Cerpen: Gadis dengan Kardigan Ungu
Gadis dengan Kardigan Ungu
Oleh: Deni Oktora
Cerpen ini dimuat di Kompas.com
Selasa, 25 Mei 2010
Mataku terpana pada seorang gadis yang tengah berdiri di halte seberang. Jaraknya mungkin terpaut delapan meter dari tempat aku kini berdiri. Namun kecantikan parasnya terasa dekat sekali hingga aku bisa menangkap gambar lesung pipit tersungging di pipinya yang merona kemerahan. Ah. Siapakah gadis dengan kardigan ungu tersebut? Ingin rasanya aku mengurungkan niat pulang ke rumah demi melihat sosoknya lebih dekat. Lebih intim. Lebih nyata. Lebih… dan lebih…
Mungkin baru saja ia pulang dari kuliah. Ini bisa dilihat dari beberapa buku yang ia dekap dengan hati-hati. Mungkin ia sedang menunggu angkutan bus umum karena sedari tadi kedua bola matanya terpancang ke sisi kanan jalan. Atau mungkin ia sedang menunggu kekasihnya, karena sesekali aku melihat ia mengambil smart-phone dari tasnya dan melihat bibir pipih nan mungil itu bergerak-gerak seperti sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin kekasihnya sedang meneleponnya, mencari lokasi di mana ia menunggu. Mungkin kekasihnya beberapa menit lagi akan menjemputnya dengan sebuah motor-matic, atau mungkin kekasihnya beberapa menit lagi akan menjemputnya dengan mobil-sport. Mungkin… dan.. mungkin… dan mungkin… dan mungkin… saja semua yang aku pikirkan salah, ternyata ia masih single. Dan yang baru saja menelepon tak lain adalah mamanya yang menanyakan mengenai keberadaan dirinya sekarang. Hati-hati di jalan ya, kalau bisa kamu langsung pulang saja, jangan pergi dugem melulu. Mungkin itu yang akan dikatakan seorang mama terhadap putri satu-satunya nan cantik jelita.
Aku bisa melihat kalau gadis itu sepertinya jatuh cinta dengan warna ungu. Tampak dari kardigan berwarna ungu yang ia kenakan, casing smart-phone berwarna ungu yang baru saja ia keluarkan, tas yang berada di pangkuannya juga tak pelak berwarna ungu, dan terakhir mengacu pada sebuah gelang berwarna ungu transparan pada pergelangan tangan kanan mungilnya. Andaikan wajah dan tubuhku berwarna ungu layaknya Barney mungkin ia sudah meloncat kegirangan dari seberang sana. Lalu kemudian berlari memelukku dan menciumi kedua pipiku. Serta merta membawaku pulang ke rumahnya untuk dijadikan hiasan.
O, tampaknya hujan sudah mulai menurunkan bulir-bulir beningnya. Sial!! Aku tidak membawa payung. Aku harus mencari tempat untuk berteduh! Tunggu dulu, di halte seberang. Ya, di halte seberang aku akan berteduh bersama gadis dengan kardigan ungu nan cantik-jelita itu, namun aku harus melewati jembatan penyeberangan terlebih dahulu agar sampai ke tempatnya.
Aku menghela langkah kaki dengan cepat. Berusaha menerabas butiran hujan yang melamurkan pandangan. Tas punggung ku gunakan sebagai tameng untuk melindungi kepala dari tempias air hujan yang kian deras menghunjam. Aku tiba di halte. Memandangi dirinya. ia mengulum senyum untukku.
Air mengembun di kedua bingkai kacamataku. Sementara tas yang aku gunakan untuk menutup tubuhku dari hujan terlihat basah kuyup. Aku melepas kacamata. Melihat sebuah tangan terulur dengan dua lembar tissue diatasnya. Ia masih mengulum senyum untukku seraya berkata
“Kamu basah.”
Kuambil dua lembar tissue dari tangannya yang tampak putih seperti tembaga, seraya memberikan senyuman terbaikku.
“Terimakasih.”
