Home » Humaniora, Opini

Sexism & Heterophobia: Stay Away!

29 April 2010 111 views 14 Comments

stay awayOleh: Sky

Do you like men?
Hayo, mau jawab apa? Mungkin pertanyaan itu cukup aneh, terutama jika dilontarkan di sebuah webzine lesbian seperti SepociKopi ini. Ketika mengetikkan pertanyaan itu, saya bahkan sudah dapat membayangkan beberapa pembaca memberikan komentar seperti, “Yah, kalo gue suka, gue gak bakal jadi lesbian, kan?!”

Namun, pertanyaan itu mungkin memang perlu kita renungkan, setidaknya untuk beberapa lama. Saya tidak mempertanyakan ketertarikan seksual lesbian terhadap lelaki. Poin yang saya pertanyakan adalah apakah kita menyukai mereka, entah sebagai saudara, sahabat, rekan kerja, atau pun sekedar orang asing yang kita lihat di jalan? Atau apakah ternyata kita memang menghindari mereka?

Salah satu teman perempuan saya mengaku tidak menyukai laki-laki. Well, bukan hal yang salah, sih. Namanya juga preferensi. Ya, suka-suka orangnya lah. Namun, sisi yang terlihat salah di mata saya adalah ketika pengalaman tidak menyenangkannya dengan kaum Adam digeneralisasi pada semua laki-laki. Ketika ada teman yang mengeluh tentang pacarnya yang selingkuh misalnya, dia cenderung langsung berkomentar, “Emang, tuh! Dasar laki-laki!”. Pada kesempatan lain, ketika harus bekerja di dalam tim dan para anggota laki-laki sulit dihubungi atau sulit diajak bekerja sama, teman saya itu cenderung lebih mudah kesal dan enggan untuk mencoba menghubungi mereka lagi. Sementara itu, bila hal serupa terjadi pada anggota perempuan, dia cenderung lebih memberikan toleransi. Nah, lho… ada yang memiliki kecenderungan yang sama?

Hati-hati, kecenderungan seperti itu menunjukkan tanda-tanda sexism. Apa, sih, sexism itu? Sexism adalah bentuk diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Contohnya adalah ketika zaman dulu laki-laki menganggap perempuan tidak perlu sekolah dan tidak perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Contoh yang lain adalah cerita tentang teman saya tadi. So what?
Sexism bukan hal yang positif. Perasaan bahwa kita mungkin tidak membutuhkan dan tidak memiliki ketertarikan pada kaum Adam sebagai kekasih hati ataupun pemenuh hasrat seksual tetap tidak bisa menepikan kenyataan bahwa di dunia ini ada dua jenis kelamin manusia, yaitu perempuan dan laki-laki.

Sepanjang hidup, kita akan bertemu, berinteraksi, dan perlu bekerja sama dengan mereka, entah itu di bidang pekerjaan, sosial, atau yang lainnya. Apabila kecenderungan sexism itu tetap dipelihara, kita akan sulit berlaku adil dan bekerja dengan baik bersama mereka. Segala sesuatu yang perlu kita lakukan pun sulit berjalan lancar. Lagipula, sebagai perempuan, banyak dari kita tentu pernah merasa didiskriminasi dan diremehkan oleh lawan jenis. Rasanya tidak enak, kan? Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak membagi rasa tidak menyenangkan itu dengan sesama manusia, perempuan ataupun laki-laki.

Selain sexism, kita juga perlu berhai-hati agar tidak menjadi heterophobic atau memiliki tendensi heterofobia. Eh? Memangnya hal seperti itu ada, ya? Ada. Teman yang saya ceritakan di atas, selain tidak menyukai laki-laki secara personal, dia juga tidak tahan dan cenderung takut pada segala sesuatu yang berhubungan ataupun menyimbolkan alat genital pria. Setiap kali menonton film, dia juga tidak menyukai adegan percintaan antara lelaki dan perempuan, baik itu sekedar kissing ataupun lebih. Lucu? Tidak juga. Hal ini malah dapat menimbulkan masalah. Selain memperbesar kecenderungan sexism, hal ini membuat dia, yang masih stay in the closet, terlihat aneh di mata orang-orang yang tidak mengetahui preferensi atau orientasi seksualnya. Orang-orang bisa menjadi curiga, atau malah menjadikan dia bahan lelucon. Tidak menyenangkan, bukan?

The point is, sebagaimana kita menganggap bahwa orang-orang tidak seharusnya menjadi sexist ataupun homophobic, kita juga sebaiknya tidak sexist dan heterophobic. Bukankah bendera pelangi laskar LGBT menyimbolkan sexual diversity? Bukankah itu berarti bahwa sebagaimana kita ingin agar keberadaan kita diakui, kita juga mengakui heteroseksualitas sebagai bagian dari keragaman seksualitas manusia? Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita dapat menjadi contoh dari betapa manusia perlu menghormati dan menghargai jenis kelamin dan orientasi seksual orang lain. So, sexism and heterophobia? Let’s stay far away from them!

@Sky, SepociKopi, 2010

14 Comments »

  • PXM said:

    huff, sepertinya saya seperti itu, berat untuk menghilangkan rasa trauma, meski secara langsung tidak dilakukan laki2. Hanya sekarang lebih ke menyetarakan laki2 dengan kita, contoh seperti di busway, sudah ga ada kata gentlemen lagi, semua bisa berebut kursi :D dan klo ada wanita hamil/anak kecil, yang mengalah sekarang ga hanya laki2, tapi perempuan.

  • indah_oji said:

    jd bingung,kesetaraan seperti apa si yg diinginkan seorg lesbian?

  • Regina said:

    Menjadi lesbian memang bukan berarti menjadi anti laki-laki.

  • dhea dhea said:

    yap,,yap,,setuju ma PXM,, kl di bis skrg yg suka ngalah ma ibu hamil n lansia itu kok malah kaum kita ya,,yg cowo mah stay cool aja geuning,, ;) )

    terlepas dr itu semua.. bergaul malah lebih nyaman ma cowo.. no gossip.. no usil.. no cerewet etc :p

    lebih setia kawan kaum adam juga..

    tp kl dah urusan pacaran mah ta terlintas sedikitpun wat ngjalin ma kaum adam :D

    peace & love aja dah..

  • Grey a-rhea said:

    Baru tau sekarang ternyata ada artikel2 serupa karya lakhsmi dipostingan lama sepoci kopi.
    Dan saya sependapat 100% dengan isi semua artikel diatas..

  • ochi said:

    yayaaya :D

  • Morning Dew said:

    Gw gak phobia sama siapapun sih. Cuma gw inget waktu kecil gw takut banget ma yg namanya banci sapu (begitu yang orang-orang biasa sebut). Tahukah kamu, siapakah yg disebut banci sapu itu? Nih yaaa, gw kasi tau buat yg blom tau. Banci sapu adalah seorang laki-laki yg berdandan layaknya perempuan (sebutan lain: bencong) dan dia menjajakan sapu lidi/sapu ijuk. Anak2 kecil suka banget ngeledekin orang itu and so pasti dia tersinggung dong and mengejar anak2 kecil (tanpa pandang bulu) sambil mengacung-acungkan sapunya. So, dulu gw takut banget kalo papasan ma banci sapu itu. Takut digebug ma sapunya… hahahaahha. Ngetik cerita ini bikin gw ngakak ampe keselek. hahahah

  • eliz said:

    waw waw… artikel yg ngebuka mata banget, ga berasa kadang bersikap spt ini… semoga semakin membuat kita sadar, being lesbian tidak membuat kita kudu menjauhi laki-laki… just be his friend laa…..

  • donna doel said:

    ibarat warna yang macem2,lelaki pun diciptakan Tuhan bukan untuk dipermasalahkan keberadaannya. terlepas itu dari perasaan kecewa karena pernah dilukai lelaki, namun percayalah “tidak semua laki laki” begitu. kalau pun harus berulang kali ketemu lelaki brengsek, ya itu rejekimu. tapi pointnya adalah mari kita sadari bahwa kita lahir di dunia ini pun atas campur tangan Tuhan melalui sperma yang dititip di tubuh lelaki, so…tidak perlu denying khan?lesbian jalan terus, tapi gag perlu judes ke lelaki sist :)

  • Morning Dew said:

    Heheh..to ga apa yg baru kjadian ma gw? Di bìs naik ibu2 hamil berdiri pas disamping gw. Sadar ga ada 1 laki-pun yg ksh duduk, lsng gw blng scr demonstratif ke mereka ‘mas2, ini ada ibu hamil, tolong salah satu kasìh duduk donk!’ So, itu sexìsm bukan??

  • Lovelezarcher said:

    @ Morning Dew,
    Napa mesti nunggu mas2 yg ngasih duduk?

  • Morning Dew said:

    @ Lovelezarcher: krn gw ndiri juga ga dapet tempat duduk. Klo gw dapet duduk, gw bakal langsung kasih ke ibu hamil itu, ga usah pake minta ke laki2 buat ngerelain tempat duduk mereka (yaelah, kelamaan kali). Kasian banget khan, masa ibu itu hrs berdiri, mana tujuan dia ampe ujung lagi, bikin gw ga tega dgn pemandangan itu. Tapi nih ya gw liat kemaren cowok2 itu emang bisa terima cara gw yg demostratif, mereka “bisa terima dgn legowo” istilahnya. Heheheeh ya syukurlah. Lagian gw ngomongnya sambil tersenyum manis-jambu-air binti cuek gitu.
    Dari pengalaman2 gw nih, jauh lebih nyaman deh klo negur cowok ketimbang negur cewek. Cewek itu banyakan sensi-nya (iiih, capek jg kali ya klo harus menanggapi semua sensi-sensi mereka). Hiks!
    Contoh pengalaman pribadi: Gw ga suka asep rokok nih, trus ada cowok yg ngerokok dekat gw. Waktu gw minta buat matiin rokoknya, mereka pasti langsung matiin rokok itu sambil bilang maaf. Lain halnya pengalaman gw klo ada cewek ngerokok deket gw. Kalo gw minta buat matiin rokoknya, kebanyakan kejadian sih mereka pasti langsung ngelirik sinis and cuek bebek gitu. Ya gitu deh…

    Catatan:
    Untuk Morning Dew & Lovelezarcher,
    Selanjutnya, obrolan tentang tempat duduk di busway dll, sila dilakukan lewat jalur pribadi, karena sudah tidak berkaitan dengan konteks tulisan.

    Terima kasih,
    Admin SepociKopi

  • sasa said:

    ada yg tau tntang femnist anarchy ?!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.