Oh Andro!
Akhirnya aku duduk paling belakang nggak jauh dari meja makanan dan minuman yang sudah tertata rapi. Lima belas menit sebelum break pertama usai, aku masih tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan. Pola duduk membentuk huruf U membuat mata cukup luas memandang tamu. Aku menemukan seorang andro duduk di depan. Nggak lama waktu istirahat itu pun tiba, ia menuju ke arahku. Buru-buru aku memperbaiki pose, seolah sedang menunggu pangeran melintas, eh putri ding. Dia bukan mau menyapa, tapi mengarah ke meja penuh penganan tadi.
Beruntunglah para andro, diciptakan Tuhan tengah-tengah. Beruntunglah ia yang diciptakan tampan, boyish , tapi masih kelihatan sisi kefeminiman. Jadi, bisa tebar-tebar pesona tanpa sadar sama dia. Ah, tapi dia cuek dan acuh.
Aku mencoba berdiri di dekatnya. Bagaimana memulai percakapan ini ya? Kepalaku gatal. Lima menit, sepuluh menit, Bahasa tangannya bolak-balik melihat hape, kemudian mengetikkan sesuatu, tenang sebentar, kemudian begitu lagi. Ah pastilah ia sedang berkomunikasi dengan seseorang yang spesial di ujung sana. Siapa dia, perempuan jugakah? Aku memilih kembali duduk di kursiku. Otakku terus menerus mengajak berkenalan dengan si Andro. Waktu istirahat sudah lewat. Katanya hanya lima belas menit tapi ternyata sudah lewat setengah jam. Seperti bersiap-siap disuruh pidato, akhirnya aku berdiri, lalu mendekatinya. Nekad bow!
“Eh, lama juga ya break-nya,” kataku terbata. Kikuk. Konyol. Gerakan tubuhnya membuatku merasa begitu kecil, lebih kecil dari ulat bulu. Dasar cewek kampung, aku memaki diri sendiri, yang begini aja kok nggak bisa di-handle!
“Iya, paling payah kalau panitia ngaret begini. Sayang, seharusnya bisa dapat ilmu lebih banyak.” Nadanya tenang, kalimatnya apik, dan menyatu utuh, seirama dengan suara itu. Ia memang tidak mau terlihat sebagai orang biasa. “Dua pembicara sesi selanjutnya mengangkat topik lumayan.” Matanya kembali ke hape itu lagi.
“Menurutmu, bagaimana pembicara yang pertama, Mbak?”
“Sangat berbobot, menguasai bidang yang diangkat, penalaraannya juga terkonsep, teratur, menjelaskan dengan gaya asertif. Sampai-sampai saya nggak perlu mencatat, sangat mudah diingat dan nggak berbelit-belit.”
“Iya.” Aku mengangguk sambil manyun. Dia sama sekali nggak memberiku jeda buat berbicara lagi.
“Anda pasti tahu pembicara pertama itu aktif di berbagai seminar di luar negeri. Dia pernah menjadi pembicara di PBB mewakili Indonesia.”
“Iya. Aku baca bahan yang dikasih panitia tadi,” kataku bodoh. Anda? Rasa-rasanya kita sebaya deh! Atau tampangku tante-tante banget sehingga ia perlu memanggil sebutan Anda? Atau ingin menunjukkan betapa berkelasnya ia? Dia masih melanjutkan teori-teori berat versi guru kimia waktu SMA, sulit dimengerti. Maklum, aku bukan orang teknik, aku orang sosial yang sering merasa udik begitu membaca sebuah buku baru. Eh, tadi dia bilang ia insinyur? Manager proyek di tambang apa? Aku sangat buruk mengingat nama. Yaela, barangkali dia memang bukan lesbian. Aku memang suka masyuk sendiri kalau memvonis seseorang.
“Sudah mengambil snack, Mbak? Mau saya ambilkan?”
“Boleh deh, tolong ambilkan buah dan cocktail, ya.”
Menyesal aku menawarkan diri. Huh, dasar sombong, andro jelek, belagu kelas burung emprit, dan sangat sok tahu. Tuhan, maafkan hambamu yang lemah ini, yang tak tahan bertemu andro dan ingin berkenalan. Barangkali aku harus tahu nama lengkapnya jadi bisa segera ku-google. Mungkin ia masuk top 20 orang terkaya dunia atau masuk dalam 100 ilmuwan pintar dunia, bahkan namanya sudah dicanangkan masuk daftar pahlawan Indonesia.
Kuambilkan dia nanas, kucari yang agak kotor. Pepaya yang agak lembek, melon yang sudah berair. Belum jarak semeter meninggalkan meja, aku merasa berdosa. Kumakan buah-buah jelek lebih dulu, baru mengambilkannya piring baru dan buah yang berkualitas baik. Oh, kepalaku mulai bertanduk dan aku sibuk membuang tanduknya. Sekarang mengambil cocktail. Kupakai gelas bekas saja, mudah-mudahan keracunan virus atau bakteri orang sebelumnya memakai gelas ini. Haaah, itu ada bekas gelas bapak-bapak yang merokok! Barangkali TBC-nya bisa menular ke dia…
Niat murahan itu akhirnya kutukar. Aku mengambil gelas yang paling bersih, nggak ada bercak-bercak seolah aku sedang mengambilkan gelas terbaik buat ibuku. Cocktail kutuang ke dalam gelas ramping itu. Aku berniat mencelupkan ujung jariku ke dalam gelas. Siapa tahu dia kesengsem denganku dan mau bersahabat? Aku berjalan melenggang ke arahnya. Kulihat lagi mejaku di belakang. Berkas-berkas laptop dan bahan-bahan makalah milikku masih tertata apik. Ada sekitar 200-an orang dalam seminar leadership itu. Karena datang belakangan, aku hanya kebagian kursi bagian belakang.
“ Ini, Mbak.”
Ia mengambil cocktail dulu, minum dan membiarkan lenganku memegang buah-buahannya. Memang tangan ini meja ya? Iyalah, kan karya desainer terbaik, made in Allah. Lalu ia mencolokkan garpu mini ke buah dan membiarkan tanganku masih memegangi piring. Dung pret! Tampangku memang udah kayak meja stand party? Bundar dengan dagu makin panjang meleleh akibat dongkol.
“Mbak, saya sudah makan buah di sana tadi, ini piring buahnya dipegang,” kataku kepadanya.
“Sebenar ya, takut hape saya basah. Saya habiskan cocktail-nya dulu.”
Lah, jas buat apa, ya? Bukannya hape bisa ditaruh dulu di kantong blazer? Busyet, ni orang, mudah-mudah dia kena konslet arus listrik jadi urat sombongnya putus.
“Anda dari institusi mana ya?”
“Pribadi, Mbak, saya datang sendiri, ya sendiri aja.”
“Oh!”
Ya, mengambil buah lagi, membiar tanganku masih memegang piring kecil itu. Pelan-pelan kugeser ke meja terdekat, mau meletakkan piring buah itu. Tanganku mulai dipanas-panasi hatiku. Andro belagu begini nggak bakal dipakai di SepociKopi, nggak akan disapa sama pembaca, bakalan dikutuk cacing segala cacing di dunia akhirat deh. Semua orang-orangan sawah akan memanggil namanya lewat angin Halimum di tengah malam Jumat dan akan menjadi orang-orangan sawah di musim panen berikutnya.
Tiba-tiba, dari arah podium seorang panitia tergopoh-gopoh mendekati kami. “Eh, Mbak, kenapa di belakang? Kursi Mbak di sana, itu dekat XXX. Kami dari tadi menunggu.”
“Iya, saya telat, tapi nyaman kok duduk di belakang. Udaranya lebih dingin dan segar,” kataku.
Panitia mengulurkan tangan, meminta maaf. Dia mengomel pada teman panitia lain, seolah merasa tidak enak menempatkanku di kursi paling jauh. Pengumuman pembicara selanjutnya dikumandangkan. Aku mengambil kursiku di podium, sebelumnya menyalami sekali lagi andro berbahu tinggi, berhidung penyok, berhati belukar.
“Maaf, Mbak, saya harus bekerja dulu.”
Aku sebenarnya masih gemes dengan andro ganteng itu. Setelah duduk di podium, ia tidak berhenti menatap dari tempat duduknya, bersisian dengan para manusia yang merasa tinggi hati.
“Terserah kamu, deh Mbak. Tapi aku sudah kadung mati rasa,” kataku dalam hati. Aku pun melanjutkan sesi kedua itu dengan tema Bagaimana Membunuh Kepribadian Pemimpin yang Sombong. Topik ngarang, ding!
@Ade Rain, SepociKopi, 2010










jiahh…
gw jg dulu sprti itu…btpa gemes nya wktu ntu..seolah2 gw d prlakukan sprti waitris..hufft. but,ots ok lah.. trnyata oh trnyata bbrp hri kemudian gw ket dgnny lgi..haduh.. btpa dongkolnya gw!!
v,akhirnya aq mngenalny dgn baik n skrg qt brsahabat..
^^
regardz..
hahaha.. oke lho ya
)
Oh femme!
mm, siapa andro yang anda maksud? jangan buat aku jadi merasa bersalah dan berdosa, hehee
??Hahahahaha…belagu bener andronya.pgn gw jitak.
hahahaha… ga tahan ngebayangin wajah andro nya waktu itu, sayang2 lhoh mbak ade…
suka bagian paragraf dua
mungkin andronya juga salting kali ketemu mbak ade, jadi dia mau sok cool gitu XD
hehehe,sabar-sabar ^_^
hahaha..dasar femme! jangan putus asa yaaa…
huahahahahahahaha…. haduh… mau nolong mbok ya jgn berpamrih…
hahahahaa…
keren yah…
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments