Home » Sepocikopiana, Tentang Cinta

Love Doesn’t Count

27 March 2010 147 views 13 Comments

L_O_V_E__by_IceandSnowOleh: Frizzy Jo

Berapa lamanya sebuah hubungan percintaan yang kamu harapkan?  Seribu tahun lamanya seperti kata Jikustik? Mungkin sedikit berlebihan. Kita turunkan sedikit deh. Ratusan tahun? Puluhan tahun? Atau bagi yang agak realistis, lima tahun, mungkin? Atau sekalian saja memilih seumur hidup sebagai tolok ukur lamanya hubungan yang kamu harapkan, yah, biar terlihat sedikit romantis di mata pasangan, boleh dong.

Terus terang, aku sendiri belum pernah awet dalam menjalin hubungan dengan yang namanya perempuan. Setidaknya dengan perempuan-perempuan lain sebelum dengan perempuan yang sekarang kerap menemaniku menjalani hidup. Rentang usia hubunganku dengan mantan-mantan kekasih beragam. Dari hubungan selama dua minggu sampai yang paling lama adalah dua bulan. Itu belum dipotong masa diam jika sedang ribut dengan mantan. Akibatnya bisa diterka, aku dicap player yang suka tebar pesona yang dengan mudahnya berganti pasangan.

Awal hubunganku dengan Mei, partnerku yang sekarang, tidak lepas dari trauma akibat gagalnya hubunganku dengan mantan partner. Aku dengan bodoh berjanji pada diriku bahwa hubunganku dengan Mei akan menjadi hubungan yang paling lama dibandingkan dengan hubungan-hubungan lain yang pernah kualami. Jariku mulai giat melingkari setiap tanggal hari jadi kami setiap bulan. Catat! Setiap bulan! Dan aku akan merasa gelisah saat hubunganku dengan Mei mendekati angka dua. Angka dua? Yup, betul sekali. Angka yang sebelumnya kuanggap sebagai kutukan karena aku selalu putus dengan mantan di angka dua. Dua minggu jadian, dua bulan jadian, putus pada tanggal dua, jam 2, dan semuanya itu otomatis membuat aku menjadi paranoid.

Setiap hubunganku dengan Mei berhasil melewati angka kutukan itu, aku akan sujud berdoa kegirangan. Target selanjutnya adalah melewati dua bulan pertama untuk membuktikan bahwa aku juga bisa serius dalam menjalin sebuah hubungan dan mengutip lirik lagu Mus Mudjiono yang pernah ngetop dulu “Engkau bukan yang pertama, tapi pasti yang terakhir…” seperti itulah harapanku bersama partner.

Paradigma itu terus memenuhi kepalaku hingga suatu hari sebuah kalimat yang dipasang oleh seorang sahabat dalam status fesbuk-nya membuatku sadar akan kebodohanku. Bukan tentang berapa lama kalian bersama, tapi tentang seberapa banyak kebaikan yang kalian kumpulkan selama bersama. Mungkin sahabatku ini telah lupa dengan kalimat status yang pernah dia pasang, namun kalimat inilah yang kemudian mengubah hidupku. Benar-benar mengubah hidupku.

Selama ini banyak pasangan yang berlomba-lomba menjalani sebuah hubungan dengan mematok waktu sebagai ukuran. Semakin lama jalinan sebuah hubungan, maka mereka semakin merasa bahwa cinta mereka sudah cukup dewasa untuk mempertahankan hubungan sesama jenis mereka. Ternyata salah besar. Banyak juga pasangan yang hubungannya telah mencapai masa lebih dari lima tahun dan akhirnya terpaksa kandas di tengah jalan. Sebagian dari kita bahkan percaya bahwa usia tiga tahun dan lima tahun adalah usia yang rentan bagi sebuah hubungan. Hmm… mungkin ada benarnya juga.

