Home » Lagak Lajang

Lagak Lajang: Selimut Malam

27 June 2010 605 views 17 Comments

pociOleh: Oscar Arumi

Bus itu melaju lambat, bukan karena bobotnya yang kebesaran tetapi jalan berkelok-kelok yang harus dilaluinya. Berapa tikungan yang sudah dilampauinya, pak supir tetap tenang menjaga keseimbangan geraknya bus, plus kestabilan emosi penumpangnya. Saya hampir mual mengikuti perjalanan ini. Mengitari gunung yang berliku-liku, barulah sampai kepada tujuan. Liburan koordinasi istilahnya, antara pejabat-pejabat kampus dengan dosen dan staf lainnya. Entah apa yang dikoordinasikan, bukan hal penting bagi saya dan beberapa orang lainnya. Yang penting, sejenak menjauh dari mahasiswa, sesaat terhindar dari rutinitas.

Alangkah agungnya Yang Maha Kuasa, mencetak gundukan-gundukan bernyawa di dunia ini. Alangkah jeniusnya manusia, berhasil mengerok setapak-setapak agar bisa mencapai puncak gundukan itu. Dan bukan cuma tapak manusia dan gajah, bus pariwisata dengan kapasitas 29 seat inipun berhasil menapakinya.

Hari itu hari bebas. Tanpa seragam mengajar, jadilah saya manusia apa adanya. Dengan jins, tubuh saya serasa dibalut kebebasan. Satu ransel cukup, untuk kebutuhan sandang 3 hari. Sekeliling memandang mulai dari kets yang saya kenakan, sampai kacamata hitam Adidas kebanggaan saya. Inilah saya sebenar-benarnya, saudara-saudari, kalimat hati yang tak perlu dilontarkan sang bibir.

Malam itu malam hiburan, pejabat-pejabat yang hobi bernyanyi mulai pamer suara disana-sini. Lalu, apalah saya, hanya butuh minuman penghangat di ruangan ini. Suara sang biduan jelas-jelas jauh lebih menarik daripada suara pejabat yang kriuk-kriuk itu. Malam semakin dingin, musik semakin keras. Saya mencari-cari minuman beralkohol, dan ah sial, panitia dengan entengnya mengatakan No Alcohol  di sini. Ah, sok suci, umpat saya dalam hati. Manalah mungkin bertahan tanpa penghangat dalam suhu alam sedingin ini. Rokok? Halah, alternatif lain yang justru saya hindari karna alasan tak tahan asap dan baunya. Semangkuk sup sudah saya teguk, bercangkir kopi dan teh sudah teracik dalam perut saya. Alhasil, saya menggigil. Sial benar, dengan sok pede yang terlalu tinggi, saya sama sekali gak bawa kaus kaki dan jaket. Mampuslah saya, memasrahkan tulang dan daging jadi makanan angin di malam ini.

Kamar hotel itu sama sekali tanpa AC. Namun, bukan main dinginnya apalagi ditambah rintik hujan di luar sana. Tak tik tuk, jam dinding berbicara sendirian. Tak tik tuk, gigi saya pun berlaga ikut-ikutan. Pukul dua malam. Habislah, saya orang udik yang gak tahan dingin. Lebih baik saya kepanasan di tengah gurun, daripada mati kedinginan di pegunungan. Bagaimana saya bertahan jika hanya air panas kamar mandi yang bersuhu tinggi ada di sini.

Ting tong, bel kamar berbunyi. Cuma orang sinting yang mengetuk pintu saat dini hari. Ting tong, lagi. Bergegas saya menuju pintu, ingin memaki orang sinting itu. Pintu terbuka, seseorang dari balik pintu mengucapkan “Room Service’’ dengan rona wajah penuh kejutan. Gadis belia usia tak sampai dua puluhan, dengan rok mini dan dandanan menor, berdiri tegang di hadapan saya. Alangkah cantiknya gadis itu bila tanpa polesan. Sebelum saya bicara, si gadis cepat-cepat permisi sambil berucap “Maaf, Mbak, saya pikir tamunya laki-laki.”

