangan ini terjadi lima tahun lalu. Saat itu aku menimba ilmu di perguruan tinggi negeri di Jogjakarta.

Dulunya aku berpikir, bahwa aku satu-satunya perempuan yang mengalami hal ini. Hingga suatu hari ketika aku sedang mencari bahan tugas kuliah di warnet di daerah Jalan Gejayan. Saat sedang membuka Internet Eksplorer, aku melihat history sebuah situs yang membuat aku kaget, Lesbian Forum. Aku memutar kepalaku, memastikan tidak ada orang yang melihat dan memperhatikan website yang sedang kubuka.

Aku tidak tahu mengapa aku takut. Rasanya aku tidak siap dan mungkin tidak pernah siap menyandang sebutan “Lesbian” setelah bertahun-tahun aku memendam perasaan ini sendirian. Setiba di kos-kosan aku sembunyi di balik selimut. Berpikir dan berpikir. Rasa takut, rasa tidak siap dan rasa ingin tahu tarik menarik sama kuatnya. Dan itu berlangsung sampai beberapa hari. Sebulan kemudian, setelah berhasil menenangkan diri, aku memberanikan diri ke warnet di daerah Pogung, sebuah warnet yang lumayan tertutup.

Seperti rencana awal, di forum itu aku menuliskan sebuah message, tawaran untuk berkenalan dan mencari teman diskusi. Seminggu, dua minggu aku harap-harap cemas menunggu balasan yang menyapaku ataupun e-mail. Tapi mungkin karena message yang serius dan tidak bersahabat tidak ada yang mau menyapaku. Padahal aku lihat di forum itu begitu banyak orang yang saling menyapa. Berminggu-minggu message-ku diabaikan, bahkan hampir aku lupakan. Hingga suatu hari aku menerima e-mail dari seseorang yang mengaku bekerja sebagai buruh pabrik di perusahaan manufaktur di Cikarang, sebut saja namanya Davina. Dia mengaku sebagai pemain lama di dunia lesbian, usianya setahun di atasku.  

Davina-lah orang pertama yang mendengarkan pengakuanku. Davina yang pintar berkomunikasi lewat chatting mampu melumerkan seluruh kekakuanku. Aku yang tidak terbiasa chatting, hanya menjawab ketika ditanya. Atau hanya tertawa menanggapi ceritanya, aku mungkin orang yang paling membosankan. Sejak itu kami rutin chatting sekali seminggu, karena dia bekerja shift dan karena jatah uang bulananku sangat terbatas.

Aku merasakan keinginan yang kuat untuk mengobrol banyak dengan Davina, dan memaksaku memutar otak. Aku memutuskan untuk bekerja sambilan di sebuah Bimbel agar mendapat tambahan untuk online di warnet yang kala itu masih mahal. Tapi ini berimbas aku tidak bisa online berlama-lama dengan Davina.

Obrolan kami tidak hanya berputar di sekitar dunia lesbian, tapi juga tentang cita-citaku meneruskan S2 dan keinginan Davina pindah bekerja ke tempat lain. Selama itu juga aku tidak berniat mencari teman yang lain, aku sudah menemukan jawabannya dari diskusi-diskusi dengan Davina. Meski bukan anak kuliahan, wawasan Davina sangat luas. Ia juga kerap mengirimiku informasi dan literatur tentang lesbian, dan aku pikir itu sudah cukup. Bulan keenam aku memberanikan mengungkapkan perasaanku, aku tidak tahu apakah itu cinta atau apa. Yang jelas aku hanya ingin semakin dekat dengan Davina. Davina mengelak dan merasa tidak pantas karena ia hanya buruh pabrik apalagi karena kami belum pernah bertemu.

Suatu hari, setelah delapan bulan perkenalan kami, Davina mengatakan akan datang ke Jogjakarta. Aku senang sekali tetapi juga tidak tahu harus bagaimana. Apalagi Davina mengatakan suatu hal yang membingungkan, katanya ia akan menyampaikan suatu hal yang penting dan ia berharap aku tidak kecewa dengan keadaanya, dan apakah aku masih tetap mau bersahabat dengannya. Memang aku tidak tahu apakah semua yang Davina ceritakan selama ini adalah kebenaran atau tidak, tapi aku tidak peduli. Aku selalu menceritakan semuanya, jujur dan tidak ada yang aku tutup-tutupi. Oh ya, selama perkenalanku dan Davina kami tidak pernah chatting dengan webcam ataupun tukaran foto. Aku sih tidak masalah, tapi Davina menutup semua identitas pribadinya rapat-rapat. Aku tidak peduli dengan fisik dan pekerjaannya, bagiku dia teman yang baik.

Tiga hari sebelum perjumpaan kami, Davina memberikan nomor ponselnya dan meminta aku tidak menghubungi nomor tersebut hingga hari H, dan hanya dia yang boleh menghubungiku.

