Noktah Merah: The Ladder, A Pathway to Eternal Light
Sappho, sang penyair lesbian, menulis puisi:
Kuceritakan padamu
Sesuatu: bahwa seseorang
Di masa depan
Akan memikirkan nasib kita semua
Manusia membutuhkan informasi untuk bergerak dan membangun diri. Informasi adalah harta karun yang sangat berharga, tak ternilai. The power of knowledge adalah kekuatan pengetahuan yang akan membuka mata hati, mencerahkan pemikiran, dan menajamkan indra. Semua orang – baik kanak-kanak, remaja, dan dewasa berhak mencari dan mendapatkan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Tidak ada manusia lain yang boleh memblok sesamanya untuk mendapatkan akses ilmu, apalagi lesbian melarang lesbian lain untuk mencari pengetahuan.
Inilah mengapa majalah lesbian seperti SepociKopi dan The Ladder terbit. The Ladder adalah majalah pertama lesbian yang didistribusikan secara umum di Amerika Serikat di bulan Oktober tahun 1956. Majalah ini dilahirkan oleh organisasi Daughter of Bilitis (DoB), organisasi pertama lesbian di Amerika Serikat. Nama majalah ini The Ladder, yang berarti tangga, konsep sederhana yang menggambar para lesbian agar berani dan berteguh hati naik ke atas tangga untuk menggapai langit di balik awan.
Beberapa edisi perdana the Ladder dipimpin oleh Phyllis Lyon bersama partnernya Del Martin (baca informasi tentang mereka di Noktah Merah: Lesbian From the Past Who Made A Difference). Mereka berdua memiliki pengalaman profesional di bidang jurnalisme yang sangat mumpuni. Para kontributor majalah tersebut menulis dengan menggunakan nama samaran atau inisial. Lyon sendiri mengedit The Ladder dengan nama samaran Anne Ferguson. Nama samaran penting di masa itu, karena tidak semua orang bisa coming out secara terang-terangan. Mereka perlu menyembunyikan identitas. Biodata tentang para kontributor/penulis juga disamarkan, dibedakan, bahkan disembunyikan. Para penulis menyukai sifat anonimitas di majalah ini: semua bisa menjadi siapa saja selama kamu lesbian.
Isi The Ladder adalah artikel-artikel berupa review buku, berita, puisi, cerita pendek, surat-surat pembaca, dan informasi dari Daughter of Bilitis (DoB). Mulanya, The Ladder dibungkus dengan kertas cokelat agar kerahasiaannya terjamin dan dibagikan kepada 175 orang via pos. Setelah beberapa saat, dengan kebangkitan lesbian pulp novel (baca lebih detil di Noktah Merah: Lesbian Pulp Novel) The Ladder dapat dibeli di lapak-lapak majalah di kota-kota besar dan mulai membuka kotak berlangganan. Keterkenalan The Ladder dicapai melalui informasi dari mulut ke mulut.
Apa sih visi/misi majalah ini? Halaman pertama majalah ini selalu dihiasi dengan visi/misi mereka. Inilah dia visi/misi the Ladder di tahun 1956: memberikan edukasi kepada para lesbian untuk mengenal orientasi seksualnya dengan lebih baik, memberikan edukasi kepada publik, berpartisipasi aktif dalam ilmu-ilmu sosial/sains yang berhubungan dengan pengetahuan homoseksualitas, dan melakukan investigas politik dan hukum.
The Ladder mengangkat isu-isu di seputar lesbian, misalnya isu yang berhubungan dengan “apakah pernikahan dapat menyembuhkan lesbianisme?” Isu tentang pernikahan ini diangkat habis-habisan di tahun 1959 dalam artikel-artikelnya, mempertanyakan dan memberikan inspirasi tentang konsep pernikahan, penyakit kejiwaan homoseksualitas, dan ketakutan akan keberadaan lelaki. Di zaman itu, the Ladder mengupas hal-hal yang sangat berhubungan erat dengan keberadaan lesbian di masyarakatnya.
The Ladder selalu menekankan pentingnya untuk menerima diri sebagai lesbian, berdamai, dan melepaskan tekanan dari negativitas masyarakat. “Banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan kreativitasmu kalau kamu berhenti membenci dirimu sendiri, berhenti menyakiti diri sendiri, berhenti malu terhadap diri sendiri, dan berani menciptakan hal-hal baik bagi dirimu di tengah masyarakat. Akan ada masa depan di mana homoseksualitas mendapat tempat, dan semuanya dimulai dari sekarang, diri kamu sendiri.” Itu adalah perkataan di salah satu artikelnya, ditulis oleh seorang psikoanalis.
Tahun 1957, oplah the Ladder meningkat empat kali lipat. Pemain teater terkenal Lorraine Hansberry menulis ke redaksi di bulan Mei 1957, berterima kasih karena majalah lesbian telah berhasil terbit dengan baik dan layak. Sejahrawan ngetop Marcia Gallo menulis “The Ladder adalah seluruh hidup bagi mereka yang senasib dan sepenanggungan. Majalah ini dilahirkan untuk mengekspresikan dan membagi pemikiran dan perasaan, menghubungkan hati yang tersebar di ribuan mil, memecahkan rasa kesepian dan tekanan ketakutan”. Virus majalah The Ladder menyebar, dibaca dan diapresiasi oleh para lesbian dan perlahan-lahan menembus masyarakat umum, khususnya ketika mendapat apresiasi dari tokoh-tokoh Amerika yang terkenal di bidang masing-masing.
Tahun 1963, bersama Barbara Gittings (baca Noktah Merah: Lesbian From the Past Who Made A Difference), aktivis lesbian, yang menahkodai the Ladder, majalah ini mengubah format cover-nya yang dulunya hanya sketsa gambar menjadi foto para perempuan yang bersedia dijadikan model. Cover pertama adalah foto perempuan yang mengirim gambar dirinya untuk dijadikan cover, ternyata dia berwarganegara Indonesia. Walaupun dia tidak mengizinkan namanya dipublikasikan, dia menulis kesedihannya tentang betapa terasingnya dirinya di tanah airnya.
Mulanya artikel-artikel the Ladder memiliki bobot isu yang lebih politis, tapi setelah Helen Sandoz, anggota DoB ikut bergabung di tim redaksi, the Ladder menjadi lebih santai, ringan, namun tetap mempertahankan keseriusannya dalam membangun jati diri lesbian. Sandoz terkadang menulis di kolom editorial sebagai kucingnya.
Barbara Grier – penulis Amerika yang terkenal – ikut menulis untuk The Ladder, menggunakan nama samaran yang berbeda-beda. Kebanyakan dia menulis untuk review buku-buku lesbian. Bergabungnya Grier di tim redaksi memperkukuh eksistensi the Ladder, menjadikan majalah yang semakin profesional dan keren. Walaupun Grier tinggal di Kansas City dan headquarter the Ladder berada di San Fransisko, hal itu tidak menjadi masalah. Dengan cemerlangnya para penulis dan kontributor hebat di the Ladder, di tahun 1968, oplah the Ladder menjadi tiga kali lipat lebih banyak.
Di tahun 1970, terjadi pergesekan di organisasi DoB dan tim editor The Ladder. Tekanan politik yang tinggi dan semakin ikut campurnya kekuatan LGBT di pemerintah Amerika, organisasi DoB menginginkan coming out yang lebih sungguh-sungguh dari para pembaca lesbian lainnya, sementara para pembaca lesbian dan tim editor The Ladder tidak setuju dengan pemikiran itu. Konfrontasi ini semakin meruncing, apalagi ketika Del Martin and Phyllis Lyon – dua pendiri DoB dan The Ladder memutuskan aktif bergabung di organisasi nasionalis negara: National Organization for Women.
Dengan kondisi ini, Rita la Porte mengambilalih 3,800 pelanggan dan memindahkan kantor redaksi The Ladder dari San Fransisco ke Reno, negara bagian Nevada tanpa sepengetahuan Del Martin dan Phyllis Lyon. Bersama Grier, mereka menjalankan majalah itu sampai dengan September 1972 dan terpaksa berhenti karena kehabisan dana. Para penyumbang terbesar untuk The Ladder memutuskan untuk berhenti mengirim dana ketika mengetahui the Ladder tidak berada di bawah payung DoB. The Ladder pun akhirnya harus menyerah dan tiada, tapi nyawanya terus bersambung dalam berbagai keberhasilan yang diraih oleh para lesbian di seluruh dunia.
Kini lesbian Indonesia menitiskan dan mengambil napas the Ladder dalam tubuh SepociKopi. Akankah SepociKopi mengikuti keperkasaan The Ladder dan menjadi jalan menuju cahaya? Sejarah akan menyimpan segala hal yang berani membuat perubahan dan menginspirasi mereka yang rela membuka hati. Kini kita – para lesbian sedang membangun bata demi bata, jengkal demi jengkal, dan kelancaran pembangunan ini ada di tangan para lesbian Indonesia semuanya. The Ladder dan SepociKopi, dua majalah yang berbeda zaman, berbeda format, berbeda budaya, tapi memiliki satu cara: it is our way of life in print.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2010
Keterangan gambar:
1. Salah satu edisi The Ladder yang pertama
2. Pertemuan Daughter of Bilitis membahas The Ladder
3. Salah satu cover majalah The Ladder di tahun 1957
4. The Ladder yang menggunakan model Indonesia
5. Foto Barbara Grier penulis Amerika terkenal, aktif menjadi editor dan redaksi The Ladder










Sepoci Kopi… Terimakasih,…
karena hadir dan menggantikan The Ladder saat ini untuk kami.
^-^,
Membaca ini, jujur, aq merinding.
Aq dpt membayangkn betapa besar pengaruh yg disebarkn oleh lesbian brtangan dingin spt mereka.
Perlahan-lahan membangun kekuatan dan idealisme ttg eksistensi lesbian di tengah msyrkt. Mmbangun positf thinking dg cr cerdas dan mnumbuhkn jw bsr bg pr lesbian utk dpt mnrima dirinya. Spti yg dpt aq tangkap ttg the ladder, sepocikopi pun sm dlm mmbangun mimpi akn lesbian yg dpt brkarya dan mjdi brarti di msyrkt. Walau mgkn tdk smua org (pembaca) mngtahui wujud para penulisnya.
Dan satu lagi…entah mengapa, aq membayangkn Phyllis Lyon dan Del Martin dlm bntk Lakshmi dan Alex yg aq kenal lewat tulisan mereka.
Membayangkn kalian.. mengartikan bahagia dlm benakku. Hdp brsama, mmbngun klrga lyknya yg biasa dlm khdpn hetero (tentu dg sgla keunikannya), brdiskusi dikala shrsnya, dan brsama membangun fondasi pemahaman dlm media utk shbt lesbian diluar saya. Dg sgla hormat aq tundukan kpla pd klian brdua (tentu brlaku pl bg pnls sepocikopi lainnya) utk prstasi dan khdpn yg klian jalani..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments