Home » Humaniora, Opini

On Depression And Smoking

Submitted by on 02/06/2010 – 6:30 pm8 Comments | 796 views

Oleh: Lakhsmi

Sehubungan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang dirayakan pada tanggal 31 Mei, para lesbian melangkah menuju pertanyaan yang telah ditulis oleh Tajuk: Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan Kita: apakah lebian memiliki kecenderungan merokok daripada kaum straight? Sepertinya begitu.

Tunggu, jangan menyela dulu. Sebelumnya, untuk mengetahui apakah data itu akurat, kita perlu tahu darimana data itu didapatkan. Baiklah, ini dia. Menurut informasi BMC Public Health di daerah Northern California, baik gay dan lesbian merokok lebih banyak daripada kaum heteroseksual. Menurut data American Non Smokers’ Right, remaja LGBT merokok dengan rate lebih banyak 40-70% di antara populasi. Menurut National LGBT Tobbaco Control Network, orang-orang LGBT merokok 35-200% batang rokok lebih banyak daripada heteroseksual. Bahkan The New York Time mengatakan bahwa komunitas LGBT memiliki rate tertinggi dalam hal merokok dibandingkan dengan populasi minoritas lainnya.

Memang aku mengambil data-data dari negara Amerika, karena di sanalah, para organisasi LSM atau kesehatan melakukan riset yang sangat intens dan akurat tentang kaum LGBT. Sayang sekali aku tidak menemukan hasil riset di Indonesia tentang hubungan kegiatan merokok dan kaum LGBT. Riset yang dilakuan di Amerika pun harus diteliti lebih mendalam lagi, misalnya apakah merokok dan kaum LGBT juga berhubungan dengan tingkat pendidikan atau sosial? Misalnya, semakin tinggi tingkat sosial, maka semakin berkurang kurva merokok pada kaum LGBT? Banyak lapisan-lapisan asing yang belum aku temui dalam riset ini, aku akui. Namun, mengaca dari hasil riset-riset sederhana yang bertebaran di negara adidaya USA, kita (mungkin) dapat menarik kesimpulan sederhana: bahwa komunitas LBGT sering ditemukan merokok daripada komunitas heteroseksual. Hasil riset ini, walaupun belum tentu akurat, aku masih meyakini bahwa bisa melintasi negara dan budaya.

Artinya apa? Setelah membaca aneka artikel, essai, dan studi, aku menemukan satu korelasi lagi, bahwa merokok berhubungan erat dengan penyakit kejiwaan, yakni depresi. Apakah depresi itu? Depresi bukan hanya keadaan sedih atau gundah yang berlebihan, depresi juga adalah keadaan di mana seseorang tidak bisa merasakan emosi apa-apa – datar, tawar, kosong, sesuatu yang hilang di antara ranah sukacita dan dukacita. Depresi bukan hanya menyangkut jiwa, tapi juga melibatkan fisik dan pemikiran. Penyakit ini bisa diakibatkan oleh genetis, tapi juga bisa diakibatkan oleh sistem kimiawi yang kacau di otak. Setiap manusia sebenarnya rentan terhadap depresi walaupun menurut riset, perempuan tiga kali lebih mudah untuk depresi daripada lelaki.

Central of Desease Control (CDC) mengatakan bahwa orang-orang depresi akan lebih suka merokok dan susah untuk menghentikan kegiatan ini. CDC membenarkan bahwa ada ikatan yang sangat kuat antara keinginan orang untuk merokok ketika rasa depresi meningkat. Seperti lingkaran setan yang tak berujung, CDC juga menemukan hasil studi bahwa semakin orang merokok, semakin besar depresi yang dideritanya.

Orang yang merokok akan segera menyambar rokok pada hari ia merasa depresi. Lingkaran ini akan menjadikan orang-orang yang depresi akan susah berhenti merokok. Kalau kita menghubungkan kaum lesbian yang masih mengalami perjuangan untuk mengenal diri dan menerima orientasi seksualnya, kita dapat mengerti mengapa depresi menjadi makanan sehari-hari kaum lesbian. Depresi itulah yang akhirnya akan berujung pada kegiatan merokok. Laura A. Pratt, Ph.D dari National Center for Health Statistics (NCHS) mengatakan bahwa 48% perempuan yang mengalami tingkat depresi akut adalah perokok aktif juga. Hanya 17% perempuan yang hanya mengalami depresi ringat merokok. Intinya, depresi berhubungan erat dengan aktivitas merokok.

Apakah kaum lesbian Indonesia seperti itu? Memang, kebanyakan lesbian yang aku temui (termasuk kawan-kawan) adalah perokok aktif, yang tak henti mengepulkan asap rokok saat berkumpul. Ternyata aku juga mengalami kesulitan menemukan lesbian yang tidak merokok. Kalau merokok menjadi masalah genting yang sulit diakhiri bagi para lesbian, tentu penyelesaiannya bukan dari step atau cara-cara “stop merokok” yang sangat inspiratif dan digaungkan terus-menerus. Para lesbian perokok yang ingin berhenti merokok harus menemukan akar permasalahannya mengapa dia merokok. Apakah depresi atas tekanan masyarakat/budaya dan ketidakmampuan untuk berdamai dengan orientasi seksualnya tertimbun jauh di dasar diri? Apakah merokok adalah pelepasan ketegangan atas hidup yang penuh kepura-puraan setiap hari?

