Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Idaho dan Kita

18 May 2010 172 views 5 Comments

posterOleh: Nuha Guwa

Kami sedang berempat duduk menikmati senja di sebuah kafe sepulang dari pekerjaan. Sedang asyik duduk dan ngopi, tiba-tiba datang dua teman lagi membawa sepasang butchy. Sontak sahabat lesbian saya langsung kuatir – rasa tidak nyaman yang disebabkan dengan penampilan kedua kenalan baru. Karena lokasi yang dekat dengan kantor, banyak orang yang mudah mengenalinya di kafe tersebut. Rasa kuatir terus menerus mengganggu sehingga sahabat saya terpaksa permisi pulang lebih dulu. Ini tentu bukan contoh yang baik, sahabat saya sendiri yang notabene lesbian masih merasa homofobia dengan homoseksual.

Rasa was-was juga tiba-tiba muncul, mengganggu kenyamanan Danu, salah seorang sahabat straight, kertika kami tengah duduk mengamati sebuah fashion show. Seperti biasa, tempat-tempat seperti ini dipenuhi dengan para homoseksual. Tindak tanduk mereka yang penuh tawa membuat Danu tidak bisa rileks. Ia membisiki saya dengan ucapan takut tertular menjadi homoseksual. Apalagi sapaan lembut dari sesama pria seperti, “Body-mu bagus sekali.” Kalimat itu membuat Danu merinding dan langsung kabur. Saya menanggapinya dengan tawa. Jauh di lubuk hati, saya tahu Danu bukan orang yang rasis, namun ketidaktahuan serta lingkungan yang membuat keadaannya sedemikian.

Bagi sahabat saya, berkumpul dengan para butchy di lingkungan tempat kerja membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Pertama, ia sudah berusia lebih dari kepala tiga dan belum menikah. Kedua, ia tidak kuat menerima kenyataan jika teman-teman kerjanya mengomentari hal tersebut. Ketakutan semacam ini disebut dengan homofobia, lahir dari ketidaknyamanan terhadap individu lain dengan orientasi seksual yang dianggap menyimpang.

Kaum gay dan lesbian di belahan dunia mana termasuk Indonesia merupakan kelompok minoritas. Kita dianggap berbeda jika dibandingkan dengan masyarakat heteroseksual. Kalkulasi umum mencatat bahwa frekuensi kaum gay adalah satu dari sepuluh pria. Sementara untuk lesbian, frekuensinya jauh lebih besar yakni satu di antara delapan perempuan. Dengan demikian berarti cukup mudah menemukan para homoseksualitas di sekitar kita. Namun sayangnya ketidaktahuan terhadap homoseksual membuat para gay dan lesbian sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Dalam konstruksi sosial masyarakat, perundangan misalnya, terus menekan dan mengkriminalisasi komunitas homoseksual. Tidak heran jika homoseksual dikategorikan sebagai bagian dari kriminalitas.

Dari sisi beberapa big and organized religions, nyaris tidak ada keberpihakan dengan gay dan lesbian. Tidak jarang takdir homoseksualitas yang dibenturkan dengan norma agama-agama itu membuat banyak homoseksual mengalami krisis identitas. Kita memang mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa stigma, diskriminasi, atau alienasi kaum homoseksual selama ini dipandang melalui kacamata kaum mayoritas. Penolakan masyarakat mempersulit para homoseksual dalam menentukan identitas gender.

Dari kerumitan identitas gender, muncullah konflik psikologis dan sosial. Konflik sosial misalnya, berusaha menyembuhkan diri dengan beragam cara, mencoba menikah, atau malah melakukan pengobatan medis atas desakan kerabat dan orangtua. Sedangkan konflik sosial yakni merasa tidak percaya diri dan mengalami krisis identitas.

Pada tanggal 17 Mei 1975 World Health Organization telah mengeluarkan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/Transseksual (LGBT) dari kategori Mental Disorder (Gangguan jiwa). Momentum itu akhirnya ditetapkan sebagai Hari Internasional Melawan Homofobia atau International Day Against Homophobia (IDAHO) dan diperingati setiap tahunnya di berbagai negara di dunia. Tujuan peringatan IDAHO ini adalah untuk mensosialisasikan pentingnya pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan hak-hak LGBT. IDAHO juga digunakan untuk memberikan penyadaran dan pemahaman, baik kepada negara maupun kepada masyarakat, bahwa LGBT merupakan manusia normal. Satu-satunya perbedaan mereka hanyalah orientasi seksualnya.

Dengan demikian pengucilan, merendahkan, deskriminasi, apapun namanya dapat dikategorikan sebagai tindakan rasisme. Filantropi cinta sejenis bukanlah penyakit mental, juga bukan virus yang menular, tidak ada yang perlu ditakutkan di sini. Tentu saja memang semua kembali kepada kita – para homosekual… dengan catatan tidak mengganggu orang-orang straight. Perayaan IDAHO masih sangat tidak lazim di tengah masyarakat kita, untuk memulainya, tentu dari diri kita sendiri para homoseksual.

Kita tunjukkan pada orang-orang di sekeliling bahwa homoseksual juga bisa berhasil di masyarakat, bukan sampah pengganggu, bukan pembawa aib keluarga. Tunjukkan sebentuk kehidupan berbobot dan melakukan suatu kemajuan yang positif. Tetaplah jaga nilai-nilai keluarga dan kehormatan. Percayalah, ayah-ibu yang tiba-tiba bengis dan sadis karena coming out, hanya bisa dilembutkan dengan kesabaran, cepat atau lambat. Hadapilah mereka yang masih belum mengenal homoseksual dengan lapang dada dan keteguhan kelas kaliber, bukan dengan sikap perlawanan. Tunjukkan pada masyarakat bahwa kita juga bisa maju dan sukses, sanggup menyejahterakan orang-orang tercinta, merebut posisi-posisi penting, mengharumkan nama keluarga bahkan bangsa dan negara. Dengan bargaining power kita yang tinggi, kita sudah ikut andil dalam perayaan Hari Internasional Melawan Homofobia.

Mari, jadilah hebat, kaum lesbian semuanya! Selamat merayakan IDAHO.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

5 Comments »

  • NJ said:

    wow..
    happy idaho
    mari kita berkarya dan menjadi manusia seutuhnya kita
    thanks

  • chikanehimemiya said:

    idaho? Aku kira salah satu jenis pilihan rasa pizza kak, di pizza hut. *maklum sering delight sm temen” ;p

    Iya,selamat IDAHO yaa~

  • doris fidelya d'rain said:

    “dengan demikian, pengucilan, merendahkan, diskriminasi, apapun namanya dapat dikategorikan tindakan rasisme”

    “kita tunjukan pada orang-orang di sekeliling bahwa homoseksual juga bisa berhasil dilingkungan sekitar”

    dua kalimat POWERFULL! thanks for sharing ^^

  • LeZerin said:

    thanks tulisan ini terus mengingatkan. karena saya juga lebih sering homophobia (walau saya sendiri adalah queer). penampilan saya androginy, saya pun agak kurang nyaman berada di tengah teman-teman yg penampilannya Butchie, terutama saat berada di tempat umum. saya pun akan melakukan hal sama, mencari berbagai alasan untuk kabur dari situ. walau saya menghargai dan menyayangi teman-teman tersebut. tapi kalau kumpul, terus terang saya lebih nyaman kalau mereka itu femme atau andro, atau yg gwy cowok tidak keliatan membingungkan apakah dia cowok atau cewek. Tapi saya sangat menghormati mereka semua, terlepas walau seandainya saya tidak gay. kemarin saya dapat sms dari teman untuk menghadiri perayaan IDAHO hari ini di Komnas. bagi temen-temen yg akan ke sana sampai ketemu di sana. peace and rezpect,

  • noy said:

    klo homoseksual d anggap normal
    apakah pedofil n incest jg dmikian?
    jika tidak, d manakah bedanya??

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.