Home » Bengkel Menulis, Seni Budaya

Bengkel Menulis: All the LGBT Bookstores In the World

20 May 2010 259 views 7 Comments

dupont_lambdaOleh: Lakhsmi

Siapa yang pernah ke toko buku LGBT di sini? Tunjuk jari yang tinggi. Membeli buku bergenre LGBT di toko buku Indonesia saja sudah ketakutan, bagaimana menguatkan diri untuk melangkah memasuki toko buku di luar negeri yang khusus menyediakan buku-buku bertema LGBT? Huh, sudah pasti gemetaran. Yang belum pernah atau belum berani, kebayang atau tidak pemandangan itu?

Ada banyak sekali toko buku LGBT di seluruh dunia. Memang kebanyakan bertebaran di Eropa dan Amerika. Sampai sampai sejauh ini belum terdata toko buku LGBT di daerah Asia. Yang terdekat dari Indonesia tentu saja toko buku LGBT di Australia. Ada beberapa toko buku LGBT di sana, dua di Melbourne (dua-duanya Hares and Hyenas Bookstore), satu di Newtown (The Bookshop Newtown), dan satu lagi di Darlinghurst (The Bookshop Darlinghurst). Yang sedang siap pergi atau menabung uang untuk jalan-jalan — apalagi yang tinggal di Australia, jangan lupa sempatkan diri untuk mampir di toko buku LGBT tersebut.

Apa sih toko buku LGBT itu? Toko buku LGBT adalah toko buku yang mengkhususkan diri untuk penjualan buku, musik, dan barang-barang lainnya yang berhubungan dengan dunia LGBT. Biasanya toko buku tersebut melayani komunitas LGBT yang tentunya berada di sekitar mereka. Kaum LGBT mempertahankan toko buku LGBT sebagai sumber informasi dan sarana afirmasi untuk menambah tingkat intelektualitas dan kecerdasan, meraih kekuatan, menemukan arti damai, serta mendongkrak kepercayaan diri.

Setelah penutupan toko buku Oscar Wilder di New York tahun 2009 (baca kisahnya di Bengkel Menulis: Dilarang Meminjam Buku!), toko buku LGBT tertua di dunia sekarang disematkan di bahu toko buku Glad Day di Toronto, Kanada. Glad Day dibuka pada tahun 1970 oleh Jearld Moldenhauer. Mulanya toko buku ini berada di apartemen kepunyaan Modenhauer sendiri di The Annex, daerah kota Toronto, berbagi dengan kantor redaksi The Body Politic, majalah bulanan LGBT (eksis dari tahun 1970-1987). Setelah itu, toko buku ini pindah ke daerah Kensington Market di mana toko buku dan majalah dipamerkan di luar. Di tahun 1981, toko buku tersebut pindah ke tempat yang bertahan sampai sekarang, 598 Yonge Street, Toronto.

dupont_lambda1Pada tahun 2008, Glad Day Bookstore bertahan habis-habisan untuk tetap buka. Di tengah hajaran krisis ekonomi yang melanda dunia, manajer toko buku Prodan Nedev, mengaku tetap yakin bahwa teman-teman LGBT masih mendukung toko buku tertua di dunia ini dengan membaca dan membeli buku-buku LGBT sehingga membuat mereka bisa bertahan hidup. Pendiri toko buku Glad Day, Modenhauer menjual toko bukunya kepada John Scythes di tahun 1991.

Apa sih pentingnya keberadaan toko buku LGBT? Toko buku LGBT – diakui oleh para LBGT yang hidup di sekitar kota itu, sebagai surga kecil atau firdaus di tengah kota. Toko buku LGBT memberikan kaum LGBT a sense of belonging. Toko buku seharusnya menjadi sebuah institusi dan rumah yang hangat bagi seluruh komunitas. Bayangkan kenyataan ini, kaum LGBT Amerika dan Eropa yang hukum dan lingkungannya sudah mendukung keberadaan mereka tetap merasa perlu membaca, nah, bagaimana dengan kita yang bagaikan kelompok tanpa perlindungan undang-undang yang jelas? Tentu saja kita harus memperkaya dan memperkuat diri dengan banyak membaca, bukannya memperbanyak curhat.

Toko buku LGBT lain yang layak dikunjungi apabila ke luar negeri adalah toko buku Lambda Rising. Terletak di Washington, DC, Amerika, berdiri di tahun 1974 adalah toko buku LGBT tertua di Washington, DC.  Sampai detik ini dihargai sebagai toko buku yang besar dan terhormat di dunia. Didirikan oleh Deacon Maccubbin, Lambda Rising memiliki ratusan judul buku yang koleksinya sangat beragam, mulai dari sejarah LGBT, keagamaan, sampai genre erotika. Mereka juga menjual film, musik, CD, dan barang-barang cinderamata. Yang sering bolak-balik Jakarta-Amerika, silakan mampir di toko buku ini, 1625 Connecticut Avenue, N.W. Aku pernah mengunjunginya, terletak di daerah Dupont Circle, yang terkenal juga sebagai daerah komunitas LGBT.

Cabang toko buku Lambda Rising berada di Delaware, Baltimore. Sayangnya yang di Baltimore harus tutup di tahun 2008 setelah bertahan lebih dari 25 tahun. Cabang keempat berada di Norfolk Virginia, yang lagi-lagi juga harus tutup di tahun 2007. Tahun 2000-an menjadi tahun yang mengerikan bagi komunitas LGBT di Amerika karena toko buku-toko buku tua mereka yang pernah menjadi simbol perjuangan di tahun 1970-an tidak sanggup menanggung resesi ekonomi. Imbauan mereka agar kaum LGBT untuk terus membeli buku LGBT tidak menolong untuk bertahan di  keadaan keuangan yang sangat sulit.

dupont_lambda2Baiklah, kalau di Indonesia masih sulit mewujudkan toko buku LGBT, kita bisa memulainya dengan mewujudkan keberadaan buku-buku LGBT agar mereka tetap bertahan di rak-rak toko buku tradisional. Suatu kebanggaan yang membuncah di dada ketika suatu hari aku menemukan novel Club Camilan bersanding di rak BEST SELLER di beberapa toko buku di Jakarta, bersama-sama dengan buku-buku fiksi heteroseksual lainnya. Sebelumnya, aku sudah beberapa kali menemukan novel LGBT lainnya yang sanggup menembus pasar masyarakat awam. Melihat itu, ada setitik haru di hatiku untuk para pengarangnya yang menulis dengan penuh tekad dan usaha agar berhasil menerabas batas dan sekat dunia perbukuan.

Jika komunitas LGBT luar negeri mendorong kaum LGBT di sana untuk terus menulis dan membaca, maka kita pun juga harus dua kali lipat melakukan kegiatan menulis dan membaca. Bukan hanya untuk kemajuan diri, tapi juga kemajuan teman-teman lesbian lainnya. Kalau pemerintah dan masyarakat belum memberikan tempat bagi kaum lesbian, maka kitalah yang harus merebut tempat itu dengan keberhasilan. Caranya? Banyak membaca, mencerdaskan pikiran, dan memperkaya aestetika kehidupan. Tak lagi kita menyematkan diri sebagai kaum terbelakang, terpinggirkan, tersingkirkan, termarginalkan, ter… ter… ter lainnya yang terdengar sangat menghina di telinga itu.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

7 Comments »

  • AL said:

    Saya sebagai orang awam sih melihat karya LGTB sebagai salah satu tema aja dan malah kayaknya ribet juga kalau dicenterkan gitu? Masyarakat awam jadi gak punya kesempatan untuk tahu. Tapi, apapunlah menurut yang menjalani yang terbaik.

    Eniwey, saya merasa agak kehilangan tips-tips menulisnya nih di topik ini. Akhir-akhirnya jadi berasa nyemangatin terus dimana-mana. Padahal saya kira artikel-artikel yang bisa bermanfaat bagi semua pembaca baik itu orag awam maupun L itu bagus, loh! Kami jadi bisa melihat sisi lain bahwa, hey, gak ngomongin topik begitu-begitu terus. Gak menye-menye terus situs ini.

  • ade fitrisanty said:

    100% dukung lesbian menjadi sosok intelektual diperhitungkan! :)

  • Loli pop said:

    Arigato to information, watashi wa iie lesbian desu, de aru ga watashi to jiman na anata wa ane-ane san dore shoyuu suru nozomi sagasu kuwaeru kagaku, arigatou gozaimasu ane san. ;-)

    terimakasih utk informasi’y, saya bukan lesbian tetapi saya bangga kalian kakak2 yang memiliki kemauan mencari memperbanyak ilmu pengetahuan, terimakasih banyak, kakak. :-)

  • Lakhsmi said:

    @AL
    LGBT memang dimasukkan menjadi satu genre dalam arsip pembukuan. Toko buku LGBT tidak ada bedanya dengan toko buku yang mengkhususkan diri pada satu genre tertentu, misalnya toko buku komik, toko buku manga, toko buku drama percintaan (romance), toko buku thriller/sci fiction. Banyak toko buku seperti itu bertebaran di negara-negara asing (termasuk Indonesia), misalnya Adventures in Crime and Space bookstore di Norris Drive, California yang mengkhususkan diri pada penjualan buku-buku misteri, sci fic, horor, dan fantasi. Hanya saja toko buku LGBT memang memiliki muatan khusus selain hanya menjual buku-buku bertema LGBT.

    Tips menulis di bengkel menulis bukan hanya sekadar ‘tips’ saja. Informasi dan pengetahuan di balik bisnis dan dunia perbukuan pantas diangkat agar pembaca/penulis lesbian termasuk kaum awam bisa mengerti penggalan-penggalan realisme sosial di dunia buku LGBT. Buku atau menulis bukan sekadar perangkat bercerita saja, tapi juga kemampuan untuk melakukan eksplorasi bahasa, penjelajahan keserba-mungkinan, pembangunan dunia baru, meruapkan gagasan, dan tentu saja memaknai realitas.

    Jadi, jika bengkel menulis membahas di luar gagasan sekadar ‘tips’, bukan berarti inti tulisan melenceng, malah sebaliknya, memberikan nilai-nilai reflektif dan mengajak pembaca SepociKopi untuk menengok kembali permasalahan wajah sastra LGBT dan sentilan-sentilan perlawanannya terhadap struktur sosial.

    *Lakhsmi

  • Adis said:

    I have been collecting fiction novel since i was in senior high school 1998.
    Yes, i’m a lesbian and i’m proud of it cause i had a good job and also bachelor degree.
    As i know since i was young *now adult :p, from the fiction that i read, the writer always proud of his or her self. and write his or he biography in the back cover of the book. So that the readers know him or her closely. Or even make his or her their inspiration. For example myself. I like the anita desai so much,cause she is a asian woman who can contribute her novel to the world market. And i made one of her collection as my thesis object.
    honestly, i was so shock, when i bought ”camilan” novel. Because i can’t find out anything about the writer. Only three names on the back of the cover. I even don’t know wheather those name real or not or even original or not. My suggestion for the lesbian writer is…”come on,if you said that you want other people appraciate your writer, then please make a peace wiht yourself, or at least be honest to the reader. So we know actually who you are, or we even can make you as our inspiration or not. Not only give the reader the blur words. And keep hiding in the back of your sentence.”
    Thanks…and so sorry if my suggestion too straight to the point (it’s only the voice from one of you reader*adistie chandra :D )

  • admin said:

    @Adis
    Setiap pengarang memiliki alasan untuk menjadi anonim dan memiliki pseudoname. Ini adalah tulisan fiksi, di mana batas antara “pengalaman pribadi” dan pengarangnya tidak saling terkait erat. Berbeda dengan non fiksi (misalnya biografi) yang memang jelas disebutkan bahwa isi cerita adalah pengalaman pribadi si penulis yang bersangatkan. Jadi sangat salah bila menyangkutpautkan sebuah fiksi LBGT sebagai pengalaman pribadi si pengarang ybs.

    Dalam kasus Club Camilan memang unik, karena novel tersebut diangkat dari blog. Antara personal (blog) dan non personal (novel) memiliki kompleksitas saat mereka dikawinkan. Namun, menjadi anonim dan memiliki psudoname tidak memiliki kerumitan apapun, hanya satu yang sederhana, yakni keputusan para pengarangnya. Terlepas dari fiksi-fiksi yang ditulisnya, juga banyak sekali pengarang heteroseksual memutuskan menjadi anonim atau menggunakan nama pseudoname. Bahkan J.K. Rowling pun bukanlah nama asli si pengarang Herry Potter.

    Terakhir, beban coming out untuk sebuah fiksi LGBT tidak seharusnya ditimpakan di punggung pengarangnya. Coming out memiliki cara masing-masing, dan itu adalah keputusan pribadi setiap lesbian. Ada banyak tulisan tentang perlawanan fiksi LGBT di masa lalu dari para pengarang yang anonim, silakan baca artikel-artikel di kolom Noktah Merah.

    *Lakhsmi

  • Lafé said:

    Sorry 2 say Adis, I disagree wth U.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.