Home » Humaniora, Renungan

Keping Mozaik

21 April 2010 65 views 6 Comments

Leaf_by_cherriladyOleh: Lakhsmi

Aku mengalami banyak kekejaman sebagai seorang ibu yang tidak menikah. Aku pun tak bisa berbuat banyak takkala mereka merebut anak lelakiku. Aku tak punya hak, tak punya harapan, tak punya masa depan. Semua orang percaya bahwa aku telah hancur. Tapi, tak seorang pun tahu rahasia masa kecilku, mereka juga tak pernah membayangkan persekongkolan berbahaya dan klenik yang aku rencanakan demi melindungi dan menjaga anakku yang luar biasa ketika dia tumbuh menjadi pria dewasa. Beberapa orang mungkin menyebutku pembohong, karena semua yang aku lukiskan mustahil bagi seorang wanita pada masaku.

Setahun lalu, sahabat lesbianku sibuk menyiapkan kebayanya untuk peringatan acara Kartini. Dia terpilih sebagai salah satu Kartini Indonesia di sebuah acara penghargaan untuk para perempuan yang berjasa bagi masyarakat. Diadakan oleh perusahaan internasional yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan, acara tersebut berlangsung bersahaja dan sederhana. Aku tidak terpilih, tapi cukup beruntung mendapat undangan sebagai tamu VIP, duduk bersama perempuan-perempuan Indonesia hebat lainnya.

Sebelum dia tampil, aku dan dia berdiri berhadapan, menggenggam jari jemari, dan berdoa bersama. Aku tahu dia lesbian, demikian dia juga tahu aku lesbian. Malam itu – setahun yang lalu, adalah malam yang sungguh penting bagi dirinya dan diriku juga. Jantung berdegup demikian keras karena aku merasa bangga dan berbuncah melihat seorang lesbian tampak bersinar dan cemerlang, lalu memperhatikan bagaimana orang-orang menaruh hormat kepadanya.

Hari Kartini di malam itu sampai hari ini – dari dulu dan sampai sekarang – biasanya dianggap sebagai perayaan kemenangan atas hak-hak perempuan Indonesia. Tataplah tajam-tajam pada kemenangan yang memiliki wajah rupawan nan elok. Kemenangan adalah gambar dan rupa tiada cacat yang cenderung menjadi bias dan terdestortasi oleh si pengamat yang tak jeli. Kemenangan menimbulkan perasaan kebahagiaan dan kepuasan, puja puji dan kesenangan, dan tarian sinar yang menyilaukan. Dalam keheningan, kemenangan membutakan kenyataan yang bersembunyi di baliknya.

Manusia lebih terpesona dengan kemenangan, siapa yang tidak? Siapa yang ingat bahwa kemenangan dibangun atas bangunan rasa sakit dan penderitaan yang menyengat, kekalahan yang bertumpuk, dan ego yang harus ditanggung mahal? Kekecewaan dan kematian? Kebutaan dan kehilangan pegangan? Empasan perih dan penganiayaan tak berkesudahan?

Hari Kartini penuh dengan perayaan, long march perempuan berkebaya dan bersanggul, dan deretan bio tentang perempuan-perempuan hebat yang berkarya di masyarakat. Padahal sesungguhnya ratusan tahun lalu, Kartini sendiri adalah korban, bukan pahlawan yang menang. Ia mati muda di usia 25 tahun setelah melahirkan anaknya yang pertama. Ia kalah pada budaya, sosial, pendidikan, bahkan ia juga kalah pada takdirnya sebagai seorang ibu – melahirkan.

Sebab itu, ingatlah tentang kekalahan. Ingatlah tentang penindasan. Ingatlah tentang belenggu. Ingatlah tentang air mata. Sebenar-benarnya, itulah yang kita rayakan pada jiwa Kartini di hari Kartini. Kita mengenang tentang menanggung kekalahan. Kita mengenang tentang menahan tekanan di bahu. Kita mengenang tentang satu langkah mundur ke belakang. Di tengah keriuahan para perempuan tampil menonjol dengan auman keberingasan mereka di gelanggang masyarakat, ingatlah tentang lengkingan mereka menanggung lecutan cemeti ketika terkunci di balik jeruji.

Suara Kartini adalah suara lirih, ia tidak menjerit atau berteriak. Namun kelirihan suaranya menggema sampai panjang, seperti angin sepoi-sepoi yang mampu menidurkan orang daripada angin kencang yang menggigilkan tulang. Kelirihan suara atas penderitaannya itulah yang pantas ditiru oleh para lesbian yang juga memiliki suara lirih. Lirih suara lesbian bukan rengekan putus asa atau gumam komplain. Ia juga bukan desis nyinyir atau bisik gosip. Lirih suaranya menjadi penanggungan atas deritanya dan menjadi dimuliakan karenanya.

Tahun ini, giliranku yang terpilih sebagai Kartini Indonesia di malam istimewa. Sahabatku akan hadir, ada di sebelahku ketika aku menenteng kebaya brokatku karya desainer Indonesia. Kebaya adalah simbol hari Kartini juga, ketika langkah menjadi terbelenggu dalam bebatannya, ia malah menjadi sumber kekuatan. Sahabatku akan duduk di depan, di deretan VIP dengan pasanganku. Melihat gemerlapnya perayaan Kartini, aku memikirkan wajah ganda gemerlap penderitaan yang di malam itu justru akan dirayakan dengan lirih oleh para lesbian, termasuk diriku. Tanpa korban, takkan ada pahlawan. Tanpa penderitaan, takkan ada kekuatan. Penderitaan adalah pintu pertama perlawanan terhadap penindasan.

Sebelum aku mengakhirinya, aku ingin kembali ke paragraf pertama tulisan ini yang bercerita tentang kekejaman dan kesunyian yang ditanggung oleh seorang perempuan. Namanya Caterina. Pada tahun 1452, ia melahirkan seorang bayi  di desa kecil Eropa. Dia mengubah dunia dengan penderitaannya dan dikenal sebagai bundanya Leonardo Da Vinci.

Salam para lesbian Indonesia, dalam suara sunyi dan keping-keping mozaik penderitaan kolektif kita semua, kita rayakan hari Kartini dengan hati secemerlang malaikat dan binar mata penuh pergulatan.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2010

6 Comments »

  • secangkir kopi, sebatang rokok dan seorang teman said:

    ermmm selamat hari kartini untuk kamu dan perempuan lainnya..

  • Morning Dew said:

    Hmmm.. memang, postingan yang pertama tadi ada message error dari Biznet (akhir-akhir ini koneksi Biznet selaluuuuu nyebelin). Mungkin ga terkirim. Yo wis, posting lagi.

    Duhai ibu Kartini-ku
    Habis gelap terbitlah terang…
    Alangkah tidak mudahnya bagi-mu menyalakan sebuah “terang” dalam keadaan “gelap gulita”. Terbayang olehku, kau terseok-seok mencari “lampu pelita” dalam kegelapan. Lantas bersusah payah mencari “korek api” untuk menyalakan pelita tersebut untuk kami, perempuan. Sekarang, saat ini, kami telah mendapat terang dari pelita-mu.
    Duhai ibu Kartini-ku
    Untuk segala perjuangan-mu : Semoga Tuhan menerangi tempat dimana kini engkau tengah berbaring dengan cahaya yang indah, kemilau, dan bersinar terang. Amiiin…

  • marmalade said:

    selamat hari kartini girls…

  • Garcon said:

    Parah! Tulisannya bgus bgt ka :) bner” hrus drenungin nii

  • Sabishii said:

    buat perempuan2 hebat: tetaplah kuat dan pantang menyerah. Semangat .
    Tulisan lakshmi emang T.O.P B.G.T // awalnya ditulis begitu membuat tanganku mengklik “read the rest of this entry”

  • desta said:

    tulisan mu sangat bagus lakshmi… dan sungguh ini sangat pantas direnungan oleh semua perempuan jaman sekarang, karena perjuangan Kartini sangat besar hingga kita bisa seperti sekarang

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.