Namun dari kalimat sahabatku aku menangkap sebuah pesan yang indah. Aku telah terbiasa menjalani sebuah hubungan dengan terlalu fokus pada hubungan kami. Pada status hubungan kami. Pada semua perbuatan yang dilakukan oleh partnerku. Dan pada lamanya hubungan kami berjalan. Ternyata langkah yang kuambil tidak terlalu tepat untuk menjaga api cinta kami. Tanpa sadar aku melupakan hal penting yang justru dapat mengikat kami berdua. Sebuah hal penting yang nilainya jauh lebih tinggi daripada sekedar seks yang hebat. Sebuah hal indah yang nilainya jauh lebih sakral daripada sebuah status dan komitmen. Hal istimewa yang nilainya lebih keren daripada sebuah pengakuan. Sebuah hal suci bernama kebaikan.

Yup. Ternyata sahabatku benar. Semua ini bukan tentang berapa lama aku dan partner bersama dalam menjalin hubungan percintaan. Bukan tentang “Mau dibawa kemana hubungan kita?”. Bukan tentang “Apa dia mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hatinya?”. Tapi semuanya adalah tentang seberapa banyak kebaikan yang telah aku dan partner kumpulkan selama kami bersama.

Hubunganku dengan Mei telah berjalan satu tahun lima bulan. Dan kali ini aku tidak mau berhitung. Tidak jika untuk berharap waktu segera berlalu hingga aku berhasil melewati dua tahun usia hubungan kami. Life is about making choice. Face your past with no regret. Handle your present with confidence. Prepare for your future with no fear. Aku memilih untuk menikmati hari-hariku bersama partner terkasih dan bersamanya mengumpulkan kebaikan-kebaikan yang akhirnya dapat kami rasakan dalam hati kami masing-masing.

@Frizzy Jo, Sepocikopi, 2009

13 Comments »

  • tweet-tweet said:

    aku anak baru sih yaa
    baru tau lho,
    dicap player? qeqeqe

  • genie said:

    Setuju berat dengan pendapat sahabatmu itu, dan mungkin sedikit menambahkan bukan kwantitas tapi kwalitas yang di utamakan dalam berhubungan………….Banyak cara untuk menunjukan cinta kasih bukan hanya sex semata…………….

  • inviziblegurl said:

    “likeyy..^^”

  • Tim said:

    Emang nggak gampang nyatuin dua orang apalagi yang jenis kelaminnya sama, kayak nyatuin dua magnet yg kutubnya sama,koq aku jadi pesimis gini yah…
    Monster jomblo pliis dont eat me…..

  • Dwi said:

    Tapi…sex juga perlu loh dalam berhubungan,tanpa sex….suatu hubungan…akan terasa hampa…..

  • Yaaku said:

    @dwi,,ngikut…:-)cinta adlh memberi n memberi,kebaikan tentunya.begitu pula dg partner klw dia cinta pastinya dia akan memberi n memberi kebaikan,so setiap pasangan akan sll menerima kebaikan dr sang partner.’lho kog muter2,mudeng ora?

  • klasik said:

    nah mending gt,daripada kaya kris dayanti “menghitung hari aja” atau kaya kariawan “menghitung gaji”,kaya peternak “menghitung babi”

  • Amel said:

    great..
    q stju bgd…!!!
    ntu yg q pkirk skrg…kbaikn dmi kbaikn yg aq n patner q lkuin..
    wlpun hub qmi bru smlem brhir,,,
    V,aq sllu brusaha trsexum n bhgia klo mngingat ttg smua hal kbaikn yg qt lkuin breng…hmff

  • Belva said:

    Hmm..kalo dihitung2 bulan depan adalah yg ke-2 tahun buat aku n partner, gak kerasa 2×365 hari dah dilewati (hehe..jd curhat) kuantitas mungkin pentingm tp lebih penting kualitas hubungan kt sm partner, salah satu kuncinya adalah komunikasi dan toleransi!! begitulah kira2…

  • De Ni said:

    Betuuuulll, Yang penting adalah kualitas sebuah hubungan Jo…

  • greyshen said:

    yap, setuju banget apalagi sedang mengalami keadaan yang mirip2 juga. pembelajaran yang bagus.

  • atrata said:

    ini bukan tentang sebuah komitmen,.. ini tentang kebahagiaan,..

  • Ely said:

    sex tetep jalan, buat kebaekan itu so pasti bos.
    Tp gmn nih soal DOSA hmmmmm, selalu menghantui

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.