Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Video Dokumentasi dan Kita

29 June 2010 597 views 11 Comments

Video IconOleh: Nuha Guwa

Tayangan pribadi adalah sebuah rekaman yang berisi aktivitas diri sendiri, tentu saja hal ini bisa berupa kegiatan dan momen yang dianggap sakral atau penting seusai dengan kepentingan sosok perekam tersebut. Namanya juga rekaman pribadi, tentu saja semuanya subjektif berdasarkan kepentingan si pembuat dokumen. Aktor, sutradara, cameraman, editor, dan pengisi artistik suara tunggal sengaja membuat kreasi dokumentasi kepentingannya sendiri. Bagaimana jika isi rekaman atau dokumentasi tersebut berupa XXX File alias beradegan “rahasia dapur kelamin”?

Baiklah, mari kita sepakat bahwa video adegan intim berpotensi tersebar luas ke publik bila ceroboh dalam menyimpannya. Hal dimaklumi karena hampir semua rekreasi seks ada saja peminatnya, bersegmentasi pula. Ada yang khusus mengejar semua video seks amatir, video seks abege, hingga yang berskenario layaknya sebuah film. Jadi resiko tayangan seks pribadi diketahui umum tersebut besar sekali, apalagi kecanggihan telekomunikasi saat ini memungkinkan sebuah informasi melesat hanya dalam hitungan detik. Jika lalai sedikit saja, bagaimana membendung peredarannya?

Perdebatan boleh tidaknya rekaman seks pribadi kini semakin hangat dengan hebohnya video “mirip” Ariel-Luna-Cut Tari. Tindakan melakukan perekaman yang dilakukan ”oknum” tersebut jelas meresahkan. Namanya saja idola. Fans seseorang cenderung meniru sosok yang diidolakannya. Tidak terbayang bagaimana efek video mesum pribadi tersebut terhadap orang-orang yang mengidolakannya. Sementara itu dampak ketenaran seseorang hanya menguntungkan para pengedar dan pedagang video mesum tersebut karena sudah pasti akan masuk “daftar barang” yang sangat dicari!

Baiklah, tidak perlu lagi membesar-besarkan kehebohan video dokumentasi pribadi “mirip” tiga manusia terkenal tadi, sudah jelas merekam aktivitas seksual pribadi hanya akan menimbulkan dampak negatif ketimbang manfaatnya, meskipun yang melakukannya sudah sah secara legal suami istri. Bagaimana jika video mesum itu dilakukan oleh pasangan lesbian? Apapun Anda, siapapun kita, bagaimana pun struktural hubungan yang sudah ada, sebaiknya kita sepakat bahwa perekaman adegan intim tidak perlu dilakukan.

Mari kita biarkan video-video berisi adegan intim yang diduga diperankan oleh para selebritas tadi diselesaikan penegak hukum. Semoga mereka mampu bertindak cepat, jika benar-benar ingin menghilangkan keresahan di masyarakat, dan tentu saja kita harus tetap positif thinking dengan mendahulukan azas praduga tak bersalah. Biarkan law enforcement terhadap pelaku dokumentasi seks pribadi menjadi pe-er para penegak hukum. Meskipun saya begitu pesimis ketegasan penegak hukum kita benar-benar menimbulkan efek jera. Rasa-rasanya semua yang berhubungan dengan komersilisasi adegan seks tidak pernah ada matinya meskipun sudah banyak pelaku, pengedar, pembuat dijatuhi hukuman. Namun kita berikan aplaus jika pembuat XXX-File tadi bisa ditemukan penyidik dan dibuktikan di meja hijau. Masyarakat menunggu.

Saya tertarik dengan pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring yang menyatakan, bahwa pembuat video porno yang kini marak beredar di masyarakat tidak bisa berlindung di balik alasan dokumentasi pribadi. “Saya tidak setuju itu pribadi-pribadi, sakit apa ya… yang begitu-begitu kan pribadi, kok pakai direkam dan sebagainya.”

Saya sangat setuju dengan Pak Mentri terkait hal tersebut, boleh-boleh saja kita merasa sangat cinta, dan benar-benar ingin menunjukkan pada dunia betapa kita mencintai pasangan. Tapi tentu saja bukan dengan cara demikian, jelas dampaknya sangat luas di masyarakat. Lesbian saja masih dianggap tabu di negara tercinta ini, konon pula adegan mesumnya terlihat orang lain. Mari belajar menunjukkan rasa cinta dengan cara yang indah dan bermanfaat. Coba lihat Taj Mahal, rasa cinta seorang suami yang ditunjukkan pada istri yang begitu fenomenal dan dikagumi, sungguh berbeda ketika ungkapan rasa cinta itu berupa dokumentasi seks video hura hara kelamin.

Sekali lagi… wahai lesbian, perilaku hubungan seksual di antara dua orang dewasa atas dasar persetujuan merupakan sesuatu yang sangat pribadi sifatnya. Begitu juga membuat film seks di kamar tidur sendiri untuk keperluan “apapun” merupakan sesuatu yang sangat personal dan telah disepakati. Selama hubungan seksual atau pembuatan film seks untuk keperluan pribadi dianggap berada dalam ranah privat, delik yang katanya tidak bisa dihukum karena dianggap tak mengganggu kesusilaan publik, pertanyaan yang sama juga harus diberikan, seberapa lama dokumentasi tersebut terjamin tidak terlihat orang lain?

Sanggupkah dengan kecanggihan teknologi komunikasi saat ini remaja yang minim informasi seks mampu meredam hasratnya usai menonton video seks kita tadi? Bagaimana jika fleksibilitas perederaan video-video aduhai (apalagi video mirip seleb) menjadi pemicu tindakan kriminalitas perkosaan di masyarakat? Sahabat lesbian, hapus semua dokumentasi beradegan mesum dari hape, hilangkan jejak gambar-gembar seronok tersebut dari temporary file laptop atau pc pribadi. Jangan lupa bahwa adegan intim lesbian bukan untuk konsumsi umum. Selamatkan nama baik keluarga, ayah ibu, dan kerabat kita. Jika memang sangat mencintai patner, tunjukkanlah bahwa kita sanggup menjaga marwah, harga diri, dan kesucian budi pekertinya. Stop dan hapus sekarang juga!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

11 Comments »

  • dheri said:

    yoaa HAPUS..ga perlu didokumentasi d… semua uda terekam dan disimpan ditempat yg paling rahasia dan tak bisa dicopy sama sapa pun..yaitu di Hati…dan di pikiran.. kl mau dibuka tinggal dikenang aja….sambil senyum2…

  • Phoebe said:

    Namanya juga kelainan. Ngga bisa disalahin juga, sama kyk para lesbian kepuasannya ya sama perempuan. Dia jg gitu kepuasannya ya kalo direkam dan ditonton. Yang salah ya yang nonton trus ngomel2 hehe (peace sista, this is just my opinion).

  • alle said:

    Hahaha apanya yang month diapus bikinnya ja lum pernah.:)

  • Tim said:

    Di hp ada foto telanjangku menghiasi screen saver. Tapi itu fotoku pas umur 5 bulan, ngga masuk hitungan porno donk xixxi

  • JINGGA said:

    Aku nggak ngerti apa maksud dari komentarnya @phoebe

  • alle said:

    To teem. Hahahah termasuk dong tp khusus yang fedovilia bener g sih tulisanya ;p

  • Fe said:

    G perlu pke pnjlsan apa-apa lgi, Setuju banget bwt Nuha..

  • gumilotsy said:

    pheobe, kalo qmu sjajarkan sprti itu, brarti lesbian adalah prilaku sex yg menyimpang dung. karna qmu blng klainan. makna kt ‘klainan’ yg sya pahami, negatif. kalo lesbian minta kebebasan atas nama ham, perilaku sex menyimpang yg lain, misal prilaku yg qmu sbut td n yg lainnya bsa jg dung ikut mnta kbebasan.
    sori nech kalo ada misinterpretasi dr prnyataan qmu. peace ;)

  • musicdream said:

    tapi intinya sih saya setuju. banyak cara yg lebih baik buat mengungkapkan rasa cinta. betul!

  • no_name said:

    bikin video?? waduh, foto berdua sama my ex aja gak pernah tuh. Bagi saya hubungan saya dg partner itu adalah hal yg sakral. Kemesraan dan keromantisan hanya untuk konsumsi berdua tdk utk publik. Dan tidak perlu didokumentasikan dalam bentuk hard copy or soft copy tetapi cukup “heart” copy. Bukti cinta, bisa dituangkan dalam hasil karya terbaik/prestasi saya dalam berbagai hal sebagai sebuah persembahan, bagi Tuhan, keluarga , termasuk “ia” yang tersayang. Biasanya ‘ia’ terucap tidak hanya dalam kalimat persembahan dalam hasil karya tapi juga terselip dalam doa-doa yang saya panjatkan. Dan itu semua sebagai tanda cinta. Sebagai tanda ketulusan.

  • ANDIKA BUMI PRATAMA said:

    gmn mau komen ya , semua tergantung pribadi masing2 . resiko kan ditanggung penumpang . hahahahahaha

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.