Hellooooooo? Laki-laki?? Tamu??? Oh yeahhh? Siapa yang sinting sekarang ini, saya atau dia? Malam ini, bukan hanya dingin yang membuat saya menggigil dengan sintingnya, gadis ini juga hampir membuat saya gila. Emangnya, saya ada pesan “perempuan’’ tadi? Dan lagian, emangnya kenapa kalau tamunya itu bukan laki-laki?. Uhm, sepertinya pertanyaan kedua yang mencabik-cabik harga diri ini. Memangnya kenapa kalau saya itu benar-benar tamu yang ditunggu-tunggunya??? Belum tahu saja dia, maki saya dalam hati. Ya, belum tahu saja dia!

Ranjang itu dingin, seperti saya meniduri batu es yang tak mencair, dinginnya menembus selimut yang membalut tubuh saya. Harusnya, selimut ini hidup. Ah, gadis belia tadi, cepat sekali perginya tadi, padahal belum tentu saya menolaknya masuk. Ya, belum tentu. Dan, saya tak perlu sok suci dalam hal yang satu ini. Tak perlu. Katakan butuh kalau memang butuh, karena saya memang butuh selimut di malam ini.

@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2010.

17 Comments »

  • alle said:

    Hahaha kenapa tidak diajak masuk lumayan kali buat dipeluk itung2 buat ngilangin dingin :D

  • aie_22 said:

    eang dingin eang dingin…wkwkwk:)

  • black said:

    smile

  • Zorra said:

    Nyesel ni kayaknya..ckckck

  • Arvis said:

    Lebih baik ga pake selimut hidup kalau kita ga kenal siapa dia dan ga ada hubungan apa2. Kesannya kok NGGAK BANGED. Jomblo ya jomblo tapi bukan berarti harus mencari kehangatan dgn cara spt itu. PEACE

  • Bontot kecil said:

    Rugi dunia akherat ada rejeki datang mendadak, ditolak .. Kan lumayan buad maenan :-P {otak cowo}

  • Jos said:

    hihihi… Oz, nyesel abis pasti ya membiarkan gadis belia itu berlalu begitu saja… ;)

  • gumilotsy said:

    jd pesan x ni, 1. ‘speak up ur mind.’ mulut, hati n pikiran ruz singkron.
    2. ‘don’t let ur chance slip away or regret will come after’
    baiklah bu dosen, dikopi ;)

    mm… bu, mlm2 brikutnya diusahain lbh keras bu. smangat! huaiyah…
    :D peace bu ;)

  • say_czeka15 said:

    Waduh.. knp ga’ ajak saya aj bu dosen hehe
    (iklas ko’ buat jd selimut)

  • noy said:

    huahahahahahaha…
    kabayang, dehh :D

  • Vinn0nk said:

    hahaha
    setuju m commentnya say_czeka15

  • Jingga said:

    Syukurlah kamu biarkan gadis itu berlalu..

  • Yaaku said:

    Lets sing: ‘Selimut malam…duhai kekasih,,,,qeqeqe

  • patrickstar said:

    Hmm..sayang sekali (msh) gadis belia..

  • Fe said:

    Hhmm.. Oscar pkiran’y bsa nakal jga y..
    Lain kli klo mau ktmpat dngin lg, tlong sbarin kbar y, q siap ko bwt ktuk pntu mlem-mlem, hehe..

  • Savannah said:

    Hhmm.. Oscar pkiran’y bsa nakal jga y..
    Lain kli klo mau ktmpat dngin lg, tlong sbarin kbar y, q siap ko bwt ktuk pntu mlem-mlem, hehe..

  • doris fidelya d'rain said:

    xixixi, akhir yg mbahagiakan yaw
    sempet ikut ttohok jg ama kalimat tu cew room service, hahaha

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.