Home » Humaniora, Opini

The Boy Who Cried Wolf

Submitted by on 19/06/2010 – 12:21 pm12 Comments | 1,307 views

Oleh: Alex

Ada yang nonton sepak bola? Pernah nggak melihat pemain bola yang jatuh lalu langsung bersikap seakan habis ditabrak serombongan truk dan bus? Dia akan bergulingan di lapangan memegangi bagian tubuhnya yang terluka. Kalau perlu, pura-pura pingsan saja biar terlihat sangat dramatic. Drama seperti itu memang “diharuskan” dalam sepak bola walaupun pertandingan olahraga selalu menjunjung fair play. Tujuannya? Agar wasit jatuh kasihan dan memberi si korban “hadiah”, syukur-syukur tendangan penalti.

Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan nyata, perbuatan seperti itu malah menyebalkan. Ingat cerita The Boy Who Cried Wolf? Tentang anak yang suka berteriak “serigala, serigala!” tapi ia berbohong, ternyata hanya ingin menarik perhatian atau alasan lain yang dia anggap lucu. Hingga akhirnya ketika anak itu dimakan serigala, tak ada yang datang menolongnya karena orang-orang sudah tidak memercayai perkataannya.

Menempatkan diri sebagai korban dari semua kejahatan dunia dan berteriak minta tolong ke seluruh kampung memang menyenangkan. Orang yang melakukan hal itu akan mendapat perhatian yang selalu didambanya. Menempatkan diri sebagai korban akan menjadikan dirinya disayang dan dibela, ketika “korban” adalah ketidakadilan dari lawan yang lebih hebat. Lalu sang “korban” akan bebas menyalah-nyalahkan orang lain yang dianggap membuatnya menjadi kalah dan lemah. Dengan mengemis rasa dikasihani, si lemah menunjukkan penderitaannya dan mencuri cara untuk melawan serigala.

Pertanyaannya sekarang, apakah serigala itu memang ada? Bisa jadi serigala itu hanya ada dalam pikiran si korban. Dalam cerita the Boy Who Cried Wolf, serigala itu jelas tidak ada. Tapi dalam kehidupan sebenarnya, tidak penting apakah serigala itu ada atau tidak, yang penting seseorang bisa berteriak-teriak bahwa dia adalah korban dari serigala jadi-jadian. Untuk lebih menjelaskan analogi ini, coba kita ingat-ingat masa kecil lagi deh. Setiap anak-anak tahu bahwa menjadi sakit adalah cara tercepat untuk mendapatkan perhatian. Apabila dua anak-anak berkelahi, seseorang terjatuh dan menangis terkeras, maka orang dewasa mana pun akan memihak yang menangis dan menghukum yang membuatnya menangis. Terkadang orang dewasa sukar melihat masalah apa yang sesungguhnya terjadi dan melakukan pemihakan atas suara tangisan terkeras.

Belajar di masa kecil,  banyak orang terbawa dan terpancing melakukan hal itu. Sampai sekarang, banyak orang masih menggunakan “sakit” atau alasan lain yang terdengar menyedihkan sebagai sarana (satu-satunya) untuk mendapat perhatian. Sedikit-sedikit sakit, apa-apa sakit, apalagi waktu tidak dicintai atau sedang bertengkar. Pernyataan klasik orang-orang yang senang menjadi korban adalah “Nggak usah kuatir tentang aku, udah biasa kena maag”. Atau “Udah, udah, tinggalin aku di sini saja, biarin aku sakit kepala”. Atau “Aku ikhlas dikucilkan, ikhlas mendapat perlakuan yang pantas aku dapatin”. Biasa mendengar ini semua? Antara pasangan kekasih, bahkan teman kepada teman, gejala-gejala “sok berkorban” dan “lemah teraniaya” adalah pilihan bijaksana manusia-manusia yang rindu mengais-ngais perhatian. Tak ada bedanya dengan kanak-kanak yang sengaja menangis keras-keras agar dikasihani dan mendapat pembelaan.

Nah, bagaimana dengan lesbian yang berteriak serigala seperti cerita di atas? Ditambah bumbu drama, jadilah dia sebagai korban yang senang menyalahkan orang lain tanpa berkaca pada diri sendiri. Siapa bilang menjadi “korban” adalah pihak yang kalah? Dalam banyak kasus, sang “korban” justru adalah sang megabintang, sang superstar, sang pemeran utama. Tunggu, kita harus pintar-pintara membedakan mana korban yang tak sengaja menjadi korban dan korban yang memang direkayasa. Patutlah kita ulurkan tangan untuk membantu mereka yang tersisihkan, tapi harus dicermati lagi, banyak lesbian yang berebutan menjadi tokoh utama “korban” dalam skenario drama seri sinetron bersambung ini.

Menurut saya, kalau lesbian berteriak ada serigala yang jahat hendak membunuhnya dengan tujuan agar mendapat perhatian dan mati-matian berupaya terlihat sebagai “korban”, ya, jangan kaget kalau serigala sungguhan datang dan memakannya. Tanpa perlu menyebut adanya hukum karma, shit happens lho. Dan bisa saja karena keseringan melempar “kotoran”, suatu hari kotoran itu akan terlontar balik ke wajahnya.

Berteriak dan mengadu menjadi korban yang terzalimi dan lemah menderita adalah hak semua orang. Tapi berteriak ada serigala datang padahal serigala itu cuma imajinasi sama saja dengan dusta besar. Dan sampai titik tertentu orang takkan percaya dan takut pada serigala. Dusta adalah fitnah, dan fitnah adalah kekejian. Tak heran, kalau orang yang dulunya-bukan-korban akhirnya benar-benar menjadi korban jika berkendara di atas perjalanan serba-fitnah-nya. Saya ucapkan selamat menderita kepada lesbian yang senang menderita, semoga hidupnya berbahagia selamanya.

@Alex, SepociKopi, 2010

Tags: , , , , , ,

12 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.