Home » Opini, Sepocikopiana

Tak Perlu Kuatir

18 May 2010 216 views 5 Comments

be-happyOleh: Carmen

“How can you be so sure of yourself
?” kata Sopak. Temanku ini gelagatnya seperti bersiap-siap mau interview. Dan ditanya pertanyaan yang multitafsir dan bikin ge-er itu, aku jadi merapikan dudukku.

“Maksudnya apa nih, yang mana?” tanyaku. Sopak menjelaskan panjang lebar; hingga akhirnya aku berkesimpulan bahwa ia menanyakan alasan mengapa aku memilih jalan hidupku sebagai aku (yang lesbian, dan percaya diri). Tentang perasaan sebagai pendosa, misalnya. Kata Sopak, selayaknya aku pernah merasa sebagai pendosa karena mencintai perempuan padahal aku sendiri perempuan. Sempat sih memang dulu aku bingung, bukan karena mencintai perempuan, tapi karena aku bingung mengapa aku tidak merasa jadi pendosa, begitu.

Mungkin juga karena saat aku diingatkan tentang Tuhan; aku tidak merasa ada kebencian terpancar dalam perkataanNya. Yang kuhayati tentangNya, selalu ada garis besar tentang cinta. Karena cinta teramat besar yang ditunjukkan Tuhan padaku, sepatutnyalah aku menunjukkan rasa syukur lewat perbuatan.

Aku pribadi suka sekali tulisan awal di SepociKopi untuk bulan April, yaitu tentang lesbian yang menjadi terang. Terang adalah segala hal yang mencolok karena berperilaku baik, bukan karena coming out sembarangan. Kalau gelap adalah hal yang tersisih karena berperilaku jelek, bukan karena memang lesbian makhluk terpinggirkan. Stereotipe bahwa lesbian adalah makhluk gelap yang menyusahkan bisa dipatahkan dengan menjadi terang.

Lebih jauh lagi, menurutku nih, aku tidak perlu khawatir menjadi lesbian. Yang perlu dikhawatirkan adalah saat di mana aku bukanlah orang yang jujur dalam keseharian, tidak menghargai orang lain, dan semaunya sendiri. Ibaratnya begini: Kalau ada lesbian yang semaunya sendiri, tidak jujur, suka selingkuh, dan malas, bagaimana kita mau menuntut orang lain untuk menerima kita? Yang ada orang lain malah jadi ilfil. Sama halnya, bagaimana pula kita pe-de menerima diri sendiri sebagai orang yang baik dan tidak gelap, kalau terang-terangan perilaku kita memang gelap?

Nah, beda skenarionya kalau ada lesbian yang jujur, setia pada pasangannya, suka bekerja keras, dan peduli pada sekitar. Bukankah lebih besar kemungkinannya orang sekeliling kita akan melihat bahwa lesbian mempunyai akhlak baik dan punya potensi sama seperti manusia-manusia lainnya? Selain itu, keuntungan lainnya adalah kita menjadi lebih percaya diri. Lha, di sini kehidupannya baik-baik saja kok, apa yang perlu dikhawatirkan dengan menerima diri sendiri! Dan kenapa situ yang gusar?

Semangat, mari sama-sama berusaha menjadi lesbian yang terang. Cring cring cring.

@Carmen Casanova, SepociKopi, 2010

5 Comments »

  • samuel said:

    Prikitiw!! Semangat.. ;-)

  • Agl said:

    saya mau jadi terang :D

  • inez said:

    hari gene emang susah liat lesbian yg “terang”.. jgnkan “terang” lesbian yg smart & berprestasi dengan talenta yg positifpun msh kurang banget. kebanyakan pd sibuk untuk mengejar bahkan mengemis cinta sana-sini.
    pdhal kita seharusnya menunjukkan pd masyarakat klo kita bukanlah sampah bg mereka tp kita adalah bagian dr masyarakat yg punya kreativitas yg sm.

  • inez said:

    sepocikopi kmarin aku krm email keredaksi sepocikopi,, tp blm dibalas. Emang klo mau bertax soal ketentuan tulisan yg bs dimuat hrs kirim email kmn??? mohon jwbnx. terima kasih sblmx.

  • doris fidelya d'rain said:

    yupz! mari kita mjadi lesbian teraaaang ^^
    cring cring cring kembali
    :) )

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.