Home » Friendship, Humaniora

A Letter For My Straight Friends

23 March 2010 333 views 18 Comments

friendsOleh: Sarah

Dear NaNiNeWeeQi,
Surat ini kutulis di antara laporan yang harus segera kuselesaikan. Entah kenapa tiba–tiba saja aku ingin menulis. Pernakah aku katakan isi hatiku yang terdalam kepada kalian? Sepertinya belum. Sudah hampir empat tahun kita bersama. Melewati masa–masa D2 yang penuh cerita. Ingatkan kenakalan dan kejahilan kita terhadap teman–teman dan dosen yang kadang membuat mereka kesal, tapi sering kali kulihat tatapan kagum mereka ketika melihat nama kita terpampang di deretan mahasiswa dan mahasisiwi berprestasi.

Kita paling senang nonkrong di mall sambil makan es krim, padahal yang kita pakai adalah office wear. Kampus kita memang memang membuat kita tampil seperti executive muda. Wajib berpakaian resmi, perempuannya harus memakai rok, kemeja panjang atau blazer, highheel, dan ber-make up. Lelaki harus meakai dasi, potongan rambutnya rapi, tapi selalu saja kita seperti anak–anak. Kita sudah terbiasa untuk saling jujur, bersama kalian membuatku menjadi diri sendiri. Tapi yang paling menakjubkan adalah perasaan nyaman yang kalian hadirkan di hatiku ketika aku jujur bahwa aku adalah seorang lesbian. Kalian tetap menganggapku teman.

Na, aku kagum dengan daya tarikmu, tapi ini bukan perasaan kagum seorang lesbian ke perempuan, tapi rasa kagum seorang teman ke teman lainnya. Kamu tidak terlalu cantik, tapi kamu sangat menarik. Semua orang menyukai senyummu, gaya bicaramu yang lucu, dan juga keramahanmu. Menyenangkan bisa bekerja di satu perusahaan denganmu setelah masa D2 kita selesai. Kadang kamu memang mengesalkan, apalagi jika berurusan dengan waktu: kamu sepertinya tidak tahu kalau on time itu artinya tepat waktu. Namun kamu tetap menyenangkan. Kamu yang paling bisa menerima partnerku, Al, sebagai temanmu. Aku ingat ketika aku tidak enak badan, tengah malam kamu pindah ke kamarku dan menemaniku tidur. Aku ingat ketika kamu memasak untukku dan Al ketika dia datang ke kosan. Aku juga ingat curhatan kita tentang cinta, obrolan seorang straight dan lesbian bercerita tentang cinta. Sungguh, aku tak merasa berbeda. Kamu dengan santai mendengarkan saat aku bercerita tentang Al, tidak peduli bahwa yang kuceritakan adalah seorang perempuan. Kamu tidak risih ketika aku memelukmu di saat kamu menangis teringat mantan. Kamu tak menggapku berbeda sama sekali.

Nie, aku merindukanmu. Setelah kamu pindah kerja dan kita jarang berkomunikasi kecuali via email, aku jadi sering kangen kamu. Kamu teman paling ekstrim yang pernah aku punya. Kamu pembela teman sejati, walau kadang temanmu yang salah. Kamu memiliki daya tarik yang berbeda dengan perempuan lain. Aku senang jika kamu sudah berdandan. Kamu tidak peduli pendapat orang lain, tapi sungguh kamu selalu terlihat menarik. Aku selalu tersenyum setiap kali mengingat apa yang kita bicarakan. Obrolan 17 tahun ke atas yang menyenangkan ketika membahasnya denganmu. Kita jadi sering cengar–cengir tak jelas. Tidak jadi masalah untukmu walau pun orientasi seksku kepada perempuan. Aku ingat ketika kamu memergokiku dan Al sedang berciuman, kamu hanya nyengir dan mengirimkan pesan via email kepadaku keesokan harinya.

“Sar, lo kalo mau ciuman jangan sampe gue liat dunk. Kalo gue pengen kan berabe, masa gue harus cium tembok? Mau tanggung jawab lo kalo gue dilaporin polisi sama tembok?” Sungguh Nie, aku merasa nyaman dengan kecuekanmu.

Neu, kamu mungkin belum sempat mengenal Al. Kamu baru sekali bertemu dengannya, itu pun hanya sebentar, tapi kamu tetap santai walau aku lesbian. Waktu kita masih sering bertemu, kamu selalu manja padaku. Tiap menyebrang jalan pasti memegang tanganku, kalau ada yang menggangu pasti bilang padaku. Ketika ada butchie yang menatapmu penuh hasrat, kamu menggeserkan badanmu mendekatiku, seolah–olah denganku kamu merasa aman. Aku ingat pertemuan kita di pernikahan teman kita baru–baru ini. Kamu bilang aku manis, aku menggunakan dress coklat waktu itu. Kamu memelukku dan bilang kamu kangen aku. Kamu selalu begitu, selalu menyambutku dengan hangat setiap kali kita bertemu, aku sungguh menghargainya, Neu.

Wee, di antara kalian semua kamu yang terakhir tahu kalau aku lesbian. Aku sempat merasa ragu untuk jujur padamu. Kamu sangat berkarakter dan sangat anti dengan hal–hal tabu. Aku tidak yakin kamu bisa menerima temanmu seorang lesbian. Kita memang tidak benar–benar dekat, aku pun jarang bercerita denganmu, tapi aku tetap tidak mau kehilangan teman sepertimu. Kamu yang paling optimis dengan kehidupan, yang paling semangat meraih cita–cita, aku mengagumi itu. Aku hampir saja putus asa menunggu balasan SMS darimu ketika aku mengakui bahwa aku lesbian. Bayangan buruk menghantuiku saat itu, tapi semuanya sirna. Balasan smsmu di luar dugaan.

“Jadi bener ya, Sar ? Udah gue duga sih. Ya udah nggak apa-apa, tapi lo hati–hati aza ya. Jangan sampe kenapa–napa.” SMS balasanmu sangat sederhana, tapi begitu berarti untukku. Wee, kapan–kapan kenalan ya sama Al?

Qi, banyak lelaki yang menganggap lesbian itu mahluk yang aneh. Aku sering dikirim pic yang tidak sopan ketika chat dengan lelaki, mereka sering menggap bahwa lesbian adalah pelaku seks yang menggelikan. Menakutkan untukku jika harus jujur kepada lelaki bahwa aku lesbian. Perlu berpikir ratusan kali untuk melakukannya, tapi tidak kepadamu. Di antara semuanya, kamu yang pertama kali tahu bahwa aku lesbian. Kamu tak menganggapku aneh, kamu bilang siapa pun diriku aku tetap teman baikmu. Kamu memang sempat tidak setuju aku dengan Al, bukan karena dia perempuan, tetapi karena menurutmu dia sempat membuatku bersedih. Kamu tidak pernah rela jika aku bersedih. Tapi sekarang kamu sudah menerima Al sebagai partner ku,kamu sudah mengerti bahwa aku menyayanginya. Aku ingin mengenalkan Al kepadamu secara langsung.

Friends, sungguh kalian adalah hadiah yang sangat manis yang Tuhan berikan untukku. Kalian membuatku melupakan masa lalu akan teman–teman straight yang sempat membuatku terluka. Senyum kalian sungguh berarti untukku. Aku tidak pernah lagi merasa takut menjalani pertemanan dengan siapa pun walau aku lesbian. Mungkin tak semua orang bisa menerimaku, tapi aku yakin masih bayak straight di luar sana yang bisa begitu open minded seperti kalian. Aku sayang kalian. Friendship forever!

@Sarah, SepociKopi, 2010

18 Comments »

  • phiko said:

    I l0ve this letter! U r very2 lucky friend..

  • Manies said:

    Hebat.
    Teman- teman yg sgt baik.
    Jrg bs nemuin org sperti mreka. Mnatap kt tetap sprti dulu biarpun, kt udah ngasih mereka pengetahuan baru. Lesbian.

  • tikussjourney said:

    i like this letter too, i hope someday i brave enough to talk to my straight friends. how lucky u r.

  • sun said:

    very nice…! sng y bs pny tmen2 spt it,, sarah u r so lucky!

  • inviziblegurl said:

    Greeaaattt…berharap punya teman2 sperti itu,syangny gw masi lum brani crita ma tmen2 gw, cuma 1 tmen gw yg taw… He’z my bezt friend ever,..
    “For gud tme n bad tme I”ll be on ur side forever more,thatz wht friends r for,…
    FriendshiPNeveREnd…

  • Zee said:

    Yupz.,friendship’s exciting…aplg ko qta bs b’shbt dg pilhn ht qta..

  • Rain Aja said:

    baca tulisan ini membuat hati q hangat n nyaman..sehangat persahabatan yg murni..tp sayangnya g banyak temen kyk gitu..selamat y sarah km slh 1 orang yg beruntung mendapatkanya^^

  • alfa said:

    salam hormat untuk NaNiNeWeeQi :-)
    dengan segala kerendahan hati
    meskipun ini bukan yang seharusnya terjadi,,,
    jiwa raga “al” milik sarah

  • ndutgokil said:

    hiks…
    jd teringat seorang sahabat..

    someday..
    suatu saat gw pasti jujur sm lo.

  • lee said:

    km beruntung bgt,punya temen seperti mreka..i wish gw jg bs ngomong ma temen st8 gw..

  • dhea.dhea said:

    jadi inget sahabat straight ku,,tmen kntor,,emg bener beruntung bgt punya sahabat seperti itu,,skrg dy lg cuti hamil,,miss her so much,,

  • Tasmanian said:

    Aku yakin seluruh pembaca sepocikopi iri dg sarah karena mempunyai teman2 yg sangat welcome.
    Dan buat NaNiNeWeeQi…kalian benar2 org yg berjiwa besar.

  • Sappho said:

    Nice story… Andai gw juga punya temen2 straight yg model begono. Boleh pinjem ga temen2 lo?? Hehehe… ;D

    - Visit my blog : http://www.junandmarlive.blogspot.com -

  • Lafé said:

    Wah leganya y udh come out ma true friends! Me, myself, still have no guts 2 tell who I really am

  • ang said:

    begitulah seharusnya berteman yah dan begitulah pertemanan sejati diuji, kalau tidak bisa menerima kita apa adanya, cukupkan saja dia menjadi teman biasa, bukan teman istimewa a.k.a sahabat

  • purple_arch said:

    woow..benar2 bsyukur pny shabat spt mreka..
    mreka dgn pemikiran trbuka menerima perbedaan yg ad..
    cba ya orang2 pny pmikiran spt para shabat sarah..ahh dunia akn mjd lbh indah..he2..

    two thumbs up to them..

  • Danish said:

    hmm, sayangnya temen deket di saat aku kuliah gak bgitu.. mereka bilang terima aku, tapi sering bilang “inget umur, insaf loe!”. trus juga sering nahan aku pergi saat mereka tau aku janjian ama partner..

  • Ratisalya said:

    Haha. . 1hal yg tsembunyi dr karyamu. .
    Kampuz mu adlh kampuz q . . Hehehe. .

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.