Wavering_Flower_by_ctrcAdakah cinta dan kebahagiaan yang abadi? Cinta pertama yang diawali persahabatan membuat hari-hari hanya berjudul bahagia. Tapi bagaimana bila sang sahabat yang juga kekasih hati memutuskan bahwa hubungan yang terjalin berbilang tahun harus dilepaskan? Sahabat kita, Samuel Steffany akan berbagi cerita tentang bangkit dan tegar setelah melepaskan kekasih.

Sejak duduk di bangku SMP,  aku telah menyadari bahwa  ada yang berbeda dengan diriku yang diam-diam menyukai perempuan, tapi aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta kepada perempuan.

Berawal dari persahatan kami di bangku kuliah, perlahan benih cinta itu tumbuh. Sebut saja namanya Sara. Sara berasal dari keluarga dengan kondisi keuangan yang cukup sulit, namun dengan kegigihannya dia bisa kuliah. Beruntung kami diterima di Universitas Negeri yang biayanya tidak sebesar di Universitas Swasta. Bayangkan saja, pada saat registrasi pendaftaran mahasiswa baru semua biaya kuliahnya masih tertunda. Pihak kampus memberikan kelonggaran waktu untuk menyelesaikan biaya administrasinya. Tuhan memang baik, DIA tidak terlambat memberi pertolongan, Sara akhirnya bisa menyelesaikan masalah administrasi. Dan inilah cara Tuhan mempertemukan aku dengan Sara beserta dua orang temanku yang baru saja kukenal. Kebetulan kami berasal dari daerah yang sama, jadi rasa kekeluargaan begitu kental. Begitulah, kami mengawali persahabatan kami, saling membantu, saling menjaga hingga akhirnya kami bagaikan keluarga.

Aku bukan dari keluarga kaya namun setidaknya uang bulananku masih bisa memenuhi kebutuhan harianku, namun tidak demikian dengan Sara, dia selalu terseok-seok bila berurusan dengan hal-hal yang membutuhkan biaya, namun yang membuat aku kagum padanya dia tidak pernah mengeluh dan menyalahkan kedua orangtuanya. Terlebih lagi dia sangat terbuka dan jujur dengan kondisi keluarganya yang sulit. Sara juga selalu bersemangat, dia mendapat nilai A untuk semua mata kuliah pada semester pertama. Aku dan kedua orang temanku bangga padanya.

Sebisanya aku membantunya.  Apa yang bisa kuberikan akan kuberikan bahkan aku rela membagi uang bulananku dengan Sara. Sara juga demikian, dia selalu ada untukku, membantu tugas-tugas kuliahku. Tahun pertama berlalu tanpa terasa. Aku senang sekali karena mendapat sahabat baru dan kehidupan yang baru. Aku, Sara dan kedua orang temanku menjadi segi empat sama sisi yang bernama persahabatan. Kami melingkari hari-hari dengan optimis dan mengisinya dengan impian untuk keberhasilan di masa depan.

Tanpa aku sadari, ternyata aku dan Sara semakin dekat, di mana ada Sara di situ ada aku, di mana ada aku di situ ada Sara, begitulah kata orang-orang. Kami pun sama-sama tidak menyadari keterikatan ini, namun aku mulai menyadari ada rasa yang timbul di hati ku, rasa sayang, rasa perduli dan bahkan rasa cemburu jika ada yang mencoba mendekati Sara. Walaupun kami masih berbeda tempat kos, namun hampir tiap malam kami selalu menghabiskan waktu bersama. Hingga suatu malam aku merasakan tarikan nafasnya dan hangat tubuhnya membuatku bergelora. Namun aku menutup rasa itu rapat-rapat. Di malam berikutnya, gelora yang kurasakan ternyata juga dirasakannya. Entahlah siapa yang mulai, malam itu kami berciuman, bercumbu hingga pada klimaksnya kami terdiam, terkulai lemas dan menagis sesengukan.

Setelah malam itu, Sara memutuskan agar kami menjaga jarak dan sedapat mungkin tidak bertemu. Dengan berat hati aku mengiyakan, perasaanku bercampur aduk antara dosa dan cinta demikian juga yang dirasakan Sara. Mau tidak mau memang aku akan tetap bertemu dengan Sara karena kami duduk di kelas yang sama. Di kampus dan di depan teman-teman kami berusaha bersikap biasa, seperti tidak terjadi apa-apa, namun saat tatapan kami bertemu aku tahu bahwa kami saling merindukan dan tidak ingin berpisah.

Tanpa persetujuannya, suatu malam aku beranikan diri datang ke kosannya, Sara terlihat senang dengan kehadiranku setelah tiga hari aku absen ke tempat kosnya. Kerinduan membuat semua norma, dosa, neraka dan surga kami kunci rapat di lemari. Kami berpelukan, berciuman, membiarkan segala hasrat yang ada  meledak dan luluh dalam desah napas kami. Hingga yang kami rasakan hanyalah cinta yang menggelora sejak lama kami ingkari. Begitulah waktu berlalu, kami jatuh bangun, menangis, tertawa, sakit, sehat, dengan segala cinta yang kami rasakan. Rasa berdosa, rasa jijik pada hubungan kami dan rasa cinta yang kami mililiki datang silih berganti. Namun kami tetap menjalaninya dengan keyakinan dan ketulusan bahawa kami saling mencintai. Hingga akhirnya hari wisudapun akan digelar, kami sama-sama lulus dengan nilai yang baik. Orangtua kami datang dengan rasa bangga, menyaksikan putrinya dapat gelar sarjana.

Setelah kuliah berlalu kami masih bersama, membangun karir dan impian bersama bahkan sampai di kota Jakarta ini pun masih tetap bersama. Jika dihitung dengan angka maka 10 tahun sudah kebersamaan kami, semua teman kuliah kami akan berdecak kagum melihat kebersamaan dan awetnya persahabatan kami tapi mungkin juga mereka curiga namun tidak pernah yang berani bertanya apakah mengapa kami bisa sedekat dan seintim ini. Teman kampus hanya tahu bahwa kami adalah orang yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan sebagai sahabat dan teman yang baik.

Ternyata memang  tidak ada yang abadi. Di mana ada awal pasti ada akhir. Aku mulai merasa Sara berubah. Tepatnya setahun yang lalu. Perubahan itu berawal dari kepergian ayahnya kembali ke haribaan Tuhan. Sara menjadi dingin dan sama sekali tidak perduli lagi dengan aku. Aku mencoba mengerti kondisinya. Tapi bagai petir di siang hari, dengan cueknya Sara hanya berkata tidak ada hubungan lagi di antara kami, masa lalu kami adalah kebodohan dan saat ini fokus utamanya adalah pekerjaan dan keluarganya. Dia merasa berdosa untuk segala yang pernah diterjadi diantara kami, dia menangis dan berkata akan kembali bangkit pada kehidupan yang baru.

Hingga akhirnya tiga bulan yang lalu Sara memutuskan pindah kerja ke luar kota Jakarta. Aku meradang, hidupku gamang dan timpang dengan kekerasan hatinya sama sekali tidak bisa kulembutkan. Aku seperti orang linglung, seperti orang sakit jiwa yang tidak punya psikiater. Aku sengsara tanpa Sara. Beribu malam sudah kulalui bersama Sara. Tanpa kehadiran Sara semua menjadi hampa, tawar dan dingin. Aku menangis menatap makan malam yang mendingin tak tersentuh. Namun karena lapar maka aku tetap makan dengan air mata yang terus meleleh.

Di tengah kesengsaraanku, Tuhan sepertinya tidak tega melihat aku larut dalam kesedihan. Tuhan tidak pernah terlambat, tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolongku. Tanpa sengaja aku menemukan situs Sepocikopi, kata yang membuat aku bergetar adalah “Lesbian”. Tubuhku nyaris kaku  bukan kerena jantungan tapi karna merasa dapat berkat menemukan jawaban pertanyaanku. Walaupun sudah bertahun-tahun hidup dengan perempuan, aku tidak mengenal satupun teman yang mengaku lesbian, apalagi sampai memiliki komunitas tertentu. Kata itu masih terdengar ngilu di telingaku, seperti mengucapkan kata haram, padahal aku juga seorang Lesbian, ironis memang. Namun di Sepocikopi aku mendapat peneguhan, aku tahu bahwa bukan hanya aku yang mengalami kegamangan ini.

Halaman demi halaman SepociKopi mampu membuat aku terperangah, kadang hingga cairan dari mata, hidung dan mulutku pun ikut berhamburan keluar. Aku bisa menangis dan tertawa serta bisa senyum-senyum sendiri. Aku punya semangat baru, hidupku bukan untuk disia-siakan, jika aku pernah bersama dengan Sara dan sekarang berpisah itu mungkin rencana Tuhan supaya aku semakin mandiri dan semakin dewasa.

Aku sangat berterima kasih untuk Sepocikopi yang telah berbagi jutaan kisah. Membuat aku tidak merasa sendiri dalam jiwa yang rentan ini. Aku mendoakan yang terbaik untuk Sara, karena bagaimanapun aku masih mencintainya dan tak akan mudah melupakannya. Namun akan kubuka kaca mata kudaku dan mulai berdansa dengan hidup yang tampak lebih luas. Kuembuskan napasku… kusingsingkan lengan bajuku, kubuang muka sedihku dan aku berkata pada diriku bahwa aku berharga dan hidupku sangat berharga. Tidak akan kuhabiskan waktuku untuk ratapan cengeng.

Aku akan belajar menjadi manusia yang lebih baik.

@Samuel Steffany, SepociKopi, 2010