Home » Sepocikopiana, Tentang Cinta

My Kartini

22 April 2010 44 views 8 Comments

MotherhoodOleh: Sky

Sejak dulu hingga sekarang, aku adalah anak Emak. Meskipun aku tidak bisa memungkiri betapa besarnya peran dan jasa Bapak dalam hidupku, Emak tetap yang nomor satu. Meskipun dulu Emak sering mengomel dan menggerutu karena kenakalan dan kekeraskepalaanku, beliau tidak pernah melayangkan satu pun tamparan ke pipiku atau pukulan ke badanku. Emak hanya ngomel dan marah, kadang menangis, namun tidak pernah menyakiti fisikku. Malah, jelas aku yang lebih banyak menyakiti hatinya.

Bayangkan, sejak dulu, hingga terakhir kali aku tinggal di rumah, Emak mengurusi semua keperluanku, mulai dari menyiapkan makan hingga menyemir sepatu. Memang tidak pernah aku pinta, dan mungkin dianggapnya rutinitas saja, tetapi kusadari bahwa kurangnya ucapan terima kasihku adalah sebuah bentuk kekurangpedulian di samping kekurangajaran yang nyata. Sayangnya, hal itu baru aku sadari akhir-akhir ini, setelah aku tinggal dan berjuang di kota orang sendirian.

Emak adalah sebongkah karang. Meskipun banyak lubang besar menjadi pori-porinya, dia tetap tegar menghadang dan memecah ombak. Dulu, (entah sekarang), banyak rumor yang beredar tentang Bapak yang memiliki kekasih di luar. Namun, Emak tidak pernah membagi duri itu pada anak-anaknya. Beliau hanya menyimpannya sendiri dan menangis ketika acara sinetron atau telenovela favoritnya tayang di TV. Setiap kali ditanya, bahkan digoda dan ditertawakan oleh orang-orang di rumah, Emak hanya mengatakan, “Filmnya sedih.” Kenyataan bahwa semua itu bohong, dan tangisan itu sebenarnya karena memikirkan rumor dan Bapak, baru diungkap bertahun-tahun kemudian, ketika anak-anaknya dianggap sudah cukup besar, dan segalanya telah lama berlalu.

Emak adalah tetes-tetes air yang melubangi batu. Akulah batu itu. Emak dulu memang sering ngomel memarahi ketika aku masih kecil. Namun, seingatku, Emak tidak pernah meneriaki aku ataupun kakak. Semakin kami tumbuh dewasa, semakin Emak berusaha menahan diri untuk tidak mengatur, tetapi sekedar memberi komentar dan arahan. Meskipun jelas jauh lebih tua, Emak tidak pernah sok pintar ataupun meremehkan pikiran kami, anak-anaknya. Aku memang pernah berdebat dan bertengkar lama dengan Emak dan Bapak ketika pilihan jurusanku tidak sesuai dengan keinginan mereka, tetapi mereka tidak dengan semena-mena datang ke sekolah lalu menentukan jurusan apa yang harus kuambil.

Bapak, dan terutama Emak, lebih memilih untuk beradu argumen, mengemukakan mengapa menurut mereka pendapat mereka yang benar. Semakin aku dewasa, argumen itupun semakin berubah menjadi opini dan bujukan. Emak juga tidak pernah mencampuri urusan, pertengkaran, atau kenakalanku dengan anak-anak lain di sekolah. Selama aku masih mungkin menyelesaikannya sendiri, Emak tidak akan melangkah masuk melewati gerbang sekolah.

Aku adalah batu yang dibentuk oleh tetes-tetes kasih sayang Emak. Meskipun secara fisik dan finansial aku cukup dimanjakan, secara sosioemosional Emak memberiku kebebasan dan mengajariku tentang kemandirian. Aku dilahirkan dan ditumbuhkan menjadi seseorang yang selalu berusaha bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri. Sejak dulu, setiap kali ada konflik dengan orang lain, aku selalu kena tegur dan omel Emak, bahkan ketika aku merasa bahwa itu tidak sepenuhnya kesalahanku. Saat itu aku merasa Emak lebih sayang anak orang lain daripada anaknya sendiri. Namun, sekarang aku sadar, perlakuan itu justru membentuk aku menjadi orang yang tidak lantas menyalahkan orang lain apabila yang terjadi memang tanggung jawabku. Aku bersyukur untuk semua itu.

Emak, jika saja beliau membaca tulisan ini, aku ingin mengatakan bahwa aku bangga kepada Emak. Aku bersyukur memiliki Emak sebagai ibuku. Aku ingin berterima kasih atas semua yang telah diberikan dan diajarkan padaku. Namun, Emak, selain itu aku juga ingin minta maaf.

Emak, maaf, ya. Saat ini aku berada di jalan yang tidak mungkin Emak restui. Jalan berbelok. Tikungan tajam. Penuh cemooh dan hina orang-orang. Namun, Mak, sebagaimana yang telah engkau ajarkan padaku, aku akan bertanggung jawab atas pilihanku dan tidak menyalahkan siapa-siapa. Aku justru akan berusaha tidak membuatmu malu. Aku akan terus bekerja keras untuk membuatmu bangga. Suatu hari, aku akan berada begitu tinggi di atas orang-orang sehingga saat itu Emak bisa melihatku dengan bangga dan bahagia sambil berkata, “Dia anakku, lho!”

Terima kasih, Mak. Terima kasih karena semua sayangmu, semua ajaranmu, dan semua harapmu membuatku mampu menjadi sepertimu: sebongkah karang yang siap dan kuat menghadapi terjangan ombak. Selamat hari Kartini, ya, Mak. Emaklah sang Kartini untukku. My Kartini. Aku sayang Emak.

@Sky, SepociKopi, 2010

8 Comments »

  • doris arnie said:

    well, kisahnya hampir sama dengan kisahku. mama sosok pejuang bagi kami ^^ sandaran kami bahkan ketika ia bisa dibilang telah kehilangan sandaran. tidak pernah terdengar kata2 makian or pghinaan tuk papa yg pergi bgt aj dsuatu pagi dgn kamarny yg kosong melompong_entah brp taon pa ma gak skamar *mungkin karna ada nenekku,entahlah. aku tlh kecil tu mmahami wkt itu :)

    ups, jd curhat yaw, hehehe
    satu hal ketetapanku yg tak kan brubah : Her smile is the most precious gift of all, so kan kan slalu mpersembahkan smuany tu senyum yg kan sll terkembang di wajah pnuh kasihny

    LOVE MAMA SO MUCH MORE THAN ANYTHING ^^

  • Yanari said:

    i like this, semoga Allah swt. selalu menyayangi emak anda n’ emak2 yg lain’y d sluruh dunia tentu’y emak q jg, amin.

  • Rie said:

    se7……msing2 dlm hdp kita pny so2k kartini,dy lah emak kita….
    aku slh 1 org yg sangatttt bangga dg sosok “emak”

  • night fury said:

    hohoho sampai sekarang “emak” lah yang membangkitkan semangat ku untuk terus maju..
    semoga emakku bahagia dan bangga di atas sana..

  • Secret said:

    EmakQ, . .kartiniku^_^
    hdp emaaak!

  • Nadira ditya said:

    Jd ingat ibu..Luv U mom..

  • Sky said:

    Yes! Hidup Emaaaak!!!
    (Senang, tadi pagi Emak telepon…^_^)>

  • keke said:

    “being a mother is the highest-paid-job in the world since the salary is pure love.”
    (Oprah Winfrey)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.