Home » Gaya Hidup, Mix n' Match

Mix ‘n Match: Soldier of Love

28 March 2010 86 views 2 Comments

sade-soldier-of-love-album-coverOleh: Shinigami

Setelah lama vakum, Sade kembali menyapa para penggemarnya dengan album Soldier of Love (Sony Music) yang resmi dirilis secara internasional pada 8 Februari 2010 lalu. Band asal Inggris ini—ya, Sade adalah band yang memang mengambil namanya dari nama panggilan vokalisnya, Helen Folasade Adu, atau yang lebih dikenal dengan Sade Adu—tetap begitu dinantikan oleh para penggemar setianya; fakta bahwa album tersebut langsung menempati #4 pada UK Album Chart serta menjuarai U.S. Billboard 200 pada waktu diluncurkan adalah buktinya.

Berjarak delapan tahun dari Lovers Live (Epic Record), album berisikan lagu-lagu mereka yang direkam live sewaktu tur konser di Amerika, Soldier of Love menyuguhkan sepuluh lagu yang tak mengkhianati esensi bermusik band yang beranggotakan Sade Adu (vokal), Andrew Hale (keyboard), Stuart Matthewman (gitar dan saxophone), serta Paul S. Denman (bass) ini. Struktur musik, vokal, serta lirik lagu-lagu di album ini mempunyai jiwa yang serupa dengan album-album sebelumnya sehingga seakan menyangkal fakta bahwa mereka telah absen sekian lama.

“The Moon and The Sky” dijadikan nomor pembuka. Alunan mendayu suara gitar di intro lagu ini seakan mengingatkan pendengarnya pada citra musik Sade, melemparkan kita pada ingatan atas lagu-lagu mereka yang memberi ruang bagi permainan solo alat-alat musik seperti “Jezebel”di album terdahulu yang dibuka dengan rayuan saxophone. Pada track kedua, kita akan menjumpai lagu yang dijadikan judul album. Sekilas, untuk masa yang singkat, suara string dan drum pada intronya bisa mengingatkan pada “Mercy” milik Duffy. Namun kesan itu langsung buyar begitu irama drum membentuk pola tetabuhan genderang perang atau derap baris sepasukan tentara, beat yang sangat sesuai dengan judul lagu: “Soldier of Love.” Bila “The Moon and The Sky” mengusung tema cinta, maka “Soldier of Love” berbicara tentang menjadi tegar dan berjuang tanpa kenal putus asa setiap hari. “Morning Bird” yang menyusul memberikan nuansa yang lebih kontemplatif melalui bunyi piano/keyboard yang sesekali menimpali bunyi gemerincing yang hadir sejak awal hingga akhir lagu.

Sade tak membiarkan kita berlama-lama merasa sedikit sendu dalam kontemplasi, sebab “Babyfather” yang bercerita tentang arti seorang anak bagi orangtuanya kemudian hadir dengan irama yang membuat perasaan menghangat. “Your Daddy’s love comes with a lifetime guarantee,” adalah salah satu liriknya. Tema bagaimana ketabahan dan kasih sayang kerap menjadi obat bagi hidup yang kadang compang-camping kembali hadir di dua lagu berikutnya, “Long Hard Road” dan “Be That Easy.” Mendengar dua lagu ini seperti merasakan tangan kita digenggam erat pada saat-saat gundah. Menenangkan dan membuat kita percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Ada kekuatan dalam melodinya yang mellow.

Sedikit variasi muncul pada lagu “Bring Me Home.” Temponya yang relatif lebih up-beat memberikan kesegaran di tengah alunan lambat yang telah berturut-turut hadir. Track berikutnya, “In Another Time,” membuat kita terhanyut, terutama saat bunyi saxophone dan string berdansa pada interlude yang cukup panjang, menyatakan kepiawaian musik Sade. “Skin” yang berbicara tentang melepaskan orang yang dicintai disusul dengan “The Safest Place” yang memberikan penutup cukup cantik bagi album ini.

Jadi, apakah album ini termasuk must-have album? Tergantung. Saya telah menyebutkan bagaimana album ini secara jiwa cukup menyerupai album-album sebelumnya. Menurut saya, hal ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan Soldier of Love. Bagi yang mengharapkan perubahan signifikan setelah mereka absen sedemikian lama dan setelah dunia menyaksikan begitu banyak perubahan di dunia musik sejak 2002, album ini mungkin tak akan mengabulkan harapan itu. Kekecewaan mungkin akan diperparah dengan relatif sedikitnya lagu-lagu catchy di album ini dibandingkan album-album sebelumnya. Namun mereka yang telah lama jatuh hati dengan gaya musik Sade akan mendekap album ini dengan hangat penuh rasa akrab dan kerinduan. Nah, bagaimana dengan yang baru pertama kali ini mengenal Sade? Menurut saya sih jangan mulai dengan album ini. Buatlah diri kalian jatuh cinta lebih dahulu pada kelompok yang mulai bermusik pada tahun 1983 ini melalui banyak nomor catchy yang terdapat di Lovers Rock (Epic Records, 2000),  Lovers Live (Epic Records, 2002), atau mungkin yang termudah adalah The Best of Sade (Epic Records, 1994). Setelahnya, mencintai Soldier of Love akan lebih mudah.

@Shinigami,  SepociKopi, 2010

2 Comments »

  • Belva said:

    Thanx ya infonya. Trnyata Sade msh eksis, i’m glad! Wah, koleksi album Sade-ku hrs ditambah nih.

  • Regina said:

    I’ve got the album! Nice review :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.