Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Disiplin Diri dan Kita

8 June 2010 364 views 3 Comments

discipline1Oleh: Nuha Guwa

Dalam sebuah perjalanan seminar Pertanian di Jepang tahun lalu, pada suatu pagi yang cerah tempat di mana orang-orang melakukan senam pagi, saya sempat terbengong-bengong menemukan satu komunitas anak muda yang sungguh nyeleneh. Apa yang mereka lakukan membuat saya gagap seketika! Beberapa cewek modis beredar di taman tersebut. Seperti biasa, banyak pemilik anjing yang membawa peliharaan mereka di taman. Nggak tahu kenapa mata saya tiba-tiba tertuju pada seorang cewek cantik. Begitu melihat seekor anjing buang kotoran dan pemiliknya mendiamkan, dengan tangan kosong ia langsung memegang kotoran tersebut dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Glek! Tidak ada raut wajah marah di mukanya, ia malah tertawa penuh keceriaan.

Adalah Chukyo University, salah satu universitas di Jepang mengeluarkan edaran mengenai terbentuknya Gomihiroi-tai di kampus. Gomihiroi-tai artinya pasukan disiplin, yang dimulai dengan menjadi pemungut sampah bertujuan mewujudkan kampus Chukyo sebagai yang tercantik di Jepang. Konon jumlah anggotanya di tahun 2010 ini sudah mencapai seratusan. Setelah saya cari tahu seorang mahasiswa membawa saya ke komunitas mereka, dan sayang hari Minggu itu sekretariat mereka tutup dan rata-rata mereka berada di lapangan untuk menjadi sukarelawan dan sukarelawati tadi.

Di depan kantor tersebut saya melihat beberapa kertas kecil bertuliskan kanji. Melalui seorang penerjemah saya menemukan syarat-syarat untuk menjadi anggota pasukan disiplin tersebut ternyata gampang-gampang susah (subjektif nih menurut saya pribadi); misal sampah yang jatuh harus dipungut dengan tangan kosong (sude) tidak boleh memakai alat. Gampang toh. Memungut kotoran anjing atau kucing nggak boleh muka cemberut dan harus bernyali besar (yuuki no aru hito). Jika menemukan puntung rokok atau permen karet, tidak boleh pura-pura tidak melihat. Permen karet gitu loh, bekas ludahan dari mulut seseorang, duh susahnya. Saat berjalan kaki harus memperhatikan sampah yang harus dipungut dalam radius sepuluh meter. Jika melihat sampah tidak boleh mengumpat. Harus memungut sampah itu dengan senang dan hati ringan. Saat memungut sampah itu, tidak boleh merasa malu. Well… kelihatannya mudah. Disiplin, kuncinya hanya itu untuk bisa menjadi anggota pasukan tersebut. Disiplin pada diri sendiri kemudian mempraktekkannya di lingkungan sekitar.

Disiplin adalah perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang dirasakan menjadi tanggung jawab. Kalau seseorang sudah mempercayai nilai-nilai tersebut, tentu mudah membangun disiplin diri. Penjelasan paling baik untuk filosofi ini tentu bagaimana cara membangun disiplin diri. Baiklah, tentu banyak metode untuk menjadi seseorang yang disiplin, sungguh tidak mudah, namun hanya kitalah yang harus menemukan cara mana yang pas untuk diri sendiri.

Barangkali bagi anak-anak muda di Jepang, cara mudah untuk mendisiplinkan diri harus mengikuti organisasi atau kumpulan semacam ini. Kalau saya perhatikan bagaimana tata cara mereka melakukan analogi disiplin – adalah dengan melatih nyali tadi, (semakin sering membuang kotoran anjing semakin kuat nyali disiplin, sementara semakin tidak melatihnya, semakin lemah) yah… barangkali memang harus sekeras itu. Untuk membangun disiplin kita memang memerlukan sikap-sikap dan latihan-latihan kedisiplinan ala anak-anak muda Jepang.

Kita tahu kunci kemajuan, kesuksesan, dan kebesaran orang-orang besar yang pernah hidup dalam sejarah karena pernah mempraktekkan disiplin diri. Dengan disiplin diri, banyak hal menjadi mungkin. Sebenarnya negara kita tercinta pernah menyerukan gerakan disiplin nasional dalam kehidupan bermasyarakat yang dimulai dengan disiplin di jalan raya. Namun hasil dari gerakan tersebut relatif belum kelihatan sampai sekarang. Gema tersebut malah tidak terdengar lagi. Bagaimana dengan lesbian? Kita juga tahu banyak pandangan-pandangan sinis terhadap lesbian. Tentu kita tidak mau hanya karena ulah segelintir teman-teman kita yang tidak disiplin, semua lesbian dicap buruk dan jelek.

Membangun peradaban dunia lesbian yang penuh dengan kedisiplinan tentu tidak mudah. Namun karena kita hanyalah sebuah komunitas yang kecil di bandingkan masyarakat umum, seharusnya hal ini tidak sulit. Keadaban publik kerap diserukan para budayawan, seniman dan tokoh-tokoh agama, kita akui betapa sulitnya mengubah ketidakdisiplinan tersebut secara global. Jika dimulai dengan tekad dan kemauan dari sebuah komunitas kecil rasanya tidak sulit menjalankan kedisiplinan tersebut.

Memang disiplin diri merupakan proses sejati sejak masa kanak-kanak. Itu berarti pendidikan non-formal dalam keluarga menjadi dasar seseorang untuk mampu melatih disiplin diri. Namun, pelatihan disiplin diri pada orang dewasa seharusnya bisa dilakukan dengan mudah karena sudah matangnya kejiawaan dan pertumbuhan. Hanya perlu membangun kesadaran, usaha, serta pengendalian diri yang intensif.

Tentu, keutamaan disiplin ini harus dibangun secara sederhana, dimulai dengan tidak menyalahkan orang lain, menghindari hal-hal melanggar ketertiban umum, melakukan pekerjaan sesuai waktu, tekun, tidak mudah putus asa, dan selalu bersabar terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan di sekitar kita. Sebenarnya cara remaja Jepang melatih disiplin dengan kebersihan diri dan lingkungan tampaknya tidak buruk untuk ditiru. Barangkali setidaknya lesbian tidak usah mentolerir hal-hal yang tidak bersih seperti misalnya badan, pakaian, rumah, lingkungan sekitar, mulai dari sesama tetangga lesbian maupun masyarakat luas. Semoga dengan nilai-nilai kedisiplinan yang kita tekad dan terapkan, kita tidak lagi dianggap sebagai komunitas sesat, sekumpulan perempuan pendosa, atau dianggap biang bencana. Mari kita ubah diri sendiri untuk sebuah kesuksesan dengan merealisasikan kedisiplinan dalam semua hal, demi sebuah kualitas hidup yang sejahtera dan bahagia.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

3 Comments »

  • tomBOY said:

    huhft…

    patner gw jg sama doyan kebersihan n doyan bersih2…
    bawaannya gw dsuruh mandi mulu..

  • no_name said:

    Disiplin pada orang dewasa bisa lebih mudah dipupuk dan dilatih apabila didada dan jiwanya bersemayam mimpi dan cita-cita serta gelora semangat untuk meraihnya. Mimpi yang melahirkan harapan-harapan dan menumbuhkan semangat. Seperti para pemuda jepang yg bermimpi kampusnya menjadi kampus tercantik.
    Mau jadi pribadi yang disiplin???maka bermimpilah, berharaplah, berupayalah untuk meraih cita-cita yang indah.Bravo!!!!

  • YulSicful said:

    ah keren pokoknya. setuju !!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.