On Depression And Alcoholism
Survei yang dilakukan oleh produk K-Y Brand® Liquid di Washington Amerika pada acara Millenium March menyatakan bahwa penyakit kejiwaan yang paling serius menimpa lesbian adalah depresi. Depresi menjadi penyakit jiwa yang wajib diperhatikan bersama masalah kesehatan lainnya yang menjadi peringkat atas: HIV/AIDS, jantung, penuaan, dan masalah diet. Isu depresi adalah nomor satu di atas semuanya.
Dokter Stephen Goldstone mengatakan bahwa depresi adalah problematika penting di komunitas lesbian, tapi sayangnya tidak mendapat perhatian cukup. Survey mengatakan bahwa depresi menimpa tujuh puluh lima persen lebih banyak di antara kaum gay dan lesbian dibandingkan populasi umum lainnya. Ini dapat dimengerti. Kehidupan kaum lesbian yang bersembunyi/tidak bersembunyi di dalam lemari (ditambah tekanan-tekanan sosial lainnya seperti hubungan cinta, sosial, dan persahabatan) menguras kesehatan seseorang dan dapat berakhir pada depresi.
Inilah yang menjadi alasan mengapa aku mengangkat isu depresi dalam serial On Depression yang aku rencanakan menjadi beberapa tulisan di minggu-minggu selanjutnya, setelah yang pertama membahas On Depression And Smoking, maka kali ini aku mau menyinggung masalah depresi dan pemakaian alkohol di kalangan lesbian. Aku baru saja menyelesaikan bacaan studi yang berjudul Depression Among Lesbians: An Invisible And Unresearch Phenomenom oleh Esther D. Rothblum, PhD. – seorang profesor Women’s Studies, konselor kaum LGBT, dan editor the Jurnal of Lesbian Studies di San Diago State University. Studinya membahas kronologis tentang sejarah dan kasus-kasus depresi yang menimpa kaum lesbian sejak tahun 1970-an. Rothblum juga menyatakan kaum lesbian yang berakhir menjadi pecandu disebabkan oleh depresi dan rendahnya kadar rasa percaya diri.
Dalam artikel kecil yang aku temui di situs khusus yang mengelola masalah kesehatan di kalangan homoseksual khusunya di bidang HIV/AIDS (www.thebody.com), dijelaskan bahwa pemakaian alkohol memiliki angka yang tinggi di kalangan lesbian. Oya, sekali lagi aku perlu ingatkan bahwa semua studi dan riset yang kukutip di serial On Depression ini memang banyak dilakukan di negara-negara Amerika, Kanada, dan Eropa. Kuberikan catatan kecil bahwa hasilnya belum tentu sama dengan realitas yang terjadi di Indonesia. Sejauh ini aku belum menemukan penelitian yang dilakukan untuk kaum LGBT di Indonesia, jadi marilah untuk sementara kita menggunakan pekerjaan dari negara lain agar dapat bercermin dengan (lebih) baik.
Alkoholisme adalah masalah kesehatan. Kecanduan alkohol menjadi jejak awal penyakit liver, HIV, dan penyakit kelamin menular lainya. Dalam pengaruh alkohol, orang akan cenderung untuk melakukan hubungan seksual secara berlebihan, bahkan berhubungan seksual dengan orang yang tak dikenal, dan melakukan hubungan seksual yang beresiko tinggi (tanpa perlindungan). Itulah mengapa, seorang alkoholik bisa terkena virus HIV yang didapatnya dari orang asing yang berhubungan seksual dengannya, bahkan mungkin saja hanya sekadar hubungan one night stand. Suatu akibat yang mengerikan dari pecandu minuman keras.
Kehadiran alkohol merusak hidup si pecandu. Dia tidak dapat berkomunikasi dengan baik, bahkan tidak dapat berhubungan relasi dengan baik di dunia masyarakat. Dia akan mengalami keterasingan di dirinya sendiri, di mana akhirnya bisa menjurus ke arah keinginan untuk bunuh diri atau melakukan penyiksaan (abusive). Saat depresi dan alkohol bergabung, maka kekuatan mahadasyat itu berlipat ganda, menyerang lesbian ke titik terparah hidupnya.
Ketergantungan pada alkohol menjadi kuat di komunitas lesbian, apalagi “pesta komunitas” dan “pesta beberapa lesbian” yang dilakukan seringkali memiliki menu minuman beralkohol dalam daftar makanannya. Sayangnya, masih sedikit komunitas lesbian yang peduli mengurus isu ini sehingga banyak lesbian yang bukan saja akrab dengan alkohol tapi juga pecandu yang memengaruhi lesbian sehat lainnya. Sayangnya juga, banyak kaum lesbian menggunakan isu minum sebagai pamer kekuatan, kebanggaan, dan arena pertandingan bagi pemenang yang pantas dianugrahi piala bergilir.
Apakah gejala-gejala seorang pemabuk atau pecandu alkohol? Inilah beberapa gejala yang layak diperhatikan baik-baik. Ingat, semuanya berawal dari depresi dan keinginan untuk mencoba-coba. Segera cari bantuan apabila gejala-gejala ini merujuk kepadamu atau teman atau bahkan partnermu.
1) merasa memiliki keharusan untuk menenggak alkohol/minuman keras lainnya saat dilanda rasa murung/sedih, tekanan, stress, sehabis bertengkar, atau mengalami kekecewaan.
2) diam-diam menambah minuman beralkohol/bir ke dalam gelas di acara pertemuan atau kongkow dengan teman lesbian sampai ketagihan dan tak sanggup berhenti
3) mulai berani mencoba-coba mencampur merek/aneka minuman lain yang jelas mengandung kadar alkohol tinggi
4) merasa gelisah jika tidak menemukan minuman beralkohol
5) tidak bisa berhenti minum dan tak mampu mengendalikan diri
6) bangun pagi tanpa sanggup mengingat yang apa yang terjadi semalam
Komunitas lesbian atau kelompok persahabatan lesbian selayaknya mencegah beberapa anggota atau temannya yang tergoda dengan minuman beralkohol agar mereka tidak berakhir menjadi pecandu. Ini artinya mengajari lesbian lain untuk berhenti melarikan diri ke alkohol saat tertimpa depresi – terlepas dari masalah-masalah kita sebelum menjadi seorang pemabuk. Komunitas atau kelompok juga sebaiknya menciptakan ruang pertemuan yang melindungi dengan tidak menyediakan minuman keras atau bahkan tidak melakukan acara kumpul-kumpul di bar atau kafe yang menyediakan minuman beralkohol. Mari bersama menjaga dan menyayangi sesama lesbian, sebab jika bukan kita, siapa lagi yang peduli?
Ya, melihat catatan studi ini, lesbian harusnya menyadari betapa rentannya kita dengan depresi. Sebelum tergelincir menjadi pemabuk karena dampak depresi ini, kita harus belajar membuat diri sehat secara jiwa raga. Apabila lesbian merasa tenggelam dalam perilaku stress yang sangat berlebihan, jangan menunggu lagi, segeralah berkonsultasi ke konselor yang terbaik di bidangnya.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2010










Sejak dari jaman sekolah aku sudah akrab bersama lingkungan yg dekat dengan alkohol, rokok dah hal2 sejenisnya. Beberapa kelompok teman bahkan menjadikan itu sebagai bagian dari gaya hidup dengan label ‘glamor’. Tidak munafik juga bahwa kadang2 aku ikut mencicipi label ‘glamor’ itu. Tapi syukurlah sampe dengan hari ini aku tidak pernah menjadikan itu gaya hidup, apalagi sampai menjadikannya pelampiasan depresi. aku masih cukup menyadari betapa berharganya diri dan hidupku tanpa harus jatuh dalam ‘kebodohan’
Serasa bukan tulisan Laksmi? he he
Bener kata tangansexy.. Ni artikel bukan lakhsmi banget.. Huehehe
begitu mengingat dia dengan cowk lain,rasanya sakit banget
my feeling persis dengan lagunya Marcell-TAK KAN TERGANTI
So,alkohol adalah teman yg paling pas buat melupakannya…bodoh memang,tapi gw nga punya GF/sahabat lesbian untuk bebagi ceritA….
yeah alcohol and smoke is the best things that can makes me feel relief..damn..it’s a drug for me..
fm-iT..@WWSTT..
@admin, maaf agak nyeleneh dari artikel nih. saya sempet terfikir dulu mau ambil penelitian tentang gangguan jiwa (depresi & gangguan citra tubuh-karena banyak lesbian yang belum menerima dirinya/karena faktor eksternal di daerah saya) tapi tidak jadi krn saya capek ditatap aneh (karena saya lesbian) ketika membicarakan penelitian ini (sama, sy juga depresi). saya fikir banyak psikolog/psikiater yang kompeten dan mau berbagi waktu dengan SK. bagaimana kalau di bagian kesehatan ini admin menambahkan tulisan-tulisan dari mereka? terima kasih
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments