Lesbian Berprestasi, Mengapa Tidak?
Down syndrome. Itulah tema yang diangkat malam itu oleh sebuah program talkshow di televisi, program yang rutin saya ikuti setiap minggu karena tema-tema yang diangkat selalu menarik. Down Syndrome (DS) merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21). Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan. Salah satu gejala DS adalah menurunnya kemampuan mengingat (memori) fakta maupun kejadian. Kelainan DS ini berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental seorang anak.
Sesuai dengan temanya, maka bintang tamu yang dihadirkan malam itu adalah anak-anak penderita DS. Bukan hanya sekedar penderita DS, tapi mereka adalah anak-anak penderita DS yang berprestasi. Salah satu yang hadir adalah Stephanie Handoyo. Does it ring a bell? Yup, betul sekali. Stephanie adalah salah satu remaja berusia 18 tahun penyandang DS yang berprestasi di cabang olah raga renang. Selain memiliki prestasi sebagai seorang perenang muda, Stephanie juga menerima penghargaan dari MURI dengan memainkan piano sebanyak 23 lagu secara berturut-turut dalam sebuah acara musik di Semarang, Jawa Tengah.
Jika melihat kondisi Stephanie, tentu saja prestasi-prestasi yang diraihnya adalah suatu hal yang luar biasa. Begitu juga dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) lainnya, banyak di antara mereka yang mampu meraih prestasi. Tapi apa yang membuat mereka, dengan segala keterbatasan dan ketidaknormalannya, mampu meraih prestasi?
Bagi orang tua, membesarkan seorang anak dengan kebutuhan khusus seperti Stephanie, sudah pasti bukanlah hal yang mudah. Diperlukan waktu untuk memahami dan kesabaran dalam menangani ABK yang biasanya membutuhkan perhatian penuh. Dengan perhatian penuh, kerja keras dan kasih sayang dari orang tua dan lingkungan sekitar, seperti lingkungan sekolah, ternyata membuahkan hasil. Banyak ABK yang ternyata bisa menunjukkan kemampuan mereka melebihi anak-anak normal lainnya melalui prestasi yang mereka raih.
Bagaimana dengan kita para lesbian ini? Apa yang menjadi halangan bagi kita untuk berprestasi? Tidak seperti ABK yang mendapat perhatian penuh dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari orang tuanya, sebagian lesbian sering kurang mendapat perhatian. Mungkinkah itu yang menjadi faktor penyebab lesbian merasa terpinggirkan dan kurang bisa mengaktualisasikan diri dan berprestasi? Bisa saja. Tapi bagi saya pribadi, hal itu tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak berprestasi. Bagi saya, justru dengan berprestasilah kita bisa menarik perhatian, daripada merengek-rengek minta perhatian dengan cara-cara yang tidak jelas, yang malah merugikan diri sendiri dan orang lain.
Ada satu hal menarik lainnya yang saya temukan, bahwa kebanyakan orang tua ABK menganggap anaknya tidak berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Cara mereka mendidik anaknya sama seperti cara orang tua lain mendidik anak-anak normal lainnya. Hanya saja memang anak dengan kebutuhan khusus biasanya mendapatkan perhatian yang lebih khusus. Misalnya seperti dalam kasus DS ini, Stephanie memerlukan perhatian yang lebih khusus untuk bisa belajar mandiri karena keterbelakangan fisik dan mental yang dialaminya.
Bagaimana dengan kaum lesbian yang sepertinya memiliki kesamaan dengan ABK, yang notabene memiliki perbedaan dengan perempuan lain? Kalau dilihat dari pandangan umum, perbedaan yang kita miliki sebagai seorang lesbian masih sulit diterima. Lantas apakah kita harus menuntut perlakuan yang berlebih atas perbedaan yang kita miliki dengan perempuan lain, seperti perlakuan yang diterima ABK misalnya? Katanya tidak mau dibedakan dengan perempuan lain. Setengah mati kita berusaha meyakinkan orang lain bahwa lesbian normal. Mati-matian kita menolak dibilang “sakit”. Tapi kenapa malah minta perlakuan khusus?
Saya jadi teringat dengan perkataan lain dari sahabat saya ketika tanpa sengaja saya coming out. Mungkin dia melihat saya sempat down ketika dia mengingatkan saya mengenai perihal dosa. Dia bilang, “Kamu tahu, bedanya orang lain dengan kamu? Orang lain biasanya cukup berusaha satu kali lipat besarnya untuk membuktikan dirinya, sedangkan kamu harus berusaha dua kali lipat besarnya.”
Kini saya paham apa maksud sahabat saya itu. Seperti anak-anak penyandang DS, usaha mereka tidak hanya agar berprestasi, tapi juga bertahan dan menjalani hidup. Pastilah usaha itu jauh lebih besar daripada anak-anak normal lainnya. Lesbian juga demikian. Kita harus bisa memotivasi diri sendiri dan tidak mengharapkan perlakuan khusus dari orang lain. Itulah mengapa kita harus berusaha dua kali lipat besarnya dibandingkan orang lain.
Saya menulis ini bukan berarti saya sudah berprestasi. Belum. Saya belum memiliki prestasi selain memberikan ijazah sarjana untuk kedua orang tua saya. Dan saya juga tidak kekurangan perhatian dari orang tua, terlepas dari tahu tidaknya mereka mengenai orientasi saya. Tapi jika tiba saatnya mereka harus tahu, saya sudah harus bisa hidup mandiri dan berhasil dalam apa yang tengah saya kerjakan saat itu. Itu buat berjaga-jaga. Siapa tahu nama saya bakal dicoret dari daftar kartu keluarga kan? Tapi semoga saja tidak (hehehe).
Jadi, daripada kita pasrah dengan keadaan kita sebagai kaum terpinggirkan, terus-menerus merasa tidak berdaya, berada dalam zona penyesalan diri, merengek minta perhatian, bersikap melankolis dan mengasihani diri sendiri, lebih baik memikirkan bagaimana caranya kita bisa hidup berdikari dan mampu membuktikan diri bahwa lesbian juga bisa berprestasi. Sulit? Ya sudah pasti. Lantas menyerah? Ya enggak dong. Seperti kata Abraham Lincoln, “That some achieve great success, is proof to all that others can achieve it as well.” Kalau orang lain bisa, kita para lesbian ini juga pasti bisa!
@Regina, SepociKopi, 2010










Setuju dengan tulisan di atas, nice motivatory article Regina!
Jangan keluh kesah menjadi Lesbian, tapi teruslah hidup dan cari kesempatan untuk maju!
Artikel ini bagus banget deh. Menginspirasi… tapiiii…. hiks hiks…plis deh..mengapa ilustrasi gambar yang menyertai artikel ini bikin ‘ilfil” mata gw. Nggak banget deh tuh. Buat sista2 cantik yang kebagian tugas narok gambar (atau apalah istilahnya), kita-kita kan diciptakan indah and sekaligus mencintai keindahan. Ilustrasi gambarnya dipilih yang menyenangkan mata dong sayaaaang.
gut!
mari kita mandiri dan berkarya sebaiknya.
GBUs
@Morning Dew: Tulisannya bagus. Gambarnya bagus, nggak bikin ilfil, indah, dan menyenangkan mata. Dan yang sedang “kebagian tugas narok gambar” melakukan pekerjaannya dengan brilyan. Thank you very much.
*Lakhsmi
Stuju ma penulis..!! Bikin hidup lbh semangat!! Trims Regina..
Yeahh.. jangan sampe huruf ‘L’ dlm kata lesbian jadi diidentikan dengan kata LOSER karena kbanyakan lesbian lebih senang merengek minta simpati dari pada berusaha jadi pribadi berprestasi..
Hrs lbh banyak lg tulisan2 membangun ky gitu!!!
“Be a great & smart Lesbian”
I agreed with you Regina..
i like tiz artikel..
ckp membangun.
setuju banget..
harus bisa mandiri dunk.. harus berusaha membuktikan bahwa kita juga bs berprestasi..
stujuuuuuuuuuuuuu……karena eh karena jikalau menghabiskan waktu hanya dengan berkeluh kesah,ga akan megubah situasi dan kondisinya ;]
tetap semangat!!
dan jgn lupa untuk tetap bersyukur ;]
semoga yg berprestasi tambah bnyak. Dn ini bisa jd inspirasi trsendiri
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments