Home » Humaniora, Opini

Perempuan Bertanduk

4 May 2010 122 views 8 Comments

tandukOleh: Arie Gere

Harusnya kata ‘’lesbian’’ tidak termasuk dalam pengklasifikasian rasisme dalam sebuah kebudayaan. Seperti kulit putih, hitam, mata sipit, alis lebar. Makna lesbian tidak boleh jatuh kepada pengkotak-kotakan manusia. Tapi sedihnya, lesbian sendiri yang mengkotak-kotakkannya, membuatnya menjadi tertutup, ekskusif, dan hanya kalangan tertentu saja.

Kita tahu si X adalah lesbian atau si A adalah lesbian. Sudahlah, kita sama-sama tahu, nggak usah ribut di belakang layar. Lingkaran pertemanan lesbian memang itu-itu saja. Padahal komunitas lesbian sendiri telah tercipta lumayan besar. Lihat seja sekeliling, banyak lesbian di mana-mana. Tapi sayangnya, lesbian memang itu-itu saja. Nggak percaya? Rasakan saja sendiri. Berapa teman lesbianmu? Siapa pacar dan mantan dari si anu? Siapa teman pacar dan mantannya? Dia, dia, dan lagi-lagi dia.

Keterbatasan lingkup pergaulan dengan lesbian lainnya konon sanggup membuat mata seorang lesbian yang baik hati dan tidak sombong menjadi lesbian yang kejam dan tak berperasaan. Apa itu? Tuntutan hasrat dan tuntutan nafsu. Ada yang mungkin tidak percaya kalau kusebut lingkaran pertemanan lesbian pantas diberi anugrah lingkaran “setengah sejati” alias “lingkaran setan”. Saling menjatuhkan, saling merebut, saling mencakar. Baiklah, aku memang rasis. Jawabannya, lesbian adalah makhluk kejam, perempuan bertanduk. Tanduknya bisa muncul kapan saja.

Tanduk itu muncul ketika melihat kamu dan partnermu sedang bergandengan mesra. Tanduknya semakin meninggi ketika ia disakiti. Tinggi seperti sasak perempuan berkebaya. Semakin mencuat tanduknya, semakin tak kuat ia memikulnya. Itu tanduk yang paling berbahaya dan tajam. Kamu pikir, partnermu tidak bertanduk? Kamu pikir, kamu tidak punya tanduk juga? Yah sama, kamu juga punya tanduk.

Ilustrasi lesbian sebagai perempuan bertanduk hanyalah ilustrasi kecil yang berkecamuk di otakku. Sebenarnya aku marah karena kukatakan lesbian bertanduk. Dulu aku percaya seharusnya ikatan di antara lesbian semakin kuat ketika mengetahui kita adalah sama. Tetapi, tidak demikian adanya. Yang kita cintai perempuan. Apa yang kamu cintai, dicintai juga olehnya. Apa yang dia cintai, dicintai juga olehku. Berputar seperti itu.

Kuakui, aku pernah kalah dan tandukku patah. Aku lelah, kehabisan nafas, ngos-ngosan. Apa daya, tanduk yang lain ternyata memang lebih kuat. Kurenungan pemikiran ini, apa perempuan bertanduk itu semuanya jahat? Seharusnya tanduk menjadi aksesoris indah di atas kepala. Dililitkan pita kupu-kupu di atasnya, atau dicat warna-warni. Bisakah begitu? Lihat saja tandukku atau tanduknya. Ah, kau juga bertanduk rupanya. Waspadalah akan perempuan-perempuan bertanduk lain, wahai perempuan bertanduk. Waspadalah.

@ Arie Gere, SepociKopi, 2010

8 Comments »

  • Morning Dew said:

    Even unicorn yg cantik-pun bertanduk tp tanduknya bkn utk menusuk sesama. Mrk makin cantik dgn tanduk itu! Wanita, kasihi-lah sesamamu, krn 1 saat kaupun bisa merasakan luka spt yg mrka rasakan. & saat itu kau sadar yg dlu kau lukai sejatinya adl dirimu.

  • tikussJ said:

    Bener bgt tuh,persis spt apa yg ingin gue sampaikan ttg perempuan bertanduk!
    Jd lebih baik slalu positif krn smua hal terjadi krn hukum sebab-akibat.

  • shahaja said:

    Mungkin aku kurang tau adanya komunitas “L” yang marak dibicarakan dalam beberapa artikel yang aku baca belakangan ini. Mungkin komunitas “L” tersebut ada tetapi hanya aku yang tidak ada didalamnya.

    Tetapi yang aku tau, semua manusia, ntah itu “L” maupun bukan mempunyai sifat yang sama. Siandainya saja semua manusia bekerja dengan porsi yang sama, maka kesejahteraan bukan hal yang harus dicemburui lagi. Bila semjua manusia berpikir dan bertindak sesuai dengan yang semestinya, maka tidak ada kebahagiaan makhluk lain yang harus dicemburui. Seandainya tidak menjauhkan diri, maka semua manusia adalah sama … dimataku setidaknya !

  • ochi said:

    entah kenapa , aku gak suka artikel ini . kata-katanya seperti menjudge seorang lesbian .

  • donna doel said:

    hmm…ada bagian yg gw suka dari tulisan ini…”itu itu aja”..
    gw gak nyangka kalo mantan gw bisa pacaran sm mantannya-mantan dia dulu.gw kira (dengan naifnya) hubungan lesbian tuch kyk hubungan hetero yang masih mikir dua kali memacari bekas mantan mentannya.tapi toh pertemanan lesbian cuman gto2 aza.apa mau dikata.
    gw dulu pnah nyararin ex bwt pilih2 temen, kalau kita dah punya komitmen mending berteman ama hetero aza drpd digoda ma L lain, sepinter2 gw ‘ngedekep’ ex dulu toch pinter jg yang ngambil sela sela kealpaan hubungan kita,ya silahkan aja.brarti gw harus terima kenyataan sekaligus mengiyakan arie gere benar dgn tulisannya ini.so…gw milih jalan ama co skrg,bukan gw frustasi ma ce.gw cuman ngliat co sbg manusia sm seperti ce juga,cuman label doang (gender) yang membedakan, no problemo.

  • Jo said:

    Rie, mencoba berfokus pada kata tanduk yang secara harfiah letaknya ada di atas kepala dan biasanya ujungnya mengarah ke atas, rasanya tanduk tersebut gak akan menusuk dan mengganggu siapapun kecuali ada yang sengaja dan atau tanpa sengaja menduduki kepala si pemilik tanduk itu. Atau bisa juga si pemilik tanduk terlalu sering menundukkan kepalanya sehingga dengan atau tanpa sadar tanduknya mengarah ke depan.
    Menurutku, tanduk sama halnya dengan bagian lain yang dimiliki setiap manusia. Fungsinya akan bergerak sesuai dengan keinginan si pemiliknya. Melirik komentar Morning Dew, tergantung si pemilik tanduk, ingin tanduknya berfungsi sebagai bagian yang semakin memperindah dirinya, atau sebaliknya, digunakan untuk menyakiti orang yang secara tidak sadar juga menyakiti dirinya sendiri :)

  • T4nk said:

    Lesbian ato bukan, selama masi berbentuk manusia yg bernyawa maka keserakahan, egoisme, dsb akan tetap ada….
    Karena itulah sifat dasar manusia – yang akan sukses tersalur jika sedang khilaf/emosi.

    Kalo sedang marah qt sering lupa kebaikan2 orang yg qt marahin, dsb. Trus kalo orang itu tersinggung (ato emang lg bete duluan) akhirnya keadaan tambah memanas. Hubungan baek yg uda tercipta bs rusak.

    Hal itu ga ada hubungan dengan lesbian ato ga…
    Mungkin karena qt cewe ya makanya kalo lg marah langsung dikeluarin (ngambek/ngomel/mukul, dkk)….. >:p

    Jdi kayanya sebelum nanduk, qt harus bener2 tau bentuk/akibat/tujuan dari tandukan qt itu…. ;)
    Kalo uda yakin, ya jangan tanggung2 nanduknya kalo perlu tanduknya d tajamin dulu aja sebelum dpake….

  • bian_ajah said:

    humpp… yahh jangan sampe kita menjadi perempuan bertanduk dee…. jangan sampe psikopat… dunia lesbian kudu sehat lah..

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.