Home » Lagak Lajang

Lagak Lajang: Hari Gini Masih Diskriminasi?

16 May 2010 52 views 5 Comments

cangkirOleh: Oscar Arumi

Di kelas saya, mahasiswa dan mahasiswinya berasal dari beragam suku dan budaya, yah semacam kelas multi-etnislah namanya. Nggak usah saya sebut berasal dari daerah mana saja, yang pasti mulai dari berkulit hitam sampai putih lagi, dari yang nggak kedengaran suaranya sampai yang terbiasa ngomong dengan tekanan nada tinggi dan keras, dari yang bermata bundar sampai yang sipit, oh ya satu lagi dari yang femme, andro sampai butch, semuanya berkumpul di kelas saya.

Melihat mereka belajar bersama di dalam kelas, berjalan bergandengan ke kantin, melahap buku-buku perpustakaan beramai-ramai, atau sekadar mengantre meminta tanda tangan saya tiap kali menyusun Kartu Rencana Studi, membuat saya bangga, inilah artinya kebersamaan. Tidak sama, bukan berarti harus dibeda-bedakan. Berbeda, bukan berarti tidak memperoleh persamaan hak dan kewajiban. Hei hei hei, hari gini masih nepotisme? Hari gini masih diskriminasi? Hari gini masih rasis? Hare gene??? Ah, saya nggak habis pikir, ternyata masih ada saja yang punya pikiran sempit seperti itu. Masih saja ada.

Baiklah, saya bukannya sok nasionalis atau apakah namanya. Ingatkah apa yang terjadi pada 12 Mei 1998 lalu? Nggak usah deh bahas dari segi politiknya, tetapi lihat dampak psikologis akibat trauma rasis yang dihadapi oleh sahabat-sahabat beretnis tionghoa. Ah, saya perih kalau membahas ini, tersayat-sayat sampai ke ulu hati. Saya teringat pada seorang sahabat, yang sampai sekarang tidak pernah berani menggunakan angkutan umum sendirian. Dia takut melihat mata-mata lelaki pribumi, katanya. Oh ya, satu lagi, bila berjalan sendirian di pasar atau tempat umum yang out-door, dia selalu memakai jaket.

Saya sendiri, sempat sangat mual dan jijik melihat pria-pria bangsa sendiri berkumpul beramai-ramai tanpa ada tujuan jelas. Hm, say apun sudah mulai-mulai rasis sepertinya, tetapi ini bukan tak ada sebab akibatnya. Nggak akan saya bahas panjang-panjang, biarlah bercengkerama di kepala masing-masing tentang peristiwa apa yang pernah menimpa sahabat baik saya yang bermata sipit itu dua belas tahun lalu.

Ada lagi, peristiwa rasis yang di alami oleh sepupu saya ketika menginjakkan kaki pertama kalinya di salah satu negara sahabat yang kecil mungil itu. Namanya Muhammed Ghaffur El-Sayyid. Keluarga besar saya, namanya memang selalu berbau kearab-araban, padahal sama sekali gak ada keturunan Timur Tengah-nya. Bukan hanya nama, mungkin petugas imigrasi negara sahabat itu juga curiga melihat janggut sepupu saya yang tebal terawat. Atau, bisa juga karena latar belakang perjalanannya ke Dubai atau beberapa daerah Timur Tengah lainnya. Ditambah lagi, dia selalu membawa kitab sucinya yang berukuran besar ke mana-mana. Entahlah, yang pasti, saya masih ingat tiap detail peristiwa di mana seluruh barang dalam kopernya di bongkar habis-habisan.

Ah, sungguh mengada-ada, benar-benar memalukan. Tentu saja shock-theraphy stadium tinggi. Saya sadar benar apa yang ada di dalam kepala pihak keimigrasian itu, mereka menyangka sepupu saya itu teroris. Karena apa? Meskipun berdalih sejuta kalimat, kami sadar semua bermula karena sejumput jenggot di dagu.

Halah, baru saja membahas topik diskriminasi dan SARA, tiba-tiba saya dikabari teman baik dan kebetulan juga mengajar di kampus yang sama, bahwa pernikahannya batal karena nggak disetujui orang tuanya dengan alasan berbeda suku dan agama. Alasannya ya, prinsipil sekali. Lalu, otak saya yang kecil ini langsung berputar-putar ke masa lampau. Teringat mantan saya yang orang Bugis, Palembang, Cina, Jawa, Batak dan Sunda yang sebahagian besar berbeda keyakinan dengan saya.

Entahlah, di dalam otak saya, nggak pernah memilih-milih pasangan karena agama, suku atau bangsanya. Yang penting berjenis kelamin perempuan, tentunya. Habisnya, yah blak-blakan saja, saya nggak menikah dengan perempuan kok selama peraturan negara ini gak berubah, lalu buat apa saya harus ribet pilih-pilih pasangan? Ah, lalu kenapa pula saya masih melajang? Ah lagi, pertanyaan yang gak perlu lagi saya jawab di tulisan ini.

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2010

5 Comments »

  • my name is gina said:

    yups.pcr2 gw mlh ga ada yg satu suku, indo,batak,bali,arab.kalau ada yg beda knapa hrs sama? (kecuali jenis kelamin hohohoho)

  • Manies said:

    Indonesia itu kan bhineka tunggal ika.

  • ochi said:

    setuju gue hahaha

  • Angelo said:

    hi, salam kenal…
    stuju banget, bro!!!

  • jogjalicious said:

    Indonesia emang Bhinneka Tunggal Ika, tetapi bahaya laten SARA tidak pernah di akui, di bilang nya rukun2 aja.
    Pertanyaan yg selalu saya benci bila bertemu orang baru “aslinya dari mana bu?”
    *hanya krn muka saya tidak dominan pd salah satu suku di Indonesia, bahkan muka saya agak sedikit tionghoa*

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.