Tajuk: Idaho dan Kita
Kami sedang berempat duduk menikmati senja di sebuah kafe sepulang dari pekerjaan. Sedang asyik duduk dan ngopi, tiba-tiba datang dua teman lagi membawa sepasang butchy. Sontak sahabat lesbian saya langsung kuatir – rasa tidak nyaman yang disebabkan dengan penampilan kedua kenalan baru. Karena lokasi yang dekat dengan kantor, banyak orang yang mudah mengenalinya di kafe tersebut. Rasa kuatir terus menerus mengganggu sehingga sahabat saya terpaksa permisi pulang lebih dulu. Ini tentu bukan contoh yang baik, sahabat saya sendiri yang notabene lesbian masih merasa homofobia dengan homoseksual.
Rasa was-was juga tiba-tiba muncul, mengganggu kenyamanan Danu, salah seorang sahabat straight, kertika kami tengah duduk mengamati sebuah fashion show. Seperti biasa, tempat-tempat seperti ini dipenuhi dengan para homoseksual. Tindak tanduk mereka yang penuh tawa membuat Danu tidak bisa rileks. Ia membisiki saya dengan ucapan takut tertular menjadi homoseksual. Apalagi sapaan lembut dari sesama pria seperti, “Body-mu bagus sekali.” Kalimat itu membuat Danu merinding dan langsung kabur. Saya menanggapinya dengan tawa. Jauh di lubuk hati, saya tahu Danu bukan orang yang rasis, namun ketidaktahuan serta lingkungan yang membuat keadaannya sedemikian.
Bagi sahabat saya, berkumpul dengan para butchy di lingkungan tempat kerja membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Pertama, ia sudah berusia lebih dari kepala tiga dan belum menikah. Kedua, ia tidak kuat menerima kenyataan jika teman-teman kerjanya mengomentari hal tersebut. Ketakutan semacam ini disebut dengan homofobia, lahir dari ketidaknyamanan terhadap individu lain dengan orientasi seksual yang dianggap menyimpang.
Kaum gay dan lesbian di belahan dunia mana termasuk Indonesia merupakan kelompok minoritas. Kita dianggap berbeda jika dibandingkan dengan masyarakat heteroseksual. Kalkulasi umum mencatat bahwa frekuensi kaum gay adalah satu dari sepuluh pria. Sementara untuk lesbian, frekuensinya jauh lebih besar yakni satu di antara delapan perempuan. Dengan demikian berarti cukup mudah menemukan para homoseksualitas di sekitar kita. Namun sayangnya ketidaktahuan terhadap homoseksual membuat para gay dan lesbian sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Dalam konstruksi sosial masyarakat, perundangan misalnya, terus menekan dan mengkriminalisasi komunitas homoseksual. Tidak heran jika homoseksual dikategorikan sebagai bagian dari kriminalitas.
Dari sisi beberapa big and organized religions, nyaris tidak ada keberpihakan dengan gay dan lesbian. Tidak jarang takdir homoseksualitas yang dibenturkan dengan norma agama-agama itu membuat banyak homoseksual mengalami krisis identitas. Kita memang mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa stigma, diskriminasi, atau alienasi kaum homoseksual selama ini dipandang melalui kacamata kaum mayoritas. Penolakan masyarakat mempersulit para homoseksual dalam menentukan identitas gender.
Dari kerumitan identitas gender, muncullah konflik psikologis dan sosial. Konflik sosial misalnya, berusaha menyembuhkan diri dengan beragam cara, mencoba menikah, atau malah melakukan pengobatan medis atas desakan kerabat dan orangtua. Sedangkan konflik sosial yakni merasa tidak percaya diri dan mengalami krisis identitas.
Pada tanggal 17 Mei 1975 World Health Organization telah mengeluarkan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transseksual (LGBT) dari kategori Mental Disorder (Gangguan jiwa). Momentum itu akhirnya ditetapkan sebagai Hari Internasional Melawan Homofobia atau International Day Against Homophobia (IDAHO) dan diperingati setiap tahunnya di berbagai negara di dunia. Tujuan peringatan IDAHO ini adalah untuk mensosialisasikan pentingnya pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan hak-hak LGBT. IDAHO juga digunakan untuk memberikan penyadaran dan pemahaman, baik kepada negara maupun kepada masyarakat, bahwa LGBT merupakan manusia normal. Satu-satunya perbedaan mereka hanyalah orientasi seksualnya.
Dengan demikian pengucilan, merendahkan, deskriminasi, apapun namanya dapat dikategorikan sebagai tindakan rasisme. Filantropi cinta sejenis bukanlah penyakit mental, juga bukan virus yang menular, tidak ada yang perlu ditakutkan di sini. Tentu saja memang semua kembali kepada kita – para homosekual… dengan catatan tidak mengganggu orang-orang straight. Perayaan IDAHO masih sangat tidak lazim di tengah masyarakat kita, untuk memulainya, tentu dari diri kita sendiri para homoseksual.
Kita tunjukkan pada orang-orang di sekeliling bahwa homoseksual juga bisa berhasil di masyarakat, bukan sampah pengganggu, bukan pembawa aib keluarga. Tunjukkan sebentuk kehidupan berbobot dan melakukan suatu kemajuan yang positif. Tetaplah jaga nilai-nilai keluarga dan kehormatan. Percayalah, ayah-ibu yang tiba-tiba bengis dan sadis karena coming out, hanya bisa dilembutkan dengan kesabaran, cepat atau lambat. Hadapilah mereka yang masih belum mengenal homoseksual dengan lapang dada dan keteguhan kelas kaliber, bukan dengan sikap perlawanan. Tunjukkan pada masyarakat bahwa kita juga bisa maju dan sukses, sanggup menyejahterakan orang-orang tercinta, merebut posisi-posisi penting, mengharumkan nama keluarga bahkan bangsa dan negara. Dengan bargaining power kita yang tinggi, kita sudah ikut andil dalam perayaan Hari Internasional Melawan Homofobia.
Mari, jadilah hebat, kaum lesbian semuanya! Selamat merayakan IDAHO.
@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010










wow..
happy idaho
mari kita berkarya dan menjadi manusia seutuhnya kita
thanks
idaho? Aku kira salah satu jenis pilihan rasa pizza kak, di pizza hut. *maklum sering delight sm temen” ;p
Iya,selamat IDAHO yaa~
“dengan demikian, pengucilan, merendahkan, diskriminasi, apapun namanya dapat dikategorikan tindakan rasisme”
“kita tunjukan pada orang-orang di sekeliling bahwa homoseksual juga bisa berhasil dilingkungan sekitar”
dua kalimat POWERFULL! thanks for sharing ^^
thanks tulisan ini terus mengingatkan. karena saya juga lebih sering homophobia (walau saya sendiri adalah queer). penampilan saya androginy, saya pun agak kurang nyaman berada di tengah teman-teman yg penampilannya Butchie, terutama saat berada di tempat umum. saya pun akan melakukan hal sama, mencari berbagai alasan untuk kabur dari situ. walau saya menghargai dan menyayangi teman-teman tersebut. tapi kalau kumpul, terus terang saya lebih nyaman kalau mereka itu femme atau andro, atau yg gwy cowok tidak keliatan membingungkan apakah dia cowok atau cewek. Tapi saya sangat menghormati mereka semua, terlepas walau seandainya saya tidak gay. kemarin saya dapat sms dari teman untuk menghadiri perayaan IDAHO hari ini di Komnas. bagi temen-temen yg akan ke sana sampai ketemu di sana. peace and rezpect,
klo homoseksual d anggap normal
apakah pedofil n incest jg dmikian?
jika tidak, d manakah bedanya??
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments