Home » Film, Seni Budaya

Film: Film Pendek – Sebuah Alternatif

7 June 2010 292 views 4 Comments

Film CanOleh: Alex

Apa sih menariknya film pendek? Kadang-kadang membingungkan, kebanyakan metafora, atau cuma selewat begitu aja habis, dan nggak jelas maunya apa? Tidak juga. Beberapa memang mementingkan drama visual dan bukan pemahaman pada cerita terutama dalam film-film pendek produksi Eropa, meskipun produksi Amerika biasanya lebih menekankan pada karakter. Durasi film yang pendek memang membuat kreator film harus pintar-pintar berkreasi dalam menyampaikan cerita. Film pendek tidak melulu kalah dari film panjang. Penyampaian gagasan melalui film pendek 10 menit terkadang malah lebih mengena dibanding penonton harus menghabiskan 100 menit.

Secara teknis, film pendek di Amerika didefinisikan sebagai film yang panjangnya 20-40 menit. Tapi di Eropa, Amerika Latin, Australia, Asia, durasi film pendek yang umum adalah 1-15 menit. Film pendek biasanya populer di kalangan pembuat film muda karena biaya pembuatannya lebih murah dan produksinya juga lebih mudah. Dari segi topik, film-film pendek sering memilih topik yang lebih riskan/dihindari oleh pembuat film komersil. Film-film berjenis LGBT juga merupakan topik yang sering kali jadi pilihan kreator film pendek.

Kalau rajin membrowsing situs-situs video seperti youtube, daily motion, dan sebagainya, bisa ditemukan banyak film pendek lesbian karya pembuat film independen. Beberapa film pendek lesbian bahkan sudah bisa ditemukan dalam bentuk DVD, seperti seri She Likes Girls, yang pernah dibahas di SepociKopi. Ayo, ketik keyword-nya di kotak pencari dan temukan film-film pendek itu. Puluhan, bahkan ratusan film pendek bisa ditemukan di internet. Seperti Torn, film lesbian independen yang terpampang di youtube, yang ditulis dan disutradarai oleh Heather Tobin.

Pada tahun 2002, Ten Rules: A Lesbian Survival Guide yang ditulis, disutradarai, dan diperankan Michelle Paradise, merupakan film pendek berdurasi 30 menit yang diedarkan dalam berbagai festival film. Ceritanya sendiri lesbian banget, berkisar tentang hubungan antar mantan, teman, kekasih dalam lingkaran persahabatan lesbian. Dari Ten Rules ini, Michelle Paradise mengembangkan dan menjual ceritanya ke Showtime hingga menjadi serial Exes and Ohs. Coba digoogle deh, mungkin masih ada yang mengupload film pendek ini di internet/youtube.

Salah satu film pendek lesbian yang kemudian jadi fenomenal adalah D.E.B.S. Awalnya D.E.B.S adalah film pendek berdurasi 11 menit yang ditulis dan disutradarai Angela Robinson pada tahun 2003. D.E.B.S sukses di berbagai festival film dan menerima tujuh penghargaan dalam beberapa festival. Kisahnya sendiri berkonsep agen rahasia ala Charlie’s Angels yang kemudian jatuh cinta pada penjahatnya, yang juga perempuan.

Pada tahun 2004, D.E.B.S dikembangkan menjadi film panjang berdurasi 91 menit dengan sutradara yang sama. Dua pemeran utama yang bermain sebagai pasangan lesbian Amy dan Lucy diganti dalam versi panjangnya. Jordana Brewster berperan sebagai Lucy dan Sara Foster sebagai Amy. Film panjangnya rugi jutaan dolar karena hanya memperoleh pendapatan tidak sampai 100.000 dolar dalam peredarannya selama 21 hari di 45 bioskop di AS.

Di Indonesia sendiri, film pendek kita sering beberapa penghargaan untuk film pendek. Penghargaan terbaru diterima oleh Purnama di Pesisir, sebuah film pendek berdurasi 16 menit tentang perjuangan seorang anak perempuan melawan penggusuran karya sutradara muda Chairun Nissa. Film ini memperoleh penghargaan special mention di Roma International Film Festival bulan April 2010. Untuk tema LGBT, aktris muda Sigi Wimala memenangkan Jury Prize dalam LA Lights Indie Movie awal tahun 2010 ini untuk film berjudul Gay/Tidak.

Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, topik yang dihindari dalam film panjang komersil justru sering menjadi pilihan dalam tema film pendek. Jadi buat teman-teman yang berminat dalam bidang film, kenapa tidak melirik film pendek sebagai sarana alternatif menyampaikan hasrat seni sekalian aspirasi dunia lesbian?

@Alex, SepociKopi, 2010

4 Comments »

  • Reancy said:

    Gue sich pnya cta” mo bt film pndek yg crtany ttg prcntaan antara pmain basket prempuan dg seorg anggota cheerleaders ny,psti seru y secara gue pmain basket,tp sprtiny btuh se”org tuk pran cheerny cz skrg gue ga pny gf,ayo sp yg mau jd gf gue??

  • dree said:

    setuju lex,,, film pendek kadang butuh waktu untuk mengerti maksudnya..
    sekarang ini lagi booming bgt tuh ajang film indie..yo bikin film indie yang bertema LGBT.

  • R Lee said:

    :: Wuiiiihh… Trnyata ada bnyak film pendek dngn tema LGBT… ‘Mars’ boleh jga tuh… Jdi pengen pux karya jga…

    Makasih Infox… :-)

  • fauza said:

    wah…..padahal film D.E.B.S. tu filmnya seru n kocak…..
    kok bisa rugi jutaan dollar ya…??
    mungkin karna filmnya begitu ringan…..
    jadi dianggap sepele….
    padahal…..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.