Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Film Indonesia dan Kita

30 March 2010 243 views 9 Comments

filmOleh: Nuha Guwa

Dua tahun lalu dalam sebuah pertemuan dengan beberapa ahli pertanian dunia di Jakarta, pipi saya sempat memerah ketika beberapa tamu dari Afrika, India, dan Amerika Tengah, menyempatkan diri menonton film kita yang namanya berbau-bau hantu itu. Meskipun dibuat dalam bahasa Indonesia tanpa subtittle tampaknya para tamu tadi paham benar bahwa sebenarnya yang dijual bukan kisah hantu, tapi adegan-adegan uniknya. Mereka menyimpulkan film horor Indonesia tersebut tak membuat kuduk mereka bergidik ngeri, malah tertawa mendapati bahwa ternyata selera rata-rata warga negara kita masih sedahangan (Baca: sekitar dada, paha dan selangkangan).

Waktu itu saya masih berkelit bahwa mereka salah memilih film. Namun saya tak lagi bisa mengelak ketika awal tahun ini kontestan pertemuan ahli pertanian itu datang lagi ke Indonesia dan lagi-lagi terkaget dengan suguhan film Indonesia; yang saya sendiri malu menerjemahkan judulnya ke dalam bahasa Inggris. “Would you translate the title of ‘Suster Ngesot’, ‘Suster Keramas’, ‘Hantu Binal Jembatan Semanggi’, and ‘Hantu Puncak Datang Bulan’?” Terus terang saya tidak tega menerjemahkan sebuah kebohongan ke dalam bahasa Inggris. Bisa ajakan saya bilang Suster Ngesot itu The Hero Nurse. Aduh, teman-teman lesbian, coba bantu saya menjelaskan arti film-film itu kepada mereka dengan bahasa yang indah.

Nggak perlulah kita menutup-nutupi, kita juga tahu bahwa 90% fim horor Indonesia memang berbau pornografi, kalau nggak siapa juga mau nonton, sudahlah seram ditakut-takuti pula. Di dunia perfilman Indonesia film horor merupakan metafor dari film panas. Karena para pemainnya – terutama para perempuan – sepertinya selalu merasa kepanasan sampai harus selalu menggunakan busana seronok yang jauh lebih cocok dipakai saat berlibur di pantai. Busana semacam itulah yang mereka pakai dalam adegan-adegan menyelidiki kuburan tua atau rumah berhantu di malam hari, bener nggak? Terus terang saya tidak mau merendahkan kawan-kawan yang bermain dalam film tersebut, pastilah mereka sudah berupaya ber-acting dengan bagus, namun tendensi produser yang dikemas dalam skenario berplot-plot aneh itulah yang membuat saya gerah dan ketakutan sendiri. Bagi saya, yang mengerikan dari film horor Indonesia bukanlah hantu yang ditampilkan di film itu. Melainkan bayangan negara lain terhadap watak dan karakter orang Indonesia yang didapatkan dari film horor semacam tadi.

Mereka mengakui sih bahwa pemain filmnya cantik-cantik, tapi nggak taukan kalau di mata kita sebenarnya alur ceritanya lebay jaya banget, betulkan? Konon genre horor seharusnya menimbulkan ketakutan, tapi tamu-tamu tadi malah geli karena hantunya sering kelihatan. Coba bandingkan dengan film Freddy Krueger yang jarang banget nongolin diri, barangkali karena tampaknya jelak serem dan nggak seksi yah jadi sesekali aja ketika ia muncul, namun jantung penonton benar-benar dibuat copot ketika ia tiba-tiba nongol di belakang pemain utama! Ayo, siapa yang sudah menonton Suster Ngesot atau Suster Keramas? Berapa kali mereka nongol di layar? Bandingkanlah… Setelah mencoba berkilah ini-itu, begini begitu saya berkesempatan membawa teman-teman tadi pada film yang lumayan menolong memperbaiki image tadi: Sang Pemimpi. Terobatilah malu saya! Begitu pulang ke tanah airnya saya juga membelikan mereka oleh-oleh DVD/VCD Ada Apa Dengan Cinta, Ayat-ayat Cinta, Naga Bonar I dan II, Garuda di Dadaku, Laskar Pelangi, Berbagi Suami, Arisan, dan Petualangan Sherina. Terhapuslah gelisah malu tadi!

Berkaca dari pengalaman di atas, bagaimana sebenarnya keadaan dunia perfilman kita? Bukankah industri film telah mengalami beberapa kali pasang surut. Dari era Usmar Ismail ke era Asrul Sani, Syuman Djaja,Wim Umboh, Teguh Karya,Slamet Raharjo, Sophan Sophian,Garin Nugroho hingga era Rudi Sujarwo. Dari era Raden Mohtar, Bambang Hermanto, Chitra Dewi,Titin Sumarni,ke era Sukarno M Noor, Rahmat Hidayat, Lenny Marlina, Widyawati, Benyamin, Deddy Mizwar, Christine Hakim,Warkop hingga ke era Rano Karno,Tora Sudiro, dan Dian Sastrowardoyo. Apakah kini kita harus lagi mengalami masa kemunduran tersebut? Cukup lama film layar lebar istirahat karena dikalahkan oleh sinetron. Ada beberapa sinetron yang bagus dan menghibur serta mendidik, ingat nggak dengan serial Losmen, Si Doel Anak Sekolahan, Mahkamah. Namun, kini sinetron yang ada umumnya tidak bermutu. Film layar lebar yang bagus adalah produksi era masa lalu yang cukup lama seperti November 1828, Cut Nyak Dien, Apa Yang Kau Cari Palupi?, Nagabonar, dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Mari mengenang 29 Maret 1999 ketika keluar Kepres No. 25 yang ditandatangani Presiden B.J. Habibie, beliau menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Pada tanggal tersebut di tahun1950, untuk pertama kalinya dibuat film Indonesia yang semuanya dibuat dan diproduksi oleh perusahaan film pribumi. Film tersebut berjudul Darah dan Doa, yang mengungkapkan hijrahnya pasukan Siliwangi. Semula film tersebut akan menggunakan judul Long March dan rencananya akan dikirim ke Festival Film Internasional di Cannes. Sayang penggarapannya terlambat, akibat menyusutnya nilai uang setelah pemerintah saat itu melakukan pemotongan nilai uang. Modal untuk syuting film tersebut tidak mencukupi karena nilainya turun drastis. Film tersebut bisa diselesaikan sepenuhnya, setelah sutradara/produser Usmar Ismail. Kini beberapa film kita sudah diikutsertakan di dalam festival bergengsi di luar negeri, tetapi belum berhasil. Usaha itu patut dihargai.

Sebagai lesbian tentu kita boleh memberikan kontribusi positif terhadap perfilman Indonesia tadi, paling tidak mengkritisi film-film yang sedahangan tadi. Atau dukung film-film yang penuh kreatifitas dengan cara membuat resensi dan apreasi di blog-blog pribadi. Jika ada poling khusus film mana yang terbaik, ikut andillah memberikan suara itu, paling tidak penghargaan pada pembuat film kita lebih terpacu lagi. Kita berharap perfilman nasional bukan hanya berkualitas tetapi juga konstruktif membangun kemajuan negeri dan turut memperbaiki negara ini. Film bisa menjadi sarana iklan moral modern, dna terbukti efektifitas dibanding media sarana lain. Seperti dinyatakan pakar komunikasi bahwa satu jam film lebih berpengaruh daripada satu pekan ceramah, well…kalau ceramahnya “horor” kayak yang ditonton tamu-tamu asing rasanya berabe juga! So, mari lesbian, dukung film-film Indonesia bermutu! Selamat hari film nasional.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

9 Comments »

  • tweet-tweet said:

    di paragrap ke 6—>film tersebut bisa diselesaikan sepenuhnya, setelah sutradara/produser Usmar Ismail

    maksudnya?
    sinetron Doel emang gak ngebosenin, tetep lucu biar udah diputer berkali-kali ^^b

  • coffee latte said:

    Bener banget. Tiap kali gw nonton film horor indonesia, bukannya ngerasa takut. Tapi malah ngantuk ato malah ketawa ngakak waktu liat hantunya. Belum lagi judulnya yang lebay banget. Contohnya aja suster keramas, lah sapa juga yang perduli kalo itu suster keramas? Kenapa sih nggak bikin judul yang gak aneh”.

    Gw memang bukan ahli perfilman, tp sebagai penonton gw juga pengen dapet sedikit tontonan yang menghibur tapi nggak lebay. Moga” perfilman d indonesia bisa menghasilkan film” horor yg semakin bermutu n bener” horor tanpa kebanyakan bagian “sedahangan”.

  • meliâ said:

    mel kebetulan tdk terlalu suka film horor,tp mel nonton sang pemimpi….waw,kagum benar2 bahwa ternyata ada film indonesia yg layak untuk di tonton.mel ikut bangga,bahkan tergerak u menjadi orang yg lebih baik.bagi mel film yg bagus bukan hanya gambar yg indah,akting yg bagus,dll.film yg bagus adalah film yg bisa memberikan insprirasi,ataw bisa membuat kita melihat dari sisi yang berbeda dan menambah wawasan.mel ga sabar u menanti film2 berkwalitas dr anak bangsa :D

  • greyshen said:

    Jika melihat gambar2 di layar bioskop saya biasa berkata “saya menyesali kebangkitan film layar lebar nasional yang diawali oleh AADC” bisnis film itu kan melihat dari konsumen, jadi menjamurnya film2 itu karena menarik konsumen…mungkin bisa dirubah kalau saja konsumen lebih selektif dan kritis terhadap film2. Jadi mari kita lakukan seperti saran di paragraf terakhir :)

  • NUHAGUWA said:

    dear tweet; memang ada kata yang kurang thank you atas kejelianmu; yang benar, ” setelah diambilalih sutradara/produser Umar Ismail ”

    @greyshen thank yup!
    @melia sang pemimpi emang yahud
    @coffe latte ketawa ngeliat hantu memang cuma ada di film kita

  • ardha said:

    atas nama komersialisme, smua idealisme tersingkir. lahirlah film2 miskin ide stadium parah. sbg penikmat film yg baik, ayo qta dukung kebangkitan (lagi) film Indonesia berkualitas dgn cara tdk menonton film ecek2 itu. dilirik pun jangan. hehe… pgn deh memberangus film2 horor gak penting & gak jelas.

    truss… wahai ibu2 & bpk2 yg duduk di LSF, tolong dong lbh proaktif bergerak. supaya tontonan qta lbh bermutu, bkn sekedar jual badan yg gak ada juntrungannya.

  • vivo said:

    Membayangkan jagat film Indonesia tanpa film aneh-aneh, rasanya hanya semacam utopia saja. Wong pasar masih ada, lagi pula perlu tidaknya keberadaan lembaga sensor masih juga diributkan. Saya setuju, betapa mengerikan membayangkan negara lain berpikir tentang watak dan karakter bangsa ini jika melihat film-film jahiliyah.
    Untuk penggunaan kata “mengkritisi” pada paragraf terakhir, apakah tidak sebaiknya “mengkritik” sesuai KKBI. Mungkin tulisan Sori Siregar, “Kritisi dan Fundamental”, Majalah Tempo online, 11 Agustus 2008 dapat menjadi acuan. Terima kasih, salam.

  • Lafé said:

    Cm bisa mesam mesem liat daftar pelm horor Indonesia!! Btw, koleksi yg elo ksh k thu bule2 krng 1,yaitu Daun diatas Bantal!!!

  • Belva said:

    Nanti bakal ada sekuel film suster ngesot, jdl nya “Suster Ngesot Bisa Jalan! (Horee..)”

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.