Home » Humaniora, Noktah Merah

Noktah Merah: Ratu Christina of Sweden, Ratu Lelaki

9 July 2010 387 views 5 Comments

christina1Oleh: Lakhsmi

Christina lahir di Stockholm 18 Desember 1626 dan dikenal dengan nama Christina Alexandra atau Countess Dohna. Ia adalah ratu yang bertahta di Sweden dari tahun 1632 sampai dengan 1654. Christina adalah satu-satunya anak dari pasangan Raja Gustavus Adolphus dari Sweden dan Ratu Maria Eleonora dari Brandenburg. Pada usia sedini enam tahun, ia naik tahta menggantikan ayahnya yang meninggal dalam Perang Lutzen.

Ketika Christina dilahirkan, para peramal kerajaan melihat sesuatu yang janggal dalam penghitungan bintang lahirnya. Christina diramal sebagai seorang bayi lelaki. Sebelumnya, Raja Gustavus memiliki dua anak perempuan yang meninggal di tahun 1620, membuat Christina menjadi satu-satunya calon penerus kerajaan. Christina lahir dengan alat kelamin yang aneh (yang kemudian diduga oleh ahli sejarah sebagai middle sex alias intraseksual, manusia yang memiliki dua alat kelamin). Raja sangat bangga dengan kehadiran anak bungsunya. Kelainan kelamin itu tidak dianggap sebagai cacat, tapi dianggap sebagai jimat keberuntungan bagi hidup Christina kelak.

Raja Gustavus sangat mencintai Christina dan meyakinkan seluruh orang bahwa penerusnya adalah Christina. Dia memerintahkan semua pelayan agar membesarkan Christina sebagai pangeran dan akan diambil sumpah sebagai raja, bukan ratu. Christina memiliki nickname yaitu “Girl King” karena keunikannya dalam urutan tahta kerajaan. Ketika ayahnya meninggal dalam perang, ibunya menjadi gila sehingga terjadilah keputusan kerajaan untuk memisahkan mereka berdua. Ibunya dikurung di Istana Gripsholm dan dilarang bertemu dengan anaknya sampai Christina berusia sembilan tahun.

christina2Christina adalah ratu kecil yang luar biasa brilyan. Kemampuannya berkuda tidak usah ditanyakan walaupun bahunya cacat akibat terjatuh saat bayi oleh pengasuhnya. Saat ia menjadi ratu di usia enam tahun, kemampuan memimpinnya sudah terlihat. Dia bersikap layaknya seorang pemimpin agung ketika menerima delegasi dari Rusia yang terpesona dengan penyambutannya. Dia belajar agama, filsafat, matematika, sejarah, dan bahkan Islam. Dia bisa berbahasa Prancis, Itali, Romawi, dan Latin dengan sempurna. Pada usia 14 tahun, dia tumbuh menjadi remaja muda berpenampilan lelaki yang tampan dan cerdas. Dia berguru kepada ilmuwan Galileo Galilei dan jagoan filsafat Rene Descartes yang meninggal karena cuaca yang buruk di Swedia ketika mengajar Christina. Di usia dewasanya, dia berteman dengan pemusik Alessandro Scarlatti dan Arcangelo Corelli yang mempersembahkan Sonata da Chiesa Opus 1 untuk Christina.

Christina menulis autobiografi di tahun 1681, yakni “Menurut pendapat saya, perempuan tidak selayaknya naik tahta.” Pada tahun 1644, dia bergabung dengan pemerintahan Swedia dan tugas pertamanya adalah melakukan duta perdamaian dengan kerajaan Denmark. Dia berhasil dengan sukses. Denmark menyerahkan pulau-pulaunya kepada Swedia. Pada tahun 1649, tepatnya 26 Februari, Christina menyatakan dirinya tidak akan pernah menikah, tapi dia menunjuk sepupunya Charles untuk menemaninya di tahta kerajaan. Setelah pengambilan keputusan, akhirnya pemerintah menyetujui permintaan kerajaan ini. Swedia berpesta dengan kenaikan pangkat Charles di samping Christina walaupun mereka tidak menikah.

Keturunan seluruh raja dan ratu Swedia menganut agama Kristen Lutheran yang berkiblat pada Gereja Swedia, tapi diam-diam Christina menganut Katolik. Kediam-diamannya ini lama-lama tidak bisa disembunyikannya lagi. Dia melakukan berbagai diskusi dengan Paus dan pastor Katolik atas kepercayaannya.  Karena keributan ini, Christina dipaksa mundur dari tahta.

christina3Peristiwa ini menjadi hal penting dalam sejarah kerajaan Swedia. Upacara penurunan tahta dilakukan di Istana Uppsala. Semua perhiasan dan lambang kerajaan yang melekat di sekujur tubuh Christina dicopot satu per satu. Ketika mahkotanya harus dicopot, Per Brahe, abdi setia dan prajurit tinggi kerajaan Swedia tidak sanggup melakukannya, sehingga dengan anggun, Christina sendirilah yang mencopot mahkota tersebut. Dengan baju berwarna putih tanpa hiasan dan simbol kerajaan apa-apa lagi, Christina mengucapkan pidato perpisahannya dengan suara lantang, berterima kasih kepada semua, dan berjalan meninggalkan kursi tahta kerajaan di mana hanya kini tinggal sepupunya Raja Charles X yang berpakaian serba hitam. Pre Brahe berkata dalam biografi Christina “Ia berdiri dengan anggun menerima semuanya seperti layaknya malaikat”.

Setelah tidak berada di bawah tahta kerajaan lagi, Christina meninggalkan Swedia, mendapat baptis resmi secara Katolik langsung di Kapel Leopold di Brussel, mengambil nama baptis Alexandra Maria. Dia tetap tidak berani mengakuinya secara blak-blakan, takut kerajaan Swedia memutuskan pemberian uang kepadanya. Di usia 29 tahun, Christina pergi ke Prancis, bertemu dengan Raja Louis XIV. Dia mengejutkan para bangsawan perempuan Prancis yang menganggap Christina terlalu maskulin, perempuan aneh yang mengenakan sepatu lelaki, berpakaian tidak jelas, serta sama sekali tidak feminim. Karena ia sangat mencintai balet, dia mengunjungi pertunjukan balet di Prancis yang menciptakan kehebohan besar-besaran karena sebagai perempuan ia “duduk terlalu menyender ke belakang, kaki mengangkang di pegangan kursi.”

christina5Tingkah polanya terhadap pernikahan sangat jelas. Christina berkata blak-blakan, “Pernikahan harusnya bersanding dengan cinta.” Ahli sejarah mengatakan dia seorang lesbian. Christina berbicara, berdiri, bergerak, dan bertingkahlaku sebagai lelaki. Dia suka dengan pertemanan dengan lelaki daripada perempuan. Christina sangat dekat dengan dayang-dayang utamanya, Ebba Sparre. Dia menghabiskan waktu dengan Ebba, yang dipanggilnya dengan panggilan sayang “belle” dalam bahasa Prancis atau “si cantik”. Christina pernah memperkenalkan Ebba Sparre kepada Duta Besar Inggris Whitelocke sebagai “kekasih ranjang”-nya, meyakinkan bahwa kecerdasan Sparre sebesar kecantikannya. Ketika Christina harus meninggalkan Swedia, dia menulis surat-surat cinta kepada Sparre dan mengatakan bahwa ia akan terus mencintainya.

Christina sangat memuja pertunjukan seni, sehingga dia beberapa kali menjadi aktivis teater. Dialah yang mendirikan teater pertama kali di Roma, Tor di Nona yang sekarang dimiliki oleh para pendeta Katolik. Ketika Paus Innocent XI terpilih, Paus menguatirkan akibat burut dari pertunjukkan teater pada moral masyarakat, sehingga panggung teater yang didirikan Christina dijadikan gudang penyimpanan gandum. Christina menganggap keputusan Paus bodoh dan tetap mempertunjukkan seni teater di kastilnya. Tahun 1689, dia jatuh sakit, tapi sempat sembuh beberapa kali. Namun di bulan April, dia terkena radang paru-paru dan demam tinggi. Di ujung kematiannya, Christina mengirim pesan kepada Paus agar memaafkan perlakukannya yang keras kepala kepada Gereja Katolik. Paus Innocent XI memaafkan Christina. Christina meninggal pada tanggal 19 April 1689.

christina6Sekarang Christina menjadi tokoh penting bagi komunitas lesbian dan kaum feminis. Pada pertunjukan musical ICONS – The Lesbian And Gay History of the World, comedian Jade Esteban mempersembahkan perjalanan hidup Christina. Cara berpakaian Christina yang sangat maskulin (atau disebut crossdressing) menjadi ikon kaum transgender. Penulis Laura Ruohonen menulis pertunjukan teater yang diberi judul Queen C yang menceritakan seorang perempuan hidup berabad-abad silam yang mempertahankan hukum untuk dirinya sendiri. Queen C juga bercerita tentang seorang ratu yang ber-nick-nameGirl King“, yang berani menyuarakan opininya yang berbeda pada zaman itu; opini tentang seksualitas dan identitas gendernya dan tetap berdiri tegak ketika seluruh kehormatannya sebagai ratu dicopot oleh kerajaan. Teater ini pertama kali dipertunjukkan di Finnish National Theatre di tahun 2002, dan sejak itu telah diterjemahkan dalam sembilan bahasa dan telah dipertunjukkan di the Royal National Theatre of Sweden, Australia, The Czech Republic, Belanda, Jerman, dan Amerika. Legacy Christina terus bergaung sampai di zaman sekarang, menjadi sumber kekuatan serta inspirasi ketika para lesbian di abad 21 ini masih juga hidup dalam ketakutan untuk menyuarakan identitas seksualitasnya.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

Keterangan gambar:
1. Foto diri Christina
2. Christina sedang belajar dengan ahli filsafat Rene Descartes
3. The Silver Throne, kursi kerajaan dari tahun 1600-an yang diduduki oleh Christina ketika menghadapi upacara pencopotannya. Sampai sekarang kursi tersebut terletak di Istana Stockholm. Raja/Ratu Swedia masih memerintah dari kursi kerajaan ini
4. Foto Christina dan kekasihnya Ebba Sparre
5. Monumen penghormatan kepada Ratu Christina di Gereja St. Pieter Basilica

5 Comments »

  • musicdream said:

    keren! bagian terbaiknya waktu Christina diturunkan dr tahtanya itu.

  • taka said:

    rubrik yg slalu dtunggu2, menambah pengetahuan ttg org2 yg hebat dmasa lalu&jadi inspirasi d masa sekarang…

  • R Lee said:

    :: Sense of Art yg tinggi…
    Kecerdasan Kritis…
    Dan penguasaan bbrbagai macam bahasa…
    Serta prinsip yg kuat…

    Kesemuax mrupakn kmampuan diri yg dri dulu sya inginkan… Dan mngkin untuk bisa meninggalkn bberapa “Jejak”…
    Someday psti bisa… :-)

    agree with Taka…
    Rubrik sjarah penambah wwasan dan mimpi… :-)

  • re said:

    wow..great story..

  • pooh said:

    Lesbian yang elegan dan keren abizz

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.