Home » Bengkel Menulis, Seni Budaya

Bengkel Menulis: Lambda Literary Awards, Penghargaan Bergengsikah?

3 June 2010 296 views 5 Comments

Lambda_Literary_Awards_logo_goldOleh: Lakhsmi

Mau tahu bagaimana geliat sastra LGBT di negara nun jauh di sana, di mana homoseksualitas sudah lebih baik daripada di Indonesia? Intip yuk. Penghargaan Lambda adalah penghargaan sastra LGBT paling bergengsi Amerika. Penghargaan ini kerap disebut sebagai the Lammy, penghargaan yang merayakan karya-karya sastra dengan tema LGBT. Misi mereka adalah membesarkan, menghormati, dan menjaga sastra LGBT melalui program-program yang mendukung karya-karya indah, membuka cakrawala kesempatan, dan mendorong perkembangan para penulis pemula.

Sejarah yayasan Lambda Literary dimulai ketika L. Page Maccubin, pemilik toko buku LGBT terkenal Lambda Rising Bookstore di Washington DC menerbitkan catatan pertamanya Lambda Book Report atau LBR. Akhirnya, dari LBR lahirlah penghargaan Lambda pada tahun 1989. Beberapa pengarang terkenal menghadiri malam perayaan kelahiran Lambda. Mereka menerima pita hitam penghargaan honor as distinguished writer.  Suatu malam yang sangat membanggakan, membuka harapan dan cakrawala baru bagi sastra bertema LGBT.

Pada tahun-tahun selanjutnya, penghargaan Lambda berkembang secara besar di Amerika, menyembulkan bunga-bunga sastra LGBT dari kerja sama yang dinamis antara penerbit, toko buku, dan kaum LGBT sendiri. Lambda Book Report (LBR) pun tumbuh menjadi ruang studi dan review sastra yang sangat mumpuni, menunjukkan keperkasaan dan kehebatan para kritikus memberikan kritik dan pujian kepada karya-karya LGBT. Tahun 1997, Yayasan Lambda Literary akhirnya berdiri secara resmi dan profesional, mengurus penghargaan Lambda dan penerbitan LBR.

Di tahun 2007, Yayasan Lambda meluncurkan program residensi untuk para pengarang LGBT. Namanya adalah Writers’ Retreat for Emerging LBGT Voices. Di program residensi ini, para penulis terpilih (yang sedang bersinar di dunia sastra) akan mendapat bimbingan oleh tim sastrawan elit yang karya-karyanya dihormati secara luas dan tentu saja, dosen-dosen sastra terhebat di bidangnya. Program residensi ini memberikan masa depan yang sangat baik untuk kemajuan sastra LGBT di Amerika.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Penghargaan sastra masih terhitung dengan beberapa jari. Jangankan sastra bertema LGBT, sastra bertema umum pun belum mendapat penghargaan yang layak. Sastra LGBT harus berjuang di tengah-tengah sastra bertema umum. Kita harusnya berterimakasih kepada Penghargaan Dewan Kesenian terhormat yang pernah memenangkan Tabula Rasa karya Ratih Kumala yang memiliki unsur homoseksualitasnya. Kita juga selayaknya berterimakasih kepada penghargaan Adikarya Ikapi untuk novel Detik Terakhir karya Alberthiene Endah kategori novel remaja yang bertema LGBT.

Di tahun 2009, penghargaan sastra LGBT bergengsi Lambda Literary Award, memberikan pernyataan terbarunya kepada publik, sehubungan dengan perubahan sistem seleksi mereka. Pernyataan tersebut diterjemahkan sebagai berikut:

“Kami mengerti kesedihan perasaan penulis LGBT – ketika penulis hetero menghasilkan buku sangat cantik tentang homoseksual dan berhasil memenangkan penghargaan Lambda sementara penulis LGBT sendiri hanya duduk sebagai finalis – yang sangat berharap di penghargaan ini sebagai bagian dari karir mereka satu-satunya di dunia sastra. Karena itu kami akan akan memberikan nominasi kepada buku dengan penilaian sebagai berikut: buku tersebut harus bertema LGBT dan pengarangnya adalah sosok yang bisa membuka dirinya sebagai anggota keluarga besar penulis LGBT.”

Perubahan pra-seleksi pemenang penghargaan Lambda meledakkan reaksi pro-kontra yang besar dalam skala nasional. Penulis gay Brent Hartinger (pernah memenangkan penghargaan Lambda dan telah menerbitkan banyak novel bertema gay) menulis kritik keras terhadap “diskriminasi” kaum hetero di situs gay AfterElton.com. Menurutnya, pengotak-kotakan penghargaan terhadap “siapa yang menulis” atas sebuah buku melemahkan nilai kualitas penghargaan itu sendiri. Fiksi tidak pantas apabila hanya dinilai dari siapa pengarangnya, fiksi bergenre apa pun selayaknya dinilai atas karyanya yang bersinar.

Beberapa artikel lain yang kontra memberikan analogi perlombaan Olimpiade. Bayangkan perlombaan sekeren Olimpiade harus dibatasi peserta karena – misalnya, warna rambut harus pirang. Mereka juga mengatakan bahwa pengecilan pra-seleksi menjadikan karya LGBT yang mendapat penghargaan memudar kualitasnya, berbuntut tak memiliki daya saing di tengah arena fiksi umum. Mereka juga mulai mengejek penghargaan Lambda bukan lagi sebagai penghargaan sastra tapi penghargaan “penulis yang berani Coming Out” dan bertanya-tanya apakah ini pembalasan dendam kaum LGBT kepada kaum hetero dengan mendeskriminasikan mereka.Penulis lesbian, Nicola Griffith juga menolak keras keputusan yayasan Lambda, mengatakan bahwa seksualitas adalah hal yang cair sehingga tidak mungkin sebuah yayasan menentukan definisi seksualitas atas kemenangan suatu karya sastra.

Sementara yang pro menyatakan bahwa penulis non-LGBT telah memiliki banyak penghargaan lain yang layak diikuti, yang bertebaran di mana-mana. Lambda Literary Awards adalah satu-satunya penghargaan yang menjadi awal karir seorang penulis LGBT. Sebagai pendorong majunya penulis LGBT, selayaknya yayasan Lambda memberikan perlindungan bagi kaum LGBT agar bisa “menang” di antara populasi masyarakat umum. Dalam debat dan diskusi, Yayasan Lambda bertahan dengan keputusan mereka karena mereka memiliki dan mendukung misi yang selalu berupaya untuk mendorong penulis LGBT pemula.

Silang pendapatan pro-kontra menjadi ramai dan semakin seru. Bintang penulis-penulis Amerika yang mapan dari kaum hetero maupun LGBT menyuarakan pendapat mereka. Senang sekali membaca perdebatan sehat seperti ini di situs-situs LGBT dan blog para penulis. Tapi apa pun silang pendapat, pro maupun kontra, yayasan Lambda bergeming dengan seleksi mereka sehingga sampai sekarang penghargaan Lambda tetap didasari pada orientasi seksual.

Nah, bagaimana menurut pendapatmu, lesbian Indonesia? Apakah memang penghargaan karya lesbian sewajibnya dihargai karena orientasi seksual para penukangnya? Ataukah tidak? Secercah renungan buat masa depan sastra LGBT Indonesia.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

5 Comments »

  • iezasabishii said:

    Hidup sudah dalam kotak kecil, tidak udah kemudian dikotak-kotakin. Menurutku, lihatlah karyanya bukan atas orientasi seksualnya yang berbeda. Dengan begitu, akan banyak yang mengerti dan memahami dunia ini, selain itu buat para penulis LGBT sebagai cambukan untuk lebih siap berkompetisi.

  • mika said:

    kan yang dijadiin objek penghargaannya itu karyanya. jadi masa bodoh sama penulisnya. kalo yg mau dihargai itu penulisnya, gampang, bikin aja awards khusus untuk penulis. mestinya ini jadi cambuk buat kaum LGBT. kenapa awards utk kaum sendiri malah didominasi sama hetero? artinya karya kita belum mumpuni untuk itu. dan yg harus dilakukan ya kerja keras lagi. bikin karya yang bagus dan layak untuk dapet penghargaan. bukan malah ngubah rulenya. terlalu maksa. yg ada malah kemunduran kualitas karya dan awards itu sendiri.

  • camile said:

    selama ini katanya kita berjuang buat persamaan di masyarakat. mestinya, ini jadi ajang pembuktian,bahwa dg ”perbedaan” kita ini,kita masih bisa bersaing bahkan jadi yg terbaik. kalo gini keadaannya mah, sama aja kayak kita yang minta dibedakan. trus ngapain heboh menggaungkan persamaan. saat kesempatan itu ada malah kita minta dibedain.

  • Risa said:

    Ahhh.. Ribet banget sih mempermasalahkan mana yg gay dan mana hetero?? Justru kelompok LGBT sendiri yg membuat diri mereka terdiskriminasi dgn menyelenggarakan acara ‘khusus’ kayak gini.. Kalo mau dianggab normal ya bersikaplah senormal mungkin.. Intinya ada di kualitas dan prestasi.. Bikin penghargaan, perkumpulan, yayasan ato apapun ga perlulah bawa2 oreintasi seksual.. Toh ga ada kan penghargaan khusus hetero, yayasan hetoro, perkumpulan hetero.. Mau hetero ato LGBT yg penting smua manusia bukan setan. Kan??

  • no_name said:

    Sastra itu indah. Dan keindahan tak dibatasi oleh apapun. Termasuk oleh orientasi seksual. So, saya kurang sepaham dengan mereka yang memberikan batasan terhadap karya sastra. Tulisannya menarik, informatif , memancing untuk memberikan pendapat………..bravo!!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.