Lagak Lajang: Gejolak Jiwa
Oleh: Oscar Arumi
Bagaimana kau mampu menulis tanpa membaca? Bagaimana kau mampu bertanding tanpa berlatih? Bagaimana kau mampu berhasil tanpa pernah merasa gagal? Bagaimana kau bisa naik ke atas tanpa beranjak dari bawah? Bagaimana ada dua tanpa satu sebagai pembuka? Bagaimana tercipta luas tanpa ukuran panjang dan lebar? Bagaimana ada kita, kalau hanya ada aku? Ah, mulai lebay deh saya.
Inilah yang disebut dengan pembelajaran orang dewasa. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, ketika opini dihargai sebagai salah satu buah pikir manusia. Saya pernah diundang sebagai dosen penilai di kelas sebuah mata kuliah umum, jadi, saya hanya berfungsi menilai apakah dosen penyaji berhasil atau tidak mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Saat dosen penyaji memaparkan teori, saya hanya duduk menyempil di sudut ruangan sebagai penilai. Tidak boleh berbicara, tidak boleh menyela, tidak boleh interupsi, kecuali penyaji yang memintanya. Menarik, karena saat ini, kelas sedang membahas tentang kesehatan mental.
Menurut seorang ahli, kesehatan mental memiliki arti saat seseorang terhindar dari gejala-gejala gangguan jiwa (neuroses) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychoses). Awalnya, sebagai penilai, saya benar-benar mengantuk dan membosankan tentang paparan dari dosen penyaji. Sampai suatu ketika, seorang mahasiswi di barisan belakang, mengangkat tangan dan mulai bertanya. Ya ya, baiklah, jiwa lajang saya mulai kambuh saat melihat mahasiswi berkacamata itu berbicara lancar dari arah belakang. Bibir bawahnya penuh, mengingatkan saya pada seseorang di masa lalu. Tetapi, ada yang lebih menarik perhatian saya, yaitu pertanyaannya.
“Jadi, apakah homoseksual itu termasuk gejala gangguan jiwa atau gejala penyakit jiwa?’’
Bukan mata saya saja yang terbelalak, biji mata dosen penyaji pun seakan-akan hampir loncat mendengar pertanyaan mahasiswi si bibir penuh. Diskusi tak terelakkan, beragam wacana dan opini muncul ke permukaan. Hei hei, mereka tidak melirik saya sama sekali? Barang bukti nyata ada di depan mata, apakah mereka benar-benar tak sadar akan kehadiran saya di kelas ini? Saya tahu, mahasiswi ini tersenyum puas dengan kekacauan opini yang ada di kelas. Ah dia, saya yakin dia hanya berniat mau-tahu-saja pendapat teman-teman di kelasnya, tanpa peduli hasil akhir akan jawaban yang diperolehnya. Bagaimana tidak kacau, kalau debat kelas ini seolah-olah membelah kelas menjadi dua bagian, si pendukung gejala gangguan jiwa dan si pendukung gejala penyakit jiwa. Gubraks dot com deh, apakah saya harus memilih di antara keduanya? Bagaimana mungkin saya menyatakan diri sendiri sebagai seseorang yang nggak beres jiwanya?
Oh, saya melihat dari kejauhan, beberapa mahasiwa menilai bahwa homoseksual bukan termasuk gejala keduanya. Syukurlah, masih ada orang-orang dengan pikiran jernih seperti ini. Ouw ouw, atau jangan-jangan mereka masuk ke dalam kategori yang sama seperti saya? Hm, saya melihat senyum si bibir penuh makin melebar ke dalam kelas, memenuhi ruangan kelas dengan tawa sumbangnya. Seolah-olah saya tersedot, dan menunjuk-nunjuk saya sebagai satu-satunya lesbian di dalam kelas. Astaga, fenomena seolah-olah ini membuat bulu kuduk saya berdiri, membayangkan kenyataan benar-benar seperti itu. Diskusi hampir selesai, tanpa voting dan poling, sekitar 60 persen menyatakan bahwa homoseksual merupakan gejala gangguan jiwa, 35 persen menyatakan sebagai gejala penyakit jiwa dan hanya 5 persen menyatakan tidak keduanya.
Dosen penyaji yang katanya lulusan universitas ternama itu, mendukung pendapat mayoritas kelas bahwa homoseksual sebagai salah satu gejala gangguan jiwa. Helllooooo, Bu Dosennnnnn??? Angka penilaian sudah siap saya torehkan di atas kertas dan jangan tanya, nilai apa yang saya beri untuknya.
Dosen penyaji yang terhormat, bagaimana kau bisa menilai bahwa homoseksual itu sebagai gejala gangguan jiwa, bila kau sendiri tak pernah merasakan gejala-gejalanya? Tiba-tiba, senyum mahasiswi si bibir penuh itu menari-nari di kepala saya, seolah membisiki saya dengan kalimat “Saya tahu gejala-gejalanya, Bu’’. Membayangkannya, gejolak jiwa saya pun mulai meradang. Ah, mulai lebay lagi deh saya.
@Oscar Arumi, Sepocikopi, 2010.









Jd emosi jiwa baca kesimpulan akhirnya
“sakit jiwa?”
gw sependapat dengan say_czeka15
Bagaimana mungkin dikatakan sakit jiwa,sedangkan rata-rata lesbian/gay sudah dari sOnOnya nda bisa tertarik dengan lawan jenisnya….
Mereka tidak tau pergulatan batin dan perjuangan hidup kita…
lho ?
LGBT kan udah dkeluarin dari gejala dan penyakit jiwa .
wtf. tp bikin emosi seh. tp lucu juga ngebayangin si Bu Dosen ngambil kesimpulan itu seenak udel xp
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments