Home » Lagak Lajang, Sepocikopiana

Lagak Lajang: Gejolak Jiwa

13 June 2010 122 views 4 Comments

pociOleh: Oscar Arumi

Bagaimana kau mampu menulis tanpa membaca? Bagaimana kau mampu bertanding tanpa berlatih? Bagaimana kau mampu berhasil tanpa pernah merasa gagal? Bagaimana kau bisa naik ke atas tanpa beranjak dari bawah? Bagaimana ada dua tanpa satu sebagai pembuka? Bagaimana tercipta luas tanpa ukuran panjang dan lebar? Bagaimana ada kita, kalau hanya ada aku? Ah, mulai lebay deh saya.

Inilah yang disebut dengan pembelajaran orang dewasa. Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, ketika opini dihargai sebagai salah satu buah pikir manusia. Saya pernah diundang sebagai dosen penilai di kelas sebuah mata kuliah umum, jadi, saya hanya berfungsi menilai apakah dosen penyaji berhasil atau tidak mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan. Saat dosen penyaji memaparkan teori, saya hanya duduk menyempil di sudut ruangan sebagai penilai. Tidak boleh berbicara, tidak boleh menyela, tidak boleh interupsi, kecuali penyaji yang memintanya. Menarik, karena saat ini, kelas sedang membahas tentang kesehatan mental.

Menurut seorang ahli, kesehatan mental memiliki arti saat seseorang terhindar dari gejala-gejala gangguan jiwa (neuroses) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychoses). Awalnya, sebagai penilai, saya benar-benar mengantuk dan membosankan tentang paparan dari dosen penyaji. Sampai suatu ketika, seorang mahasiswi di barisan belakang, mengangkat tangan dan mulai bertanya. Ya ya, baiklah, jiwa lajang saya mulai kambuh saat melihat mahasiswi berkacamata itu berbicara lancar dari arah belakang. Bibir bawahnya penuh, mengingatkan saya pada seseorang di masa lalu. Tetapi, ada yang lebih menarik perhatian saya, yaitu pertanyaannya.

“Jadi, apakah homoseksual itu termasuk gejala gangguan jiwa atau gejala penyakit jiwa?’’

Bukan mata saya saja yang terbelalak, biji mata dosen penyaji pun seakan-akan hampir loncat mendengar pertanyaan mahasiswi si bibir penuh. Diskusi tak terelakkan, beragam wacana dan opini muncul ke permukaan. Hei hei, mereka tidak melirik saya sama sekali? Barang bukti nyata ada di depan mata, apakah mereka benar-benar tak sadar akan kehadiran saya di kelas ini? Saya tahu, mahasiswi ini tersenyum puas dengan kekacauan opini yang ada di kelas. Ah dia, saya yakin dia hanya berniat mau-tahu-saja pendapat teman-teman di kelasnya, tanpa peduli hasil akhir akan jawaban yang diperolehnya. Bagaimana tidak kacau, kalau debat kelas ini seolah-olah membelah kelas menjadi dua bagian, si pendukung gejala gangguan jiwa dan si pendukung gejala penyakit jiwa. Gubraks dot com deh, apakah saya harus memilih di antara keduanya? Bagaimana mungkin saya menyatakan diri sendiri sebagai seseorang yang nggak beres jiwanya?

Oh, saya melihat dari kejauhan, beberapa mahasiwa menilai bahwa homoseksual bukan termasuk gejala keduanya. Syukurlah, masih ada orang-orang dengan pikiran jernih seperti ini. Ouw ouw, atau jangan-jangan mereka masuk ke dalam kategori yang sama seperti saya? Hm, saya melihat senyum si bibir penuh makin melebar ke dalam kelas, memenuhi ruangan kelas dengan tawa sumbangnya. Seolah-olah saya tersedot, dan menunjuk-nunjuk saya sebagai satu-satunya lesbian di dalam kelas. Astaga, fenomena seolah-olah ini membuat bulu kuduk saya berdiri, membayangkan kenyataan benar-benar seperti itu. Diskusi hampir selesai, tanpa voting dan poling, sekitar 60 persen menyatakan bahwa homoseksual merupakan gejala gangguan jiwa, 35 persen menyatakan sebagai gejala penyakit jiwa dan hanya 5 persen menyatakan tidak keduanya.

Dosen penyaji yang katanya lulusan universitas ternama itu, mendukung pendapat mayoritas kelas bahwa homoseksual sebagai salah satu gejala gangguan jiwa. Helllooooo, Bu Dosennnnnn??? Angka penilaian sudah siap saya torehkan di atas kertas dan jangan tanya, nilai apa yang saya beri untuknya.

Dosen penyaji yang terhormat, bagaimana kau bisa menilai bahwa homoseksual itu sebagai gejala gangguan jiwa, bila kau sendiri tak pernah merasakan gejala-gejalanya? Tiba-tiba, senyum mahasiswi si bibir penuh itu menari-nari di kepala saya, seolah membisiki saya dengan kalimat “Saya tahu gejala-gejalanya, Bu’’. Membayangkannya, gejolak jiwa saya pun mulai meradang. Ah, mulai lebay lagi deh saya.

@Oscar Arumi, Sepocikopi, 2010.

4 Comments »

  • say_czeka15 said:

    Jd emosi jiwa baca kesimpulan akhirnya
    “sakit jiwa?”

  • mbuzzz said:

    gw sependapat dengan say_czeka15
    Bagaimana mungkin dikatakan sakit jiwa,sedangkan rata-rata lesbian/gay sudah dari sOnOnya nda bisa tertarik dengan lawan jenisnya….
    Mereka tidak tau pergulatan batin dan perjuangan hidup kita…

  • yo said:

    lho ?
    LGBT kan udah dkeluarin dari gejala dan penyakit jiwa .

  • musicdream said:

    wtf. tp bikin emosi seh. tp lucu juga ngebayangin si Bu Dosen ngambil kesimpulan itu seenak udel xp

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.