Lagak Lajang: Selimut Malam
Bus itu melaju lambat, bukan karena bobotnya yang kebesaran tetapi jalan berkelok-kelok yang harus dilaluinya. Berapa tikungan yang sudah dilampauinya, pak supir tetap tenang menjaga keseimbangan geraknya bus, plus kestabilan emosi penumpangnya. Saya hampir mual mengikuti perjalanan ini. Mengitari gunung yang berliku-liku, barulah sampai kepada tujuan. Liburan koordinasi istilahnya, antara pejabat-pejabat kampus dengan dosen dan staf lainnya. Entah apa yang dikoordinasikan, bukan hal penting bagi saya dan beberapa orang lainnya. Yang penting, sejenak menjauh dari mahasiswa, sesaat terhindar dari rutinitas.
Alangkah agungnya Yang Maha Kuasa, mencetak gundukan-gundukan bernyawa di dunia ini. Alangkah jeniusnya manusia, berhasil mengerok setapak-setapak agar bisa mencapai puncak gundukan itu. Dan bukan cuma tapak manusia dan gajah, bus pariwisata dengan kapasitas 29 seat inipun berhasil menapakinya.
Hari itu hari bebas. Tanpa seragam mengajar, jadilah saya manusia apa adanya. Dengan jins, tubuh saya serasa dibalut kebebasan. Satu ransel cukup, untuk kebutuhan sandang 3 hari. Sekeliling memandang mulai dari kets yang saya kenakan, sampai kacamata hitam Adidas kebanggaan saya. Inilah saya sebenar-benarnya, saudara-saudari, kalimat hati yang tak perlu dilontarkan sang bibir.
Malam itu malam hiburan, pejabat-pejabat yang hobi bernyanyi mulai pamer suara disana-sini. Lalu, apalah saya, hanya butuh minuman penghangat di ruangan ini. Suara sang biduan jelas-jelas jauh lebih menarik daripada suara pejabat yang kriuk-kriuk itu. Malam semakin dingin, musik semakin keras. Saya mencari-cari minuman beralkohol, dan ah sial, panitia dengan entengnya mengatakan No Alcohol di sini. Ah, sok suci, umpat saya dalam hati. Manalah mungkin bertahan tanpa penghangat dalam suhu alam sedingin ini. Rokok? Halah, alternatif lain yang justru saya hindari karna alasan tak tahan asap dan baunya. Semangkuk sup sudah saya teguk, bercangkir kopi dan teh sudah teracik dalam perut saya. Alhasil, saya menggigil. Sial benar, dengan sok pede yang terlalu tinggi, saya sama sekali gak bawa kaus kaki dan jaket. Mampuslah saya, memasrahkan tulang dan daging jadi makanan angin di malam ini.
Kamar hotel itu sama sekali tanpa AC. Namun, bukan main dinginnya apalagi ditambah rintik hujan di luar sana. Tak tik tuk, jam dinding berbicara sendirian. Tak tik tuk, gigi saya pun berlaga ikut-ikutan. Pukul dua malam. Habislah, saya orang udik yang gak tahan dingin. Lebih baik saya kepanasan di tengah gurun, daripada mati kedinginan di pegunungan. Bagaimana saya bertahan jika hanya air panas kamar mandi yang bersuhu tinggi ada di sini.
Ting tong, bel kamar berbunyi. Cuma orang sinting yang mengetuk pintu saat dini hari. Ting tong, lagi. Bergegas saya menuju pintu, ingin memaki orang sinting itu. Pintu terbuka, seseorang dari balik pintu mengucapkan “Room Service’’ dengan rona wajah penuh kejutan. Gadis belia usia tak sampai dua puluhan, dengan rok mini dan dandanan menor, berdiri tegang di hadapan saya. Alangkah cantiknya gadis itu bila tanpa polesan. Sebelum saya bicara, si gadis cepat-cepat permisi sambil berucap “Maaf, Mbak, saya pikir tamunya laki-laki.”
Hellooooooo? Laki-laki?? Tamu??? Oh yeahhh? Siapa yang sinting sekarang ini, saya atau dia? Malam ini, bukan hanya dingin yang membuat saya menggigil dengan sintingnya, gadis ini juga hampir membuat saya gila. Emangnya, saya ada pesan “perempuan’’ tadi? Dan lagian, emangnya kenapa kalau tamunya itu bukan laki-laki?. Uhm, sepertinya pertanyaan kedua yang mencabik-cabik harga diri ini. Memangnya kenapa kalau saya itu benar-benar tamu yang ditunggu-tunggunya??? Belum tahu saja dia, maki saya dalam hati. Ya, belum tahu saja dia!
Ranjang itu dingin, seperti saya meniduri batu es yang tak mencair, dinginnya menembus selimut yang membalut tubuh saya. Harusnya, selimut ini hidup. Ah, gadis belia tadi, cepat sekali perginya tadi, padahal belum tentu saya menolaknya masuk. Ya, belum tentu. Dan, saya tak perlu sok suci dalam hal yang satu ini. Tak perlu. Katakan butuh kalau memang butuh, karena saya memang butuh selimut di malam ini.
@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2010.










Hahaha kenapa tidak diajak masuk lumayan kali buat dipeluk itung2 buat ngilangin dingin
eang dingin eang dingin…wkwkwk:)
smile
Nyesel ni kayaknya..ckckck
Lebih baik ga pake selimut hidup kalau kita ga kenal siapa dia dan ga ada hubungan apa2. Kesannya kok NGGAK BANGED. Jomblo ya jomblo tapi bukan berarti harus mencari kehangatan dgn cara spt itu. PEACE
Rugi dunia akherat ada rejeki datang mendadak, ditolak .. Kan lumayan buad maenan
{otak cowo}
hihihi… Oz, nyesel abis pasti ya membiarkan gadis belia itu berlalu begitu saja…
jd pesan x ni, 1. ‘speak up ur mind.’ mulut, hati n pikiran ruz singkron.
2. ‘don’t let ur chance slip away or regret will come after’
baiklah bu dosen, dikopi
mm… bu, mlm2 brikutnya diusahain lbh keras bu. smangat! huaiyah…
peace bu
Waduh.. knp ga’ ajak saya aj bu dosen hehe
(iklas ko’ buat jd selimut)
huahahahahahaha…
kabayang, dehh
hahaha
setuju m commentnya say_czeka15
Syukurlah kamu biarkan gadis itu berlalu..
Lets sing: ‘Selimut malam…duhai kekasih,,,,qeqeqe
Hmm..sayang sekali (msh) gadis belia..
Hhmm.. Oscar pkiran’y bsa nakal jga y..
Lain kli klo mau ktmpat dngin lg, tlong sbarin kbar y, q siap ko bwt ktuk pntu mlem-mlem, hehe..
Hhmm.. Oscar pkiran’y bsa nakal jga y..
Lain kli klo mau ktmpat dngin lg, tlong sbarin kbar y, q siap ko bwt ktuk pntu mlem-mlem, hehe..
xixixi, akhir yg mbahagiakan yaw
sempet ikut ttohok jg ama kalimat tu cew room service, hahaha
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments