Home » Renungan, Sepocikopiana

Belajar Jujur dari Kemunafikan

23 June 2010 199 views 21 Comments

MASK by AURORYOleh: parikesit n1nna

Saya termasuk orang yang ketinggalan berita tentang Ariel vs Luna Maya-Cut Tari, karena saya termasuk orang yang jarang menonton TV. Tapi ketertinggalan itu cukup tertutupi dengan kegemaran saya online, membaca berita lewat Yahoo! maupun detik.com.

Ariel adalah seorang artis yang menurut saya cool dalam arti jarang diberitakan buruk, prestasi bermusik sangat menonjol dan lebih cenderung tidak banyak tingkah. Tapi seketika khalayak ramai dikejutkan oleh berita kebinalannya dengan—katanya, 23 artis dari 32 video porno miliknya yang sebagian sudah tersebar di internet (sejauh ini yang saya tahu masih 2 biji aja yang beredar).

Dalam hati saya bertanya, berapa banyakkah dari kita yang seperti Ariel? Maksud saya, ayolah…, siapa sih di antara kita yang enggak menutup “kekurangan” kita dengan topeng prestasi (yang mana ini bagus adanya) atau dengan topeng moral (yang mana ini jelek adanya) ?

Kita ambil contoh saja, Ariel-Luna Maya, yang di televisi (padahal saya jarang nonton TV) terlihat seperti pasangan yang cupu, yang mukanya sama-sama memerah saat Luna Maya menyerahkan piala Dahsyat pada Ariel. Sopan, bahkan mereka jarang sekali terlihat mesra atau berduaan di depan kamera. Atau kasus pedangdut Maria Eva beberapa tahun yang lalu, bersama dengan seorang pejabat sebuah partai besar yang mengepalai bagian keagamaan di partai tersebut. Betapa malunya saat topeng moral yang dikenakan harus dicopot dengan cara “menyakitkan” dan “memalukan”.

Kebanyakan kita juga begitu. Sok suci, sok perfect, sok apapunlah. Kenyataannya, kita menyimpan kebusukan yang tak kalah bau dari punya Ariel dan “lawan main” Maria Eva. Saya tidak main-main dengan kenyataan ini, saya menemukannya dari beberapa “mantan teman baik” saya. Yang sok suci ternyata piala bergilir dan yang sok perfect ternyata jauh dari sempurna.

Well, bagi saya bersikap jujur jauh lebih aman. Bukan “jaim” (jaga image) yang harus kita bayar mahal dengan rasa malu yang menyakitkan. Bahkan sebagian ada yang membayarnya dengan mempertaruhkan persahabatan seperti yang terjadi pada mantan teman baik saya. Jadi, daripada kita sibuk menghujat Ariel sebagai sampah masyarakat, penipu publik ataupun teladan yang tidak patut diteladani, semestinya kisah Ariel dan Maria Eva mampu membuat kita intropeksi terhadap diri sendiri.

Kita tidak berbeda dari Ariel meski kita tidak berusaha membohongi “publik”, orang-orang sekitar kita dan orang-orang yang dekat dengan kita, bahkan saat kita melakukan kebohongan terhadap diri sendiri.

Bersikap jujurlah dan tetap menjadi dirimu sendiri. Itu pilihan.

Tentang parikesit n1nna
parikesit n1nna (huruf kecil semua), 26 tahun, jomblo, tinggal di kota Surabaya. Cuek terhadap peraturan huruf besar di awal kalimat (hanya mau mengikutinya untuk tugas kuliah dan demi lolos seleksi redaksi SepociKopi), jarang mandi dan tidak pernah dandan. Hobi tidur dan menulis.

21 Comments »

  • j.maroon said:

    tiap mns trmsk sy py yin dan yang.nice post

  • Tim said:

    mm “bumbu” rahasia sukses Drama, setetes kemunafikan

  • pengagum rahasia said:

    Kalau selama ini saya menikmati tulisan2 anda di blog pribadi, senang rasanya sekarang saya membaca tulisan anda di sepocikopi. Good. Saya pribadi merasa muak dgn orang2 munafik, yg hobinya menghujat habis2an orang lain padahal diri sendiri tidak lebih baik. Kalau dlm masyarakat jawa ada istilah ‘ora ngilo githoke dhewe’ alias enggak ngaca. Lebih baik memang kita intropeksi diri. Salam.

  • mbuzzz said:

    benar yg dikatakan parikesit n1nna,aku pun sehari-hari memakai topeng teger,kuat,powerfull,tidak pernah mengeluh,dan yang paling penting “normal”,cape rasanya
    Apalagi keluargaku semakin gencar aja memperkenalkan aku dengan pria,padahal asedikit pun aku tidak tertarik
    Oh GOD,whataya want from me,i drive my self crazy or my live drive me crazy….
    i don’t know…

  • Lee said:

    buka dulu topeng mu..biar kulihat wajah mu.^^

  • It is not always BLUE said:

    Yang penting kita harus belajar untuk bisa menyikapi segala hal yang terjadi di sekitar kita karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan.

  • Munezz said:

    tulisan yg bagus,, sahabat L yg baik.. ada banyak kebohongan didunia ini N mgkin sesuatu yg sulit untk dihindari, kadang kt brbhong demi kebaikan tpi intinya itu adlh kebohongan, menurut saya mgkin tdk ada org yg lepas dri sifat Munafik, so.. apapun itu sy tdk stju dgn cara menghakimi sndri, ingat ” Hidup adalah pilihan “

  • Yaaku said:

    Nobody’s perfect.
    G suka menghujat,krn aku penuh dg kekurangan.’Peace’

  • deedee said:

    Setujuuu….saya kira publik+masyarakat trllu brlebihan mengomentri mslh Ariel,,,,mending berkca pd dri sndri drpd sbuk ngrusin hal bgtu,,,bnyk sekali yg perlu d benahi dlm dri kita…

  • thedarKNight said:

    abis enak sih boong.

  • D_only said:

    Ya begitulah manusia.kalo aja mereka bisa lebih jujur mungkin lebih bisa di terima.contoh tiger woods,setelah pengakuan nya,toh dia bisa di terima.udah maen golf lagi tuh!

  • Bontot kecil said:

    Slama 19 taon aq memakai topeng kebohongan tidak mengakui kpd orang terdekat klu saia seorang penyuka sejenis .. :-(

  • Reancy said:

    Rs ny mmg brat utk ju”r dlm hal appn,tp saya trs bljr utk dpt mlakukn ny krn saya ykn spahit appn kju”rn itu pd akhirny trasa mnis skali.slam syng dr rean utk it is not always BLUE.

  • Reancy said:

    Keykinan saya bhwa spahit appn keju”rn itu pd akhirny akn trasa mnis skali,sdg kn kmunafikn hny akn mnambah beban hti&pkirn.slam syang rean utk it is not always BLUE.

  • It is not always BLUE said:

    Tak kenal maka tak sayang.. Itulah sebabnya, sebaiknya memang tidak menghakimi sesuatu sebelum mengenali ‘isi’ yang sesungguhnya.. Don’t judge a book from its cover.
    Sebaiknya juga selalu bijaksana dalam melangkah, dan berfikir sebelum bertindak, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

    @Reancy: sweet regards..

  • t4nk said:

    yah,,,, Mungkin aja terkait politik juga,,,,,
    biar kasus2 yg harusnya lebih diperhatikan jd ‘bisa dipermainkan’…..

    btw, yang menguasai medialah yang menguasai masyarakat….
    ;)

  • parikesit n1nna said:

    ~j.maroon : i believe so. thx
    ~Tim : munafik yg baik atau yg jelek (lho, bukannya munafik sll jelek, ya ? hehehe…)
    ~pengagum rahasia : thx. saya sdg mbangun blog baru (tll pth hati sama mantan shg tak sanggup meneruskan yg lama). mampir, ya. iya, orang munafik memang “mbendhol mburi” (apa, ya, dalam Bahasa Indonesia ? mungkin “menikam dr blkg”). salam.
    ~mbuzzz : ada topeng yg tak mengapa kita kenakan, selama itu bukan topeng moral yg timpang. masalahnya, kita tahu atau tidak “timpang” itu ? masalah lebih krusial lagi, kita mau tahu atau tidak “timpang” itu ?
    ~Lee : (sedih) ini bukan topeng, ini mmg muka saya *pemain topeng monyet mode on*
    ~It is not always BLUE : Tuhan bilang manusia makhlukNya yg paling sempurna, kita bilang tak ada manusia yg sempurna. well, mungkin krn manusia sndiri yg me-list tll byk kriteria “sempurna”. dan kita ini milik Tuhan.
    ~Munezz : hidup itu pilihan. pilihan unt mghakimi sndiri, pilihan unt tdk stuju, pilihan unt tdk lepas dr kemunafikan, pilihan apapun yg pasti pilihannya terserah yg menjalani hidup
    ~Yaaku : jg penuh dgn kelebihan. peace, too
    ~deedee : kalo kata ebiet g. ade “singkirkan debu yg masih melekat”
    ~thedarKNight : yup. bohongin ortu kalo kita mo pergi ma tmn cew, nyatanya ma pacar cew ^,^v
    ~D_only & Reancy : kejujuran kebanyakan awalnya berat, tp stl dicoba bisa jd tyt apa yg kita takutkan dr bkata jujur tyt tdk tjd
    Bontot kecil : mengaku akan hal yg tdk pernah dtanyakan berbeda dgn berbohong (tidak mengaku akan hal yg pernah ditanyakan)
    ~t4nk : media menguasai masy, saya dgn amat terpaksa setuju

    ~sepocikopi : thx sdh memuat uneg2 saya

  • Rafi said:

    Medianya aja yg kelewat lebay memberitakannya, jadinya malah meluas kemana-mana! Orang2 yg gak berkepentingan jd ikut2an angkat bicara. kok bisa2nya ya bilang para ortu resah krn takut anak2 mrk bisa terganggu moralnya. Helloooo…ortunya sibuk ngapain sampe pada gak bisa ngedidik agama sama anak2nya??? Ibunya sibuk arisan, bpknya sibuk sm wanita2 muda yg sexy?? Ya pantes kalo anaknya bs buka2 situs porno!! Lebih simple lg…knp pemerintah nggak ngeblokir semua situs porno??? Toh sebelum ada video ariel situs porno sdh gampang di akses!! Lebaaaaay….

  • arya said:

    hmm….ya gitu de..lam kenal ary

  • WIJAYA said:

    mmg budaya kita kental dengan kemunafikan, yg penting bagaimana kita atur diri sendiri aja la….

  • Erna said:

    haha

    ngekek Nin… :P

    pada dasarnya saya tidak pernah membiarkan diri saya menyukai orang lain (apalagi artis yang saya tahu PASTI bertopeng) jadi ya peduli setan dengan mereka.

    tapi ini menjadi pelajaran bersama yang menampar semua orang. lagi-lagi media memang ternyata sekarang memegang peran yang sangat krusial dalam brain washing our civil society.

    tentang ‘belajar bersama’ ini menurutku ga penting apakah terkait topeng atau berkedok moral. tapi kita bisa mengingatkan diri kita sendiri, bahwa ketika kita menjadi “binatang” dan mengebiri sisi “manusiawi” kita dengan mengabaikan nurani, tidak akan ada kebahagiaan yang benar-benar menjadi tujuan kita mengada. ketenangan, kenyamanan dan kebahagiaan dalam hidup hanya menjadi hal-hal semu yang menjadi karma dari buah kuldi yang sudah termakan. buatku, lebih enak kamu sebut aku naif atau kolot atau entah kamu akan mengistilahkan apa lagi (perbendaharaan katamu terlalu banyak unk bisa mengata-ngatai aku sak enak udelmu Nin. haha) daripada menjadi “diri lain” yang tidak memiliki sisi manusiawi.

    pernah mendengar istilah sex for pleasure? inti dari sex for pleasure bukan hanya kita bebas menikmati sex sebagai sebuah kebutuhan dan kesenangan. tapi ketika kita bisa nyaman dan mendapat ‘kepuasan batiniah’ dan ketenangan setelah melalui ritual sex. dan itu tidak akan kita dapatkan dari sembarang orang yang kita temui disepanjang jalan atau tempat kan? akan ada rasa bersalah, rasa takut dan tidak nyaman ketika itu berupa affair. tapi berbeda rasanya ketika itu kita lakukan bersama orang yang kita memiliki intensitas feeling dan komitmen yang diakui oleh keduanya dan orang-orang disekitarnya sebagai sesuatu yang wajar dan sah.

    haaash, enaknya di bahas langsung kalo kayak gni Nin. hehe
    ini hal subjektif yang menurutku sebenarnya mendasar dan dipunyai semua orang. tidak ada kemunafikan yang membawa kebahagiaan dan ketenangan hidup.

    see ya.. :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.