Tidak perlu disebutkan lagi di sini betapa merokok dapat mengancam kesehatan bagi kaum lesbian. Apalagi data menunjukkan bahwa perempuan lesbian yang tidak memiliki kesempatan hamil mempunyai kesempatan lebih tinggi menderita kanker rahim dan payudara dibandingkan dengan perempuan yang pernah hamil dan menyusui. Apakah tingkat penyakit ini lebih mengancam dengan ditambah ketergantungan pada nikotin? Aku tidak mau berpanjang-panjang di sini, apalagi menjadikan tulisan ini sebagai sarana buat menakut-nakuti. Ke mana wajah menoleh, informasi seperti itu dapat ditemukan dengan mudah di setiap tembok klinik kesehatan atau rumah sakit.

Jadi, perempuan lesbian, masihkah kita merokok? Bukan merokoknya yang menjadi masalah, tapi masihkah kita depresi? Pemikiran dan pertanyaan refleksi itu patut dipertanyakan lagi, diulang-ulangi lagi, agar para lesbian dapat mengenal diri dengan lebih baik untuk menjadi manusia-manusia merdeka dan bahagia, bebas dari ketergantungan segala hal yang pernah “dipercaya” memiliki kemampuan mengusir hantu bernama depresi.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

Tags: , ,

8 Comments »

  • mel says:

    Terima kasih TUhan aku bukan perokok…..hoh…hok…kkkk

  • oji says:

    ha9…setuju ma risa…

  • Risa says:

    Aku bukan perokok tp tdk terlalu anti dengan perokok. Capek juga teriak sana sini ttg bahaya, study, dan sgala riset soal rokok. Tdk ada yg perlu dibuktiin kok, toh mereka bukan tdk mengerti itu smua. Mereka cuma merasa ‘ini hidup2 gw, gw mo ngapain terserah gw’.
    Emang sih ini smua tdk hanya ttg mereka tp ttg smua manusia. Tp ya udahlah ini cuma salah satu dr skian banyak hal menyeramkan yg diyakini mendorong bumi menuju kehancuran..
    Hmm.. Artinya aku pro ato kontra rokok nih?? Yahhh.. Ini hidup2 gw, gw mo ngapain terserah gw.. Hehehe ;)

  • Yaaku says:

    Dgn membaca tulisan Lakhs ini,diharapkan teman2 yg merokok,entah krn depresi atau tidak utk bisa mengurangi intensitas merokoknya dan kalau bisa berhenti total dari merokok.Tetap berusaha ya teman!!
    Mari menjadi lesbian yang sehat…

  • Yaaku says:

    Two tumbs up for Lakhs…!

    Suatu fakta yg sgt menyedihkn dn menakutkn yg melingkupi kehidupan kesehatan kaum LGBT.Merokok erat hub dg depresi?Dlm hal ini yg menonjol adlh krn mslh percintaan.Hubungan kaum lesbian yg tdk terikat scr legal,menyebabkn mereka dg mudah memutuskn hub yg mengakibatkn pasangannya depresi krn tdk bisa menerima kenyataan bhwa dia hrs berpisah dg orang yg dicintainya.
    Kalau kt mau peduli dg hal ini,mari kita meminimalisir terjadinya depresi dg berusaha utk setia dg pasangan masing2.

  • mika says:

    gue dulu perokok berat. tp tahun 2009 gue bisa quit dr rokok. simple aja. semuanya bergantung sm niat kita. kalo udah diniatin mau gimana godaannya juga pasti bisa dilewatin. jujur susah banget! tp bakal lebih susah lagi kalo paru2 lo udah terlanjur bolong.

  • dree says:

    hmm okeh aku setuju dgan penyebab mengapa wanita lesbian cenderung menjadi perokok.memang kta harus merenung kembali apa yg terjadi apabila kta terus menghisap tembakau yg nikmat.
    Memang kta akan merasa lebih tenang.namun setelah kta selasai merokok tetap saja masalah mash ada.
    Aku dulu suka merokok.
    Aku merasa rokok adalah pelarianku dari depresi.tpi nyatany merokok tak berarti apa2.
    Tapi alhamdulillah aku udah anti dgan lintingan tembakau itu.
    Semoga kalian yg mash betah dgan lintingan itu.bisa berhenti total.
    Beneran dech guys, enak bgt hidup tanpa rokok.

  • LeZerin says:

    Saya setuju dengan pernyataan di paragfrap ke tujuh dari atas. bahwa para perokok, harus menemukan apa yg menjadi alasan mendasar merokok. kalau dari pengalamanku, aku merokok karena lingkungan aktifitasku, tapi aku bisa berhenti dengen mengeurangi, dan bisa tahan tidak merokok kalau lg kumpul dengan teman2 yg merokok. Kebiasaan buruk merokok adalah salah satu pelarian paling favorit yg dikaitkan seseorang mengalami depresi ringan maupun berat. Dan untuk berhenti total memang kuakui tidak mudah, mengurangi itu bisa step by step, namun tetep yg bersangkutan juga punya motivasi yg kuat bahwa, setiap kali merasa tertekan, untk ingetin diri sendiri melampiaskannya tidak dengan merokok. bisa dengan olah raga, atau game, atau pergi nonton, traktir temen, atau aktifitas apa aja, dan kalau punya pasangan minta bantuan pasangan untuk kasi ide enaknnya ngapain, klo lagi kumat sakau ingin merokok. tetep mendukung buat-temen yg setidak punya ingin dan mau berhenti merokok. Terlepas dari teori dan pendapatku tersebut, ada mindset yg mesti diubah, bahwa rokok menunjukkan kejantanan, kebanyakn butchie yg gw temukan merokok, dan rokoknya jarang yg rokok putih, bisa kebayang tuch kandungan nicotinenya. walau banyak jg temen2 femme yg merokok dengan rokok yg menunjukkan lebelnya alias rokok putih. tapi rokok ya tetep tembakau dengan kandungan nicotine dan asapnya yg menjadi polusi bagi yg orang di sekitarnya.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.