Home » Lagak Lajang, Sepocikopiana

Lagak Lajang: Dilarang Berkomitmen

20 March 2010 185 views 16 Comments

AcidLoveII_by_cande_kndOleh: Oscar Arumi

Andai punya delapan jempol, saya akan acungkan ke delapan-delapannya buat mereka yang berhasil terikat dalam sebuah ikatan perkawinan. Baik pernikahan hetero, atau pernikahan lesbian sekalipun. Yeah, pernikahan lesbian sih masih mimpi-mimpinya kaum lesbian yang entah kapan terjadi di Indonesia. Hanya saja, katakanlah pernikahan lesbian itu benar-benar legal di Indonesia, benarkah kamu masih mau menikah dengan lesbian?. Benaran deh, saya kasih delapan jempol buat yang jawab ‘’masih’’.

Saya pesimis? Enggak juga kok. Apakah saya iri sama pasangan yang sukses menikah? Engga kok. Lalu, kenapa ya saya begini gak antusiasnya dengan yang namanya pernikahan? .

Atau jangan-jangan, saya termasuk dua dari tiga lesbian yang ternyata gak mampu berkomitmen dengan siapapun juga. Jangankan komitmen buat nikah, buat pacaran aja kok rasanya susah banget.

Susahnya mau pacaran ya hampir mirip dengan susahnya membalas email yang mengintip-ngintip di balik kacamata saya. Bagaimana memulainya, bagaimana membalasnya. Oh, kok saya yang jadi deg-degan kayak begini. Zi dan skripsinya sudah buat kepala ini pusing tujuh keliling, ditambah lagi yang satu ini, surat dari pembaca tulisan Oscar. Plak. Masih bingung mau membalas apa. Bukan sombong ataupun sok beken, tetapi saya benar-benar gak punya ide bagaimana cara membalas email yang satu ini. Alex dengan entengnya menjawab, ‘’Yaa, terserah deh’’. Haduh. Lagi-lagi terserah. Baiklah, saya akui dan gak munafik, saya sudah googling siapa si pengirim itu. Sekilas, setidaknya saya bisa membayangkan wajah si pengirim email. Nice pic, jadi semangat mau membalas emailnya.

Sebenarnya, mau hetero, mau lesbian, yah sama aja. Kalau ada yang berani berkomitmen, tinggal lihat saja kapan komitmen itu menjelma menjadi sejarah. Banyak kok, komitmen cinta yang ternyata cuma sebatas ucapan mulut dan isapan jempol belaka. Besok-besok ya lihat saja, berita perselingkuhan terjadi dimana-mana. Mana janjimu? Mana sumpahmu? Beugh, apa masih sanggup menagih cinta ke mantan partner yang jelas-jelas selingkuh di depan mata? Apakah masih mau berkomitmen dengan partner yang berkali-kali selingkuh dengan perempuan lain? Uh, cape deh. Dianya suruh ke laut aja, lalu kita tinggal lihat kapan tiba kapal yang ditumpanginya jatuh dan karam. Saat kapal itu benar-benar karam, silahkan terbahak-bahak sambil bertepuk tangan. Jadi, mengertikan maksud saya? Buat apa berkomitmen? Kenapa gak bilang aja, aku sayang kamu, lalu kita jalani cinta ini semampu kita. Bolehkan seperti itu? Lebih fair, lebih realistis dari janji-janji manis dalam sebuah komitmen percintaan. Saat cinta itu mulai menipis, biarkan saja seperti itu karena waktu yang akan membuktikannya, apakah cinta itu semakin layu atau tumbuh lagi seperti dulu.

Saya bukan sedang mengejek-ngejek pasangan yang berkomitmen. Hak mereka, yah sama dengan hak saya untuk menulis betapa tidak menariknya sebuah komitmen percintaan yang muncul di benak saya. Komitmen cinta yang abadi adalah cinta kepada Tuhan. Kepada manusia, sepertinya cuma sebatas sex, kepentingan dan harga diri. Bapak dan Ibu, seperti itu? Entahlah, mungkin ya, mungkin tidak. Yang pasti, saya masih geleng-geleng kepala dengan yang namanya perikatan dalam sebuah komitmen cinta. Muluk-muluk. Dan basi. Entah kenapa, kok pikiran saya berputar-putar dalam lingkaran komitmen bercinta. Mungkin gara-gara membahas skripsi Zi yang gak ada habis-habisnya. Bukan hanya skripsi sih, tetapi orangnya juga. Memikirkan Zi membuat energi saya terkuras habis dan badan terkulai lemas. Dia lagi, dia lagi. Rasanya gak sanggup dihujani kalut yang seperti ini. Tahu gak kalau saya sudah punya komitmen dengan diri sendiri? Bunyi komitmennya adalah “Dilarang Berkomitmen”.

Pelan-pelan saya berkonsentrasi untuk membalas email penggemar yang sedari tadi melirik minta dijamah. Sebuah email yang unik, singkat, padat dan tepat sasaran. Intinya cuma satu, facebook/YM /MSN pribadi saya. Gak munafik kok, saya tersipu-sipu membaca emailnya. Tiba-tiba, niat membalas emailnya berubah seketika di benak saya. Gak akan saya balas via email pribadi. Saya balas di sini saja. Buat kamu yang merasa telah mengirim surat pembaca ke redaksi SepociKopi, hubungi saya di alamat berikut : oz_arumi@yahoo.com.

@Oscar Arumi, SepociKopi, 2010

16 Comments »

  • meliâ said:

    uhuy,asik kayanya bentar lagi ga lajang lagi nih…. ^^ mel sendiri gt kok,brusaha ga bkn janji2 muluk2.tp yg pasti mel brusaha memberikan yg terbaik,buat diri sendiri,patner,keluarga,dll.hidup kan ga cuma soal patner doang,iya ga?

  • tweet-tweet said:

    UH..HUY..!
    LANJUTKAAN..! ^^b
    wish u all the best , Tante Oz

  • vini said:

    wow!! dibuka umum, tar berbondong2 org yg menghbgi, bkn cm yg krm surat pembaca..hoho..
    happy sunday..!!^_^

  • Nadira ditya said:

    komitmen!!no way..

  • Baby Bee said:

    Harusnya komitmen itu ditempatkan dalam prioritas hidup no. 1.
    Kalau belum , jangan berani berkomitmen….

  • Tuyus said:

    Cinta abadi adalah cinta kepada Tuhan. 1000% saya setuju dengan Ozcar! Kalo saya ga salah nih, bentuk cinta ke Tuhan selain Hablulminallah, kita-kita juga diminta untuk sayang dan cinta terhadap mahluk ciptaanNya(hablulminanas). Komitmen (lagi..lagi..kalo ga salah) sadar atau tidak adalah bentuk manifestasi rasa cinta kepada Tuhan. Saat kata ‘komitmen’ terucap dari bibir seseorang, saya yakin ia memiliki niat untuk sungguh2. Katanya sungguh2 tapi kog selingkuh? Mungkin pada saat selingkuh itu, ia khilaf. Khilaf kog berulang kali ? Namanya juga manusia, jauh dari kesempurnaan, karena Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Hahaha, jadi malu! Betapa seringnya dalam keseharian hidup ini saya mengingkari janji saya kepada Tuhan. Ngambekkah Tuhan ke saya? Saya sangat yakin Tuhan mengerti bahwa saya melakukannya tidak dengan sengaja, dan saya yakin, dengan senyum bijaksana Dia memberi kesempatan kepada saya untuk memperbaiki kesalahan2 yang saya lakukan.
    So, jangan pesimis, dong, Oz.. Mari kita sama-sama menebar nilai positif tentang cinta, yakni cinta terhadap sesama sebagai salah satu ekspresi rasa syukur dan pengabdian kita kepada Tuhan.

  • purple said:

    pendapat gue pribadi, sebenernya bukan masalah komitmen atau tidak komitmen sih. jalani yang ada saja, toh ngga ada makhluk yang sempurna

    *kebayang deh, pasti Oz senang setiap Zi mau asistensi skripsinya :)

  • elshi said:

    Komitmen itu penting dan harus, itu menurut saya.

  • Tim said:

    Secara bukan cuma aku yg lesbian di keluarga besarku jadi, acungan jempol aku alamatkan untuk tante aku,ya wlopun dia gak berhasil ma pernikahan heteronya n memiliki seorang anak perempuan. Saat ini tante,anaknya,dan partner perempuannya living together dan aku yakin mereka bahagia karena aku juga merasakan. Tante y’re the breakthrough.

  • dashboard said:

    setuju,, komitmen itu bukan hanya lewat omongan dan kata masnis aja,,, lakukan aja yang terbaik .. aku suka artikelnya 10 jempol deh buat oz

  • eliz said:

    jadi inget partner yg ngotot beliin cincin pas tahun pertama kita jadian, dgn alasan biar kamu jelas milik siapa… dan dgn entengnya aku cuma jawab, aku milik diriku sendiri dan mau berbagi kalo kamu mau percaya penuh…. buat apa komitmen mengikat sedangkan kita tidak ada kata sepakat…. seiring waktu dan santainya perjalanan cinta, ngga berasa udah tahun ketiga…. masih perlu komitmen? apa perlu komitmen di-umbar? dlm hati aja bukan?….

  • Harry said:

    Komitmen cinta yang abadi adalah cinta kepada Tuhan…Yup.!! Inilah yang paling tepat dan aku setuju 1000 %..!! Jangan menangis hanya karena ditinggalkan manusia, tapi menangislah kalo Tuhan yang berpaling dan meninggalkanmu…
    Oscar…4 thumbs for U, dear…mantabs.!

  • Riss said:

    Emmm…..Indahnya Perkawinan Sejenis kayaknya ada bukunya. Oz terlepas dari baik buruk or bisa apa ga well mau homo mau hetero dalam hal komitmen selalu ada masalah krn bukan lg 1 tapi sudah berhitung 1,2,3,4 dst….
    Perbedaannya hanya konsekuensi hukum dalam soal pasangan hetero (wajib buat nyatetin komitmennya di KUA or catatan sipil) intinya bahwa nikah in the legal term is a contract. Jadi ada exchange rights and duties. Nah, soal kontrak sebenarnya mau bentuknya written atau unwritten pacta sun servanda-lah yang berlaku, tapi karena untuk mengantisipasi jika suatu saat terjadi dispute alias sengketa para pihak maka disaranin buat ditulis disini tertulis menunjuk didaftarkan ke KUA or Catatan Sipil. Kenafa anne bilang menikah is contract pertama ada offer and acceptance (ga boleh paksaan), kedua harus ada consent (meet of mind), legal capacity, subject certains (prestasinya ya komitmen), and legal cause alias kausa halal. Nah dalam soal pernikahan sejenis sebenarnya masuk semua tuh syarat2 kontrak termasuk sebab yang halal kenafe anne bilang begitu kan sebenarnya dalam hukum negara sampe sekarang ga dilarang tuh perkawinan sejenis tapi juga ga diatur (argumentum a contrario). Kalo anne yang boleh ngusulin kenape ga dilegalin aja pernikahan sejenis alias same sex marriage dan diatur dalam Act. Soal UU No. 1 Tahun 1974 tuh terlalu patriarki menurut gw dan tidak mengakomodir hak pribadi warna negara. Contohnya aje dalam soal cerai gugat dan gugat cerai (baca aja selengkapnya…..untuk suami ma istri ada perbedaan istilah maupun prosedur). In summary begini dah menurut gw kalo pernikahan sejenis itu dilegalkan akan lebih banyak manfaat daripada akibat buruknya kenapa karena disana ada legal consequences jadi ketika seseorang masuk kedalam sebuah legal commitment tidak hanya berpikir tentang hubungan sesaat atau pun just for fun and sex or make love no babies tapi akan lebih berpikir ke depan how to maintain the relationship karena kalo mau mengakhiri sebuah legal commitment itu akan berpikir 2 kali tentang cost benefit. Selain itu dengan adanya pengakuan legalitas gampangnya dech aku ama pasanganku mau beli rumah, mau beli beli mobil, bangun usaha, mau investasi or else ga akan banyak kekuatiran karena ada ranah harta bersama yang diatur dan hak2 para pihak dilindungi undang-undang. Yang jelas soal same sex marriage kalo mau buat preparatory Bill nya buatlah filosofi menimbangnya tentang asas manfaat dan rights protection.
    Fiiuuuuh…….matur nuwun.

  • athe said:

    do want you wanna do….

  • shifra said:

    wah.. banyak loh yg kaya tante OZ.. pacarku juga.. hehe.. tertarik banget dengan Riss.. bahas bareng yuk.. hehe.. ada imel yg bisa dihubungi?

  • bugi sahali said:

    komitmen adalah sesuatu yg hrs dipertanggunjawabkan, waktu tidak selalu berpihak pada kita..esok…lusa…entahlah….bagi sy mencintai dan dicintai sdh lebih dari cukup, bila suatu saat cinta itu berlalu…biarlah dia menemukan yg terbaik

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.