Liputan Televisi
Oleh: Sarah
Beberapa hari yang lalu ada sebuah liputan tentang Lesbian Kota jakarta di salah satu stasiun televisi swasta. Durasinya hanya 30 menit, menampilkan sebuah taman kota tempat lesbian suka berkumpul, tapi entah kenapa liputan ini cukup mengganggu saya. Ada dua hal yang saya tidak suka. Pertama kenapa taman kota remang–remang yang mereka sorot, dan kedua kenapa harus mengundang ahli kejiwaan untuk membahas masalah ini?
Saya mencoba membayangkan para straight yang melihat acara ini akan berpikir beberapa hal. Pertama, bahwa lesbian adalah manusia–manusia malam yang senang keluyuran sampai pagi. Liputan ini bahkan memiliki statement dari salah seorang penjual makanan yang berjualan di sekitar taman tersebut. Mereka menyatakan bahwa pada malam tahun baru lesbian–lesbian bertahan di taman tersebut selama empat hari empat malam. Saya tidak bilang bahwa liputan itu seratus persen salah salah. Beberapa teman lesbian saya ada yang suka melakukannya, nongkrong di tempat yang memang banyak para lesbian berkumpul, sering sampai pagi atau tempat tersebut tutup, khususnya malam minggu. Saya sendiri sama sekali tidak mengenal dunia malam, tidak suka nongkrong sampai larut malam atau pergi dugem.
Saya tidak bilang kalau nongkrong sampai pagi atau dugem itu sesuatu yang salah. Semua orang punya hak untuk bersenang-senang, tetapi liputan yang hanya menyorot dunia malam para lesbian terasa sangat sepihak. Lesbian juga memiliki kehidupan siang, di mana mereka pergi ke kantor, mengurus yayasan, berwirausaha, dan berkarya. Entah kenapa kehidupan siang ini sepertinya luput diliput. Seolah-olah kehidupan siang lesbian tidak perlu diangkat dan diperlihatkan ke khalayak.
Saya tidak suka penghakiman yang terus–terusan diangkat di masyarakat bahwa lesbian itu identik dengan hal–hal yang gelap. Klub malam, narkoba, pergaulan bebas sepertinya sudah menjadi bagian dari hidup lesbian. Saya bisa dengan yakin mengatakan bahwa itu tidak selamanya benar. Hal–hal seperti itu tidak bisa diidentikan dengan orientasi seksual. Apabila lesbian bisa menjadi pecandu, maka heteroseksual juga. Lesbian bisa menghasilkan karya, sama seperti para heteroseksual, semua kembali ke diri masing–masing.
Hal lainnya yang mengganggu saya adalah didatangkannya ahli kejiwaan dalam sesi wawancara. Ini bukan yang pertama, setiap kali ada liputan atau pembahasan tentang lesbian/homoseksual, ahli kejiwaan sering kali menjadi narasumber, dan selalu dengan dua pertanyaan yang sama: “Apakah homoseksulitas itu sebuah penyakit?” dan “apakah dapat menular ?”. Dua pertanyaaan yang menurut saya akan mendorong pertumbuhan homofobia di Indonesia.
Bayangkan jika seorang ibu melihat acara seperti ini. Dia pasti akan langsung berkata kepada anaknya untuk menjaga jarak jika ada temannya yang ternyata penyuka sesame jenis. Sang ibu akan menasehati, “Awas, Nak, nanti kamu ketularan!” Saya mengalaminya sendiri, ketika menonton sebuah liputan tentang homoseksualitas dengan ibu saya yang belum tahu saya seorang lesbian. Ibu langsung bereaksi, “Ngapain nonton yang begituan? Hati hati, nanti Teteh kayak begitu.”
Saya jenuh dengan pendapat umum yang menyatakan lesbian adalah manusia berpenyakit, apalagi jika dikaitkan dengan penyakit kejiwaan. Belum lagi jika lesbian dikaitkan dengan trauma masa lalu. Banyak yang menganggap lesbian memiliki masa lalu yang pahit, atau karena trauma keluarga yang broken home, atau pelecehan seksual. Saya mencoba melihat masa kecil saya, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Keluarga saya bahagia dan pergaulan saya baik–baik saja. Trauma akan masa lalu mungkin menjadi salah satu faktor seseorang menjadi lesbian, tetapi tidak berarti semua lesbian memiliki masa lalu yang buruk.
Pendapat bahwa lesbian itu menular bagi saya terdengar lucu. Jika memang orientasi seksual itu menular, seharusnya saya sudah jadi heteroseksual karena dari dulu saya bergaul dengan banyak heteroseksual. Saya tidak pernah menularkan orientasi seksual saya. Saya memiliki beberapa teman hetero yang tahu saya lesbian. Saya dekat dengan mereka, lalu apakah mereka menjadi lesbian? Tidak, bergaul dengan saya tidak menjadikan mereka menjadi penyuka sesama jenis.
Saya berharap keadilan itu datang. Untuk kali ini adalah keadilan dari televisi Indonesia. Bukan berarti saya meminta pembenaran, apalagi memaksa orang lain untuk sepenuhnya menerima. Jika stasiun telivisi bisa mengangkat sisi terang kaum heteroseksual, kenapa tidak sisi terang lesbian juga dipublikasikan? Ketika meliput tentang lesbian kenapa tidak mengangkat prestasi dan karya lesbian?
Jadi, Lesbian, inilah tantangan untuk kita. Siapkan diri untuk menyambut masa di mana televisi Indonesia mengangkat sisi terang diri kita. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan menjadikan diri kita sebagai lesbian berprestasi yang memang layak untuk diliput. Semangat!
@Sarah, SepociKopi, 2010









televisi sumber informasi tdk selalu menyuguhkan realitas yg sebenarnya. mereka hanya menyuguhkan sense of reality. bagi penikmat berita juga sharusnya smart dalam menilai berita yg didengar.
Bravo sarah…. Mereka yang straight gak ngerti tentang perasaan seorang lesbian..
saya juga menyaksikan acara itu, jangankan orang awam yang masih menganggap lesbian itu hal aneh, saya aja seorang lesbian yang berada di daerah (baca: kampung) jadi kaget2, apa benar seperti itu kehidupan lesbian di kota besar?
Tulisan yg sangat bagus. Hmm.. saya pikir kalau televisi menayangkan sisi terang kaum lesbian, maka stasiun televisi tsb akan rame2 di demo oleh kaum homofobia. Mereka akan menuding televisi yg bersangkutan punya niat “Melesbiankan masyarakat” dan “memasyarakatkan lesbian”. ahahaha..
Setujuuuuuuu!!!…..
SemagaT dech….
To Tikussjouerney : Apayang disampaikan oleh Sarah adalah suatu opini dr susut pandang seorg lesbian.Tp jika demikian penyajian
liputan tersubut maka hal tersebut jls dpt memperburuk citra lesbian di mata masyarkat krn sygx tdk smua penikmat berita adalah org yg smart dlm menafsirkan sesuatu.Maka mmng sngt tdk adil rasa liputan tersebut hax mmbhas dr sisigelapx sj.
tulisan yg bagus..
sbenarnya, boleh kok kirim saran k tv tsb
agar mreka mlihat sisi ‘terang’ LGBT
saya hetero dan stelah baca situs ini
saya sdikit bisa ‘memahami’ LGBT
tentang masalah kjiwaan LGBT
masih menjadi pertanyaan bagi saya
jika memang LGBT dianggap normal o kaumnya
bgmn dg pedofile, pcinta incest, dan pnyuka hub seks dg binatang
apakah mreka jg dianggap normal?
adakah yg bs mberi pcerahan?!
Liputan tentang lesbian Indonesia yang berprestasi? Kayanya tinggal tunggu waktu saja deh. Pasti nanti ada, atau jangan2 sudah ada? =)
Setuju ! Setuju sekali ! Lesbian bukan penyakit menular.
Tulisan yang bagus!
yup..bner bgd..
mmh..aq jg seorg Lsbi yg brada dkota yg bsa dbilg prgaulanny bebas. d kota ini (bali) aq jg seng nongrkong n khidupan mlm,,v hnya sekedar sj. aq harap smua org bsa mlihat tidak dri 1 hal,tdk dri 1 sudut pndang.. melainkan dri ksemua faktor.. *yeah,smoga* ttep smgt yh bwt qt….!!! qt psti bs n mampu nunjukin klo qt lbih brprestasi bhkan lbh layak di liput n djadikan cntoh *dlm hal baik* dmnpun, n kpnpun..
kdg org hanya bs menilai org lain hny dr satu sisi,seandainya mereka berada di titik tertentu ini, atau setidaknya bs memposisikan di titik tertentu ini,tentu akan lebih bijak dlm menilai suatu hal
@noy:smua tergantung dr sudut pandang masing2.
@noy:pengertian+kasih adalah yg diperlukan oleh mcm2 orientasi sex diatas,rangkulan+solusi bukannya cacian.
Saya juga berfikir seperti itu Sar…’waktu liat liputan itu. Gak adil.. rasanya cuma memojokan satu pihak aja.
menurut aku sich media ga salah juga toh yang lbh bnyk kelihatan emang kaya gitu, klo pun yg lesbian berprestasi ada tapi kan jarang mau diekspos..?? kebanyakan memilih untuk keep the secret kan..??
jadi ga bisa nyalahin media juga donk, kitanya aja yang ga bisa jaga image didepan masyarakat dengan kongkow or dugem mpe pagi tanpa ada pembatasan diri
never judge a book by its cover. yang suka dugem blm tentu jelek, narkobaan dan jahat. yang ngerokok bukan berarti preman. yang suka ke gereja ato mesjid blm tentu semuanya baik. orang2 perlu buka mata. ga semuanya seperti kelihatannya. yang bajunya bagus bs jadi adalah copet.
masalahnya adalah,ada ga diantara kita yang mau diliput ttg kesehariannya yg berbeda dr liputan di atas?
liputan kyk gt muncul karena ketidaktauan.
ada yang berani terbuka g sama org2 hetero dan disiarkan keseluruh penjuru negri?
bener kata noy,kirim saran ke tv-nya,ini lho ada sisi lain dari kehidupan lesbian/homosexual
pertanyaannya,”ada yang berani?” ;]
@noy: LGBT adalah hubungan dgn cinta.
Cinta adalah perasaan murni/cinta dari hati kepada seseorang tanpa melihat kelamin.
Pedofil lebih pada tindakan yg dilakukan dan merugikan pihak lain sbg korban.
Begitu juga dengan sex dgn binatang,yg hanya mengatasnamakan nafsu.
selalu aja menilai dari asumsi orang banyak…padahal ga ngerti yg sebenernya…itulah pikiran banyak orang sekarang ini.
Mudah2an kta tidak termasuk d dalamnya.
setuju…..
LGBT jangan selalu dikaitkan dengan hal-hal negative
Giliran tindakan/karya-karya LGBT yang positive aja nga di bahas
Nga adil….
akku stujuu ntuhh !!
tmen” kku jugga ky gdu .
ngejauhin aku krna aq lesbian .
kta’x gni ‘entar ktularan kmu , sory , aq g mw pny tmn ky gdu’
pdhal tmn kku iyg mw nrima aq sbg lesbian jugga gaketularann …
Dear SepociKopi
Menurut kalian, mengapa tuhan menciptakan kaum laki-laki?
@ noy:
Terima kasih sudah sedikit ‘memahami’ LGBT setelah Anda membaca SepociKopi.
Ada banyak buku yang ditulis oleh para ahli kejiwaaan tentang LGBT, penyuka hubungan incest, phedophilia dan penyuka hubungan seks dengan hewan. Dan kalau mau cara yang lebih praktis lagi, silakan Anda ‘browsing’ di Google. Kiranya informasi yang Anda dapatkan dari orang-orang yang berkompeten dalam bidangnya tersebut akan mampu memberi pemahaman yang lebih obyektif dan berimbang. Sebagai keterangan tambahan dari saya, pada tahun 1993 (kalau tidak salah) Departemen Kesehatan RI telah mengeluarkan homoseksual dari daftar penyimpangan orientasi seksual. Salam.
@kaka
kalo nggak ada laki2 kita nggak disini kalee
Dear Kaka,
Menurut anda, mengapa Tuhan menciptakan kaum perempuan?
hmm…untuk meneruskan kturunan memang butuh laki-laki..
tp untuk mrasakan cinta sejati….
cuma butuh hati. ga perlu gender.
@juno, thx atas reply nya
info tambahan kamu
menambah pemahamanku
@angelo, mungkin maksud pertanyaan @kaka
bukan dalam konteks cinta/ perasaan
namun lebih kepada tujuan penciptaan Tuhan
yang tiada mungkin sia2 atau tanpa tujuan
@noy:baca buku saku PPDGJ dan Prof Maramis ttg Ilmu Kedokteran Jiwa, menarik dehh, dirimu bisa tau lebih jelas..met baca ya
gw jg liat tayangan it d televisi. Coba narasumber na bkn straight…pasti lbh seru heee. Gw jg bru tau klo d taman it ad komunitas L. Mslh na, gw ga pernah dugem n kluar mlm, jd ga tau.
Setuju ma tio. Msh banyak lesbian yg berprestasi di negara ini, yg tdk coming out krn banyak pertimbangan. Banyak lesbian yg jd wanita karier dan sangat2 mandiri dg kehidupan sgt mapan, yg merasa tdk perlu mengatakan pd dunia bhw mrk lesbian. Memang ga perlu krn negara ini msh blm bisa menerima keberadaan lesbian jd buat apa bunuh diri(karakter)? Yg disayangkan adl para perempuan muda skrg yg berani menunjukan siapa mrk n orientasi sexualnya tp lebih menunjukkan prilaku yg buruk. so sad..
betull … lesbian jga tidak buruk di antara yg normal …. jgn hny mlihat lesbian yg disisi gelap nya , lesbian jg gk membawa pengaruh buruk … ada saat nya seorng lesbian terpuruk dan mw semangat bangkit lgi krna pasangan lesbian juga…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments