Home » Humaniora, Tajuk

TAJUK: Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan Kita

1 June 2010 179 views 11 Comments

sepociOleh: Nuha Guwa

Pernah dengar balita bernama Sandi Wendhus berusia 1,5 tahun asal Malang yang bisa menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari? Bocah lain bernama Ardi Suganda usia dua tahun sudah menjadi perokok aktif dan sedikitnya bisa menghabiskan 40 batang rokok setiap hari? Wow… Sang ibu mengaku kewalahan mengatasi kebiasaan buruk ini, bocah kesayangan tersebut bisa membentur-benturkan kepala ke tembok jika keinginan merokoknya tidak dipenuhi. Setiap hari keluarga ini harus menghabiskan lima puluh ribu rupiah hanya untuk rokok. Di tengah gencarnya kampanye anti rokok, tentu kita prihatin jika pemerintah menutup mata terhadap kasus yang menimpa dua balita ini.

Sebenarnya kenapa sih aksi anti tembakau ini kian hari semakin digembar gemborkan? Konon tembakau merupakan penyumbang terberat beban penyakit. Data yang dikeluarkan WHO mengatakan, sedikitnya 400 ribu jiwa manusia melayang setiap tahun akibat rokok. Atas pertimbangan ini wacana hari tanpa tembakau sedunia diangkat untuk pertama kalinya pada Sidang Umum Kesehatan Sedunia 7 April 1987, resolusi yang dihasilkan ketika itu yakni, World No Smoking Day, baru kemudian di tahun 1988 ditukar menjadi World No Tobacco Day yang diperingati setiap tanggal 31 May. Dengan peringatan ini tentu diharapkan bisa menekan angka kematian akibat rokok.

Sebenarnya kita sudah cukup berbesar hati dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, larangan merokok sudah diberlakukan dengan tegas di tempat-tempat umum. Saya masih ingat ketika di dalam pesawat udara merokok tidak dilarang, rasanya sumpek dan mual ketika seseorang di samping kita mengepulkan asap rokok sesuka hati, Bayangkan! Di kabin yang jumlah oksigennya terbatas kita harus menghirup oksigen yang tercemar asap rokok. Demikian juga dengan mal dan tempat-tempat umum lainnya. Kita patut memberikan penghargaan kepada pemerintah telah berhasil mengurangi ruang gerak para perokok yang bisa merugikan kesehatan orang-orang di sekelilingnya.

Lalu bagaimana perusahaan-perusahaan rokok? Mereka tidak tinggal diam, sudah terbukti bahwa iklan mereka lebih gencar dari kampanye anti hari tanpa tembakau sedunia. Kita sudah tahu bahwa produsen rokok berusaha sekuat tenaga menggaet para perokok muda. Perokok-perokok pemula dalam usia-usia produktif. Upaya ini sangat beragam mulai menjadi sponsor acara musik, kompetisi olahraga, hingga kegiatan-kegiatan menyangkut adu kecerdasan di sekolah-sekolah. Sasarannya pun bukan lagi para pria namun juga remaja perempuan. Dana kampanye yang dikeluarkan mereka nilainya miliaran rupiah, sebuah jumlah yang sangat mengkhawatirkan sebenarnya.

Betapa teganya pemerintah jika lebih memilih mendapatkan pajak dan cukai rokok yang tidak seberapa itu, karena sebenarnya apa yang didapat tersebut sangat tidak sebanding dengan upaya menjaga kesehatan warganya. Dana yang dihabiskan untuk pengobatan jauh lebih mahal daripada upaya pencegahan. Besarnya biaya pengobatan ini tentu patut menjadi pertimbangan setiap negara.

Bukan saja karena rokok mengancam kehidupan melalui berbagai penyakit yang dibawanya melalui nikotin dan tar, tapi rokok juga mengancam kehidupan ekonomi. Mengutip komentar salah seorang pemerhati kesehatan I Komang Edy Mulyawan, dengan riset kecilnya; Satu bungkus rokok seharga 10 ribu rupiah, jika dikalikan 30 hari dikalikan lagi 12 bulan dan dikalikan 10 tahun, dapat mencapai nilai Rp.36.000.000,- (TIGA PULUH ENAM JUTA RUPIAH!). Bayangkan uang sebanyak itu hanya habis dibakar.

Lalu bagaimana dengan para perokok di Indonesia? Barangkali kita patut waspada jika ternyata angka para perokok Indonesia cenderung mengalami peningkatan, khususnya di kalangan lesbian. Pernah tidak mengukur berapa banyak lesbian perokok? Kasarnya 70 persen lesbian merokok. Saya tidak tahu mengapa fenomena ini terjadi, meskipun belum ada penyelidikan yang pasti terhadap angka-angka tersebut, namun fakta yang terjadi di lapangan memang demikian. Cobalah datangi kumpulan-kumpulan lesbian, dengan jelas bisa dibuktikan 8 di antara 10 orang lesbian merupakan perokok berat.

Separah itukah rokok merambah dunia homoseksual perempuan? Tidak adakah upaya kita untuk menekan jumlah perokok lesbian di Indonesia? Secara pribadi SepociKopi sangat menyayangkan keadaan ini, apalagi dengan melihat kondisi perekonomian lesbian muda yang sebagian besar masih dalam kategori “miskin” maksudnya masih tergantung dengan orangtua. Lebih disayangkan lagi jumlah perokok lesbian justru banyak terdapat pada level menengah ke bawah, yang umumnya belum masuk dalam kategori “pra-sejahtera”

Dampak rokok merupakan tanggung jawab kita bersama, materiil maupun moril. Selain itu juga semua pihak hendaknya menyadari bahwa mengisap tembakau hanya menguntungkan para produsen rokok, tidak heran mereka mampu menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. mengapa kita mau menjadi penyumbang aktif kekayaan mereka dengan mengorbankan diri sendiri?

Realita yang harus kita lihat sekarang adalah rokok seolah-olah telah menjadi pelampiasan kelesbianan, makanan utama bagi sebagian lesbian di Indonesia. Rokok mungkin dipercaya sebagai pelarian atas tekanan hidup yang dialami. Konon dengan mengisap rokok, setidaknya mereka menjadi lebih tenang dalam melewati hari-hari suram. Bukankah merupakan pemandangan yang lumrah, seorang lesbian menyasap hari dengan tatapan mata menerawang, mengisap rokok sambil merenungi kisah cinta terlarangnya. Belum lagi kalangan lesbian patah hati, atau lesbian yang menunggu harapan-harapan serta mimpi-mimpi sesat bahwa uang bisa begitu saja jatuh dari langit. Fakta-fakta tersebut merupakan bagian sejarah lesbian Indonesia bahwa rokok telah menjadi teman setia.

Jika memang memang peduli, mari kita hentikan proses pembiaran merokok dalam lingkungan lesbian. Tunjukkan rasa empati kita dengan mengingatkan teman-teman lesbian agar mulai berhenti merokok dan berupaya hidup sehat.

Jika kita tahu setiap tahunnya ratusan ribu nyawa melayang akibat rokok, tegakah kita membiarkan perempuan-perempuan senasib terjun bebas dalam alam kematian tersebut? Dampak rokok hanya menunggu waktu yang tepat sampai kondisi kesehatan mereka benar-benar menurun. Di saat itu semua uang dan kebahagiaan menjadi tidak ada nilainya. Jika tujuan kehidupan manusia yang hakiki adalah kebahagiaan, tentu hal ini berkaitan erat dengan kesehatan dan ketenangan hidup. Mari kita kampanyekan hidup sehat tanpa rokok di kalangan lesbian!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

11 Comments »

  • Fine said:

    Saya tak suka rokok.
    Ga ada hal positif yg saya temukan dari sebatang rokok. Bahkan saya ogah jadi perokok pasif. Jauh2 deh yg ngrokok dekat saya klo ga mau di pelototin.

  • LeZerin said:

    opini yg menarik, tapi untuk berhenti merokok membutuhkan komitmen dan motivasi yg kuat dari diri sendiri, baru dorongan dari luar bisa diatasi. pesonally, gw gak melarang orang pingin bakar uangnya dengan media tembakau, tapi aku sebel jg klo si perokok tidak punya etika terutama tempat umum. dan aku lebih suka mencium bibir dan mulut bebas nicotine. Salah satu pertimbangan juga untuk cari pacar hehehe…turut mendukung hari anti tembakau yay!

  • alice said:

    kemarin saya lihat tayangan tv mengenai sandy yang dibawa ke jakarta untuk menjalani psikotes kesehatan dll untuk menyembuhkan ‘penyakit’ merokoknya. Saya tidak tahu apakah kegiatan ini disponsori tv tsb atau pemerintah, tapi saya rasa tetap saja acara ini dikarenakan sandy sudah populer. Bagaimana dengan anak2 yang ‘ngelem’ alias hobi menghirup lem hingga fly? apakah kebiasaan itu lebih ringan dari merokok? kenapa tidak mereka saja yang dibuatkan acara macam itu?

  • lae said:

    sebaiknya pra pecandu rokok diajari mbca dlu,biar bs bc tulisn bahaya merokok yg tertera di bungkus rokok

  • Angelo said:

    SMOKING KILLS!!! buat apa sih ada rokok?!
    ga ada untungnya, mending duitnya buat ngajak ce gw ke bukit bintang..haha..
    paling benci liat ce ngerokok, udah pengen ditampar aja tuh!

  • phiko said:

    h0nestly,i am sm0ker.sktar 3 ta0n yl aq msh masuk kateg0ri per0k0k berat.tp untunglah org yg aq sayang mau ngerti bgd.dia tdk memaksaq brhenti at0pun menakut2i.dia hny mengajakq pelan2 blajar menghargai lingkungan sekitar dmana bnyk org yg jd k0rban pasif. &bth waktu hampir 1,5 ta0n utkq bs mengurangi& tau tmpat yg tepat bwt ngr0k0k.
    Intiny,g bs qt memaksa org bwt lgsg st0p ngr0k0k,smua hrs dlakukan pelan2 tapi intens..kalo pny tman per0k0k,jgn dijauhi,tp justru musti didekati dr hati..
    Trust me,it w0rks ^.^

  • Tim said:

    Menurut pemikiran bodohku selama tidak ada korek api, tidak adapula kegiatan merokok. Jadi larang aja produksi korek api, terserah kalo ada yg mau bawa LUP kemana2.

  • Rie Y said:

    ..tulisan yg bagus,
    bnr bgt…
    kenapa didunia ini ada yg namanya rokok?
    ap sih enaknya merokok?
    ga ada manfaatnya banget,yg ada malah sangat merugikan.
    so bwt yg blm kecanduan,jgn biasakan merokok,,soalnya susah bgt lepas dr yg namanya rokok.

  • Emily said:

    Menurut pemikiran bodohku selama tidak ada korek api, tidak adapula kegiatan merokok. Jadi larang aja produksi korek api, terserah kalo ada yg mau bawa LUP kemana2.

  • no_name said:

    merokok??aduuh gak deh….selain meracuni diri sendiri bukankah bisa meracuni orang lain, termasuk orang yang kita sayang???. Tetapi kalo saya jadi pemimpin negara, bingung juga kalo harus melarang industri rokok. Mau dikemanakan tenaga kerjanya, lalu bagaimana menutupi anggaran yang trilyunan.Wahh….untung saya bukan pemimpin negara jadi gak bingungkan??. Namun dengan sedikit kewenangan yg saya punya di tempat kerja, saya bisa membuat aturan larangan merokok di area kantor. So, itu hanya sedikit usaha untuk mengurangi dampak racun yang dihasilkan rokok………btw, tulisannya bagus mendidik…bravo sepoci.!!!!

  • Tim said:

    Baru tau aku kalo ada rokok elektrik(syukur dah ga bwa lup kmana2 hehhe).
    Tapi tetep ya, ngrokok itu negatif. Ok teman.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.