Home » Lagak Lajang, Sepocikopiana

Lagak Lajang: Lelaki Dalam Khayalan

30 May 2010 131 views 4 Comments

An_expression_towards_my_soul_by_gershonvOleh: Oscar Arumi

Betapa sibuknya saya akhir-akhir ini. Ibarat perkantoran, kubikel di dalam otak saya masing-masing penuh dengan jadwal dan rutinitas yang harus dilakukan setiap harinya. Ahh, seolah-olah menghela nafaspun sudah ada skedulnya. Penuh, isian yang tak bersisa. Bagaikan roda, berputar terus tiada henti. Sepertinya, tinggal nunggu ban nya aus, baru deh oleng bergelindingan tak karuan. Baru kali ini, seumur-umur saya disibukkan dengan kegiatan akademis yang tak henti-henti. Bayangkan, baru selesai UAS (Ujian Akhir Semester), saya bukannya berlibur, eh malah ditugaskan mengikuti semacam program seminar internasional di sebuah kota negara yg luas wilayahnya tidak lebih besar daripada sebuah kota. Berhubung perwakilan dari kampus cuma saya seorang, mulailah saya berselancar mencari teman-teman satu profesi dari kampus, daerah atau mungkin dari negara lain, yang juga ditugaskan ke sana.

Saya nyalakan messenger, dan bertubi-tubi masuk pesan offline yang sekedar menanyakan kabar atau permintaan pertemanan. Ah, sudah begitu lama saya tidak online dengan identitas asli saya. Dari daftar nama yang saya peroleh dari web, dengan mudahnya saya menemukan e-mail , YM, facebook,bahkan nomor telepon rekan-rekan sejawat yang akan study-tour ke kota kecil itu. Sekejap, saya sudah mengobrol panjang lebar dengan salah satunya. Ah, masih saja dengan pertanyaan kolot, ASL? Masih jaman ya? Age, Sex, Location??? Identitas maya yang bisa saja di buat-buat. Maklum, saya terbiasa berbohong untuk pertanyaan ditengah-tengah, terbiasa menyatakan saya berjenis kelamin pria.

Daerah baru, rekan-rekan baru, suasana baru, membuat saya begitu bersemangat walaupun dalam kondisi lelah dan kecapean. Penyesuaian terhadap makanan baru ditambah lagi pola kegiatan yang terstruktur dan serba cepat, tangkas, sigap benar-benar menghabiskan energi ke titik terendah stamina saya. Tepat, hampir setiap pulang di apartemen penginapan, saya tepar dan terpulas. Hm, saya masih ingat ketika pertama kali mendarat di apartemen ini. Pihak panitia berbaris memeriksa kelengkapan administrasi setiap peserta, mulai dari paspor, surat izin tugas dari kampus, surat undangan dari pihak penyelenggara, surat ini-itu yang membuktikan kalau orang itu benar-benar peserta seminar yang ditugaskan dari kampusnya, bukan peserta gadungan. Heran juga sih, emangnya ada ya yang mau jadi peserta gadungan.

Tibalah giliran saya, cas cis cus, berkas-berkas berhamburan di meja panitia. Melihatnya benar-benar membuat mual dah hampir muntah, kalau tidak ingat ini di tempat umum dan negara orang. Pemeriksaannya benar-benar rinci dan ribet, sampai-sampai seluruh identitas terpaksa saya keluarkan. Mulai dari KTP, Kartu identitas pengajar kampus, SIM lokal sampai SIM internasional. Wah, agak aneh juga sih ya, perasaaan peserta sebelumnya gak begini-begini amat kok. Bisik-bisik mulai tak sedap, samar-samar saya mencium aroma ketidakberesan di sini. Sabar, sabar, saya mulai kepanasan di ruangan bersuhu 18 derajat ini. Gerah, tak sabar menunggu pemeriksaan selesai. Akhirnya, saya sedikit diasingkan ke meja yang lain. Bahaya mulai mengancam. Saya benar-benar diinterogasi secara terhormat. Mereka yang berulang kali meminta maaf atas kesalahan administrasi yang mungkin disebabkan kesalahan sistem atau karena apa yang saya tidak tahu persis. Terungkap, ternyata identitas di data online ada yang berbeda dengan berkas fisik pribadi yang saya bawa. Di data online, ternyata tercentang jenis kelamin saya adalah : MALE.

Panik, saya benar-benar panik. Semua mata memandang saya dari bawah ke atas. Visual yang mereka lihat yah jelas-jelas saya perempuan, begitupun semua data di berkas-berkas saya. Lalu, darimana datangnya data online kutu kupret ini?. Muka saya memelas, saya teringat kebiasaan jelek mengaku-ngaku pria di dunia maya. Kampret, kali ini saya kena batunya. Mungkin, saat mencentang jenis kelamin di form itu, pikiran saya berlayar entah ke dunia lesbian yang mana. Melihat kepanikan saya, panitia mulai berbasa-basi meminta maaf karena ketidaknyamanan selama pemeriksaaan data. Sialan, bisa-bisanya saya berada di situasi memalukan ini. Entah bagaimana, akhirnya pemeriksaaan biadab itu pun selesai.

Semalaman saya merenungkan kejadian itu, merasa bahwa hati dan pikiran saya, sudah semakin berakting saja sebagai seorang lelaki khayalan, yang diam-diam merindukan sosok nyata kehadiran perempuan dalam hidupnya.

@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2010.

4 Comments »

  • mbuzzz said:

    perasaan yg loe alami,sama banget dengan perasaan gw
    sehari-hari gw sibu….k banget,padahal jauh di lubuk hatiku yg terdalam,gw hanya manusia biasa yg merindukan seseorang…

  • j.maroon said:

    @mbuzz:knp ga coba berkenalan dgn oscar?

  • LeZerin said:

    sampe sekarang gak ketahuan kah gimana bisa tertulis male? salah tulis di Anda atau di petugas yg ngisi? tapi lucu juga ya, hehhee..maaf Oscar saya ketawa dengan cerita ini, emang gak menyenangkan diperiksa kayak dicurigai, tapi mereka memang punya alasan untuk melakukan itu, cerita jadi lucu, tapi bisa jadi pelajaran buat temen-temen agar lebih teliti. Sukses selalu ya..

  • yo said:

    Hahahahaha . .
    Pas bgt , Hari ini juga aku hampir di tolak pas pendaftaran sebuah instansi sekolah tinggi milik negara karna foto yang terpampang di ijazah SMA [dg jilbab] sama sekali beda dg aku yg kebetulan malah dtg bergaya butch hari ni . hahahahaha . .

    aku smpai degdegan dan keringat dingin krna dtuduh pemalsuan . wkwkwk .

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.