Home » Humaniora, Partnership

Satu dari Setengah

7 July 2010 195 views 12 Comments

Endless-Love-Print-C10080101Oleh: parikesit n1nna

Kandasnya perjalanan saya dengan mantan membuat saya bertanya-tanya dalam hati, benarkah dia bukan other half atau setengah jiwa saya? Ataukah saya mempunyai lebih dari satu other half?

Saya menyadari peta saya dalam mencintai seseorang. Tanpa saya sadari sebelumnya, tapi saya sadari setelahnya. Peta cinta saya berarti mempunyai beberapa kesamaan daftar tentang hobi para mantan saya yang cenderung sama, ketekunan mereka, juga beberapa urutan lain. Dan mantan saya yang terakhir seperti kunci pengaman bagi saya. Saya kurang di mana dia lebih dan dia tak ragu-ragu memenuhi kekurangan saya.

Bila saya akhirnya bubar (dengan tidak baik-baik) dengan mantan, apakah itu berarti dia bukan other half saya ataukah saya mempunyai other half lebih dari satu ?

Saya selalu serius dalam berpacaran, itu membuat saya cuma berpacaran dengan dua orang selama sepuluh tahun kelesbianan saya. Dua orang mantan itu, sewaktu saya masih bersama mereka, sudah seperti setengah nyawa bagi saya. Sewaktu saya putus dari mantan yang pertama membuat saya merasa seperti sesuatu tercerabut paksa. Serasa mantan “mati” dan saya harus berpindah dari perasaan berkabung atas kehilangan itu kepada mereka yang masih “hidup”.

Barangkali mantan yang terakhir saya anggap sama tiadanya sehingga mau tak mau saya harus meneruskan hidup tanpa dia agar perasaan kehilangan separuh jiwa dapat saya lalui. Itulah kenapa saya heran dengan orang yang bisa bersahabat dengan mantan, saya tidak bisa, harus saya akui itu.

Pertanyaannya, apakah itu cuma masalah perasaan yang kita artikan pasangan sehingga kita benar-benar punya lebih dari satu setengah jiwa ataukah setengah jiwa sebenarnya hanya satu dan kita tidak pernah akan tahu itu siapa?

Setengah jiwa apakah juga sama seperti konsep garwo (sigaran nyowo -belahan jiwa) dalam bahasa Jawa yang merupakan bentuk halus dari suami/istri? Saya selalu suka dengan kata-kata “inggih, niki garwo kulo” (ya, ini suami/istri (belahan jiwa) saya), saya merasa itu adalah kata-kata yang paling romantis. Orang jawa menggunakan kata “garwo” bukan “laki gue” atau “bini gue”.

Kalau setengah nyawa bermakna suami/istri, maka jawabnya iya, kita bisa punya lebih dari satu setengah nyawa. Maka berbahagialah sebagian orang Katolik yang benar hanya menikah dengan satu pasangan (suami/istri) saja tanpa mempunyai sosok yang lain. Mereka mempunyai hanya memiliki satu dari setengah saja.

Apabila kita mempunyai satu atau lebih dari setengah nyawa tergantung persepsi kita masing-masing. Mungkin justru karena begitu misteriusnya nyawa, maka dalam pencariannya kita menjadi tidak main-main. Hidup kita bukan ajang untuk bermain-main. Kita jadi terpacu untuk melakukan dengan sungguh-sungguh pencarian tersebut.

@parikesit n1nna, SepociKopi, 2010

12 Comments »

  • NIck said:

    Cinta itu seperti burung di telapak tanganmu, terlalu erat kamu mencengkeram ia akan mati, dan bila kau biarkan ia akan terbang. Barangkali kau harus lebih bersabar, biar cinnta yang memilihkan soulmate untukmu.

    Salam,

    Nick, yang selalu sayang padamu. Sepenuh hati Nin.

  • voni viona said:

    emang paling banyak kita punya berapa belahan jiwa hehehe

  • parikesit n1nna said:

    ~nick : menurutku tidak begitu.
    ~voni viona : paling enak sebanyak-banyaknya :) tapi kalo menurutku sebanyak-banyaknya bisa bikin berabe, makan ati

  • Ai said:

    Aq setuju ama kamu. aq pun setelah putus ama mantan pertama aq, butuh waktu yg sangat lama untuk bs membuka hati bt yg lain. dan aq jg g bs bersahabat dgn mantanq itu. walau hal itu jg bkn berarti aq sdh melupakanx sama sx atau tak peduli sama sx. aq hanya g sanggup lg bercengkerama dgnx. malah membuat memori itu muncul lg k permukaan. dan itu terlalu menyakitkan.

    tp anehx kl dgn yg baru ini (susah mau menyebut mantan krn lbh spt ttm), aq sama sx g merasakan hal itu. cintaq lbh besar, dan aq msh ingin tetap bersahabat dgnx. aq bs menerima jika dia bs bahagia walau mgkn dgn yg lain. aq tulus hanya ingin memberi dan berharap dia bahagia. entah bagaimana carax. mgkn krn dia tdk pernah mengkhianatiq dan tdk pernah berniat begitu. aq sangat mengagumi kesetiaanx walau notabene hub kami tp status. tp aq sangat menyayangix sepenuh hatiq. hhhh…. hanya berharap dan berdoa semoga dia bahagia.

  • NIck said:

    Nin yang aku tahu saat menyukai seseorang maka aku ingin dia menjadi soulmateku, gimana dalam lagu itu …You complete me…. Makanya aku terlalu serius mencari soulmate sehingga aku mesti cuma menggadang-gadang 1 orang untuk kujadikan soulmate. Dan 1 itu sudah cukup bagiku. Terus terang aku merasa telah menemukan soulmate walau sekarang dia sudah punya keluarga. Dan itu menjadi sulit bagiku untuk menemukan orang yang kuinginkan untuk bersamaku. Untuk kamu semoga beruntung.

    Nick.

  • gumilotsy said:

    ninna (nama yg slalu sy suka :D )
    mnrt sy, qt hnya pnya 1 soulmate. wlpn dia tdk brsma qt, memilih hdp dgn yg lain & bgtu jg qt, te2p hnya dia yg brtahta di hati. ya, wlpn body tdk brsma, tp soul slalu mnyatu. itu a/ inti dr makna soulmate.
    lalu knpa cinta hrz brpsah? cinta a/ ktulusan u/ brkorban. pnorbnan berat nan indah. keras tp mlembutkan. ada pula org yg bhagia mlhat ex-nya bhagia dgn yg lain n msh brhub. dgnnya. aneh? besarnya cinta yg ia miliki mbuatnya rela trluka, trcabik2 hnya dmi org yg dcinta bhagia. bodoh? ya, cinta mbuat org plng pintar skalipun mnjd plng dungu. itu karna hatinya ykn bhwa dia a/ cintanya sklipun brtepuk sblh tangan. cinta bkn skdar kbrsamaan yg trlihat dprmukaan. cinta mbwamu pd kdwasaan. membuat mu brsungguh2, membri dgn kerelaan n suka cita. mbuat mu mlompat kgirangan, trhempas ksakitan. menjadikanmu manusia cerdas skaligus tolol.
    dear ninna, ur heart will tell when u find ur soulmate ;)
    *love is a bird she needs to fly
    let all d hurt inside of u die
    u’r frozen when ur heart’s not open
    u hold d key

  • alle said:

    1 kata ribetttt

  • Jingga said:

    Jujur, saya pusing membaca tulisan saudari ninna. Bingung mode on.

  • Erna said:

    ternyata topik ini sudah dibahas sejak lama yah? hoho
    1. Tentang bersahabat dengan mantan
    Buatku ketika kita membuka hati n membiarkan orang asing masuk dan menjadi bagian didalamnya, selamanya dia akan ada diruangan itu Nin. Hati kita terlampau luas unk hanya dihuni satu orang selama hidup kita. dan masing-masing mereka memiliki bilik yang tidak akan tergantikan oleh lainnya. karena mereka unik dan tidak tergantikan. karena kebersamaan kita dengan seseorang terlalu complete unk diperbandingkan. tapi satu hal lain yang juga aku yakini, ketika aku membuka hati unk satu orang, tidak akan ada orang lain yang bisa masuk secara bersamaan, kalaupun kemudian ada emotional affair akal dan nurani akan dengan sendirinya mengignore itu karena manusia memiliki adab dan garis batas terhadap sesuatu yang mereka yakini untuk menemukan sebuah kenyamanan dan ketenangan hidup sebagai tujuan mereka mengada. apa bedanya dengan binatang ketika komitmen dan janji tidak memiliki arti?
    sebuah peran dan keterbatasan waktu. tidak bisa disangkal kita hanya boneka-boneka Tuhan yang diharuskan bermain total dan selalu berusaha melakukan yang terbaik tidak hanya unk diri kita sendiri tapi juga sekitar kita –sebagai apapun peran kita, pun seorang lesbian. jangankan kita yang tidak memiliki kejelasan status kecuali hanya diakui oleh diri kita dan komunitas. orang hetero yang menikah dan diakui secara hukum yang bersatu karena cinta saja bisa devorced. kalaupun tidak terpisah oleh kehendak masing-masing, masih ada kehendak Tuhan yang bermain melalui alamNya, memisahkan mereka dengan kematian ketika waktunya telah tiba, ketika peran sudah dianggap terlengkapi.
    Jadi? konsep jawa ataupun katolik tidak salah. ketika kita bermain total selama berperan dengan siapapun waktu mengatur sebuah kebersamaan. jangan salah, orang-orang yang dibatasi agama unk menikah hanya satu kali masih bisa saja kan bermain petak umpet dibelakang agamanya unk memenuhi kebutuhan berelasinya?

    –menunggumu menemukan muaramu S.., keep fun and enjoy our life yaaah :)

  • Erna said:

    upss, aku lupa menjelaskan tentang kenapa aku memilih berteman dengan mantan. hahaha
    buatku, seperti halnya tidak mudah membiarkan orang lain masuk dalam hati kita, tidak juga mudah membuat mereka seolah tidak pernah ada dalam hidup kita. bagaimanapun mereka memiliki peran hebat sampai kita bisa berada dalam posisi saat ini. mencabut mereka dari hati kita n membuangnya bakal sangat menyakitkan pastinya. seperti kita harus membuang salah satu organ tubuh, seperti kita harus mengebiri sebagian memori dan sekian waktu dalam hidup kita. bagaimanapun, mereka pernah menjadi orang terpenting dalam hidup kita. dan buatku, perasaan itu akan selamanya sama. bedanya tidak akan lagi ada rasa ingin memiliki ketika komitmen yang pernah kita punyai harus terakhiri setelah sekian banyak kompromi. cinta itu bukan sesuatu yang bisa berakhir, selamanya akan ada rasa sayang da keinginan unk sekedar tahu keberadaannya, sebatas tahu dia baik-baik saja.
    hmm, aku tunggu ketidakpuasanmu Nin. tidak akan ada habisnya membahas ini denganmu. hahaha

  • parikesit n1nna said:

    @ai : good to u
    @nick : “dia”-mu itu sangat beruntung
    @gumilotsy : aamiin
    @alle : sepakat !
    @jingga : saya juga bingung
    @erna : aku setuju, tiap-tiap orang yang kita cintai punya tempatnya masing-masing, selamanya, di hati kita. itulah mengapa kuibaratkan mantan dengan sebuah kematian, menjadikan mereka cuma bagian dari masa lalu yang tak mungkin kembali lagi. tapi sekali lagi itu cuma ibarat, mungkin suatu hari nanti mereka kembali, merajut cinta denganku atau gimana. mungkin. yang pasti aku, sama sepertimu, akan berperan total. bahkan pada peran paling jahat sekalipun.
    mengenai berteman dengan mantan, well, seriously i never really understand those people who are all buddy-buddy with their exes. i mostly saw my exes for what they were -past loves who were never coming back i saw myself as a wiser, more complete woman for having lost them. tentunya kebijaksanaan itu butuh waktu untuk membangunnya dan aku -aku orng yang butuh waktu lama sebelum mampu berteman kembali dengan mantan. mungkin, sederhana saja, aku butuh sngat banyak waktu tanpa mantan untuk membuatku “sembuh”dari rasa sakit perpisahan sedang kamu orang yang lebih bijak dan lebih legowo. and although some broken hearts dont make me an expert in the subject, i believe that i need both things : time an emotional replacement (seperti teman2 lain unt mengalihkan rasa sakit, atau menjauhi mantan) to completely mend one. jadi, hanya masalah aku tak bisa dan kamu bisa. hanya masalah itu saja.

  • Erna said:

    Mengibaratkan mantan seperti kematian, tapi masih mungkin unk balik lagi dengan mereka satu saat nanti? itu benar-benar sangat weird buatku. when I decided to release my other half, it’s really because of something very fundamental and unforgivable that made me have to revise my feeling. made me numb to just have the desire to have her back. itu kenapa buatku jauh lebih mungkin menjadikan mereka teman atau bahkan saudara daripada musuh. karena ketika komitmen yang kami bentuk sudah berakhir, perasaan ingin memiliki itu akan benar-benar tersisih dan hanya tertinggal perasaan sayang yang sama tulusnya seperti dulu.
    setiap orang memang selalu membutuhkan waktu unk menyembuhkan rasa sakit karena kebiasaan memiliki itu tidak akan dengan secara tiba-tiba bisa dirubah begitu saja. aku sendiri dan mantanku akan selalu mempunyai batas toleransi yang aku sebut “masa penyesuaian” pasca devorced. remember how my relationship with A, that you call “short lady”? we still have the same feelings, still have the same intensity of dating, there are even some things that sometimes can not distinguish that we are divorced, except that there is a third person who is always there beside me and her. realize that I should not hurt the feelings of the third person and always and re-assure myself that nothing is worth it with our togetherness. always convince ourselves that our role to relate has ended. menerima kenyataan dan yakin untuk memulai hal baru, itu intinya sih. hehe

    buatku inti dari other half; garwo (sigaring nyowo); atau pasangan ‘sehidup semati’ dalam konsep katolik adalah ketika kita sudah berperan total dan bukan menjadi diri yang ‘berkhianat’ dalam sebuah relasi. benar-benar menjadikan mereka the only one dalam hati dan hidup kita ketika masa kebersamaan itu. hehe

    okey Nin? sukses dan selalu berharap yang terbaik untukmu.. :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.