Going Home
Tiga hari yang lalu,saya berangkat menuju Jakarta. Keinginan yang tertunda beberapa minggu yang lalu karena satu dan lain hal. Alasan keberangkatan ini sederhana, kangen pulang. Meski tidak pulang ke rumah tempat saya lahir dan dibesarkan (gila aja pulang ke Bukit Tinggi, Sumatra Barat cuma dua hari! Ongkosnya aja ngabisin gaji dua bulan)
Dengan persiapan seadanya, hanya dengan bawaan tas samping berukuran kecil, begitu selesai jam kantor, saya langsung menggenjot si Ireng, sepeda kesayangan saya berangkat ke stasiun kereta Tugu Jogjakarta. Begitu sampai di Tugu, mencari-cari tempat parkir sepeda, dan bertanya kepada si mas tukang parkir, “Bisakah si Ireng di parkir menginap sampe hari kamis?” Oke sip, Ireng bisa di parkir menginap. Dengan membayar biaya penginapan sebesar 3000 rupiah saja (hohoho, murah ya) Ireng akan baik-baik saja ditinggal tiga hari. Bismillahirrohmanirrahim, mudah-mudahan aman.
Perjalan menuju Jakarta dengan menggunakan kereta bisnis, cukup murah dan aman menurut saya, tapi kalau masih pengen yang lebih murah lagi, bisa naik kereta ekonomi dari stasiun Lempuyangan. Hanya saja kondisi dan tingkat kepenuhan penumpangnya berbeda, tergantung dengan kenyamana yang diinginkan. Jika tidak bermasalah dengan keuangan, bisa saja naik kereta eksekutif yang lebih nyaman dan tentu saja lebih cepat sampainya.
5.30 pagi sampai Jakarta. Dengan menelpon sepupu saya yang kebetulan sepagi ini sudah bersiap-siap menuju kantornya, pintu rumah dibukakan untuk saya masuk. Yang terlihat hanya sepupu saya, Dhia dan si Mbak yang lagi masak di dapur. Baiklah, tanpa menggangu aktivitas Dee, saya langsung naik ke kamar atas tempat saya biasa tidur jika menginap di Jakarta. Ada sepupu saya Tari yang masih tertidur di kasur atas. Hohoho, kasur bawah kosong, tidur dulu ah….
Hari pertama di Jakarta, terbangun jam 9.30 pagi, tidak menemukan satu orang pun di kamar tempat saya tidur. Sudah berangkat kerja rupanya sepupu-sepupu saya ini. Turun ke bawah, mengikuti keinginan untuk meminum teh di pagi hari yang memang seperti biasanya sudah disiapkan si mbak untuk seluruh penghuni rumah.
Eh, ada si abang (sepupu saya yang lain) lagi nongkrong di depan TV. Ya, ya, ya, dari tadi kok sepupu-sepupu saya semua ya? Rumah Mamak (adik laki-laki dari pihak Ibu, disebut Mamak dalam adat Minangkabau) saya ini bisa dikatakan basecamp bagi saidara, sanak keluarga yang mampir ke Jakarta. Keluarga inti si mamak hanya berlima sebenarnya, namun seiring perjalanan waktu, penghuni rumah ini semakin bertambah dan berganti-ganti. Saya pun sempat menjadi penghuni basecamp ini selama saya kuliah di Jakarta, kurang lebih lima tahun, dan sampai hari ini, basecamp diisi oleh sembilan orang penghuni tetap termasuk si mbak.
Agak sorean, menjelang maghrib, para penghuni mulai berdatangan satu persatu, saya pun melakukan ritual yang seperti biasanya, menyalami sedikit membungkuk kepada yang lebih tua, bercengkrama. Wow, ini dia kehangatan yang saya rindukan. Sejak pengakuan saya kepada seluruh keluarga besar, kehangatan ini sempat hilang beberapa saat. Meski sampai hari ini pun coming out-nya saya dianggap tidak ada, tapi saya masih bisa merasakan aura sebuah keluarga di sini. Sesuatu yang saya cari di Jogja, sempat si merasakan kehangatan yang sama, tapi sekarang terasa agak berbeda karena satu dan lain hal.
Dua hari satu malam di Jakarta, hanya di rumah saja, tidak ke mana-mana, merasakan kehangatan dari semua anggota keluarga, ruangan yang saya kenali dengan jelas, segala sesuatunya bisa mengingatkan pada banyak hal. Kursi goyang yang sama tempat melepas kepenatan sambil nonton TV, meja makan yang sama yang menyatukan semua orang, kamar yang sama, tempat tidur yang sama, tempat ketika 4-5 orang tidur bersama dan bergosip ria sebelumnya, AC yang masih sama dinginnya untuk tubuh saya, tumpukan bacaan yang sangat familiar, tingkat tiga yang sama tempat bikin sate dengan semua orang, tempat memandangi langit ketika sedang rindu dengan almarhum mama tercinta…
Kembali ke Jogja, pulang ke kos yang pintu gerbangnya pun belum terbuka sampai saya selesai menuliskan tulisan ini, hanya ada ruangan kosong yang menyambut kedatangan saya. Ruangan yang terasa terlalu asing dan terlalu besar dengan sedikit benda-benda yang agak memaksakan diri untuk disebut sebagai sebuah rumah. Ternyata memang, seberdosa apa pun, sebrengsek apa pun, sedurhaka apa pun orang-orang mengatai saya, jalan pulang itu tidak akan pernah terlupakan.
“The chair is still a chair, even when there’s no one sittin’ there
But a chair is not a house and a house is not a home
When there’s no one there to hold you tight
And no one there you can kiss goodnight”
[Luther Vandross, A house Is Not A Home]
@Amalia, SepociKopi, 2010
Tentang Amalia
(penulis harap menghubungi redaksi)










i wanna go to my home….yes someday.
berarti gw tinggalnya di HOME bukan di HOUSE
wkwkwkwk….
memang asing rasanya HOME gw ini….
i wanna go home..but
Home sweet home
C0ming out yg d’anggap gag pernah q lakukan!
. .
c0ming out yg Aq ungkap ke klrga pun mereka lupakan!
Pdhl dg ato tnpa izin mereka aq tetap s’org lezbian
:: Intix adalah KELUARGA…
Hope I have my own Little HOME someday not just A Big House…
Tulisan yg bagus, mengingatkanku pd keluargaku dulu..
Kangen pulang, kangen berkumpul dg orang2, kangen mengembarakan ingatan masa lalu..
Gmn y rasanya kangen ma rmh?? hmmm.. slama ni lum prnh ngrasa kangn ma rmh & para penghuninya
My home is my mom..
Dimanapun beliau tinggal disitulah tempat yg aq sebut rumah..
bagus…. Trimakasih ^^
jadi kangen pulang ke jogja… huhuhuhu
stasiun tugu, I’m coming soon
Home sweet home gw is my big family.sedih bareng.ktwa bareng marah bareng.tp selesay syg lg brow..oooo melow gt loh.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments