Cuci Mata: Go Pescetarian
Oleh: Sidney
Gara-gara hasil tes kesehatanku berada di ambang batas normal aku jadi cemas. Ternyata sakit itu nggak pandang umur. Memang nggak sampai sakit sungguhan, tapi kalian kan tahu aku ini Drama Queen, jadi wajar kalau aku jadi lebay sekarang.
Gara-gara itu pula, aku dapat banyak saran untuk hidup sehat. Teman-temanku yang vegan langsung menyambar kesempatan untuk mengajakku hidup sehat. “Sid, kamu tau nggak? Daging merah itu jahat lho buat tubuh kita. Kandungan lemak jenuhnya tinggi sekali dan berbahaya buat kesehatan. Bisa menyebabkan kegemukan, asam urat, darah tinggi, kolestrol…” Temanku masih ngoceh sementara aku mulai cemas, makin cemas…. keringat dingin mengucur.
Mungkin ini peringatan biar aku lebih waspada. Biar jadi lesbian, bukan berarti aku nggak kepingin berumur panjang dan sehat. Justru karena aku lesbian, aku nggak mau menyusahkan orang saat tua nanti. Merepotkan saja jadi nenek-nenek lesbian yang stroke gara-gara kebanyakan makan sate kambing atau tongseng. Siapa yang mau mengurusku, coba?
Tapi kalau aku harus jadi vegan, aku juga nggak sanggup. Aku masih cinta daging. Aku mengeluh begitu kepada teman-teman veganku, yang dengan penuh semangat menawariku ala sales asuransi untuk menjalani Pescetarian Diet.
Pescetarian adalah mereka yang tidak makan binatang-binatang darat dan unggas, tapi masih makan daging dari binatang laut seperti ikan, kerang-kerang, dan kepiting. Telur dan susu juga termasuk bagian dari diet pescetarian. Makanan laut, buah, sayuran, dan gandum berserat tinggi menjadi makanan sehari-hari pescetarian.
Di rumah aku menggoogle banyak tentang pescetarian yang makin lama makin menarik ini. Makanan pescetarian dipercaya bisa menurunkan kadar kolestrol jahat dan menaikkan kolestrol baik. Makanan laut konon mengandung Omega 3 yang bisa meningkatkan kemampuan kognitif, mengurangi depresi, dan meningkatkan kemampuan otak sehingga tidak mudah pikun. Karena makanan yang disantap tidak mengandung lemak jenuh dan sodium, maka risiko darah tinggi atau stroke juga berkurang. Makanan yang kaya serat dalam diet pescetarian juga dianggap bisa mengurangi risiko kanker.
Sehari-hari sebelum terpikir serius menjadi pescetarian, aku sering memilih makanan daging merah. Kelemahan terbesarku adalah soto betawi atau sate kambing, seolah-olah daging itu memanggil-manggilku untuk menyantapnya. Sekali lagi, mataku melirik hasil tes kesehatanku yang memanggil-manggil tak kalah hebohnya.
Aku memandang foto kekasihku. Jadi nggak tega membayangkan kalau aku sakit, yang bakalan ikut susah juga dia. Jadi ketika aku diajak dinner pada kencan weekend kami, aku menolak diajak ke steak house favorit. “Tumben?” tanyanya.
Dengan manis aku menjawab, “Iya, aku kepingin tetap sehat buat kamu, Sayang.”
Partner melirik curiga. “Kenapa?”
“Ya, ingin sehat aja biar kamu nggak susah.”
Kali ini lirikannya ditambah dengan mata yang menyipit. “Kalau kamu seperti ini, aku malah cemas. Takut kamu sakit. Lalu minta beli sepatu baru.”
Aku pun tertawa terbahak-bahak. Untuk partner yang memahami aku seperti ini, tentu aku ingin tetap sehat. Maka, Go Pescetarian! (Baca dengan gaya Rianty Cartwright di Indonesia Mencari Bakat).
@Sidney, SepociKopi, 2010










sippppp,semangattt!!!!
Great article, sid. I like it! *teuteub rianti mode: ON
paling seneng baca “Go Pescetarian!” ala Rianty Cartwright di Indonesia Mencari Bakat. wkwkwk…
tertarik liat topik ini, sy udah vegan hampir 4 tahun, tidak makan daging, cuman telur masih makan.. and asik2 aja.. habis ga tega liat mahluk2 lucu itu jadi santapan di piring.. apalagi kalau lagi di resto seafood, ada orang yang pilih ikan hidup, ga tega banget liatnya..
Nice article…. sekarang sedang dalam proses menjadi pescetarian…:)
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments