Aku Ingin Memanggilmu Suami
Malam sudah begitu larut saat Mel masih berusaha menyibukkan dirinya dengan sebuah Kamus Bahasa Indonesia. Dia mencoba mempertanyakan tentang arti kata ‘nikah’, ‘suami’ dan ‘isteri’. Ya, dia berusaha mengalihkan pikirannya dari sebuah kecemasan atas hujan dan gemuruh. Bukan, bukan karena begitu ringkihnya rumah yang ia tempati sehingga bisa dirubuhkan oleh hujan dan angin, tapi karena di luar sana ada seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang sedang berusaha melawan hujan deras untuk menemuinya. Rindu serasa begitu menggebu, padahal baru beberapa jam yang lalu Mel berpisah di depan kantornya setelah dia mencium tangan kekasihnya.
Tapi sepertinya hujan tak mau berdamai dengan kecemasannya. Hujan malam itu adalah hujan binal, hujan yang deras disertai angin kecang dan petir yang doyan menjilat bumi. “Dimana kamu kakasihku?” Hatinya tak henti memanggil setelah beberapa kali teleponnya tak dijawab. Sudah dipikirkannya apa yang akan disediakan untuk menghangatkan tubuh kekasihnya jika telah tiba di rumah.
Mel begitu resah. Sudah beberapa kalimat dicoretkan pada lembaran kertas putih itu, tapi kekasihnya tak kunjung tiba. Setiap beberapa menit ia menghampiri jendela berharap ada sebuah motor yang datang. Wajahnya penuh kecemasan. Tapi untunglah, tak beberapa lama akhirnya senyum perempuan itu mengembang ketika HP-nya dibunyikan oleh sebuah sms sederhana namun mampu membuat hatinya membuncah, “Say, aku udah di Carefour, hujan deras. Susah hubungi kamu.” Carefour menandakan bahwa lima belas menit lagi sang kekasih akan tiba di rumah. Mel langsung menuju dapur dengan gembira, memanaskan sup ayam dan membuatkan secangkir wedang jahe. Rasa gembiranya tidak tertahan ketika suara klakson motor berbunyi di depan rumah. Segera ia berlari untuk membukakan pintu, hampir saja ia terpeleset pada lantai licin akibat terkena percikan air hujan.
Pintu dibukanya dengan bahagia, ya dia adalah kekasih yang ditunggunya. Dilihatnya sang kekasih basah kuyup dan mengigil, Mel segera mengambil sebuah handuk dan mengeringkan kepala sang kekasih. Wajah kekasih yang begitu dingin setelah beberapa jam diterpa air hujan tak menyurutkan niatnya untuk menciumi pipi sang kekasih, “Aku kangen kamu” bisiknya. Sang kekasih tersenyum sarat makna. Mel mengambilkan baju tidur dan membereskan semua baju-baju basah yang baru saja dicopot dari tubuh kekasihnya. Waktu itu jam 12 malam, ketika akhirnya wedang jahe dan sup ayam masuk ke perut sang kekasih.
“Mestinya kamu nggak usah tunggu aku loh. Hujan-hujan begini kan enakan tidur.”
“Aku nggak bisa tidur kalau kamu belum pulang.”
Mata Mel sudah sayu menunjukkan kelelahannya. Setelah merasa semua sudah beres, dia segera berdoa lalu segera lelap dalam tidur. Sang kekasih yang sebenarnya ingin sekali menemaninya tidur terpaksa menahan diri, dia masih harus bertarung dengan tugas kuliah. Di meja itu ada beberapa novel, kamus, buku dan tumpukkan kertas. Didapatinya sebuah kertas yang baru saja dicoret-coret Mel ketika menunggunya pulang…
“Nikah adalah ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama atau hidup sebagai suami istri tanpa pelanggaran terhadap agama. Hm… dari pengertian ini jelaslah bahwa aku dan dia bukan suami istri, karena walaupun kami hidup layaknya suami istri, tapi hubungan kami tidak sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Dan jelas juga bahwa aku bukan isteri, karena isteri adalah perempuan yang telah menikah atau yang bersuami. Dan yang paling membuatku sedih adalah jelas bahwa dia bukan suami, karena suami adalah pria yang menjadi pasangan hidup resmi seorang wanita (istri), dia adalah pasangan hidupku tapi dia tidak bisa disebut suami karena dia bukan pria.
Jadi disebut apakah hubungan aku dengannya? Pacaran? Ah, arti pacar juga ternyata adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Aku dan dia memang mempunya hubungan yang tetap berdasarkan cinta kasih, tapi dia bukan lawan jenisku. Jadi aku harus menyebut dia apa? Rasanya pikiranku sekarang terpenjara dan hatiku tersakiti oleh definisi dan arti kamus.
Dia bukan pacarku, karena kamus melarangku menyebutnya begitu. Padahal hubungan yang terjalin antara aku dengannya telah begitu dalam. Aku tidur dengannya dan memberikan tubuhku kepadanya. Bukan, bukan cuma tubuh ternyata, tapi telah kuberikan hidupku. Aku masih terlalu muda saat berkomitmen untuk mendampinginya. Lihatlah orang-orang sebayaku hidup bebas, berpacaran dengan beberapa lelaki, melakukan berbagai kegiatan anak gaul, mulai dari nonton sampai nongkrong dengan teman se-geng hingga larut malam. Tapi dalam kemudaan justru kuberikan hidupku untuknya. Segala minatku untuk hidup layaknya seorang gadis muda lainnya telah kukubur sejak dua tahun lalu. Aku lebih memilih berada di rumah ini, mengurus segala keperluannya, menemaninya makan dan merasakan kasih sayangnya. Entah dari mana rasa ini datang, tapi bagiku, memberikan hidupku untuknya adalah sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Aku tak pernah menyesali masa mudaku hilang, yang aku sesali justru adalah kalau sampai semua ini berakhir, kalau sampai aku berpisah dengannya.
Aku tak bisa membayangkan apa jadinya dia tanpa aku dan apa jadinya aku tanpa dia. Dia adalah hidupku dan aku adalah nyawanya. Aku jadi teringat saat aku berwisata dengan teman-teman kantor untuk beberapa hari, dia tak berhenti menelepon hanya sekedar bertanya di mana aku menaruh buku-bukunya, di mana kusimpan jeans kesukaannya, di mana aku letakkan baju favoritnya, dan di mana aku taruh celana dalam kesayangannya. Dan aku pun teringat saat dia meninggalkanku beberapa hari ke luar kota karena tugas kantor. Aku tidak bisa tidur bermalam-malam tanpanya. Hingga saat dia kembali ke Jakarta, aku malah menyambutnya dalam keadaan sakit.
Jadi aku bukan pacarnya, kan? Karena seseorang tidak akan mengurusi pacarnya hingga ke tingkat ini. Seorang pacar tidak tahu bagaimana cemasnya menunggu partner pulang, tak tahu bagaimana perihnya terkena cipratan minyak panas ketika menggoreng ikan tongkol kesukaan partner, seorang pacar tidak tahu bagaimana rasanya tidur dalam pelukan partner sepanjang malam, bagaimana rasanya belanja bulanan bersama, mengelola keuangan, menyelesaikan masalah-masalah keluarga hingga membangun siasat untuk menangkap tikus-tikus nakal di rumah. Seorang pacar tidak tahu rasanya melipat tangan bersama lalu berseru dengan sungguh kepada Tuhan saat badai cobaan datang. Seorang pacar tidak tahu bagaimana bau mulut partner saat bangun pagi. Seorang pacar tidak akan pernah mampu membaca perasaan partner hanya dengan melihat raut mukanya.
Seorang pacar tidak akan pernah tahu semua itu. Semua rasa itu hanya bisa dirasakan oleh seorang perempuan yang disebut istri. Saat beberapa teman kerja yang adalah seorang istri bercerita tentang suaminya, tentang rumah tangganya, aku selalu tersenyum membayangkan kehidupan kami yang sama persis dengan kehidupan pernikahan mereka. Ya, aku memahami semua rasa ini layaknya seorang istri. Seandainya bisa, kepada kekasihku yang adalah bukan pria, yang berjenis kelamin sama denganku, aku ingin sekali memanggilnya dengan sebutan suami. Karena sedalam itu pengabdianku kepadanya, sedalam itu perasaanku kepadanya, sedalam seorang istri kepada suaminya. Tapi sayangnya aku malu, aku malu memanggilnya dengan sebutan itu. Aku malu pada kamus bahasa Indonesia itu, malu sekali. Jadi biarlah aku memanggilnya dalam hati saja. De Ni, suamiku.”