Kurasa aku jatuh cinta
**
Hari ini aku tidak melihat gadis dengan kardigan ungu tampak di halte seberang. Padahal aku sudah menunggunya sedari tadi. Hati ini berharap kalau ia akan Berdiri di halte itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Berharap pula hujan akan merinai dengan deras sama seperti hari-hari sebelumnya. Berharap jua aku akan berlari ke halte seberang dengan kondisi basah kuyup, lalu ia akan memberikan dua lembar tissue seraya berkata kamu basah, Namun aku tidak melihat sosoknya berdiri di halte seberang. Adakah ia telah pergi menaiki bus sesaat yang lalu namun aku tidak melihatnya? Adakah ia tidak masuk kuliah hari ini karena sakit barangkali? Atau adakah ia rupanya seorang malaikat dari negeri ungu yang menyamar rupa menjadi manusia lalu terbang kembali ke tempat asalnya dan mungkin tidak akan lagi turun ke bawah guna berteduh sejenak di halte tersebut?
Senja melamur ditelan sang waktu. Langit semakin gelap. Pun gadis dengan kardigan ungu masih tak tampak di halte. aku memutuskan untuk membeli sebotol air mineral dari salah satu pedagang asongan yang kerap berjualan di sepanjang pedestrian kota Jakarta. Mereguknya. Merasakan air tersebut mengalir. Membasahi kerongkongan. Menghapus dahaga. Diriku Seperti menemukan telaga di tengah sahara. Lalu dengan perasaan muram aku memutuskan untuk pulang. Mungkin gadis itu hanya imijanasiku belaka. Tapi bagaimana mungkin. Entahlah.
**
Hujan kembali menitikkan air beningnya. Aku bisa merasakan hawa dingin memelukku erat dari belakang. Merasakan hembusan hangatnya di balik tengkuk. Keredap awan yang melahirkan cahaya keputihan terlihat di kaki langit. Tempias air hujan bergemerutuk di atas kepalaku. Mataku terbuka. Mendapati diriku tengah berdiri di sebuah halte yang tampak familiar. Tiba-tiba sebuah tangan terjulur kearahku dengan dua lembar tissue di atasnya. Sebuah tangan yang tampak putih menyerupai tembaga, dan lembut seperti kapas. Sebuah tangan yang aku kenali. Sebuah tangan yang aku rindukan. Aku mendongak ke atas. Menemukan wajahnya yang cair seperti mentega. memberikan sepotong senyum kepadaku.
“Kamu basah.”
Aku mengambil dua lembar tissue secara perlahan dari telapak tangan mungilnya.
“Terimakasih.”
Kini aku melihat gadis itu tidak hanya mengenakan kardigan berwarna ungu. Namun tampak kedua sayap dengan bulu-bulu halus berwarna ungu tersemat di balik punggungnya. Kedua bola matanya menyerupai lembayung ungu yang menghanyutkan. Secercah sinaran menyinari tubuh rampingnya. Membuat ia terlihat bercahaya. Berpendar-pendar layaknya bintang mungil yang sering aku lihat dari halaman belakang rumah. Dan cahayanya itulah yang menerangi halte ini secara keseluruhan. Hawa dingin yang tadinya menjalar di sekitarku kini terasa begitu hangat. padahal hujan masih menumpahkan butiran beningnya, dan angin masih menghembuskan napasnya dengan gigil yang menusuk. Namun di dekat dirinya aku merasa hangat. Hangat sekali. Sehangat hembusan napasnya yang kini terasa dekat di hadapanku. Bibir kami bersentuhan. Bibirnya mengecup lembut bibirku. Saling melumat. Lidah kami saling bertautan. Meninggalkan rasa manis layaknya setangkai lolipop. Lalu ia memberikan senyum untukku. Mengenggam erat tanganku, seperti ingin mengajakku pergi entah ke mana. Mungkin mengajakku bercinta, atau mungkin mengajakku menari di bawah rinai air hujan. entahlah.
Kurasa aku jatuh cinta
Seuntai nada dering mengalun dari telepon genggamku. Menggelitik daun telinga , seperti membujuk untuk segera di baca. Aku pun bangun dari lelap tidurku. Mengambil telepon genggam tersebut dan membaca pesan pada menu inbox dengan mata yang masih sayu. Yank, kita jadi makan malam kan nanti? Begitu aku baca isi pesan tersebut. Aku berharap kalau gadis dengan kardigan ungu yang mengirimkan pesan ini kepadaku. Namun sia-sia ku berharap, karena aku tahu bukan dia.
Malam ini terasa romantis. Rembulan beringsut keluar dan memberikan semburat cahaya kuning keemasan yang memesona. Bintang-bintang pun mulai berhamburan dan saling mengeluarkan bujuk rayu untuk mendapati hati sang rembulan. Berdansalah denganku manis. Tutur sang bintang kepada rembulan. Sangat romantis. Seromantis kekasihku yang tengah menatap mesra di depanku. Jari-jemarinya menyentuh jemariku. Senyumannya mengarah kepadaku. Aku membalas senyumannya. Kami saling duduk berhadapan, di sebuah meja mungil berwarna kelabu. Piano berdenting lembut, mengeluarkan untaian nada yang terbang. Meliuk-liuk di udara. Meniti langit-langit kafe hingga jatuh satu persatu ke daun telingaku dan kekasihku.
Malam yang romantis. Namun bayang-bayang gadis dengan kardigan ungu selalu berkelebat di hadapanku. Aku lelah untuk terus memikirkannya. Lelah karena terus merindukannya.
Kurasa aku jatuh cinta
“Kamu tahu, Yank, kalau malam ini kamu terlihat cantik sekali.”
“Gombal kamu.”
“Sungguh.”
“Masa?”
“Habis kamu cantik sih.”
“Kalau tidak cantik?”
“Ya, aku tetap sayang donk.”
“Gombal.”
“Jadi kita mesan apa malam ini?”
“Kamu?”
“Advocado chocolate.”
“Aku juga sama kayak kamu.”
Kekasihku pun mulai memanggil seorang pramusaji, namun tampaknya tak berhasil karena suaranya ditelan oleh riuh-rendah denting suara piano yang telah bercampur dengan deretan kata-kata genit yang keluar berhamburan dari setiap bibir pasangan di kafe ini. Namun akhirnya ia berhasil menarik perhatian seorang pramusaji. Memanggilnya dengan ayunan tangan agar dapat dilihat tempat duduk kami yang mungkin agak sedikit jauh dari sang pramusaji. akhirnya sang pramusaji mendekat ke meja kami. Seorang wanita tepatnya. Kehadirannya tidak aku acuhkan saat ia membacakan sekaligus menawarkan berbagai menu yang dihidangkan oleh kafe ini, aku tengah asyik ber-browsing ria bersama handphone mungilku.
Waktu mendadak jadi beku. Membisu. Semuanya berjalan sangat lambat. Sangat pelan. Hingga kemudian berhenti. Denting garpu dan sendok sontak tak terdengar lagi. Riuh-rendah suara pengunjung kafe mendadak menguar. Tercekat. seperti barisan kata-kata yang hanya mengambang di udara. Tak bergerak. Aku bisa merasakan hembusan napasku yang lunak perlahan berhenti sesaat ketika Kedua bola mata ini menangkap sosok gadis dengan kardigan ungu tersebut tengah duduk dengan anggunnya di sebuah meja yang tidak terlalu jauh dari mataku memandang. Jari jemari mungilnya tampak sedang memegang satu batang rokok mild. Sementara bibir pipih mungil merona kemerahan itu sibuk mengepulkan asap. Sesekali membentuk huruf O. Pesonanya telah menghentikan pusaran waktu semesta. Dari yang tadinya bergerak menjadi berhenti. Yang mencair menjadi membeku. Yang pikuk menjadi senyap. Ingin rasanya diri ini terbang perlahan menghampiri pesonanya. Duduk perlahan di sampingnya. Meniup lembut poni rambutnya hingga tersirap keningnya yang putih bercahaya lalu ku taruh sebuah kecupan mungil di atasnya. Kurasa aku jatuh cinta.
Satu menit yang lalu kekasihku baru saja pergi ke toilet. Aku mau pipis dulu, Yank, katanya tadi, dan momen seperti ini tentu saja tidak akan kubiarkan lewat begitu saja. Kini aku seperti mendapatkan kesempatan untuk melempar sebuah dadu dalam permainan judi. Demi dewi fortuna aku akan mengambil kesempatan ini. Aku beringsut pergi menghela langkah kaki. Mengatur degup jantungku agar seirama. Berusaha menyembunyikan lekuk wajahku yang terlihat gugup. Menyeka bulir keringat yang sedikit membasahi kening dan tengkuk. Wajahnya yang menyiratkan pesona memaksaku untuk menghela langkah kaki lebih cepat. Ingin segera hati ini menyambangi kelopak keindahan yang kini terlihat menari-nari di depan bola mataku.
Belum genap sedepa aku menghampirinya, namun gadis itu sudah beranjak pergi meninggalkan mejanya. Bibir pipih merah nan memesona itu tengah terlihat mengepulkan asap untuk terakhir kalinya. Ia bergegas pergi. Menghela langkah kakinya dengan cepat namun tetap menyuguhkan sebuah keanggunan. Ia berjalan pelan menuju pintu keluar kafe bagian selatan. Aku mengikutinya hingga ia keluar dari kafe. Namun sayang tak lama kemudian aku kehilangan jejak mungilnya. Mataku hanya dapat menatap nanar kosong sebuah jalan raya dengan satu-dua mobil yang lalu-lalang. Gadis dengan kardigan ungu tersebut tampak lenyap ditelan oleh waktu. Kumendongak ke atas. Menatap cakrawala. Tampak semburat cahaya keunguan berkeretap di baliknya. Adakah gadis dengan kardigan ungu tersebut pergi menuju cakrawala?
Aku memutuskan untuk kembali ke mejaku. Tampak kekasihku tengah menyeruput minumannya dengan kedua bola mata yang dilayangkan ke berbagai arah. Kurasa ia mencariku. O kekasihku yang manis. Kekasihku yang romantis. Kekasihku yang acap kali tampil modis dengan rambut klimis. tahukah engkau kalau aku tidak pernah menyukai laki-laki berpenis? Aku selalu jatuh cinta dengan wanita. Wanita sepertiku. Wanita seperti mantanmu. Wanita seperti ibuku. Wanita dengan sejuta pesona yang terpancar dari rambut hitam legamnya. Wanita dengan bibir merah delima. Wanita yang memiliki payudara yang menyembul dengan sempurna seperti rembulan. Wanita dengan kerling genit bola mata yang mampu menghanyutkan semesta. Wanita yang memesona dengan wajah secair mentega dan kulit seputih tembaga. Wanita seperti gadis yang kujumpa di halte. Gadis dengan kardigan ungu.
Kurasa aku jatuh cinta.
Tentang Deni Oktora:
Seorang karyawan swasta, usia 24 tahun. Senang membaca karya-karya Seno Gumira Ajidarma, A.S. Laksana, dan Agus Noor.
Catatan:
Redaksi SepociKopi berterimakasih kepada Deni Oktora atas izin pemuatan cerpen ini









andai kan gadis it ad untuk aq , takan qu sia-siakan , coz mencari pacar perempuan sangad susah …
sedaaapp..
Z suka dengan Kata kiasannya
i wish that is me….
Saya berjanji nga akan menuntut
Saya akan menerima dia apa adanya
saya akan menjaganya dengan baik
saya akan berusaha memberikan apa pun yang terbaik untuknya
Crpen nha bgus,aplg kt2 nya yg paragraf t’akhr,keren..
Bgus critany,,sm sprti yg aq rs kn st prtama x memndang prmpuan yg bg q bgtu sgt indah,hngga ht q brkta I feel I’m in love… Tp skrg dia tlah prgi jauh..
To bontot kecil
Hahahaay samaaaa
Keren bgt cerpennya. Two thumbs up!!!
Keren abizZ..dari segi alur, tokoh, penggunaan metaphor, etc, bikin penasaran. Buat admin, QC stories di sepocikopi ditingkatin lagi dooonk…! Klo kompas bisa pasti sepocikopi juga, chayoo awak editor…!
Alur cerita yg sgt menarik, saat membacanya membuat sy serasa brda di alam cerita tsb, yg duduk terpaku disebuah ketinggian mengikuti alur cerita yg tergambar bgtu indah. Kala kt berada pada zona lagi penasaran akan sesuatu yg memancarkan keindahan kadang hal yg gila mnjdi waras untk dilakukan, higga pda akhirnya kt akan tersadar akan keyataan yg ada, namu kejadian yg sprti itu tdk sontak hilang dimemory otak yg akan tersave mengalun indah… Semogah redaksi sepocikopi lebih byak lagi memunculkan cerita yg sprti ini.
keren bgt puitis bgt……. kalimat yang terakhir sangat menarik……….. i like it..
hmmm…. jadi inget sama…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments