Lagak Lajang: Hari Gini Masih Diskriminasi?
Di kelas saya, mahasiswa dan mahasiswinya berasal dari beragam suku dan budaya, yah semacam kelas multi-etnislah namanya. Nggak usah saya sebut berasal dari daerah mana saja, yang pasti mulai dari berkulit hitam sampai putih lagi, dari yang nggak kedengaran suaranya sampai yang terbiasa ngomong dengan tekanan nada tinggi dan keras, dari yang bermata bundar sampai yang sipit, oh ya satu lagi dari yang femme, andro sampai butch, semuanya berkumpul di kelas saya.
Melihat mereka belajar bersama di dalam kelas, berjalan bergandengan ke kantin, melahap buku-buku perpustakaan beramai-ramai, atau sekadar mengantre meminta tanda tangan saya tiap kali menyusun Kartu Rencana Studi, membuat saya bangga, inilah artinya kebersamaan. Tidak sama, bukan berarti harus dibeda-bedakan. Berbeda, bukan berarti tidak memperoleh persamaan hak dan kewajiban. Hei hei hei, hari gini masih nepotisme? Hari gini masih diskriminasi? Hari gini masih rasis? Hare gene??? Ah, saya nggak habis pikir, ternyata masih ada saja yang punya pikiran sempit seperti itu. Masih saja ada.
Baiklah, saya bukannya sok nasionalis atau apakah namanya. Ingatkah apa yang terjadi pada 12 Mei 1998 lalu? Nggak usah deh bahas dari segi politiknya, tetapi lihat dampak psikologis akibat trauma rasis yang dihadapi oleh sahabat-sahabat beretnis tionghoa. Ah, saya perih kalau membahas ini, tersayat-sayat sampai ke ulu hati. Saya teringat pada seorang sahabat, yang sampai sekarang tidak pernah berani menggunakan angkutan umum sendirian. Dia takut melihat mata-mata lelaki pribumi, katanya. Oh ya, satu lagi, bila berjalan sendirian di pasar atau tempat umum yang out-door, dia selalu memakai jaket.
Saya sendiri, sempat sangat mual dan jijik melihat pria-pria bangsa sendiri berkumpul beramai-ramai tanpa ada tujuan jelas. Hm, say apun sudah mulai-mulai rasis sepertinya, tetapi ini bukan tak ada sebab akibatnya. Nggak akan saya bahas panjang-panjang, biarlah bercengkerama di kepala masing-masing tentang peristiwa apa yang pernah menimpa sahabat baik saya yang bermata sipit itu dua belas tahun lalu.
Ada lagi, peristiwa rasis yang di alami oleh sepupu saya ketika menginjakkan kaki pertama kalinya di salah satu negara sahabat yang kecil mungil itu. Namanya Muhammed Ghaffur El-Sayyid. Keluarga besar saya, namanya memang selalu berbau kearab-araban, padahal sama sekali gak ada keturunan Timur Tengah-nya. Bukan hanya nama, mungkin petugas imigrasi negara sahabat itu juga curiga melihat janggut sepupu saya yang tebal terawat. Atau, bisa juga karena latar belakang perjalanannya ke Dubai atau beberapa daerah Timur Tengah lainnya. Ditambah lagi, dia selalu membawa kitab sucinya yang berukuran besar ke mana-mana. Entahlah, yang pasti, saya masih ingat tiap detail peristiwa di mana seluruh barang dalam kopernya di bongkar habis-habisan.
Ah, sungguh mengada-ada, benar-benar memalukan. Tentu saja shock-theraphy stadium tinggi. Saya sadar benar apa yang ada di dalam kepala pihak keimigrasian itu, mereka menyangka sepupu saya itu teroris. Karena apa? Meskipun berdalih sejuta kalimat, kami sadar semua bermula karena sejumput jenggot di dagu.
Halah, baru saja membahas topik diskriminasi dan SARA, tiba-tiba saya dikabari teman baik dan kebetulan juga mengajar di kampus yang sama, bahwa pernikahannya batal karena nggak disetujui orang tuanya dengan alasan berbeda suku dan agama. Alasannya ya, prinsipil sekali. Lalu, otak saya yang kecil ini langsung berputar-putar ke masa lampau. Teringat mantan saya yang orang Bugis, Palembang, Cina, Jawa, Batak dan Sunda yang sebahagian besar berbeda keyakinan dengan saya.
Entahlah, di dalam otak saya, nggak pernah memilih-milih pasangan karena agama, suku atau bangsanya. Yang penting berjenis kelamin perempuan, tentunya. Habisnya, yah blak-blakan saja, saya nggak menikah dengan perempuan kok selama peraturan negara ini gak berubah, lalu buat apa saya harus ribet pilih-pilih pasangan? Ah, lalu kenapa pula saya masih melajang? Ah lagi, pertanyaan yang gak perlu lagi saya jawab di tulisan ini.
@Oscar Arumi, SepociKopi, 2010










yups.pcr2 gw mlh ga ada yg satu suku, indo,batak,bali,arab.kalau ada yg beda knapa hrs sama? (kecuali jenis kelamin hohohoho)
Indonesia itu kan bhineka tunggal ika.
setuju gue hahaha
hi, salam kenal…
stuju banget, bro!!!
Indonesia emang Bhinneka Tunggal Ika, tetapi bahaya laten SARA tidak pernah di akui, di bilang nya rukun2 aja.
Pertanyaan yg selalu saya benci bila bertemu orang baru “aslinya dari mana bu?”
*hanya krn muka saya tidak dominan pd salah satu suku di Indonesia, bahkan muka saya agak sedikit tionghoa*
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments