Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Hari Air Sedunia dan Kita

23 March 2010 1,119 views 2 Comments

save-water-save-lifeOleh: Nuha Guwa

Bagi yang tinggal di kota besar pasti menyadari jika pelayanan air yang diberikan pemerintah melalui BUMN-nya semakin hari debitnya semakin kecil. Banyak orang mulai menyedot gurita pipa-pipa air bawah tanah dengan menggunakan mesin pompa; meskipun sebenarnya hal itu dilarang. Tapi jika tidak demikian maka air tidak mengalir, apalagi rumah yang bertingkat. Air yang naik ke ruang atas hanya menetes seadanya bahkan acapkali hanya terdengar suara mengorok, grok grok… nggak ada airnya. Ketergantungan dengan mesin penyedot itu juga terganggu jika listrik padam, ke mana mencari air?

Baiklah, stok air kita barangkali masih cukup. Tapi mengecilnya debit air yang mengalir ke rumah kita tersebut sebenarnya “alarm”, bahwa sumber kehidupan tersebut semakin sulit di manajemenisasi karena jumlahnya semakin terbatas. Negara kita barangkali tidak sendirian menghadapi krisis ini. Dunia pun sudah menyadari sehingga rasanya manusia perlu diingatkan dengan adanya Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2010.

Hari Air Sedunia (World Day for Water) adalah perayaan yang ditujukan sebagai usaha-usaha menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.. Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret, inisiatif peringatan ini di umumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro Brasil. Setiap tahunnya pada Hari Air Sedunia terdapat tema khusus, contohnya pada 2009 “Air Bersama, Peluang Bersama” (Shared water, shared opportunities). Bagaimana jika 2011 lesbian ikut mencanangkan tema-tema unik; Lesbian, Green and Biopori; Lesbian, Water and Love, wow!

Eniwei, sebelum melakukan gerakan sadar air ini coba kita cari tahu dulu, sebenarnya ada berapa stok air di bumi tercinta ini? Boleh-boleh saja kita beranggapan bahwa air yang dipakai terus menerus ini tidak akan habis, eits tunggu dulu. Fakta tentang air tentu saja teramat miris. Jumlah total air yang ada di bumi ini saat ini relatif sama dengan jumlah total air saat bumi tercipta, benar! Namun jangan lupa banyak jumlah air yang ada sudah banyak yang berubah bentuk. Sejak di sekolah dasar kita sudah belajar bawah 70% permukaan bumi adalah air. Jangan merasa lega dulu karena semua air itu 97 % adalah air asin dan sisanya 3% adalah air tawar. Prosentasi air tawar tadi masih dibagi dengan es, air tanah, air permukaan dan uap air. Selain itu, tidak semua air tawar layak untuk diminum. Itu juga belum termasuk air yang tercemar oleh manusia, dan tidak semua daerah di dunia ini mendapatkan porsi air yang cukup, betulkah?

Detail-nya nih, menurut US Geological Survey yang dilakukan tahun1967, total air di dunia itu sekitar 1.360.000 kubik, ya itu tadi… air di lautan menguasai keseluruhan jumlah tersebut yakni 1.320.000 kubik (97,3%). Air di atmosfir berjumlah 13 kubik (0,0001%). Coba kita lihat sebenarnya berapa jumlah air di daratan… hanya 37800 kubik. Kebayang nggak? Hanya 2.8% drai keseluruhan air di bumi!!! Danau air tawar 125 kubik (0.0009%), danau air asin atau laut di daratan berjumlah 104 kubik (0.008%), sungai 1.25 kubik (0.0001%), kelembaban air tanah 67 kubik (0.005), sementara itu air tanah sampai kedalaman 4000 meter 8350 kubik (0.61%), sisanynya berupa es dan glacier 29200 kubik (2.14%). Nah yang terakhir ini konon jika terjadi pemanasan global bisa menenggelamkan daratan di bumi, padahal nggak sampai 3% jumlah air di dunia!

Lalu berapa liter kebutuhan kita kepada air ? Coba iseng-iseng hitung sendiri berapa jumlah kebutuhan air kita, mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi. Kebutuhan air minum, mandi, mencuci, bercocok tanam, dan segala macam kebutuhan hidup lain yang membutuhkan air, setelah itu jumlahkan dengan penduduk di bumi. Ini belum termasuk tumbuhan dan hewan loh! Bagaimana kebutuhan air untuk 50 tahun mendatang jika pertumbuhan penduduk di dunia selalu bertambah? Saya cukup merinding membayangkan hal tersebut. Jika kebutuhan air makin tinggi, sementara kita tidak bisa mengatur kesinambungannya, apa yang akan terjadi? Jangan sampai manusia jadi bunuh-bunuhan untuk menguasai sumber daya air.

Baiklah, sebagai lesbian apa yang bisa dilakukan? Sudah jelas, hutan menyimpan cadangan air. Penanaman pohon barangkali masih satu-satunya pilihan serta menjaga sisa hutan yang ada. Kita tahu di perkotaan keberadaan pepohonan semakin tergusur oleh bangunan-bangunan sehingga lubang biopori menjadi semakin langka. Kini sedang tren pelestarian lingkungan secara alami yang bisa kita lakukan di halaman rumah sendiri, yakni dengan cara membuat biopori atau lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk dari aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut. Biopori dapat dibuat di halaman depan, halaman belakang atau taman dari rumah. Lubang biopori sendiri umumnya dibuat dengan lebar kira-kira 30 cm, jarak antar lubang sekitar 50 cm-100 cm (Bagaimana cara lengkapnya coba tanya paman Google ya!) Tren pembuatan biopori mulai dikembangkan banyak pecinta lingkungan.

Keberadaan lubang biopori terbukti memiliki banyak manfaat, yang paling hebat dapat mencegah banjir. Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan di Jakarta memiliki biopori, berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan dapat mencegah terjadinya banjir, hore! Jakarta ternyata bisa bebas banjir! Selain itu juga biopori dapat pula membantu mengurangi masalah sampah, tentu dengan lebih dulu memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dalam lubang biopori tadi. Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya, organisme dalam tanah tadi mampu membuat sampah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air. Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral. Lalu, tunggu apalagi? Masih sibuk dengan urusan cinta yang nggak pernah berhenti dari babak-babak drama? Lesbian, hentikan dulu semua itu mari kita rayakan Hari Air Sedunia dengan melestarikan air tanah. Hidupkan biopori di halaman rumah kita!

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

2 Comments »

  • AL said:

    Ya, krisis air ini memang cukup menyesakkan Lebih bikin resah karena kita seakan tidak sadar dan tidak mau peduli. Padahal, manusia, mutlak butuh air.

    Nanti, kalau tetes terakhir air sudah tercemar, mungkin baru orang sadar bahwa kita gak bisa hidup dengan uang.

  • EDY FIRMANSYAH said:

    Selamat Hari Air sedunia

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.