Perempuan itu tercengang membaca tulisan tangan Mel. Entah seberapa banyak pasangan lesbian yang ingin sekali memanggil partnernya dengan sebutan suami atau istri, tapi merasa malu dengan bahasa, merasa malu dengan sebuah definisi tentang suami, istri dan pernikahan. Hingga semua niat hanya mampu terkatakan di hati saja tanpa mampu dikeluarkan oleh bibir karena takut sang bahasa akan membungkamnya.
Dan hanya untuk malam itu De Ni berusaha jujur pada hatinya, hanya untuk malam itu ia meminta ijin untuk melanggar bahasa dan definisi. Malam itu, ia mencium kening kekasihnya yang sudah lelap dalam tidur, lalu membisikkan kalimat yang sebenarnya sudah lama sekali ingin diucapkannya, “Aku sayang kamu Mel, istriku…”
@Deni Melisa, SepociKopi, 2010










hiiiiikkkksss…tanpa sadar airmata mengalir dipipi…aku merasakan apa yg kamu rasakan mel, juga rasa dihati deni…whatever go ahead with your love…
Semoga kalian sllu diberikan ke bhgian… ^_^
so sweet… ^_^
So sweet bgt =) i wish i can be like dat one day wit my ‘wife’
Ehhhm pacar bukan, suami bukan, lebih tepatnya kami menyebut satu sama lain my soulmate
, karena jiwa yang menyatu tidak ditentukan oleh sebutan suami atau istri, tapi lebih dari itu…more and more than that. Just like my lovely soulmate.Nice story I like it !
malem minggu ini tambah kelabu mellow karena baca tulisanmu Deeennnn….!
T,T
Jadi naksir tulisan nya mel daripada tulisan deni ….. heheheh piss den… tulisan mel begitu menyentuh..
So sweet…
‘bgt cemas-na ktika partner l0m ad drmh sdangkn hujan dluar sna bgitu tk b’shbt…’
‘aroma buah2n ktika partner bgn tdr…’
‘bgmn perih-na t’percik minyak panas…’
Smua it hny drasakan o/ s’org istri…
Tulisan mel,sangat menyentuh…
Setuju !!! Istilah SOULMATE lbh tepat utk menggambarkan pola hub spt itu. Krn klo pake kata “suami istri”, nyari di kamus manapun akan sgt trbatas artinya. Tp kalo soulmate, lebih kepada esensi sebuah hubungan.
I wish I coudl find one for me … *ngarep mode on* hihi …
suami hmm…ya knp pacarku suka bngt panggil aq istriny dan menganggap dia suamiku…padahal aq nggk suka d panggil gt hehe..kalo dlm cerita d ats istri sperti itu.wew ogah ngurus dr sndiri aja nggk bs apalg hrus urus orang hehe
Uda deh, speechless.. ^^
nice shoot,. Telak di hati,
so sweet, sedih n menyentuh banget…..kadang kita harus hidup dengan demua pertentangan n gejolak batin coz keadaan
Baca tulisan ni bikin air mata ga mau berhenti..*maluu ma mama neh,he3*
tulisan yg manis banget,.suami istri,.aku pengen jadi istri ‘dia’ seutuhnya..
Tulisan mel sangat menyentuh. Jadi meleleh.. kok sedih bgt ya rasanya.. MEnurutku sah sah aja mel manggil deni “suamiku” dan deni manggil mel “istriku”.. Ga usah nurut kamus, cuek aja
Very touching, Den… Wish I could write like this
jd terharu nich…indah sich hubungannya tp mmg membingungkan..krn mmg gak ada dlm rancangan Tuhan hubngan sejenis. mangkanya bingung mo nyebut apa.
CINTA HOOOOHHOOOOWWWWW…..CINTAAAAAAAA……!!!
seneng bgt liat hubungan kalian sperti itu..tp,klo buat gw sah2 aja manggil mo suami ato istri ^^
ya emang si hubungan kaya gini mau dibawa kemana (kayak lagunya armada hehe), hampir pasti kita semua pernah ngrasain hancur gara2 rumus kamus sosial itu, parahnya lg dlm kamus agama,
^_^
ayo teman2 semangat, tunjukkan kedewasaan kita dlm bersikap_
*aku juga ingin memanggilnya ‘istriku’, dia wanita straight yang ku cintai habis hampir sepuluh taun.. gila.. gila..
*ngantemin kepala ke tembok… ^^
semangat lah_
AWESOME
de ni dan mel….hebat nya cinta kalian.mel mendoakan yg terbaik buat kalian berdua.smoga kalian berbahagia ^_^ dan soal panggilan apapun itu hanya kata2,di hati kalian lah yg terpenting.jika kalian berkomitmen dan berjanji selayaknya suami dan istri….maka itulah yang ada.
Sbnrnya ending crita lo ud bs ktbak ma g yg akhrna mlih kt wife! Btw,g stuju ma hyuga n vanilatté, I also prfr SOULMATE!
beautiful…and touchy
Buat gw yg namanya sebutan “istri” or “suami” and what ever you called someone you love gak penting, yg penting sbrp besar cinta yg loe perjuangkan and berikan ke parner loe..coz cinta tdk mengenal batasan usia dan kelamin dan kt jg gak bisa memilih dgn siapa kt jatuh cinta..tp overall..gw suka ceritanya..essensinya dalam abeeessssss
Istriku sudah pergi…karena dia tidak bisa memanggilku…suami..:-’(
Smg kalian bs langgeng sampai maut memisahkan kalian yah
hope this soulmate will live together forever
terdiam…..terpaku di sudut gelap….di temani cahaya hati..cahaya dari cinta soulmate qwu tercynk
tulisan yg manis, jd teringat waktu aku berkunjung ke festival LGBT 2009 di Berlin. Ternyata di bahasa Jerman jg tidak mungkin memakai istilah suami/mann atau istri/frau yang masing-masing jelas menunjukkan jenis kelaminnya.
Sewaktu di festival itu, aku senang sekali ketika menemukan tulisan di spanduk salah satu stand, yg bunyi dan maknanya bagiku lebih manis dan dalam, “verliebt, verlobt, verpartnert” (jatuh cinta, bertunangan, menikah).
Bagi yg berpasangan, happy in Love sistas!
so sweet…. really !
deni kpn ya gw dpt partner sebaik melisamu aaarggghhhhh….gw jomblo terus euy…
So deep..
Pengen bgt merasakan apa yg De Ni dan Mel rasakan..
Selalu berada di sisi partner qt, di saat suka maupun duka..
Pengen brbagi sgala ssuatu’y bersama..
Sing langgeng ya De+Mel..^^
Salut wat mel..
@sam:ma Q ja yuk..
2 Thumbs 4 this sTorY..
begiTu menYenTuh..
dan PasTi na iTu merupakan cerminan dari haTi seTiap mereka yang TeLah hiduP berPasangan..
sesuaTu Yang di luar logika namun Terasa sangaT LekaT di Hati
ympun… tulisan na bguz bgt!
hhehe
qu jg suka nulis… mudah2an nanti bs sebagus ini,, truz diterima jd penulisna sepocikopi dee
.. *semangat !!
.. jd pingin married cpet2 ma gf
Lama aku ingin memangil kekasih ku dengan kata itu tapi lidah ku tak mampu berucap karena aku bukan lelakinya, bukan prianya dan bukan pangerannya aku hanya wanita nya……
andai saja aku bisa membuat mereka mengerti,aku tak butuh lelaki mana pun tuk m’jadi suami ku..cukup b’samanya..’dia’
its so really make more luph my soulmate…
^^..
q mgerti,wlpun sikon tag prnh mmgknkn..V,q ykin pda dsarx CINTA ttep CNTA dan Akn kmbali Mnjadi CINTA,wlpun trkdg smua ngbwt qt jatuh trpuruk krna nya…
^^
i love this page so much…
waduhh………sweet bgt….lam kenal ya de_ni.gw butch,gw pnya partner yg bhasa n sikap nya sama persis ma mel..tp qt ga pernah ragu buat saling manggil suamiqu/istriqu,cz partner femme bgt.malah partner manggil gw papa.n gw panggil partner mama.mungkin lo juga coba berpenampilan n brsikap layakny laki-laki atw butch jgan andro.biar ga canggung,bleh d coba saran gw,mantap tu.
memangil seseorang yg kita perlakukan layaknya suami, sangtlah indah, nikmat, dan tak merasa lelah…
tapi mengucapkan huruf demi huruf dari kata S-U-A-M-I sungguhlah berat, berat dengan segala resikonya, berat dengan segala cercaan dunia, berat dengan segala konsekuensi yg harus ditanggung kami nantinya…
Nice bGtz
Q skrg jg hdup ma gF,tp oRg tua gF gg ngrStuin,,
Sedih rasa’a,,
Klo ortu q mah ok2 ajah..
Cmangat wad x an ber 2
Wow…
Kebayang juga cerita itu.
Tulisan Mel menggugah hati. Tapi gak lupa sama yang membawakan, De Ni.
Semoga langgeng selalu, sampai maut memisahkan kalian.
damn, what a story..
luv it!
slmat wat loe ber dua.kalian bisa hidup bersama dalam layaknya rmh tangga.semoga femm gue yg ada d bppn ,merasa bahwa beb merindukanmu.I LOVE U MAMA CIL.SBY
Vallent say:’
apapun panggilan itu,dsaat kbersamaan membuat sgalany terkalahkn…
Saat keyakinan itu tumbuh,smua g ada yg slh.
nice story…
Mel..q g pernah ragu menyebutnya ‘suami q trcinta,atw suami shaleh q’..krna dy pun tk prnah ragu mnyebut q ‘istri q trcnta,atw istri shalehah q’.
Ga ush pduli sm kamus..bodo amat deh.
Langgeng yah..
Orang yg biasa m’manggilq ‘istriq’tlah pergi n dgn mudah na mnyebut wanita lain sbg istri’na
kenapa baru baca ini sekarang? huu…. nangis-nangis kan… inspiring, lovely
Mmmm….baca tulisan Deni memang menyenangkan kata-katanya begitu menyentuh dan dalam yang membuat aku selalu kangen ama tulisannya.Bravo Deni Melisa moga aja kisah cinta kalian selalu menjadi kisah cinta yang unik,asyik
Hiks,
terharu sekali rasanya,
meskipun belum sampai seperti pengabdian Melisa untuk De Ni oleh karena terpisahkan jarak, tetap saja bisaa merasakannya.
Aku juga memanggilnya “Abang” meskipun ia bukan lelaki, tapi aku nyaman sekali dengan memanggilnya begitu.
Ah, Abang, jadi kangen Abang…
Actually…yg terpenting adalah ketika panggilan2 tersebut membuat partner nyaman & tenang, knp juga tidak lakukan…walau terkadang ada rasa ingin show up jg…tp kita harus menyadari dikehidupan sesuai KTP kita tak bs seperti it…diketahui oleh beberapa komunitas dirasa sdh cukup…ada kepuasan btin tersendiri…namun byk jg yg malu…itu biasa…awal2 agak rancu tp lama kelamaan akn terbiasa jg….ehehehe…my wife call me daddy
uh… sweet banget,pingin ya punya hubungan kayak gt..
anyway, moga” langgeng ya,sampe jadi nenek-nenek…
MANTAP bgt,,,keren…terkadang cinta bisa menembus batas dan segala macamnya but that’s love …cinta adalah anugerah Tuhan
Hmmm…. aq slalu memanggil dad to mysoulmate, dkala kami berduaan atau dpn tmn2 dkt… dia jg always call me “mom”… trasa lbh mnyentuh dan daleeeem. mampu merekat hati dan mnambah kmesraan…. try it…..
kalo sy membaca tulisan ttg artikel lesbian, sy bgitu cemburu. sejak putus sm partner 2009 lalu, sy bgitu ksulitan mncari temn butchi.
sy jg bgitu mrahasiakn ttg diriku yg lesbian ini. mngkin itu yg menjadi penyebab kenapa sy bgitu ksulitan.
Sangat menyentuh.. Semoga kalian selalu berbahagia..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments