Home » Cuci Mata, Gaya Hidup

Cuci Mata: Shoe Fetish

27 May 2010 147 views 5 Comments

220px-LouboutinOleh: Sidney

Hubunganku dengan sepatu seperti hubungan cinta yang penuh penghormatan. Aku mencintai sepatuku dengan sepenuh hati karena aku yakin dia juga mencintaiku. Jadi bisa kaubayangkan seperti apa rasanya ketika mendapati sepatu kesayanganku terbenam lumpur dan haknya… patah.

Kalau aku tahu aku akan menjejak arena berlumpur, tentu aku tidak akan memakai sepatu Christian Louboutin-ku. Itu namanya bunuh diri. Who knows? Malam sebelumnya Bos bilang, “Hey, Sid, prepare yourself. Tomorrow morning we’ll have a breakfast meeting.” Yang namanya breakfast meeting kan biasanya di hotel berbintang. Mana kutahu bakal dimulai dengan peninjauan di wilayah lumpur?

Saat aku mengadu pada partner bahwa hak sepatuku patah, dia dengan santainya bilang, “Pasti mereknya nggak bagus tuh.”
%#%$@##!
“Dasar ya, cewek yang punya otak cowok! Nggak paham apa Louboutin itu seperti… seperti… seperti kamu dan mobil BMW?”

Sepatu bersol merah yang alamakjan seksinya itu… it’s like number two sartisfaction after orgasm. There, I’ve said it. I’m a shoe fetish.

Okay, plis, nggak usah ngomong masih banyak orang susah di dunia ini, blablabla… ya, aku tahu. Dan keterlaluan jika aku membeli sepatu yang harganya… hmm, google saja harganya, aku nggak perlu cantumin di sini. But I deserve it. Aku bekerja keras dengan halal untuk membelinya dan aku nggak perlu “anggukan dari orang lain” untuk bisa membeli sepatu. Aku nggak merasa bersalah juga tidak mau dianggap bersalah dengan membelinya. Sejujurnya, aku bahagia punya koleksi sepatu.

Sepatu membuatku percaya diri, membuatku bahagia. Saat aku bahagia, aku bisa bekerja lebih keras dan membagi lebih banyak buat manusia di sekitarku. Oh, whatever. Let’s talk about shoes again.

Sampai sekarang aku tidak pernah paham kenapa perempuan punya ketertarikan yang tinggi terhadap sepatu. Karena lesbian juga perempuan, aku yakin banyak perempuan yang memiliki hubungan cinta dengan sepatunya seperti yang kualami. Apakah ketertarikan ini ada karena image dan ilusi yang diciptakannya? Ataukah karena ilusi dan image itu tercipta karena perwujudan dari gagasan itu sendiri? Atau semua ini salahnya Cinderella, Puss in Boots, atau Dorothy di Wizard of Oz?  Aku bukan expert yang bisa menjelaskan korelasi sepatu dan perempuan apalagi terhadpa lesbian. Silakan pakar kajian perempuan bikin tesis tentang ini.

Aku meneruskan omelanku pada partner yang tidak paham soal hubungan cintaku dengan sepatu ketika aku curhat soal sepatu patahku dan baru berhenti ketika dia bilang, “Katanya Ferragamo sale. Mau ke sana weekend ini?” Aih, senangnya punya partner yang pengertian begini.

@Sidney, SepociKopi, 2010

5 Comments »

  • Bontot kecil said:

    aq suka paragraf terakhir..

  • Carmen said:

    aduuhhhhh…. poor thing (ikut merinding membayangkan dearly loved Louboutin bisa patah…!!)

    Lain kali hati-hati, Sid… Turut berdukacita ya… Sekalinya stiletto patah, udah deh, dah dah bye bye.

    Ngmg2, bisa ya, Ferragamo kaya apa yang bisa gantiin si Louboutin bersol merah? (bikin depresi kikikik)

  • LeZerin said:

    hahhaa…seperti number two satisfaction orgasm…well I have to think about that if I have GF such Sid (Shoe fetish). I suka sepatu juga, tapi aku lebih sering memikirkan kenyamanan kakiku dan saat berjalan untuk memutuskan membeli sepatu.
    Sid,thanks for sharing, jadi mesti diingat untuk mengerti kalau GF punya hubungan cinta dengan sepatunya, hahaha..

  • joanna said:

    hehehe..suka yang terakhir.

  • Risa said:

    Always trashy as usual…

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.