Kami berjanji bertemu di resto di Jalan Kaliurang. Aku mengakui dari awal bahwa restoran itu bukan kelasku, untuk ukuran mahasiswa sepertiku, tapi sebagai tuan rumah aku ingin menjamunya dengan sebaik mungkin. Davina menyerahkan kepadaku, dia bilang dia hanya buruh pabrik yang tidak masalah dengan kesederhanaan.

Hari itu pun tiba. Karena lokasi restoran tersebut cukup jauh dari tempat kosku, aku meminjam motor dari teman. Aku datang lima belas menit dari waktu yang dijanjikan dengan perasaan tidak keruan. Saat memasuki restoran tersebut, aku merasakan tatapan aneh dan mencibir, meski aku sudah mengenakan pakaian terbaik di lemari, tetap saja di restoran mewah ini aku seperti gembel, apalagi ketika aku hanya memesan lemon tea yang harganya 10 kali lipat dari warung angkringan di depan kosku.

Aku tidak mengenal fisik Davina, tapi aku sudah menceritakan semua ciri fisikku. Aku hanya bisa menunggu Davina yang menghampiriku. Sejam rasanya bagai setahun dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Davina. Es lemon tea di gelasku sudah berubah warna menjadi bening karena hanya tersisa es batu yang mencair. Tapi perasaanku pada Davina tidak sedikit pun berubah, aku memercayainya sejuta persen.

Setengah jam lagi berlalu, sebuah tepukan mendarat di bahu mengejutkanku. Aku tercengang mendapati perempuan yang jauh dari bayanganku, ini tidak mungkin Davina!

“Halo, Diaz ya? Kamu temannya Davina?” tanyanya dengan logat Jawa yang medok. Kalau tidak salah, tadi perempuan ini sudah dua kali mondar-mandir di depanku dan duduk di sudut dengan lelaki separuh baya.

Aku terbata-bata menjawab sambil mengangguk. Aku yakin sosok di depanku bukan Davina. Perempuan di depanku lebih cocok jadi model.

“Saya Prawesti, temannya Davina. Dia tidak bisa datang dan meminta saya menyampaikannya pada kamu.”

Aku terdiam. Runtuh semua harapanku.

“Katanya, Davina hanya mau mau menjumpai kamu kalau kamu mau menjadi pacarnya.”

Aku terbelalak. Aduh, mengapa Davina menceritakan hal ini pada temannya? Tapi sebelum aku memutuskan kabur, Prawesti mencekal lenganku dan akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“Ini aku, Diaz! Aku Davina!”

Aku terduduk lemas, tidak siap dengan semua permainan ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.

Saat tawanya reda, Davina meminta maaf. Setelah ia membeberkan apa yang ia ketahui tentang aku, aku baru percaya bahwa dia adalah Davina. Perasaanku campur aduk. Mungkin melihat ekspresiku, Davina meminta waktu untuk menjelaskan semuanya.

“Aku ingin menjelaskan semuanya, tapi tidak mungkin di sini. Kita naik mobilku saja ya.”

“Lha, motorku piye? Itu motor pinjaman.”

Setelah menyelesaikan keribetan urusan motor, Davina menculikku dan membawaku ke hotel daerah tinggi di Jalan Wonosari. Sepanjang jalan Davina menjelaskan semuanya. Dan tidak henti-henti meminta maaf karena membohongiku. Davina memang seorang “buruh pabrik”, tapi tidak dalam arti sebenarnya. Ia justru putri pemilik perusahaan manufaktur tersebut. Selepas SMA ia mengambil course bisnis dan setelah lulus langsung memegang perusahaan keluarga di usia yang hampir seumuranku yang masih bergelar mahasiswi gembel. Aku kehilangan kata-kata. Masih tidak percaya semua bagai mimpi.

“Aku tahu berbohong itu tidak baik. Tapi aku melakukannya bukan untuk menipu kamu. Sejak awal berkenalan dengan kamu aku sudah menyukai attitude kamu yang berbeda dengan kebanyakan lesbian yang kukenal. Aku melakukan semua ini untuk menguji keseriusan kamu.”

Aku semakin terpesona dengan kerendahan hati Davina. Aku pernah menyatakan menyukainya dan menginginkan hubungan yang lebih serius, meskipun ia hanya buruh pabrik, meskipun aku belum melihat sosoknya, dengan segala kelebihan dan kekuranganya.

Semalaman aku dan Davina tidak berhenti ngobrol dengan tangan yang terus saling menggenggam. Delapan tahun aku menyimpan kebingungan ini. Delapan bulan kami berproses saling mengenal dengan cara yang mungkin tidak wajar (karena Davina membohongiku, yang ternyata dia lakukan karena sudah capek pacaran dengan orang yang hanya memandangnya dari segi materi).

Aku jatuh cinta pada Davina, seorang buruh pabrik yang sering online kalau lagi libur shift. Aku jatuh cinta pada Prawesti, seorang perempuan cantik pemilik perusahaan manufaktur yang sederhana dan rendah hati.

@Diaz, SepociKopi, 2010

L’Amour adalah kolom baru SepociKopi yang berisi beragam tulisan dan cerita tentang cinta, kebersamaan, dan kebahagiaan semanis gula. Silakan kirim kisah bahagiamu ke redaksi@sepocikopi.com. Mari berbagi cerita dan memaniskan kehidupan lesbian.

32 Comments »

  • alle said:

    Hahahay gw juga tinggal dijogja jd pengen ngalamin yang seperti ini jg tp ma siapa? :(

  • Bontot kecil said:

    Seandai nya dan andaikan …
    0oooh so sweed ,

    hanya it yg bs kukatakan ..

  • Y Dragon said:

    Inilah yg namanya cinta yg tulus.. Ceritamu ini membuat aku tersentuh.. Aku jg ingin mencintai partnerku dgn tulus.. Smoga hub kalian berdua langgeng n bahagia selalu..:-)

  • suzieswan said:

    u never know what ull get :)

  • Maldova said:

    Nice story :)

  • Rea said:

    Judulnya sudah jelas menggambarkan pertemuan (yang dinanti). Namun keraguan itu tetap timbul bahkan semakin menjejak perlahan ketika membacanya.
    Kisah yang menarik! Akhir cerita yang indah memulai kisah yang indah pula.

  • say_czeka15 said:

    Semoga gw jg dpt menemukan seseorang itu..

  • Death Bell said:

    Nice story,Diaz!

  • musicdream said:

    ah. saya juga mau ngalamin yg kaya gitu. ga papa dah jadi mahasiswa gembel :D

  • Princezz said:

    Langgeng ea diaz n davina :)
    m0ga aq bs ktmu m s0me0ne spc :-D

  • Yoshi Lee said:

    banyak cara yg diciptakan Tuhan untk menemukan cinta sejati qt, tergantung bgaimana qt menyikapinya… Sungguh indah perjlanan Diaz menemukan cintanya, semuanya yg berwal dri kejujuran akan apa adanya drinya, cinta yg dtangnya benar dri hati tdk memandang materi,jabatan N bla..bla.. Moga hubungan Diaz N Davina bisa langeng terus, jgn sia2kan pertemuan yg berawal bgtu indah..

  • Lee said:

    wow keren.nice story..!

  • Zorra said:

    Cerita yang maniz..
    Djogja jg,kaliurang juga tempat kenanganq..

  • patrickstar said:

    Nice story.. Kadang kita memang tdk mencari, tapi menemukan sendiri..
    Hmm..jogja ya? Seandainya aku bs berputar-putar kembali d angkringan2 itu.. Begitu sederhana dan menyenangkan..
    Selamat yak.. Wish I was U ;-P

  • rani said:

    waw keran ceritannya hmmmmm
    andai di tuh aku mau dong,,,,,,,,,,,,,

  • romeo said:

    good story…keren bgt.. :-)

  • gumilotsy said:

    WOW! MANTAB! ^_^b
    congrats 4 both of u

  • Sun rise said:

    Ceritax sderhana, menarik n indah! Kalian pasangan yg cocok, krn sdikit bgt lesbian2 spt kalian.

  • Ratisalya said:

    Dmanakah s’org itu untk qu. . Adkh d’antara pngunjung sepoci k0pi ini?

  • Noura Thea said:

    Pertama x jdi pengunjung udh d suguhi Cemilan y ringan tpi menrik Good Luck Diazt

  • piu_piu said:

    Kerenn bgtttt
    Selamat ya untuk kaliannn
    Salut untuk diazzz
    N bangga dengan prawesti….????????????:)????:)??«{^?^}»??:)????:)
    Smoga kalian awettt ya

  • doris fidelya d'rain said:

    suit suiit, langgeng sll yaw ^^

    like tiz story

  • R Lee said:

    :: jalan penemuan cinta yg manis ya…

    Skrg masih ??

    Smoga langgeng slalu untk kalian… :-)

  • inez said:

    GOOD!

  • al said:

    Nice story. Membuat saya tersenyum2 sendiri.berasa lg nonton film :)

  • lezzie said:

    Woww..keren bgt critanya.kaya fairy tales aja.haha..smoga gw jg bs ktmu dgn org yg spt itu.yg langgeng ya kalian.=)

  • pujo said:

    ehm cerita yang bagus dan tidak murahan, mencerminkan cinta yang sebenarnya, salut aku… i love womens in the world

  • just in said:

    Hard start gives happy ending…….what a unique way…..heee…

  • atlantica said:

    good stories……

  • Lie_nux said:

    Gw jg brharap…bisa dapt pcr yg bnr2 tulus mncintai gw…tuk klian brdua good luck ya

  • ludy invalidy said:

    huaaaaaaa.. lagi2 manyun ..terjerembap… irrri >____<

    my partner… where r u?? im searching 4 u… *halah curcol*

  • Alif said:

    Jika qta mmg tulus, pasti itu yg akn qt dapatkn. asalkan mau brsabar.. gutlak ya for both of you..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.